Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Remang Jakarta

Redaksi
22 Maret 2014
di Estetika, Puisi
Dibaca dalam 1 menit
A A
Remang Jakarta

jakarta.go.id

sepotong pagi dipenuhi bercak darah, mengetuk hati yang terluka

merayu pilu dengan sedikit erang kesakitan, menyayat serai airmata

kemudian lantai basah, dinding kamar gundah, jalan-jalan terbelah

dari ufuk jiwaku barikade, sobekan kertas pemilu, plastik sampah

berserakan—juga selebaran gelap, foto mantan presiden, poster iklan

bendera-bendera partai, teks pidato pejabat negara, teriakan demonstran

bercampur aroma bangkai menyengat dari abu pertokoan—terus menyala

 

lalu seseorang berpakaian rahib—begitu gaib, bangkit dari tidurku

merapikan peta Negara yang tertutup remang kabur Jakarta, atau jarimu

atau tangan sekelompok mahasiswa yang sebagian tubuhnya terbakar

di meja perjudian para politisi. Kata-kata tumbuh dari api dan kelakar

menyimpan sekam, menyembunyikan cakar elang dan kutuk tembakan

sesekali terdengar juga, batuk-batuk disertai cacian, lengking bunyi letusan

Baca Juga

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

16 November 2024
Suara May Day

Suara May Day

7 Mei 2017

berhamburan: dari pelipis amis langit senjakala, dari desis tangis suka-cita

 

di hatiku, sepotong pagi berlumuran nanah dan darah, leleh terkelupas

menyerupai gambar atlas, di alismu ilalang ranggas, asap ban-ban bekas

getah dendam membumbung ke udara, menutup serpihan cakrawala

dari jauh gema lonceng kematian berdentang-juga gemuruh beribu kuda

mendengung dalam batok kepala, angin menyusun retakan senyap waktu

di sela jerit frustasi, gedung-gedung pemerintah meringkik dan membatu

Istana Negara itu—di hadapanku seperti rumah hantu: kelak menyergapmu!

 

Cirebon, 1999/2011

ShareTweetSendShare
Redaksi

Redaksi

Tulisan Terkait

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Tarekat, Doa, dan Perlawanan: Puisi-Puisi Yogi Abdul Gofur

Yogi Abdul Gofur
16 November 2024
0

Sebuah Tarekat Dengan Nama Perlawanan Dor! Suara tembakan menggema di cakrawala peluru menembus lapisan cakrawala dan entah kemana....... Dor! Gerombolan...

Suara May Day

Suara May Day

Mastono ZM
7 Mei 2017
0

Cerita Dari "The Hand that will Rule The World", Sumber: opendemocracy.net Buruh Oleh: Mastono aku bahagia libur tiba aku bisa...

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan

Sinta Ridwan
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Sepucuk Puisi Berbau Darah Kebebasan Teruntuk Om Udin Setelah senja menyelimuti langit di atas Watu...

Tanah Impian Tanah Kesadaran

Tanah Impian Tanah Kesadaran

A. Musawir
6 September 2016
1

Ilustrasi oleh Arut S. Batan Tanah Impian Tanah Kesadaran I "Siapakah yang mengajarkanmu hendak meracuni burung-burung pipit, menyingkirkan seisi sawah,...

Lainnya
Naguib Mahfouz: Tuhan Tidak Menciptakan Agama sebagai Klub Kebugaran

Naguib Mahfouz: Tuhan Tidak Menciptakan Agama sebagai Klub Kebugaran

Bara Perlawanan Petani di Urutsewu

Bara Perlawanan Petani di Urutsewu

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Islam Bergerak

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak