Browse By

Remang Jakarta

Ahmad Syubbanudin Alwy, Penyair Cirebon

 

sepotong pagi dipenuhi bercak darah, mengetuk hati yang terluka

merayu pilu dengan sedikit erang kesakitan, menyayat serai airmata

kemudian lantai basah, dinding kamar gundah, jalan-jalan terbelah

dari ufuk jiwaku barikade, sobekan kertas pemilu, plastik sampah

berserakan—juga selebaran gelap, foto mantan presiden, poster iklan

bendera-bendera partai, teks pidato pejabat negara, teriakan demonstran

bercampur aroma bangkai menyengat dari abu pertokoan—terus menyala

 

lalu seseorang berpakaian rahib—begitu gaib, bangkit dari tidurku

merapikan peta Negara yang tertutup remang kabur Jakarta, atau jarimu

atau tangan sekelompok mahasiswa yang sebagian tubuhnya terbakar

di meja perjudian para politisi. Kata-kata tumbuh dari api dan kelakar

menyimpan sekam, menyembunyikan cakar elang dan kutuk tembakan

sesekali terdengar juga, batuk-batuk disertai cacian, lengking bunyi letusan

berhamburan: dari pelipis amis langit senjakala, dari desis tangis suka-cita

 

di hatiku, sepotong pagi berlumuran nanah dan darah, leleh terkelupas

menyerupai gambar atlas, di alismu ilalang ranggas, asap ban-ban bekas

getah dendam membumbung ke udara, menutup serpihan cakrawala

dari jauh gema lonceng kematian berdentang-juga gemuruh beribu kuda

mendengung dalam batok kepala, angin menyusun retakan senyap waktu

di sela jerit frustasi, gedung-gedung pemerintah meringkik dan membatu

Istana Negara itu—di hadapanku seperti rumah hantu: kelak menyergapmu!

 

Cirebon, 1999/2011

Tinggalkan Balasan