Browse By

Sosialisme Hijau

Diterjemahkan oleh Muhammad Al-Fayyadl

Di dalam bukunya, Kapitalisme Hijau Itu Tidak Mungkin, Daniel Tanuro[1] menunjukkan beberapa poin tentang “ketakmungkinan” tersebut dengan meringkas situasi paradoksal masyarakat kontemporer kita di era krisis perbankan dunia dan globalisasi neoliberal: “Kita hidup di dalam masyarakat di mana para elit berpretensi memerintah menurut ‘rasio’, tetapi umat manusia, bahkan dalam periodenya yang paling gelap dalam sejarahnya, tidak pernah menemukan situasi yang  sepenuhnya dan luar biasa ‘irasional’ seperti saat ini”.[2] Irasional, karena kira-kira dua abad setelah ditegakannya sistem ekonomi-politik liberal oleh Revolusi Prancis yang lahir dari kejatuhan Monarki absolut—dengan kata lain, sistem yang ditegakkan atas rasio, kemerdekaan individual perusahaan, kepemilikan pribadi, produktivisme industrial dan profit—sistem ini tampak mencapai ambangnya. Hal itu terjadi setelah sistem itu dilucuti hingga ke akar-akarnya oleh berbagai krisis internal yang parah dan selalu “diselamatkan” oleh tindakan dan intervensi negara yang luar biasa, yang ditujukan untuk memperpanjang secara artifisial eksistensinya (1929-2008). Situasi krisis permanen itu secara terang-terangan tidak menghilangkan inti “(i)rasionalitas”-nya, dan tampaknya membenarkan pandangan pesimis yang dilontarkan pada akhir 1940-an oleh Adorno dan Horkheimer. Di ujung suatu proses panjang refleksi filosofis-sosiologis tentang Pencerahan dan kesempatan historis untuk mewujudkan proyek rasionalnya, para pendiri Mazhab Frankfurt melancarkan kritik terhadap rasionalisasi eksesif masyarakat modern kita dan tertarik pada fenomena menjadi irasionalnya rasio, yaitu pembalikan dari rasio kepada irasio, yang melekat pada proses awal perkembangan rasio.

Tentu saja para pendiri Mazhab Frankfurt[3] nyaris tidak pernah menyinggung tentang ekologi. Tetapi sejak bencana nuklir Pulau Three Miles di Amerika Serikat (1979), bencana industri Bhopal di India (1984), dan Chernobyl (1986), ekologi muncul, sepanjang dasawarsa pertama abad ke-21 ini, dan lebih-lebih setelah bencana nuklir Fukushima di Jepang (Maret 2011), sebagai salah satu referensi teoretis-politis utama dari perdebatan-perdebatan dan kontroversi politik kita. Mengapa? Karena 200 tahun produktivisme telah menggiring iklim dunia ke bibir anomali, dan bahwa kenyataan memaksa kita untuk mengurangi secara drastis dan sangat cepat emisi gas rumah kaca dan, sebagai konsekuensinya, produksi material kita. Tetapi, penerapan suatu kebijakan anti-pertumbuhan tidakkah pada saat yang sama berisiko melanggar “hak sah untuk tumbuh dan berkembang dari orang-orang yang tidak memiliki apa-apa dan pada saat yang sama merupakan korban utama pemanasan”[4], seperti digarisbawahi Daniel Tanuro?

Dapatkah kapitalisme memberikan solusi atas krisis tersebut dan menarik kita dari dilema itu? Bukankah di masa lampau kapitalisme telah sering menunjukkan bahwa ia hanya menawarkan kita obat palsu, solusi palsu, yaitu stabilisasi palsu sebuah sistem ekonomi yang pada dasarnya dibangun atas produktivisme, pertumbuhan, dan profit, yang pada jangka panjang akan berlari menuju kehancuran, persis karena kerentanan ekstrem salah satu pilarnya yang terpenting, sistem perbankan? Sedikit diselamatkan dari kehancuran total pada Oktober 2008, sistem ekonomi ini tidak benar-benar berhasil, seperti ditunjukkan oleh krisis moneter hari ini, untuk mengelola dalam jangka pendek maupun panjang konsekuensi-konsekuensi buruk beban hutang yang berlebihan atas negara-negara dan ekonomi domestik, serta ketidakseimbangan akibat kebangkrutan finansial negara-negara yang paling direntankan. Padahal, kehancuran yang mungkin atau dapat terjadi pada bank-bank, karena efek domino pada tingkat dunia, akibat kebangkrutan salah satu atau beberapa negara yang terbebani hutang luar biasa, akan mengakibatkan suatu bencana, seperti terancamnya keseimbangan ekonomi dan sosial negeri-negeri dari zona Euro, dan tidak saja Portugal, Yunani, Spanyol, atau Irlandia. Kita tidak melihat bagaimana pemerintah nasional yang terkait, yang merasa kesulitan untuk mengelola situasi yang sepenuhnya mustahil itu layaknya kapten Titanic, dapat menemukan solusi ajaib untuk menghindarkan hal terburuk menimpa warga mereka dalam hal pengetatan anggaran, pengangguran, kemiskinan, inflasi, dan seterusnya.

Bersamaan dengan krisis Yunani pada musim semi 2011 (dengan risiko kebangkrutan negara!), setiap orang dapat menyadari bahwa pengetatan anggaran, dengan seluruh konsekuensi buruknya, yang dipaksakan oleh kapitalisme finansial (IMF, agen-agen indeks perusahaan, Bank Sentral Eropa dan para pemimpin negara-negara kreditor, Jerman dan Prancis) terhadap negeri yang dituduh hidup dengan cara “tak bertanggung jawab” dan secara sistematis hidup “di atas kemampuannya”, dan yang terus-menerus dipaksa untuk mengencangkan ikat pinggang—pengetatan anggaran itu tidak hanya akan menimpa negeri tersebut, tetapi cepat atau lambat akan menimpa negeri-negeri di zona Euro dan menimpa penduduk negara-negara “kaya” yang masih mengenal stabilitas ekonomi relatif, yaitu Italia, Prancis, dan Jerman. Suatu pengetatan anggaran besar-besaran, dengan parade pengangguran, kemiskinan, kemerosotan kelas menengah, dan meningkatnya kekerasan urban. Singkatnya, skenario menakutkan suatu saat dapat membunyikan lonceng kematian suatu sistem yang, berlari dari satu krisis ke krisis lain, masih terus bersikeras untuk menolak mengubah logikanya, terlepas dari berbagai bencana yang lahir dan yang, tanpa pernah menarik pelajaran serius dari krisis-krisis sebelumnya, terus memprivatisasi keuntungan dengan mensosialkan kehilangan.

Karakteristik utama dari krisis itu adalah bahwa 1) kredit hari ini menduduki tempat yang dulunya diduduki oleh upah selama periode Fordis dan 2) “keuntungan tetap, bahkan meningkat, tetapi pengangguran dan ketimpangan terus meningkat, pelayanan publik merosot, hak-hak sosial hari demi hari diserang”.[5] Tentu saja, pada perencanaan ekonomi, perspektif yang diajukan dalam kasus terbaik, seperti digarisbawahi François Chesnais, adalah perspektif tentang periode panjang pertumbuhan dunia dengan tingkat yang rata-rata lemah, sangat lemah dalam kasus Uni-Eropa… Kemampuan akumulasi dalam 10 tahun terakhir berhenti. Sedikit negeri yang dapat lepas dari kuasi-stagnasi”.[6] Dan perspektif bagi negara-negara yang sangat terindustrialisasi dari zona Utara dapat berupa depresi mendalam pada jangka panjang. Sebaliknya, tingkat pertumbuhan sangat tinggi dari negara-negara yang sedang naik daun (Brasil, India, China) akan memicu peningkatan polusi udara yang kian berbahaya, membuat kehidupan puluhan juta manusia terancam. Berhadapan dengan itu, serangan orang-orang skeptis iklim (Claude Allègre…) dilancarkan di Prancis untuk menjatuhkan kepercayaan publik terhadap para aktivis lingkungan yang, bertolak dari data-data ilmiah yang tidak diragukan (rekomendasi GIEC[7]), memperingatkan publik tentang efek berbahaya emisi rumah kaca, bencana iklim, melelehnya kutub, banjir dan pencemaran udara di kota-kota besar oleh tingkat emisi CO2 yang sama sekali tidak dapat ditoleransi.

Dalam hal ini, salah satu dari sekian keunggulan Daniel Tanuro adalah berhasil menunjukkan bahwa kemerosotan iklim tidak dapat dilepaskan dari landasan kapitalisme terhadap alam, dan berpikir bahwa aturan-aturan yang diambil oleh “kapitalisme hijau”, seperti dengan memperkenalkan pajak lingkungan (eco-tax) terhadap pabrik-pabrik polutif besar, dapat efektif membalikkan kecenderungan tersebut sangatlah meragukan. Michel Husson berpikiran bahwa “besarnya perubahan-perubahan yang niscaya adalah landasan objektif dari titik temu eko-sosialis”.[8]

Dengan kata lain, dalam situasi di mana pertumbuhan kekuatan-kekuatan produktif menjadi pertumbuhan kekuatan-kekuatan destruktif, perspektif tentang malapetaka untuk diantisipasi, apabila kita terus bersikeras berlanjut di jalur tersebut, memaksa kita untuk menjajaki dan memasuki suatu alternatif terhadap sistem dalam keseluruhannya. Mengingat sistem ini tampak mencapai ambangnya dan menemukan jalan buntu, mengapa tidak menjajaki suatu jalan keluar yang murni dan sederhana? Padahal, seperti telah ditunjukkan André Gorz kepada kita, satu-satunya alternatif riil terhadap malapetaka yang digiring oleh kapitalisme tingkat lanjut adalah, dan tetaplah, alternatif eko-sosialis. Karena alternatif itu adalah satu-satunya yang akan dapat, seperti kembali dinyatakan oleh Daniel Tanuro, “menggariskan garis kekuatan (ligne de forces) sebuah jalan keluar yang rasional terhadap krisis, yang menggabungkan empat gerakan secara bersama-sama: 1) pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial yang riil, 2) pengurangan produksi global dengan mengurangi jam kerja, 3) penggantian energi fosil dengan energi terbarukan, dan 4) pembangunan politik suatu perencanaan (planifikasi) kolektif sebuah ekonomi yang teralihkan sesuai dengan tujuan-tujuan ekologis”.[9]

Keempat gerakan itu tak lain adalah hasil dari sintesis yang digarap antara tuntutan-tuntutan utama “ekologi perjuangan” dan tujuan-tujuan utama sosialisme (kesetaraan, kebebasan, keadilan sosial), dengan demikian semacam “pernikahan rasio” antara dua aliran dan dua tendensi politik yang menuntut sebagai prioritasnya suatu transformasi ekonomi, sosial, dan ekologi secara radikal, tepatnya atas nama penyelamatan lingkungan dan alam dan atas nama keadilan sosial. Hal itu pada akhirnya juga berarti mengambil tindakan-tindakan yang diperlukan untuk membatasi dan menghentikan kekuatan-kekuatan yang korup dari pasar finansial, spekulasi, dan seluruh oligarki finansial dan industrial yang hanya mengenal hukum nilai, keuntungan, dan akumulasi.[10] Bagaimanapun, “krisis ekologis, di mana perubahan iklim merupakan elemen utama dari ‘kondisi-kondisi yang tidak dapat dipilih dengan bebas’ yang diwariskan kapitalisme kepada generasi yang akan datang, hanya akan memperparah krisis kapitalisme dan mempercepat keruntuhannya. Oleh karenanya, ‘membuat sejarah’ berarti mengantisipasi malapetaka dan, dalam segala hal, meletakkan persoalan ekologis pada jantung proyek revolusioner yang terbarukan”.[11] Hal itu berarti melangkah lebih jauh daripada Hans Jonas dalam bukunya Prinsip Tanggung Jawab,[12] yang menyerukan kepada para pemangku kebijakan untuk menarik konsekuensi-konsekuensi dari darurat ekologis yang menimpa planet, dengan menawarkan suatu “pemerintahan global” para elit. Hal itu menyangkut bagaimana mengkombinasikan, mengartikulasikan perjuangan ekologis dan perjuangan sosial, dan, seperti ditulis François Chesnais, “meletakkan persoalan ekologis ke dalam program revolusioner abad ke-21”,[13] persisnya dalam keberlanjutan perjuangan untuk emansipasi sosial.

Tentu saja, terutama oleh hutang negara-negara dan beban hutang yang berlebihan pada ekonomi domestik, situasi global kapitalisme telah menjadi sangat parah sehingga, seperti lagi-lagi dicatat oleh François Chesnais, “pengangguran, merosotnya kemampuan membeli, merosotnya sistem perlindungan sosial, dan terpeliharanya, jika bukan semakin parahnya, ketimpangan pendapatan dan harta milik, menciptakan kondisi-kondisi dasar bagi kapitalisme yang tuli itu. Pertanyaannya adalah bagaimana mentransformasikan sentimen akan situasi tersebut ke dalam suatu kehendak politik yang dibawakan dengan tujuan-tujuan yang tepat, baik secara ekonomis maupun ekologis. Hubungan antara sikap tak bertanggung jawab pemerintah dan kelompok-kelompok industri, menghadapi perubahan iklim dan dampak-dampak dari produksi kapitalis, dapat ditunjukkan. Demikian juga hubungan antara proses degradasi tanah dan sumber daya yang menjadi-jadi dan eksploitasi yang tak terkendali atas kerja para perempuan, laki-laki, dan anak-anak”.[14]

Namun demikian, akan naif berpikir bahwa tuntutan-tuntutan itu mudah diwujudkan, karena hal itu menyentuh urat-syaraf utama kapitalisme. Penerapannya oleh suatu pemerintahan kiri akan mengandaikan, antara lain, kepemilikan secara bersama-sama alat-alat besar produksi, nasionalisasi bank, dan pembangunan suatu demokrasi yang sungguh-sungguh partisipatif, yang mampu menjamin hak warga untuk memantau dan mengambil kebijakan bersama secara riil dalam urusan-urusan politik, tepatnya dalam perspektif yang konkret sebuah transisi menuju ekososialisme. Padahal, Partai Sosialis Prancis (PS) tidak siap untuk melangkah menuju tujuan tersebut. Bagi para pemimpin partai itu, soalnya adalah bagaimana memerintah dengan “lebih baik”, dengan melanjutkan sedikit-banyak kebijakan neoliberal pemerintahan sebelumnya, dengan beberapa reformasi kecil yang bersifat “kosmetik”, dengan memberikan konsesi yang sangaat minimal kepada partner politik mereka dari Eropa Ekologi (Europe Ecologie, EE) atau Partai Hijau (Les Verts, LV). Seperti pada masa pemerintahan Lionel Jospin, “keterputusan dari kapitalisme” tidak menjadi program para sosialis.

Tentu saja, lawan politik (oligarki UMP), para elite finansial dan elite teknokrat buru-buru mencap tawaran-tawaran itu sebagai “utopis” atau “tidak realistis”, sementara tawaran-tawaran itu merupakan tanggapan yang niscaya terhadap persoalan-persoalan ekologis, sosial, politik, dan moral yang mendesak hari ini.

Transformasi secara besar-besaran, pada dekade-dekade 1970-1990-an, partai-partai sosialis dan sosial-demokrat ke dalam formasi politik reformis neo-kapitalis, pendiskreditan yang dilontarkan secara menyeluruh terhadap sosialisme modern oleh penyimpangan Stalin dan komunisme otoriter dan totaliter ultra-birokratis di Uni-Soviet dan negara-negara satelitnya, adalah sebab-sebab utama secara global situasi sulit sosialisme di Prancis dan di dunia, dan sebab-sebab dari kesulitan aliran pemikiran politik itu untuk membentuk diri secara baru sebagai suatu kekuatan politik besar yang ofensif dan terpercaya, yang dapat mengemban perubahan, lebih-lebih mengemban peran aktor politik utama dalam suatu transformasi ekologis dan sosial di tengah masyarakat-masyarakat liberal dan konsumtif kita. Kondisi tersebut juga merupakan alasan mendasar terpinggirnya aliran ekososialis, yang bagaimanapun sempat berkembang sepanjang dekade 1980-an dan 1990-an, terutama sebagai reaksi terhadap aliran “ekologi mendalam” (deep ecology) yang diciptakan pada 1973 oleh filsuf Norwegia, Arne Naess, dan yang berpengaruh selama beberapa dekade terhadap gerakan ekologi di Eropa Timur dan Eropa Tengah.

Terlepas dari kesulitan-kesulitan itu, dan terlepas dari marjinalisasi itu (sebagai contoh, gerakan alterglobalis-ekologis dari aliran Utopia hanya mendapatkan kurang dari 2% suara para aktivis pada Kongres Partai Sosialis di Reims, Prancis, pada 2008), tendensi politik ekososialis dapat berkembang, terlepas dari berbagai hambatan, dan dapat memperkuat posisinya di Amerika Serikat, di Amerika Utara dan di Eropa selama tiga dekade terakhir, berkat dorongan internasionalismenya (bandingan dengan Jaringan Ekososialis Internasional) dan produktivitas intelektual yang tidak diragukan lagi dari para teoretisinya yang utama (James O’Connor, Joël Kovel, René Dumont, André Gorz, Michael Löwy…). Secara global, aliran ekososialis itu membedakan diri sepanjang beberapa dekade terakhir dalam beberapa tendensi, yang keseluruhannya sama-sama memiliki titik temu dalam perjuangan merawat dan mempertahankan alam dan lingkungan, dan perjuangan melawan pembangunan pusat-pusat nuklir melalui perjuangan-perjuangan sosial, yaitu berbagai bentuk perjuangan untuk emansipasi kalangan yang tereksploitasi dan teralienasi, melawan diskriminasi terhadap minoritas etnik, perempuan, dan seterusnya. Sejumlah nuansa penting membedakan tendensi-tendensi itu. Namun mereka memiliki titik temu bersama beroposisi terhadap aliran-aliran lain ekologi (politik), terutama “ekologi mendalam”, para pendukung ekologi reformis, dan para pendukung ekonomi-politik kapitalis.

Kontribusi André Gorz terhadap Kritik Ekologi Politik

Sementara di front politik, setelah kegagalan René Dumont pada pemilihan presiden, gerakan ekologi Prancis berbenah, antara 1974 dan 1980, di bawah kepemimpinan Amis de la Terre (Antoine Waechter, Brice Lalonde…) dan sejumlah besar perhimpunan lingkungan, penerbitan buku Ekologi dan Politik karya André Gorz[15] pada 1975 mengubah fenomena, dengan reaktualisasinya atas tuntutan-tuntutan utama ekologis dan keberhasilannya memberikan suatu dorongan teoretis baru atas gerakan tersebut. Bagi André Gorz sendiri, yang dikenal di Prancis untuk pertama kali pada 1958 dengan novelnya yang sangat “Sartrean”, Pengkhianat (Le Traître),[16] buku Ekologi dan Politik itu juga menandai suatu belokan dari suatu pemikiran eksistensialis yang sangat dipengaruhi oleh Sartre dan belakangan oleh ide-ide sosialisme otonomis (PSU/Il Manifesto) , menuju suatu pemikiran ekologis baru yang dipengaruhi dengan sangat kuat oleh Ivan Illich. Sama-sama melancarkan kritik sebagaimana Dumont terhadap nuklir (yang disebutnya “fasisme listrik”), produktivisme, dan konsumerisme, dan juga ide yang kita temukan di awal kelahiran peradaban baru, Gorz mengartikulasikan kritiknya atas kapitalisme lanjut bersama-sama kritik radikal Illich terhadap sistem kesehatan, dan seterusnya.

Dalam buku-buku pertamanya, Strategi Buruh dan Neo-kapitalisme (1964), Sosialisme yang Sulit (1967) dan Reformasi dan Revolusi (1969), Gorz tetap memposisikan diri, terutama dengan teorinya tentang “reformisme revolusioner”, sebagai teoretisi dan intelektual Marxis dari kubu kirinya kiri, yang sangat dipengaruhi seperti René Dumont oleh teori otonomi PSU (Il Manifesto). Setelah belokannya menuju ekologi, keterlibatan teoretis pertama ini tidak akan sepenuhnya ditinggalkan; keterlibatan itu tetap muncul terutama dalam bentuk anti-kapitalisme dan pelimpahan tanggung jawab krisis ekologis kepada kapitalisme. Pada 1980, bersama dengan penerbitan Selamat Tinggal Proletariat?: Melampaui Sosialisme, ia melancarkan beberapa kritik terhadap ortodoksi Marxis, dengan mengkritik Stalinisme dan birokratisme negara Uni-Soviet dan negeri-negeri di mana “sosialisme benar-benar hidup”, dan menolak reformisme Sosial-Demokrasi dan mengafirmasi nilai-nilai sosialisme yang secara otentik demokratis.

Dalam kerangka kritik itu, ia melangkah sampai mempertanyakan sejumlah dogma suci Neo-Marxisme kontemporer (dalam beragam kubunya), khususnya mengenai teori proletariat sebagai subjek utama transformasi ekonomi dan sosial. Proletariat tidak dapat lagi dianggap, menurut Gorz, sebagai satu-satunya subjek yang unik dari revolusi sosial di masa depan, seperti diajarkan Marx, karena dalam kondisi-kondisi otomatisasi dan robotisasi (progresif) produksi industrial kapitalisme lanjut, apa yang dulunya merupakan “kelas para proletar” tidak lagi memiliki, menurutnya, kesadaran revolusioner yang sebelumnya dimiliki oleh para buruh industri perusahaan-perusahaan pada masa akumulasi modal secara paksa. Sebagai konsekuensinya, kelas yang menurut Marx dan para Marxis abad ke-20 itu harus selalu berada di garda depan perjuangan bagi emansipasi pekerja dari alienasi dan eksploitasi, tidak dapat lagi memainkan peran tersebut. Kelas itu secara progresif digantikan, akibat serangkaian transformasi teknologi dan sosial yang terjadi sepanjang pertengahan abad ke-20, oleh semacam “non-kelas para neo-proletar”[17], yang dibentuk oleh para pekerja tidak tetap, penganggur, orang-orang berekonomi rawan, orang-orang yang terpinggirkan, dan seterusnya. André Gorz membedakan diri dari Marx dan para Marxis dengan meramalkan datangnya suatu fenemena tak terhindarkan suatu masyarakat tanpa kerja[18], yang didahului oleh suatu periode transisi yang ditandai oleh pengurangan drastis jam kerja sampai 20 jam dan tuntutan akan suatu “pendapatan eksistensi” (revenu d’existence). Tanpa ragu, Gorz menyatakan “revolusi waktu senggang” yang lahir dari jumlah yang kian meningkat dari kaum pria dan wanita yang hidup di luar proses produksi, pabrik-pabrik, dan kantor-kantor, dan memunculkan antara lain persoalan manajemen waktu senggang. Dengan menunjukkan suatu kekuatan visioner yang luar biasa, André Gorz juga merupakan salah satu dari teoretisi kritis pertama yang mensinyalir transformasi kapitalisme lanjut menjadi kapitalisme finansial spekulasi perbankan (yang beroperasi dengan kapital fiktif) dan menjadi kapitalisme kognitif yang didirikan atas ekonomi immaterial. Hal itu memungkinkannya mengantisipasi krisis subprime pada Oktober 2008 di Amerika Serikat dan konsekuensi-konsekuensinya yang buruk terhadap sistem perbankan dunia.

Dengan mendefinisikan ulang ekologi sebagai suatu “etika pembebasan”,[19] Gorz, dalam tulisan-tulisan terakhirnya, tiba pada keyakinan bahwa jalan keluar dari kapitalisme sebenarnya telah dimulai: “Dengan perkembangannya, kapitalisme bahkan telah mencapai suatu ambang internal maupun eksternal yang tidak dapat lagi dilampauinya dan yang membuatnya menjadi suatu sistem yang bertahan dengan tipu muslihat di tengah krisis kategori-kategorinya yang mendasar: kerja, nilai, modal”.[20] Dengan daur ulang nilai-lebih fiktif, ekonomi riil menjadi, tegasnya pada 2007, “apendiks dari gelembung-gelembung spekulasi yang dipertahankan oleh industri finansial. Hingga datang suatu momen yang tak terelakkan lagi di mana gelembung-gelembung itu pecah, membawa bank-bank ke dalam kebangkrutan beruntun, mengancam sistem kredit global dengan keruntuhan, dan mengancam ekonomi riil dengan depresi yang parah dan berlanjut  (depresi ekonomi di Jepang sebentar lagi akan mencapai 15 tahun)”.[21]

Sebagaimana Illich yang percaya akan potensi kaya sumberdaya manusia, kooperasi, dan kreativitas manusia, Gorz tampaknya juga terdorong untuk mempercayai bahwa sumberdaya manusia yang “berlebih” itu dapat menjadi produktif di dalam suatu ekonomi yang lain, “di mana penciptaan kekayaan tidak tunduk terhadap kriteria-kriteria rente”. Dengan kata lain, di dalam suatu ekonomi ekologis, sosial, dan solider, di mana semuanya akan diproduksi dalam sanggar-sanggar kerja kooperatif atau komunal, dan “di mana aktivitas-aktivitas produksi dapat dikombinasikan dengan magang dan pengajaran, dengan eksperimentasi dan penelitian, dengan penciptaan citarasa, aroma, dan material baru, dengan penciptaan bentuk-bentuk baru teknik agrikultur, konstruksi, kedokteran, dan seterusnya. Sanggar-sanggar kerja komunal yang mampu memproduksi sendiri (auto-produksi) akan saling terkait pada level global, dan dapat saling bertukar atau mencari titik temu bersama atas berbagai pengalaman, ciptaan, gagasan, dan temuan mereka. Kerja akan menjadi produsen budaya, auto-produksi suatu bentuk pengembangan diri”.[22] Hal-hal itu bukan mimpi-mimpi utopis abstrak seorang “visioner”, melainkan tawaran-tawaran konkret yang sebagian telah diwujudkan di Amerika Serikat, terutama oleh penciptaan Fablabs. Seperti digarisbawahi Jérôme Gleize, “sanggar-sanggar kerja yang berisi alat-alat mesin yang dikendalikan oleh komputer, dan dapat memproduksi produk-produk berbasis alam yang beragam dan unik sesuai perminttaan, adalah suatu alternatif terhadap pabrik, produsen barang-barang yang seragam dalam jumlah besar”.[23] Sosialisasi sanggar-sanggar itu secara luas akan dapat merintis suatu revolusi terhadap modus produksi kapitalis “tradisional”, digantikan oleh suatu modus produksi autonom, auto-manajemen, desentralistik dan demokratis.

Arno Münster, sejarawan, dosen filsafat di Universitas Picardie Jules Verne, Amiens, Prancis. Artikel ini diterjemahkan dari Arno Münster, « Pour un socialisme vert », Variations, 17, 2012, http://variations.revues.org/419

[1] Daniel Tanuro, L’Impossible capitalisme vert (Kapitalisme Hijau Itu Tidak Mungkin), pengantar oleh M. Husson, Paris, La Découverte, 2010. Daniel Tanuro adalah orang Belgia, pendiri LSM “Climat et justice sociale” (“Iklim dan Keadilan Sosial”).

[2] Ibid., h. 212.

[3] Marx Horkheimer & Theodor Adorno, Dialectique de la Raison. Fragments philosophiques (Dialektika Nalar. Fragmen-fragmen Filosofis), diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Eliane KaufholzParis, Gallimard, 1974 ; bdk. Horkheimer, L’Eclipse de la raison (Gerhana Nalar), 1951.

[4] Tanuro, op. cit.

[5] Tanuro, op. cit., h. 10.

[6] F. Chesnais, “ Écologie, luttes sociales et projet révolutionnaire pour le xxie siècle » (“Ekologi, Perjuangan Sosial, dan Proyek Revolusioner untuk Abad Ke-21”), dalam V. Gay (ed.), Pistes pour un anticapitalisme vert (Petunjuk untuk Suatu Antikapitalisme Hijau), Paris, Syllepse, 2010, h. 19.

