Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur
16 November 2024
di Estetika, Puisi
Dibaca dalam 13 menit
A A
Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Poster bertuliskan "Siapa yang Menanam, ia yang memakan " yang muncul di Circular, terbitan Mazdoor Kisan Party/MKP, Partai Buruh Petani Pakistan, edisi ke 50. Slogan tersebut diadaptasi dari kalimat terkenal pemimpin besar tarekat dan Sidhi revolusioner, Shah Inayatullah, "Siapa yang membajak berhak sepenuhnya atas panenan " (Gambar dan keterangan diambil dari Raza S. The Sufi and the Sickle: Theorizing Mystical Marxism in Rural Pakistan. Comparative Studies in Society and History. 2022;64(2):300-334. doi:10.1017/S0010417522000068)

Sebuah Tarekat Dengan Nama Perlawanan

Dor!

Suara tembakan menggema di cakrawala

peluru menembus lapisan cakrawala

dan entah kemana…….

Dor!

Gerombolan orang-orang tarekat tetap diam

di tengah bising senjata dan kendaraan perang

di tengah gemerlap kehidupan duniawi

dan tentunya di tengah ragam keinginan selain dari-Nya

Dor!

Setelah diam, dan membersihkan cermin

perlahan berdiri dan senantiasa menyebut nama-Nya

menenteng bambu runcing

Baca Juga

Suara May Day

Suara May Day

7 Mei 2017
Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

6 September 2016

dan melangkahkan kaki ke medan laga

Dor!

Terus bergerak bersama petani

Sang pahlawan negeri

Sang penolong negeri

yang paling mencintai tanah dan air

Karena saban hari……..

larut dalam samudera dzikir…..,

bersama tanah dan air.

Dor!

Yang juga…, terus berjuang

bersama buruh

yang saban hari keringatnya diperas

yang saban hari beribadah

tanpa menampakkan simbol-simbol agama.

Dor!

terus melaju….

dengan senantiasa menggenggam cermin

untuk selalu ingat kepada-Nya

di tengah deru mesin kendaraan perang

di tengah gerakan bersama arit dan cangkul

di tengah deru mesin-mesin pabrik

yang tak mengenal rembulan, matahari, dan bintang.

Dor!

Aduh………., sayang…….,

jika tarekat yang dekat dengan perlawanan

melawan diri dari selubung hawa nafsu

yang hewani….

Dijadikan jubah saja

disulap jadi kendaraan duniawi

yang diam saja melihat tragedi non manusiawi

yang diam saja, melihat penindasan dimana-mana

Lantas, apa guna tarekat ini….?

Bogor Selatan, 1 September 2024

Lukisan Menjelang Senja di Kaki Gunung Salak

Setan…………..,

menjelang semburat jingga di awan

setan menjelma petugas syahbandar

menawarkan jasa

untuk menikmati senja di dekat pelabuhan

Setan…………..

menjelang senja di pegunungan

menawarkan jasa

pemandangan alam yang menggiurkan

kopi mahal bintang lima

menjadi media melewatkan

gemuruh suara azan

di cakrawala………….

Setan………….

menjelang senja di area perkotaan

menawarkan jasa penginapan

bermalam bersama perempuan

perempuan pejuang kehidupan……

Hingga membuat gema azan

larut dalam khayalan……….

Setan………………

selain memberikan

tipu daya yang melenakan

ia juga memberi pelajaran

dalam setiap keindahan

terkandung tipu daya

yang melenakan

Setan………..

menjelang senja di pedesaan

emak-emak melawan setan

memasukkan anak-anak mereka

ke dalam rumah

yang hangat dalam pelukan

Malaikat berpesan……………..

untuk tidak keluar rumah

ketika senja tiba

kecuali untuk mengingat dia

Dia dzat Yang Maha Kuasa

Dia dzat Raja Diraja

Selain itu…………,

jika senja tiba……..

tutuplah makanan dan minuman yang terbuka

Sial………….

menjelang senja kali ini

tidak khidmat

Berisik dengan suara palu,

yang menghantam paku di atas kayu,

Kaki Gunung Salak, 2023

Keterangan gambar: Karya Boy Domínguez, diambil dari https://www.peasantjournal.org/news/sustaining-agrarian-struggles-through-painting-invasion-and-resistance-the-work-of-boy-dom%C3%ADnguez/

“Ing Lam-aw ni Manaog’” atau “Avatar’s Pond”, 2019 karya Boy Domínguez yang menuturkan kisah perlawanan harian perempuan di pedesaan dalam menghadapi ekspansi kapitalisme cum intervensi negara. Diambil dari https://www.peasantjournal.org/news/sustaining-agrarian-struggles-through-painting-invasion-and-resistance-the-work-of-boy-dom%C3%ADnguez/

Dari Tanah Ke Semen

Tanah itu….

tersulap menjadi hamparan semen

dikelilingi gemerlap lampu

dihiasi roda-roda raksasa

yang berklakson dan gagah perkasa

yang hidup tak kenal waktu dan usia

            Sebelum itu…..

            ada petinggi yang telah tertipu

            membubuhkan tanda tangan

            di atas kertas putih yang harum

            tanpa berpikir dan tukar pikiran

            terlebih dahulu

Hal itu……

membuat berinteraksi dengan kitab

dihiasi suara-suara alat berat

ketika sang mentari tiba…

sinarnya ditutupi oleh semen

saat rembulan menyapa

tak pernah peduli dengan ciptaan

Yang Maha Kuasa

Akankah…, tanah ini…., menjadi….

planet semen?

Bogor Selatan, 1 September 2024

Suara Perempuan Suara Tuhan (?)

Kepada manusia-manusia yang telah melahirkan

Inginku mengucap salam kepada engkau

Yang memiliki samudera ketangguhan

Yang berjuang, tertatih-tatih

Di antara deru mesin pabrik

Yang lirih dari kejauhan

Yang berisik dari kedekatan

            Inginku menitip do’a

            Kepada engkau

            Yang senantiasa berjuang

            Untuk selalu menebar senyum

            Di tengah keadilan Tuhan

            Maupun di tengah fadhal dan rahmatnya!

                        Dengan do’a dan usaha

                        Engkau berjuang menggendong buah hati

                        Yang tak menentu nasibnya

                        Yang sudah tentu waktu matinya

                        Di tengah rezim yang rakus

                        Akan tanah dan kekuasaan,

                        Robeklah dinding takdir!

                        Meski itu mustahil!

Taman Para Pecinta, 2024

Do’a Sang Demonstran

Ya…Tuhan

aku ingin bermunajat kepada engkau

tanpa sifat-sifat hewani

yang datang tanpa undangan

            Ya…Tuhan

            Hilangkanlah…rasa keakuan

            di tengah perjuangan ini

            perjuangan bersama rakyat

dari berbagai penjuru negeri

Ya…Tuhan

meski engkau sudah tahu

kebobrokan wakil rakyat kami

kealpaan penguasa kami

tetapi engkau tetap diam

            Ya…Tuhan

            jadikanlah hamba, berorasi……

            namun senantiasa diselimuti nur ilahi

            ketika menulis……….

            semoga bisa menembus lapisan

            sanubari terdalam

Meskipun…., dinding takdir tak bisa dirobek

tolonglah kami…., karena dengan fadhal dan rahmatmu…..

penindasan demi penindasan

terangkat dari bumi

Namun…., jika keadilanmu turun

tak ada cara, selain prasangka baik kepada engkau

karena engkau adalah tempat bergantung

            Bukan jutaan tirakat…

            dan puluhan miliar sedekah

            yang diandalkan

            Melainkan….,

            Hanya engkau

            Zat Maha Raja Diraja

Sang Penguasa…..

Yang sesungguhnya

Dan sebenar-benarnya.

Caringin, Shafar 1446 H

Munajat Bulan September

Hal ihwal kisah-kisah manusia yang terpinggirkan

Oleh kekuasaan dengan bantuan moncong senjata

Moncong senjata yang siap menembak siapa saja dan kapan saja

Bagi manusia-manusia yang ingin menghalangi tingkah laku penguasa.

            Pemerintahan yang sedang terhijab

            Tidak mampu membuktikan kebenaran

            Dengan angka-angka maupun kalimat-kalimat yang bisa dipertanggungjawabkan

            Berani melawan?

            Akan diincar, disikat, dan

            Dor!

Peluru menembus kertas sejarah yang diajarkan di bangku sekolah

Seolah-olah, apa yang tersaji di dalam kertas

Bisa dikonsumsi

Hingga dibawa mati

            Karena, ini bukan tentang Nabi Ibrahim

            Yang mencari Tuhan dengan elemen-elemen cakrawala

            Bukan juga tentang Kanjeng Nabi Muhammad

            Yang juga pernah bermuka masam

            Kemudian langsung ditegur Tuhan

Melainkan…., ini tentang kekuasaan yang jauh dari kata “maksum”

Yang tak segan menghabisi, nyawa manusia

Yang berbeda pendapat, akan dihabisi dengan berbagai cara

Ada yang dihabisi ketika masih berada di cakrawala

Ada yang dihabisi di tengah ruang gelap gulita

Dan ada yang dihabisi, dengan bara ambisi

Hingga meninggalkan nama dan dunia, dengan amat sangat keji

            Namun……,

            Mereka abadi

            Akan terus terkenang

            Dalam nyanyian jalanan, lagu, dan pejuang kemanusiaan yang sesungguhnya

            Tak ada kado terindah

            Selain Al-Fatihah..,

Awal September, 2024

Tags: PerempuanPerjuangan KelasPerlawananpuisiSufismeTarekat
ShareTweetSendShare
Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur, Santri di Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin Bogor (takhassus tasawuf dan tarekatnya). Asal Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam hal berpuisi, pernah menjadi juara III Lomba Cipta Karya Puisi tingkat Nasional yang dihelat oleh Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAE) Universitas Jambi tahun 2020 dengan judul puisi “Pahlawan Bumi”. Pada tahun 2023, menjadi juara II dalam lomba cipta dan baca puisi tema Maulid Nabi yang diadakan oleh Pondok Pesantren Ma’had Aly Raudhatul Muhibbin Bogor dengan judul puisi “Empat Sorban Kanjeng Nabi”. Dan pada awal tahun 2024, memperoleh juara II dalam Sayembara Puisi Haul Gus Dur Ke-14 yang diadakan oleh Gusdurian Bonorowo Tulungagung dan Jaringan Gusdurian Nasional dengan judul puisi “Memorabilia Gus Dur: Menyibak Tirai Senjakala, Menghadirkan Pendar Cahaya”. Selain itu, pernah bergiat di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Penulis bisa dikontak melalui alamat surel yogi.abd.gofur.98@gmail.com atau abdulgofureformasi1998@gmail.com

Tulisan Terkait

Suara May Day

Suara May Day

Mastono ZM
7 Mei 2017
0

Cerita Dari "The Hand that will Rule The World", Sumber: opendemocracy.net Buruh Oleh: Mastono aku bahagia libur tiba aku bisa...

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sinta Ridwan
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan Teruntuk Om Udin Setelah senja menyelimuti langit di atas Watu...

Tanah Impian Tanah Kesadaran

Tanah Impian Tanah Kesadaran

A. Musawir
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Tanah Impian Tanah Kesadaran I "Siapakah yang mengajarkanmu hendak meracuni burung-burung pipit, menyingkirkan seisi sawah,...

Puisi Kemiskinan

Puisi Kemiskinan

Mastono ZM
6 September 2016
5

Untukmu Di antara keluh dan yang terenggut, aku ingin mencipta percakapan bersamamu. Barangkali bisa membuatku sejenak melepas lelah dari kejaran...

Lainnya
Segalanya Serba Darurat: Cerita Perampasan Tanah di Merauke, Selatan Papua

Segalanya Serba Darurat: Cerita Perampasan Tanah di Merauke, Selatan Papua

Dari Wasathiyyah ke Moderasi (Beragama): Wacana dan Relasi Kuasa

Dari Wasathiyyah ke Moderasi (Beragama): Wacana dan Relasi Kuasa

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Islam Bergerak

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak