Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sinta Ridwan
6 September 2016
di Estetika, Puisi
Dibaca dalam 2 menit
A A
Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Ilustrasi Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan oleh Arut S. Batan

Ilustrasi oleh Arut S. Batan
Ilustrasi oleh Arut S. Batan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan
Teruntuk Om Udin

Setelah senja menyelimuti langit
di atas Watu Lumbung,
bau amis darahmu yang mengering
selama 20 tahun di Parangtritis KM 13,5
memenuhi sebagian ruang di dadaku,
sebagiannya lagi terisi penuh kepul
asap tembakau keringat petani Bantul
dan buih-buih ombak dari Laut Selatan.
Sebagian darahmu lagi terlarung,
membawa kantung kesendirian,
tenggelam hingga ke dasar Samudera Hindia,
meski setetes embun saja dari seluruh hidup
dan perjuanganmu, Om Udin.

Di ujung genteng Kedai Wedangan,
berkibar merah putih setengah meloroti tiang.
Seolah dewa angin meniupkan penantian,
mengisi ruang tunggu di Candra Sangkala
yang kian dibelenggu rezim penguasa.

Jemariku membisu di Tugu,
di tengah ratusan pilu yang menggebu,
di antara ribuan rindu dipeluk Ibu Keadilan.
Sesekali menadah hujan perlindungan
untuk menggenggam kejujuran.

Mataku, Om Udin, ikut buta.
Tak mampu melihat semak belulang
di antara ilalang pengadilan yang diikat tenun hitam.
Gelap, tak ada warna terang penjelasan,
yang ada hanya kertas kosong
di sudut gagang palu hitam ketua hakim.
Aksara-aksara pun takut menuliskan dirinya
dari tajamnya peluru yang bersembunyi
di balik sepatu boots.

Sekelompok waktu ikut menanti giliran
ditimpa karang-karang sepanjang pesisir Laut Selatan.
Atau dibunuh sekapan demi sekapan
di balik kesunyian dan kepalsuan.

Pisau berlumur tinta yang dimiliki pun ikut terpental,
ditembak cerita penuh rekayasa
yang tak pernah mau peduli
pada secangkir duka, semangkuk luka,
sepiring lara, dan sedanau air mata ibu-ibu
yang kehilangan setengah tujuan hidupnya.
Semua kisah tragedi kelam melarut
menjadi bubur kertas yang dilahap
jutaan perut-perut membusung.

Bau darahmu yang telah mengering itu, Om Udin,
telah dipotong-potong sebanyak 7.300 hari,
hendak dibagi kepada para pemilik asa yang menyisa,
agar mereka tak anemia saat sedang menyantap
bara perlawanan berbumbu pengapusan ingatan,
penyabutan paksa nyawa-nyawa pelewat jalan kebenaran,
penyulikan kebebasan mewarta, dan nada-nada
yang bersaksi pada anti kekerasan.

Om Udin, malam ini kukirim sepucuk puisi
lewat Pak Pos yang sedang bertugas di langit ke delapan.
Sampaikan salamku juga untuk
Om Wiji Thukul di ujung bintang merah,
Om Munir yang sedang menulis di atas awan,
kakak-kakak mahasiswa yang berlarian di daun semanggi
dan Om John Lennon yang sedang memetik gitarnya
di pintu berdarah perlawanan.

Yogyakarta, 15-16 Agustus 2016

———————————————————–

Perpustakaan & Kebebasan

Kita berkumpul di sini,
membawa sekeranjang kesadaran
akan keberadaan aksara-aksara
yang menyimpan rahasia semesta.

Malam itu, kawan kita diserbu.
Oleh kekuatan raksasa hijau
yang memandang rendah kebersamaan
bintang dan kicauan detak jam ribuan waktu.

Baca Juga

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

16 November 2024
Suara May Day

Suara May Day

7 Mei 2017

Buku, tergeletak dan berdebu di jalanan,
di gedung-gedung, di toko buku, di dalam dirimu.
Mereka menunggu untuk dirindu, dibaca kalbu.
Segenggam dunia dilipat kertas-kertas
yang menghisap udara yang sama. Dengan kita.

Membaca, adalah kebebasan.
Membaca, adalah ketangguhan.
Seperti semesta yang ikut bernafas.
Siang dan malam.

Udara, air, tanah, pengetahuan, sampai pendidikan
juga apa-apa yang menetap di bumi adalah kebebasan.
Milik kita sendiri. Tak boleh ada kekerasan.
Tak perlu ada dominasi.

Kita lawan kekerasan dengan membaca.
Kita rebut ruang publik ini
untuk mendirikan kebebasan
untuk melawan.

Kita dirikan rumah pengetahuan
untuk sekarang dan masa depan.

Cirebon, 27 Agustus 2016
.

*Puisi pertama dibacakan di Tugu, Yogyakarta bersama Sisir Tanah dalam rangka 20 tahun kematian wartawan Udin. Dan puisi kedua dibacakan di Taman Kota Sumber, Cirebon dalam rangka solidaritas insiden Perpustakaan Jalanan Bandung.

ShareTweetSendShare
Sinta Ridwan

Sinta Ridwan

Tulisan Terkait

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur
16 November 2024
0

Sebuah Tarekat Dengan Nama Perlawanan Dor! Suara tembakan menggema di cakrawala peluru menembus lapisan cakrawala dan entah kemana....... Dor! Gerombolan...

Suara May Day

Suara May Day

Mastono ZM
7 Mei 2017
0

Cerita Dari "The Hand that will Rule The World", Sumber: opendemocracy.net Buruh Oleh: Mastono aku bahagia libur tiba aku bisa...

Tanah Impian Tanah Kesadaran

Tanah Impian Tanah Kesadaran

A. Musawir
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Tanah Impian Tanah Kesadaran I "Siapakah yang mengajarkanmu hendak meracuni burung-burung pipit, menyingkirkan seisi sawah,...

Puisi Kemiskinan

Puisi Kemiskinan

Mastono ZM
6 September 2016
5

Untukmu Di antara keluh dan yang terenggut, aku ingin mencipta percakapan bersamamu. Barangkali bisa membuatku sejenak melepas lelah dari kejaran...

Lainnya
Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian I)

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian I)

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian II)

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian II)

Comments 1

  1. JHONI BUKHARI says:
    8 tahun ago

    didalam puisi diatas, siapa sebenarnya om udin itu, apakah dia seorang pejuang?

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak