Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Kuil Merah

Redaksi
13 Maret 2014
di Estetika, Puisi
Dibaca dalam 1 menit
A A
Kuil Merah

Mungkin pohon-pohon pinus tua—beberapa batang cemara

di seberang kuil merah yang atapnya hampir menyentuh udara

kau berdiri seperti Budha, disepuh gerimis juga taburan salju

lengkung langit menyimpan ritus dan tarian ke atas gurun berbatu

kelokan tangga-tangga menyerupai tubuh panjang seekor naga

yang melata ke tepi kolam. Puisiku bersemedi pada retakan cuaca

kulihat, tanganmu menuliskan kata-kata mutiara di gigir senja kelam

menghantarkan himne yang dinyanyikan imigran dengan wajah muram

 

Pada gerbang itu, pokok-pokok beringin putih—serta ranting kamboja

di halaman kecil yang dindingnya mulai memudarkan sepihan bata

ilalang memenuhi pelipismu yang berdarah dan ditisik kembang sepatu

gema lonceng raksasa berdentang menyusutkan gigil tubuhku yang kelabu

sayap-sayap badai berhamburan ke arahku juga, menancap seperti ribuan duri

Baca Juga

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

16 November 2024
Suara May Day

Suara May Day

7 Mei 2017

kemudian menyusun penjuru mata-angin serta garis-garis lembayung sore hari

kubaca, kata-katamu kian runcing seperti tajam samurai dan rahasia filsafat

mengepung seluruh cemas jiwaku, memasuki ruas waktu yang memberat

 

Lalu seorang lelaki—entah siapa, dengan senapan dan sekeranjang stroberi

mereguk secawan anggur yang dituang dari airmataku serta sayatan pori-pori

lenganku. Di hamparan rumput yang berkabut, para biksu menunduk kaku

meditasi dan menenangkan diri. Tapi, dengan sisa senyuman yang ragu-ragu

kedua tanganmu mengulurkan kitab-kitab lama, dengan gambar dewa bersayap

terbang di antara gugusan burung-burung malam, gulungan mega yang berasap

memenuhi lambungku yang terluka, menyelami dasar hatimu yang tak teraba

dan kau mungkin tahu, kota ini, telah mengurungku menjadi seekor laba-laba

 

Taiwan, 2004/2011.

 

ShareTweetSendShare
Redaksi

Redaksi

Tulisan Terkait

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur
16 November 2024
0

Sebuah Tarekat Dengan Nama Perlawanan Dor! Suara tembakan menggema di cakrawala peluru menembus lapisan cakrawala dan entah kemana....... Dor! Gerombolan...

Suara May Day

Suara May Day

Mastono ZM
7 Mei 2017
0

Cerita Dari "The Hand that will Rule The World", Sumber: opendemocracy.net Buruh Oleh: Mastono aku bahagia libur tiba aku bisa...

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sinta Ridwan
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan Teruntuk Om Udin Setelah senja menyelimuti langit di atas Watu...

Tanah Impian Tanah Kesadaran

Tanah Impian Tanah Kesadaran

A. Musawir
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Tanah Impian Tanah Kesadaran I "Siapakah yang mengajarkanmu hendak meracuni burung-burung pipit, menyingkirkan seisi sawah,...

Lainnya
Papua

Papua

Rumah Pasir

Rumah Pasir

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Islam Bergerak

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak