Juni tahun 2025 lalu, perusahaan Mercury Energy di Selandia Baru menghentikan kontrak mereka dengan perusahaan asal Israel, Ormat Technologies. Kontrak ini direncanakan sebagai proyek membangun pembangkit listrik. Keputusan Mercury Energy ini merupakan hasil dari advokasi dan penyadaran publik tentang keputusan Internasional Court of Justice atas pelanggaran hukum yang diakukan Israel di Palestina serta seruan untuk menghentikan segala bantuan atau kerja sama dengan Israel yang akan menyokong rezim penjajahan mereka. Keputusan ini juga sejalan dengan kampanye yang dilakukan gerakan BDS (Boycott, Divest, and Sanctions) selama ini.
Jika perusahaan di Selandia Baru berani melakukan ini tahun lalu, kenapa Indonesia, yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel serta secara politik mendukung kemerdekaan Palestina, dengan tangan terbuka justru menyambut dan memberi konsesi pada anak perusahaan Ormat Technologies di Indonesia?
Jika perusahaan di Selandia Baru berani melakukan ini tahun lalu, kenapa Indonesia, yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel serta secara politik mendukung kemerdekaan Palestina, dengan tangan terbuka justru menyambut dan memberi konsesi pada anak perusahaan Ormat Technologies di Indonesia?
Kejahatan Israel terhadap Palestina yang masih terus berlangsung adalah fakta keras, bukan sekedar tuduhan atau rumor. Pada tahun 2024, International Court of Justice (ICJ) secara resmi menyatakan Israel bersalah atas kejahatan apartheid atas rakyat Palestina, dan bahwa serangan militer serta pendudukan wilayah Palestina sebagai melanggar hukum. Di bulan September, Majelis Umum PBB mayoritas voting untuk sanksi atas Israel, pertama kalinya sejak 42 tahun. Bulan Desember, penyelidikan dari Amnesty Internasional menemukan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza. Artinya, fakta dan bukti di lapangan telah diverifikasi benar adanya atas upaya sistematis pembasmian terhadap 2,3 juta rakyat Palestina di Gaza di bawah rezim apartheid dan kolonialisme Israel.
Di tengah situasi ini juga, Amerika Serikat (AS) dan Israel memutuskan untuk mengabulkan ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menyerang Iran di awal bulan Maret ini. Bulan suci Ramadhan umat Muslim dinodai oleh serangan misil AS yang secara sengaja mengebom sekolah dasar di Iran, menewaskan secara brutal lebih dari 100 anak kecil perempuan. Agresi Israel dan US yang berkedok penggantian rezim dan ketakutan terhadap pengembangan nuklir ini bahkan sampai membunuh Pemimpin Tinggi Ali Khameini. Di balik alasan penggantian rezim dan ketakutan terhadap nuklir, AS dan Israel sebenarnya sedang memperluas penjajahan dan memperkuat cengkeramannya di semenanjung Arab.
Tak hanya masyarakat dunia yang terbangun dan tersadar atas tragedi ini. Publik Amerika Serikat khususnya, juga mulai ‘tercerahkan’ oleh realitas politik AS yang selama ini didominasi oleh lobi zionis bernama AIPAC. Survei dari Reuters/Ipsos (28 Februari-Maret 2026) menemukan bahwa hanya sekitar satu dari empat warga Amerika yang mendukung serangan udara AS terhadap Iran, sementara sebagian besar menentangnya. Belakangan, investigasi atas skandal Jeffrey Eipstein, seorang agen Mossad yang mengorganisir rantai kriminal kelas atas dalam kejahatan perdagangan manusia, pedofilia, dan berbagai kasus penyiksaan yang juga menyeret para elit global. Beberapa diantaranya dilansir adalah Donald Trump, mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak, hingga Bill Gates. Bahkan para pengamat politik internasional dan publik Amerika Serikat mulai menganalisis bahwa perang Iran ini, selain memenuhi ambisi setan Netanyahu, adalah pengalihan dari kasus Epstein yang menjerat Donald Trump dan segenap elit global lainnya.
Pertanyaannya kemudian adalah, setelah semua ini menyeruak dan memuncak dalam dua tahun terakhir, mengapa Pemerintah Indonesia masih melanjutkan kerjasama ekonomi dengan Israel?
Geotermal: Penhancuran bumi berkedok energi bersih terbarukan
Indonesia adalah salah satu dari produsen geotermal (panas bumi) terbesar di dunia, potensinya 40% dari potensi sumber energi panas bumi. Menurut laporan ADB, Indonesia 29,000 MW potensi energi geotermal dan punya potensi untuk melampaui kapaistas dunia sekarang. Sekarang, tapi kekuatan geotermal di Indonesia 2019 masih kurang dari 2000 MW, kedua terbesar di dunia setelah AS.
Ambisi untuk membangun geotermal sebenarnya sudah dimulai. Tahun 2007 sudah ada konstruksi besar-besaran untuk bisa mengembangkan ini. Salah satu yang terbesar adalah PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) Kemajang 225 MW stasiun energi di Jawa Barat, Wayang Windu 227 MW di Jawa Barat juga. Beberapa teknologi yang dipakai disini pakai perlengkapan perusahaan Jepang, Fuji Electric, salah satu dari penyedia elektronik terbesar di dunia. Kapasitas geotermal di Indonesia sendiri dilansir 5000 MW untuk tahun 2025 yang ditargetkan Presiden Jokowi. Ini rencana ambisius yang kalau berhasil akan membuat Indonesia punya sumber energi yang dianggap bersih dan ramah lingkungan, konon untuk bisa merespon perubahan iklim. Tapi ini proyek ini juga mahal, dan butuh sekitar 200 juta dollar untuk pembangkit medium, 500 M.
Tahun 2015, Counterpunch menganalisis tentang tumpahan aspal cair (bitumen) dari pasir minyak di Long Lake, Alberta, Kanada, yang prosesnya dikembangkan oleh Ormat. Fakta bahwa tumpahan besar ini berasal dari pipa Nexen, yang mengalir dari pabrik Long Lake, sangat penting. Proses yang digunakan di pabrik ini dikembangkan di Israel oleh perusahaan Ormat, yang melakukan penelitian dan pengembangan minyak serpih dengan teknologi ini di gurun Niqab/Negev hingga pemerintah Israel (di bawah Ariel Sharon) menolak untuk mensubsidi produksi.
Operasi pasir minyak Long Lake milik Nexen, meskipun berlabel ‘ramah lingkungan’, adalah salah satu proyek minyak paling kotor dan merusak di Kanada—menghasilkan emisi gas rumah kaca yang ekstrem, merusak sungai dan lahan, dan bersembunyi di balik kemitraan konservasi yang sama saja dengan pencucian citra hijau perusahaan.
Tahun 2021, Hindenburg Research merilis pernyataan bahwa Ormat telah terlibat pada aksi sistematis dan meluas dalam praktek korupsi skala internasional. Beberapa eksekutif dan direktur senior Ormat pernah bekerja di Shikun & Binui, sebuah perusahaan konstruksi terkemuka Israel. Shikun & Binui didakwa oleh jaksa Israel karena menyuap pejabat di dua pasar utama Ormat saat ini, yaitu Kenya dan Guatemala. Proyek-proyek listrik internasional menyumbang 70% dari pendapatan bersih Ormat pada tahun 2020—sebagian besar berasal dari Kenya, Guatemala, dan Honduras. Ada bukti yang mengaitkan Ormat dengan korupsi yang melibatkan pejabat pemerintah senior dalam bisnis internasional yang menguntungkan ini. Pemerintah Indonesia harus mengambil sikap atas praktik ilegal dari Ormat ini.
Ini adalah bentuk Pencucian Hijau Korporat (greenwashing). Nexen dan perusahaan serupa menggunakan kemitraan konservasi untuk mendapatkan “izin sosial” sambil terus melakukan praktik-praktik yang merusak. Sementara itu, teknologi dan kepemilikan bergeser dari Israel ke Kanada ke Cina, menunjukkan bagaimana pengembangan pasir minyak tertanam dalam aliran modal internasional.
Proyek Long Lake ini adalah simbol kontradiksi dalam politik energi modern: dipasarkan sebagai inovatif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, namun pada kenyataannya merupakan salah satu operasi pasir minyak yang paling mencemari dan merusak. Bencana sebenarnya bukan hanya pecahnya pipa, tetapi juga keberadaan pabrik itu sendiri yang terus berlanjut. Jadi ini dalih soal energi bersih dan terbarukan ini adalah sesuatu yang harus kita investigasi dan advokasi perlawanannya karena secara faktual sudah terbukti lebih berupa marketing ‘greenwashing’.
. Dengan tajuk “Think Green Think Blue”, Israel memang menempatkan kampanye dan upaya inisiatif energi bersih melalui corong perbaikan citra diri bernama Hasbara. Artinya, omong kosong energi bersih Israel ini tidak lebih dari propaganda rezim pelaku genosida yang berupaya mengalihkan perhatian warga dunia dari berbagai kekejian yang hingga kini masih dilakukannya.
Dengan tajuk “Think Green Think Blue”, Israel memang menempatkan kampanye dan upaya inisiatif energi bersih melalui corong perbaikan citra diri bernama Hasbara. Artinya, omong kosong energi bersih Israel ini tidak lebih dari propaganda rezim pelaku genosida yang berupaya mengalihkan perhatian warga dunia dari berbagai kekejian yang hingga kini masih dilakukannya.

Sebelum insiden di Long Lake, PT Ormat ini sebenarnya sudah lama bermanuver di Indonesia. Sepuluh tahun lalu, yaitu 2014, The Times of Israel memberitakan bahwa Ormat Technology sudah menyepakati pembiayaan untuk konstruksi PLT di Indonesia lewat Proyek Sarulla. Ormat Techologi ini meski dimiliki Israel, tapi berbasis di Amerika Serikat. Perjanjian ini adalah pembiayaan sebesar 1.17 miliar USD untuk membangun 330 MW PLTP Sarulla di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Teknologinya langsung dikembangkan oleh Israel. Dahsyatnya lagi, kontraknya itu sendiri sebenarnya sudah ditandatangani tahun 2007. Hampir 20 tahun lalu. Nah siapa yang mengelolanya di Indonesia? Yaitu konsorsium antara Medco, Itochu dari Jepang, dan Ormat – yang punya 12,5% kepemilikan dari proyek ini. Pembiayaannya lewat JBIC (Japan Bank for Internasional Cooperation) dan Asian Development Bank (ADB). Listrik yang diproduksi oleh PLTP ini kemudian akan dijual ke PLN untuk 30 tahun kontrak.
Ormat, yang telah beroperasi selama 40 tahun, menjual sistem pembangkit listrik siap pakai berdasarkan Ormat Energy Converter, sebuah unit pembangkit listrik yang mengubah panas geotermal suhu rendah, menengah, dan tinggi menjadi listrik. Perusahaan ini merupakan salah satu yang terbesar di bidangnya, membangun pembangkit listrik geotermal di seluruh dunia, dengan 1.100 karyawan, 600 di antaranya di AS, dan beroperasi di 24 negara di seluruh dunia.
Februari 2025 lalu, Ormat Technologies telah mengamankan dua perjanjian pengoperasian selama 15 tahun dengan Otoritas Listrik Israel untuk sistem penyimpanan energi baterai (BESS) skala utilitas dengan total kapasitas 300MW/1.200MWh, menandai masuknya mereka secara signifikan ke pasar penyimpanan energi skala jaringan di Israel.
Semua rekam jejak kelam dan kotor dari Ormat ini harus dihentikan segera di Indonesia. Namun, realitanya, pada 8 Januari 2026, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia memberikan konsesi area kerja panas bumi Telaga Ranu kepada PT Ormat Geothermal Indonesia. Konsesi ini merupakan bagian dari dorongan Indonesia yang lebih luas menuju Emisi Nol Bersih pada tahun 2060, yang menyoroti ketegangan antara ambisi iklim dan perlindungan lingkungan/sosial. Konsesi Halmahera dianggap sebagai keputusan yang memiliki dua sisi: meskipun memajukan target energi terbarukan Indonesia, secara bersamaan hal itu merusak kredibilitas kebijakan luar negeri dan mengancam integritas ekologis.
Persetujuan Indonesia atas konsesi panas bumi di Pulau Halmahera kepada PT Ormat Geothermal Indonesia (yang terkait dengan Ormat Technologies Israel) telah memicu kontroversi, menimbulkan kekhawatiran tentang kontradiksi kebijakan luar negeri dan risiko ekologis. Hal ini tentu melemahkan sikap pro-Palestina Indonesia sekaligus mengancam ekosistem rapuh yang sudah tertekan oleh penambangan nikel.
Salah satu alternatif kuatnya untuk melawan ini adalah menghubungkan gerakan lokal di Halmahera, serta aktivis gerakan lingkungan lainnya di Indonesia, dengan gerakan solidaritas internasional khususnya tapi tak terbatas pada BDS (Boycott, Divest, Sanction). Sejak tahun pendiriannya tahun 2005, gerakan solidaritas internasional BDS telah memperjuangkan perlawanan terhadap para ‘enabler2’ genosida ini yang eskalasinya memuncak di tahun 2024. Berbagai pesimisme bahkan sinisme muncul terhadap gerakan ini. Namun, jika kita lihat bagaimana perjuangan dan keberhasilan mereka, maka ini menjadi contoh bagaimana solidaritas internasional yang menggabungkan strategi non-kekerasan kampanye ekonomi, politik, sosial dan budaya melawan Zionis, didukung oleh prinsip moral kemanusiaan, telah memiliki dampaknya bagi jantung kolonialisme-imperialisme.
BDS: Keberhasilan dan perjuangan kolektif
Meski Ormat Technologies telah melakukan eksplorasi energi panas bumi di berbagai wilayah, bahan bakar fosil dan minyak tetap menjadikan Timur Tengah wilayah yang terus diincar oleh Amerika Serikat. Perang Iran ini menemukan titik temu antara ambisi Donald Trump untuk mempertahankan petrodollar dan menguasai minyak di Arab dan mimpi basah Netanyahu untuk mewujudkan ‘Israel Raya’ dengan membabat rakyat Arab kecuali yang bisa mereka perbudak dan kooptasi. Disini perjuangan pembebasan Palestina menjadi pusat kesadaran dunia karena pertarungan ini akan menentukan arah global ke depan, yang gejolak ekonomi geopolitiknya akan menggoyang negara-negara lain termasuk Indonesia.
Di tengah situasi ini, gerakan BDS telah mencatat keberhasilan, dengan perjuangan kolektif lewat berbagai rekanan organisasi dan tekanan publik di tingkat global. BDS memenuhi apa yang dilindungi di dalam hukum internasional. Ia juga mengubungkan gerakan pembebasan Palestina dengan mengakhiri keterlibatan internasional – negara, korporasi, lembaga – dalam rezim genosida. Untuk mempengaruhi kebijakan kita harus membangun gerakan massa dalam banyak bentuk. Koalisi lintas sektor, kekuatan media, litigasi strategis, disrupsi damai, dsb. Ini adalah gerakan anti rasis.
Israel sekarang menjadi rezim genosida yang disokong militer, finansial, dan dilindungi dari akuntabilitas oleh AS, EU, dan negara-negara Eropa lainnya. Dalam wawancaranya dengan Aljazeera, Omar Barghouti, penggagas BDS, mengatakan bahwa tanpa rantai dukungan dari berbagai pihak internasional, Israel tidak akan punya kekuasaan dan keleluasaan seperti apa yang telah mereka lakukan selama ini. Jika kita putus rantai itu, kita dapat membantu perlawanan Palestina lebih efektif terhadap sistem penindasan ini. Kita sudah menyaksikan ini terjadi di Afrika Selatan. Gerakan rakyat internasional telah mampu menunjukkan bagaimana India melawan kolonialisme Inggris, Aljazair melawan kolonialisme Perancis, Afrika Selatan melawan rezim apartheid, hingga Indonesia melawan Belanda. Jadi sejarah telah menunjukkan bagaimana solidaritas internasional negara-negara jajahan ini bisa bersatu untuk mengalahkan sistem penindasan yang telah bercokol berabad-abad.
Daftar keberhasilan gerakan BDS di skala global dan nasional telah terbukti nyata dan diakui resmi. Keberhasilan ini mencakup lingkup PBB dan organisasi internasional lainnya, tingkat negara dan pemerintah lokal, perusahaan dan lembaga keuangan, organisasi non-pemerintah (serikat buruh, akademisi, lembaga keagamaan, kelompok budaya, asosiasi olah raga) dan partai politik. Berikut adalah beberapa diantaranya:
| Lembaga PBB dan organisasi internasional | 1. Implikasi hukum dari putusan ICJ atas kejahatan Israel di Palestina diringkas secara singkat oleh mantan pejabat senior hak asasi manusia PBB, Craig Mokhiber: “Putusan otoritatif Mahkamah Internasional (ICJ) tentang pendudukan Israel memperjelas bahwa BDS terhadap pendudukan, penjajahan, dan apartheid Israel bukan hanya keharusan moral tetapi juga kewajiban hukum.” 2. Konferensi OKI dan Liga Arab menyerukan embargo militer ke Israel. OKI dan Afrika Selatan meminta pembentukan kembali Komite Khusus PBB Melawan Apartheid, yang menjadi tuntutan BDS dan gerakan masyarakat sipil Palestina sejak 2020. 3. African Commission on Human and People’s Rights, sebagai respon atas BDS, mengadopsi resolusi pertama untuk Palestina setelah 24 tahun, menyerukan negara-negara Afrika untuk mengakhiri rantai keterlibatan dengan israel dan memastikan akuntabilitas. |
| Negara dan pemerintah lokal | 1. Berkat kampanye teguh BDS Turki, 6 kotamadya di Turki mengakhiri protokol ‘sister city’ dengan Israel. 2. Di AS, Alameda County (California) mendivestasi dari Caterpillar dan voting untuk mengadopsi kebijakan investasi etis. Mereka juga melarang semua investasi di perusahaan senjata dan bahan bakar fosil. Portland (Maine) juga melakukan voting untuk mendivestasi dari perusahaan yang terlibat dalam rezim Israel. Beberapa wilayah di Ohio juga komitmen untuk tidak memperbaharui kerjasama dengan israel. 3. Negara Kolombia juga menghentikan kerjasama pembelian pesawat militer dari Israel. PM Spanyol Pedro Sanchez menyerukan negara-negara EU melakukan embargo militer ke Israel. Spanyol, atas desakan aktivis BDS, juga akhirnya menolak masuk kapal dari Denmark yang membawa perlengkapan militer ke Israel. 4. Kampanye #BlockTheBoat: Franscesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk Palestina juga membantu kampanye embargo militer, turut memobilisasi kelompok solidaritas internasional dari Malaysia hingga Slovenia yang mendisrupsi pengiriman kapal berisi alat peledak yang akan digunakan Israel terhadap Palestina. Namibia, Angola, Montenegro dan Malta juga menolak terlibat dalam rantai distribusi zionis ini. |
| Korporasi dan lembaga keuangan | 1. Ketua Institut Ekspor Israel mengatakan: “BDS dan boikot telah mengubah lanskap perdagangan global Israel.” Ia menambahkan, “Boikot ekonomi dan organisasi BDS menghadirkan tantangan besar, dan di beberapa negara, kami terpaksa beroperasi secara diam-diam.” Tingkat pertumbuhan PDB tahunan Israel yang diproyeksikan untuk tahun 2024 adalah 0%, dan sekitar 60.000 bisnis Israel diproyeksikan telah tutup selama tahun genosida yang sedang berlangsung ini. 2. Chevron, target prioritas gerakan BDS, menghentikan perluasan ladang gas fosil senilai $429 juta yang diklaim Israel di tengah genosida yang terus berlanjut di Gaza dan pemboman brutal Israel di Lebanon, Suriah, dan sekitarnya. Pada bulan September, aktivis BDS dan aliansinya khususnya dari gerakan keadilan iklim dan keadilan masyarakat adat, menyelenggarakan aksi selama seminggu melawan perusahaan tersebut, yang menarik dukungan dari Greta Thunberg dan Naomi Klein. 3. Toko 7-Eleven dilaporkan menutup kedelapan tokonya di Israel pada bulan November, indikasi lain dari pelarian modal dan bisnis dari ekonomi yang secara bertahap ‘runtuh’. |
| Akademia | 1. American Sociological Association, organisasi profesional sosiolog terbesar di AS, memutuskan untuk menarik investasi dari perusahaan senjata, mempublikasikan kebijakan investasinya, dan mengembangkan proses untuk meninjau investasi lainnya. 2. College of Mexico memutuskan hubungannya dengan Universitas Hebrew sebagai bentuk solidaritas dengan rakyat Palestina. Bulan Juli, universitas-universitas Israel mengakui penurunan hingga 60% dalam pendaftaran mahasiswa PhD dan pascadoktoral internasional di universitas-universitas Israel yang terlibat dalam #GenosidaGaza dan tekanan BDS. 3. Universitas Bisnis dan Ekonomi Internasional di Beijing menutup UIBE-Israel, satu-satunya kampus Cina di Israel. Awal tahun ini, sebuah kampanye oleh lulusan UIBE menyerukan penutupan UIBE-Israel dan evaluasi ulang program pertukaran atau program akademik lainnya saat ini dan di masa mendatang dengan lembaga-lembaga Israel yang terlibat. |
| Budaya | 1. Lebih dari 1.000 tokoh industri buku, termasuk Sally Rooney, Rachel Kushner, dan Arundhati Roy, berjanji untuk tidak bekerja sama dengan penerbit, festival, atau publikasi yang “terlibat dalam pelanggaran hak-hak Palestina,” yang kemudian diikuti oleh lebih dari 7.000 penulis. |
| Serikat buruh | 1. Tujuh serikat buruh utama AS yang mewakili 6 juta pekerja menyerukan kepada pemerintahan Biden untuk menghentikan semua pendanaan militer ke Israel. 2. Federasi Guru Amerika (AFT) juga mengumumkan divestasi penuhnya dari Obligasi Israel. OPSEU SEFPO, yang mewakili 180.000 pekerja di Ontario, Kanada, mengadopsi resolusi yang mendukung BDS. 3. Sebagai bagian dari kampanye #BlockTheBoat, pekerja pelabuhan dan serikat buruh Yunani di pelabuhan Piraeus di Athena menghentikan sebuah kontainer yang diduga membawa peluru untuk digunakan Israel dalam genosida mereka agar tidak dimuat ke kapal MV Marla Bull. Kapal tersebut terpaksa berangkat tanpa muatan. 4. Pekerja pelabuhan Maroko menolak untuk memuat kapal Maersk dengan kargo militer untuk genosida Israel. |
| Anti-pinkwashing | 1. Asosiasi Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Interseks Internasional (IGLA), sebuah federasi dari 1.900 organisasi LGBTQIA+ di 160 negara dan wilayah, mencabut tawaran untuk menjadi tuan rumah konferensi dunia berikutnya di Tel Aviv yang masih menerapkan apartheid dan menangguhkan keanggotaan organisasi Israel yang terlibat, Aguda. 2. Capital Pride di Ottawa, Kanada, mengakui bahwa Israel melakukan genosida di Gaza dan berkomitmen untuk meninjau sponsor perusahaan berdasarkan prioritas boikot gerakan BDS. |
Sumber: Laporan Pencapaian BDS, Juli-Desember 2024
Capaian BDS ini menunjukkan bahwa masyarakat punya kekuatan, mereka selalu menjadi bagian dari gerakan sosial yang mengambil tindakan, mempengaruhi dan membentuk arah kebijakan. Jutaan orang yang terlibat akan memberi tekanan bagi penguasa, pengaruh bagi kebijakan dan inspirasi bagi masyarakat lainnya.
Waktunya bangkit: nasionalisme Indonesia lahir dari internasionalisme
Jika ada yang berargumen bahwa investasi asing lewat pembangunan infrastruktur jalan raya, pabrik, hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi sudah pasti berfaedah untuk rakyat Indonesia, maka ini seperti buta sejarah dan mimpi siang bolong. Sejak kapan, misalnya, perkebunan sawit skala raksasa di Kalimantan dan Papua menyejahterakan masyarakat adat di sana selain daripada uang yang masuk ke kantong para komprador lokal?
Indonesia adalah negara luas dengan demografi kuat berusia produktif dan cadangan sumber daya alam besar. Kemajuan dan kemerdekaan Indonesia tidak pernah terlepas dari dimensi solidaritas internasional. Sejak awal perjuangan melawan kolonialisme, semangat kemerdekaan Indonesia tidak muncul dari siluman tokoh lokal yang tiba-tiba punya ide soal kedaulatan Indonesia. Melainkan, gagasan ini lahir dari perjuangan dan pergulatan berdarah, perlawanan, aksi massa, serta perhelatan para kakek nenek moyang kita dengan para pejuang dan cendikia anti-kolonial di seluruh dunia. Khususnya di awal abad ke-20.
Contoh lain adalah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955. Hampir 30 negara yang diwakili oleh pemimpin bangsa-bangsa terjajah sama-sama membangun solidaritas melawan imperialisme. Malcolm X memuji pertemuan ini dengan menyatakan bahwa terlepas perbedaan agama, ideologi, etnisitas, KAA menunjukkan bahwa dengan segala keterbatasan militer, para pemimpin Asia Afrika mampu menyatukan perlawanan mereka. Keberislaman di Asia Tenggara juga menunjukkan karakter kosmopolitan umat, yang terbuka, kritis, dan mampu menyerap dan mensintesiskan berbagai gagasan, teori dan praksis dari berbagai belahan dunia untuk perjuangan melawan penjajahan dan kejumudan. Ilusi sekat-sekat geografis ini harus dibongkar. Apa yang terjadi di Selat Hormuz dan di Gaza, berdampak langsung atau tidak langsung pada kehidupan sehari-hari kita.
Perkara Palestina harus menyadarkan kita bahwa ini bukan semata persoalan agama Islam. Malah, justru Israel yang selama ini turut membunuh umat Kristiani dan merusak gereja di Palestina. Bahkan sejak 7 Oktober 2023, Israel telah menghapus 3% dari populasi Kristen di Gaza dan kehancuran gereja-gereja bersejarah di Tepi Barat. Ini juga bukan perselisihan Sunni-Syiah, politik Kiri-Kanan, Islam tradisional-reformis, dan segala preferensi yang memecahbelah umat harus disatukan untuk nasib manusia dan planet ini di masa depan.
Terlepas dari teknologi AI dan infrastruktur digital yang dimonopoli oleh kolusi antara korporasi global dan industri kompleks militer, secara prinsip bukan berarti kita harus anti pembangunan atau anti kemajuan teknologi lalu kabur ke hutan dan membangun desa sendiri bebas kehidupan modern. Berbagai alternatif solusi atas krisis kapitalisme dan kolonialisme ini telah didiskusikan dan ditawarkan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk percaya bahwa ada opsi lain selain kapitalisme-kolonialisme, dan secara kuat mencerabut akar-akar kezaliman yang telah menubuh terlalu lama di dalam mentalitas, paradigma, tapi juga struktur dan sistem kehidupan kita.
Perkara Palestina harus menyadarkan kita bahwa ini bukan semata persoalan agama Islam. Malah, justru Israel yang selama ini turut membunuh umat Kristiani dan merusak gereja di Palestina. Bahkan sejak 7 Oktober 2023, Israel telah menghapus 3% dari populasi Kristen di Gaza dan kehancuran gereja-gereja bersejarah di Tepi Barat. Ini juga bukan perselisihan Sunni-Syiah, politik Kiri-Kanan, Islam tradisional-reformis, dan segala preferensi yang memecahbelah umat harus disatukan untuk nasib manusia dan planet ini di masa depan.
Perjuangan ini adalah perjuangan semesta karena kerusakan dan kehancurannya sudah dirasakan, dan jika dilanjutkan ini akan membawa kita pada krisis yang lebih besar lagi. Kolonialisme, kehancuran ruang hidup manusia, sudah dalam skala yang tidak bsia dibantah lagi. Tapi retorika dan kampanye politik lewat pembiayaan besar-besaran dan label seperti ‘energi bersih’ masih diadopsi oleh politisi dan negara sementara fakta di lapangan dan berbagai laporan telah menunjukkan bukti yang sebaliknya. Jadi, jika bukti tidak bisa melawan kebijakan, ini juga jadi bagian mendasar dari pertempuran soal akal sehat, nurani, dan material yang melandasi kehidupan kita semua.






