Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Tanah Impian Tanah Kesadaran

A. Musawir
6 September 2016
di Estetika, Puisi
Dibaca dalam 2 menit
A A
Tanah Impian Tanah Kesadaran

Ilustrasi Puisi Tanah Impian Tanah Kesadaran oleh Arut S. Batan

Ilustrasi Puisi Tanah Impian Tanah Kesadaran oleh Arut S. Batan
Ilustrasi oleh Arut S. Batan

Tanah Impian Tanah Kesadaran

I
“Siapakah yang mengajarkanmu hendak meracuni burung-burung pipit, menyingkirkan seisi sawah, menimbun akar rumput dan menghentikan masa-masa cocok tanam; bekal padi kami kelak merunduk?”

II
Kami datang ke dasar mimpi, menagihmu;
Janji kehidupan lumut di desa
Yang lama mengering di kedalaman sumur
Curam harapan, sebab pemangsa di rimba kota
Lebih kuasa menelan arus kehidupan
Seperti air di tangan sulapan
O betapa suram sungai kami
Dihisap dahaga pipa-pipa baja!

Dua musim terus berputar
Mengitari keringat panjang
Suka-duka berjalan pasti
Melingkar di kerongkongan kami
Di dalamnya terbayang jalan setapak
Menuju muara tangis
Di mana terlihat tawa riang anak-anak
Berlarian di pinggiran sisa sawah
Dan gumpalan janin yang terbelah
Jadi tangan-tangan dan kaki-kaki
Harapan penjaga tanah kami
Ia meninju, menendang perut ibunya
Perempuan-perempuan perkasa
Perawat telur peradaban
Dan esok ia panjat punggung ayahnya
Belajar menanam tonggak hidup dan penghidupan.

III
“Merdeka!” Katamu sambil mengibarkan bendera
“Kapan saatnya?” tanya kami

Waktu mengajarkan kami
Lebih lebar membuka mata, bertanya-tanya
Menakar lipatan-lipatan saku celanamu
Merobohkan Monumen Sampah
Yang menutup lubang
Pantat-pantat industrimu

IV
Di tengah pulau kami tatap awan penuh rajutan
Ditemani angin lembut dari Selatan
Lalu ia berbagi cerita:
“Merah-Putih buah tangan purba
Berkibar lirih di tiang bambu
Belahan Timur, bumi yang kelam”

Kami berjaga di antara kain warna-warni
Di bawah langit yang kehitam-hitaman
Bercampur kuning tua daun beringin,
Cokelat loreng-loreng sampai abu-abu
Seperti isyarat suatu intaian perenggut pandangan
Ialah bayang-bayang yang datang dari langit Barat
Juga langitnya sendiri yang tak dimengerti

V
Di sini, ‘Macan-Macan Kertas’ lahir dan dibesarkan
Seperti tanaman bunga-bunga plastik
Dan jajanan batu-bata yang terus bertambah
Mengocok nasib yang lemah

Di sini, ada kehidupan ‘Rayap-Rayap Aspal’
Demi memenuhi standar kehidupan
Lalu di muka bahu jalan
Terdengar teriakan melengking panjang
Seperti kecamuk pertengkaran
Berlarian di arah Kiri dan Kanan

VI
Dari manakah datangnya buah lamunanmu;
mengambil batu dari bukit
Kemudian kau pecahkan jadi kota
Di mana kau curi pisang-pisang
Dan kau cekik petaninya
Atas nama negara

Siapakah yang akan berlakon seperti angin
Pembawa badai yang tak balik mundur
Menerjang istana raja-raja loba
Siapakah?

VII
Tanah impian
Tanah kesadaran
Tanah kepulangan

Rejowinangun, 2016
.

Baca Juga

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

16 November 2024
Suara May Day

Suara May Day

7 Mei 2017

*Lahir di Pamekasan, Madura, 07 Mei 1989. Minat belajar sastra, puisi dan karya fiksi. Kini tengah menjalani rutinitas sebagai penjual es tebu di Jalan Gedongkuning, Pilahan, Kotagede, Yogyakarta

ShareTweetSendShare
A. Musawir

A. Musawir

Lahir pada 07 Mei 1989, Pamekasan, Madura. Minat belajar sastra, puisi dan karya fiksi. Kini tengah menjalani rutinitasnya sebagai penjual Es Tebu di Jl. Gedongkuning, Pilahan, Kotagede, Yogyakarta.

Tulisan Terkait

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur
16 November 2024
0

Sebuah Tarekat Dengan Nama Perlawanan Dor! Suara tembakan menggema di cakrawala peluru menembus lapisan cakrawala dan entah kemana....... Dor! Gerombolan...

Suara May Day

Suara May Day

Mastono ZM
7 Mei 2017
0

Cerita Dari "The Hand that will Rule The World", Sumber: opendemocracy.net Buruh Oleh: Mastono aku bahagia libur tiba aku bisa...

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sinta Ridwan
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan Teruntuk Om Udin Setelah senja menyelimuti langit di atas Watu...

Puisi Kemiskinan

Puisi Kemiskinan

Mastono ZM
6 September 2016
5

Untukmu Di antara keluh dan yang terenggut, aku ingin mencipta percakapan bersamamu. Barangkali bisa membuatku sejenak melepas lelah dari kejaran...

Lainnya
Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian I)

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian I)

Comments 1

  1. JHONI BUKHARI says:
    8 tahun ago

    apa pesan yang terkandung dalam puisi tersebut?

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak