Browse By

Kuil Merah

 Ahmad Syubbanudin Alwy, Penyair Cirebon

Mungkin pohon-pohon pinus tua—beberapa batang cemara

di seberang kuil merah yang atapnya hampir menyentuh udara

kau berdiri seperti Budha, disepuh gerimis juga taburan salju

lengkung langit menyimpan ritus dan tarian ke atas gurun berbatu

kelokan tangga-tangga menyerupai tubuh panjang seekor naga

yang melata ke tepi kolam. Puisiku bersemedi pada retakan cuaca

kulihat, tanganmu menuliskan kata-kata mutiara di gigir senja kelam

menghantarkan himne yang dinyanyikan imigran dengan wajah muram

 

Pada gerbang itu, pokok-pokok beringin putih—serta ranting kamboja

di halaman kecil yang dindingnya mulai memudarkan sepihan bata

ilalang memenuhi pelipismu yang berdarah dan ditisik kembang sepatu

gema lonceng raksasa berdentang menyusutkan gigil tubuhku yang kelabu

sayap-sayap badai berhamburan ke arahku juga, menancap seperti ribuan duri

kemudian menyusun penjuru mata-angin serta garis-garis lembayung sore hari

kubaca, kata-katamu kian runcing seperti tajam samurai dan rahasia filsafat

mengepung seluruh cemas jiwaku, memasuki ruas waktu yang memberat

 

Lalu seorang lelaki—entah siapa, dengan senapan dan sekeranjang stroberi

mereguk secawan anggur yang dituang dari airmataku serta sayatan pori-pori

lenganku. Di hamparan rumput yang berkabut, para biksu menunduk kaku

meditasi dan menenangkan diri. Tapi, dengan sisa senyuman yang ragu-ragu

kedua tanganmu mengulurkan kitab-kitab lama, dengan gambar dewa bersayap

terbang di antara gugusan burung-burung malam, gulungan mega yang berasap

memenuhi lambungku yang terluka, menyelami dasar hatimu yang tak teraba

dan kau mungkin tahu, kota ini, telah mengurungku menjadi seekor laba-laba

 

Taiwan, 2004/2011.

Tinggalkan Balasan