[7] GIEC: Groupe d’experts intergouvernemental sur l’évolution du climat (Grup Para Pakar Antarpemerintahan mengenai Evolusi Iklim).

[8] Ibid., h. 8.

[9] Tanuro, op. cit., h. 244.

[10] R. Kurz, Vies et mort du capitalisme. Chroniques de la crise (Hidup dan Matinya Kapitalisme. Kronik Krisis), Nouvelles Éditions Lignes, Fécamp, 2012, h. 153.

[11] F. Chesnais, op. cit., h. 21.

[12] Bdk. Hans  Jonas, Le Principe Responsabilité. Une éthique pour la civilisation technologique (Prinsip Tanggung Jawab. Etika untuk Peradaban Teknologis), diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh J. Greisch, Le Cerf, Paris, 1990 ; bdk. Juga A. Münster, Principe Responsabilité ou Principe Espérance? (H. Jonas, G.Anders, E.Bloch) (Prinsip Tanggung Jawab atau Prinsip Harapan: H. Jonas, G. Anders, E. Bloch), Le Bord de l’eau, Lormont, 2011.

[13] F. Chesnais, op. cit., h. 23.

[14] F. Chesnais, op. cit., h. 24.

[15] Mengenai karya teoretis d’André Gorz, kita dapat merujuk teks-teks berikut: A. Münster, André Gorz ou le socialisme difficile (André Gorz atau Sosialisme yang Sulit), Paris, Nouvelles Éditions Lignes, 2008 ; C. Fourel (ed.), André Gorz: un penseur pour le xxie siècle,Paris (André Gorz: Pemikir untuk Abad Ke-21), La Découverte, 2009 ; “Repenser le travail avec André Gorz » (“Memikirkan Kembali Kerja Bersama André Gorz”), Ecorev n° 28, november 2007 ; « Penser l’après-capitalisme avec André Gorz » (“Memikirkan Setelah-Kapitalisme bersama André Gorz), Ecorev n° 33 november 2009 ; Arno Münster, « André Gorz, “Dérangeur” ou constructeur d’une nouvelle utopie écosocialiste » ? (André Gorz, Pengganggu atau Pembangun Utopia Sosialis Baru?), in Ecorev n° 33, Paris, november 2009, h. 82-87.

[16] A. Gorz, Le Traître (Pengkhianat), prakata Jean-Paul Sartre, Paris, Le Seuil, 1958; Gallimard, Folio-Essais, 2005.

[17] A. Gorz, Adieu au prolétariat? Au-delà du socialisme (Selamat Tinggal Proletariat? Melampaui Sosialisme), Paris, Galilée, 1980.

[18] Bdk. A. Gorz, Métamorphoses du travail. Quête du sens. Critique de la raison économique (Metamorfosa Kerja. Pencarian Makna, Kritik atas Nalar Ekonomi), Paris, Galilée, 1988, Gallimard « Folio-essais », 2004. Bdk. Juga A. Gorz, « Penser l’exode de la société de travail et de la marchandise » (Memikirkan Eksodus dari Masyarakat Kerja dan Dagangan), Mouvements, n° 50, Jun  2007.

[19] Wawancara André Gorz dengan Marc Robert dalam Ecorev n° 28, November 2007, h. 83-87.

[20] A. Gorz, “Le travail dans la sortie du capitalisme » alias « La sortie du capitalisme a déjà commencé ” (Kerja dalam Jalan Keluar dari Kapitalisme, alias Jalan Keluar dari Kapitalisme telah Mulai), Ecorev n° 28 (November 2007).

[21] A. Gorz, “Le travail dans la sortie du capitalisme ”, dalam Ecorev n° 28, November 2007, h. 10.

[22] Ibid., h. 14.

[23] J. Gleize, “Le potentiel subversif des FabLabs comme mode de production » (Potensi Subversif FabLabs sebagai Modus Produksi), Ecorev n° 37, Paris, Agustus 2011, h. 78-81.

Tinggalkan Balasan