Browse By

Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru

Saya bertemu Oei Hiem Hwie pertama kali tahun 2005, karena mama saya sering berkunjung ke Perpustakaan Medayu Agung di Surabaya. Perpustakaan milik Oei itu sangat luar biasa koleksinya: dari buku-buku langka berbahasa Belanda, Inggris, Mandarin, serta koran-koran tua, sampai berbagai buku dan majalah kontemporer. Oei Hiem Hwie ternyata juga membantu Pramoedya menulis naskah Bumi Manusia di pulau Buru secara sembunyi-sembunyi, dengan berbagai risiko, dan juga mengeditnya. Inilah kisah Oei Hiem Hwie, yang sempat dipenjara oleh rezim Suharto selama hampir 13 tahun.

*

Nama: Oei Hiem Hwie
Lahir: Malang – Jawa Timur: 24 November 1935
Istri: Sri Widiati
Penjara:  – Kamp Batu, Malang.
               – LP Lowokwaru, Malang.
               – RTM Koblen, Surabaya. 
               – LP Kalisosok, Surabaya. 
               – LP Nusakambangan. 
               – Pulau Buru.

Saya lahir di Malang dari seorang lelaki Hokian totok dan perempuan peranakan dari Jawa Tengah. Papa berpendidikan Tionghoa, sementara mama yang peranakan Jawa bersekolah honocoroko. Itu yang membuat saya tertarik pada berbagai kebudayaan.

Saya bersekolah di TNHK (Tionghoa Hoe Kwan). Lulus SMA, saya masuk sekolah wartawan (waktu itu ada sekolah wartawan), karena dulu profesi itu sangat dihormati (wartawan dianggap ratu dunia – segala tahu dan bisa). Tujuh bulan  kemudian saya lulus. Waktu itu tidak dikenal sistem kelas, jadi seperti akademi, asal sudah menyelesaikan tugas & ketentuan, bisa lulus. Setelah berulangkali mengirimkan lamaran pekerjaan, saya diterima bekerja di Terompet Masyarakat (koran berhaluan tengah, bukan kiri dan bukan kanan) pimpinan Goei Poo An. Kantor Terompet Masyarakat berada di depan Tugu Pahlawan (sampai sekarang masih berdiri), satu lantai dengan percetakan Brantas. Di depannya terdapat banyak penjual koran.

Saya ditugaskan di Surabaya. Redaksinya bernama Manan Adinda (orang Ketandan), Saleh Said (rumahnya di Ampel), dan Amak Junus. Semua orang Islam. Tapi semua orang boleh gabung di koran ini. Sesuai Nasakom, Islam, Katolik, ateis, semua boleh masuk.

Terompet Masyarakat laris sekali, bahkan paling laris. Oplahnya 75.000 eksemplar, dan baru dijual ke Jakarta kalau ada kelebihan. Dari orang becak sampai pembesar membacanya. Pemimpin koran senang sekali dengan hasil kerja saya. Karena itu, lalu saya ditugaskan mewawancarai Sukarno, pertama kali pada 1963, selama 3 hari di Jakarta. Saya selalu bangga sekali, apalagi Bung Karno memberi saya arloji.

Gestok

Waktu Gestok terjadi, saya sedang di Malang. Tak lama sesudah peristiwa itu, puluhan orang berjubah hitam, berpenutup wajah dan hanya kelihatan mata, dan bersenjata datang ke rumah.“Kami ditugaskan memeriksa Anda,” kata mereka. Dokumen dan buku di rumah saya di jl. Klojen Kidul nomer 26 Malang (sekarang jadi jl Arismunandar) dirampas, termasuk saya. Selain saya,  di rumah ada mama dan adik. Papa sudah meninggal tahun 1960. Mereka berani sekali, samasekali tidak ketakutan. Orang-orang itu mengambil buku-buku dan menaikkannya ke jip Russia yang besar. Karena tidak muat, sebagian buku akhirnya ditinggal. Oleh adik saya, buku yang tertinggal diambil dan disembunyikan di plafon, kebanyakan buku-buku Belanda. Sayangnya beberapa di antaranya hancur karena terkena hujan dan ada pula yang dimakan ngengat.

Sejak itu, saya ditahan. Pertama kali, saya ditahan di Batu, di kamp bekas pabrik kalengan, Kamp Gap Sin. Meskipun pabrik sudah ditutup, masih ada bekas-bekas kaleng. Di situ, kami diperiksa dan ditanyai: “kamu orang PKI ya?”. Mereka mencari-cari dan ketemu tulisan saya tentang Sukarno. Saya dicap: “Sukarno-centris”. Saya bilang: “Jadi saya bukan PKI kan?”. “Tidak bisa, nanti kalau kamu saya bebaskan, akan membela Sukarno”.

Setelah 2 bulan saya di sana, tanggal 12 Januari 1966, saya dipindah ke penjara Lowokwaru, Malang. Temboknya lapis 3, berpagar duri dan listrik. Mama saya yang belum mendengar kabar tentang saya, mengira saya sudah mati. Dia sempat mengadakan selamatan.

Selepas dari Lowokwaru, saya dikirim ke penjara Kalisosok, sehari-hari diberi makan nasi jagung yang sudah keras dengan kelapa (jagungnya bisa dihitung). Tahanan di sana tidak diberi minum. Padahal panas luar biasa. Makanan hanya dibungkus daun jati dilempar  sambil bilang: “Mampus lu!” Kadang didorong dengan kaki. Nama piringnya ompreng. Saya dikasih minum dan diberi makan yang agak lebih baik, karena dianggap titipan, belum jelas, apa PKI atau bukan. Yang jelas, langsung diperlakukan buruk dan disiksa. Kalau orang-orang tahanan itu haus, mereka mengulurkan keluar baju, kain, atau juga celana dalam waktu hujan. Lalu air itu diperas dan diminum. Banyak yang ususnya lengket karena kurang makan dan kurang minum. Tiap malam, mereka diambil dan disiksa atau hilang.

Di Kalisosok, saya sempat melihat Murahman, bekas walikota Surabaya yang juga penasihat hukum Baperki dan penasihat hukum BTI. Murahman dulu dosen hukum saya. Dia dosen yang bagus, dan sebenarnya bukan orang PKI, ia pendukung Sukarno dan anggota Baperki. Baperki waktu itu membuka perguruan, namanya Universitas Res Republika. Di Jakarta sekarang jadi Trisakti. Di Surabaya, jadi UBAYA. Saya lihat dia lewat dari jauh. Lalu, kami tidak tahu kemana dia. Fotonya sekarang di kantor walikota pun tidak ada. Dihancurkan, karena dianggap PKI.

Setelah Kalisosok, saya dipindah di Koblen (Penjara Militer), lalu ke Nusakambanagan. Di sini, kami diberi bulgur dan ikan asin (kadang kepala dan buntut saja) atau tempe sepotong kecil sekali. Bulgur itu ampasnya bir, jadi tidak ada gizinya. Biasanya, apabila masih lapar, kami mencaru rumput-rumputan dan kulitnya singkong, dirajang, lalu diberi garam. Kami bisa menemukan kulitnya dari sampah arena penjaga penjara makan singkong dan membuang kulitnya.

Kadang-kadang, kami ditugaskan keluar untuk mencangkul, di sana kami bisa dapat singkong. Kalau sipirnya baik, bisa kami godok dan makan bersama. Tapi kalau sipirnya jelek, ya dirampas. Kalau sipirnya lebih baik lagi, pagi itu kami bisa keluar sebentar dari kamar.

Di penjara itu, ada tong putih besar yang dipakai untuk berak bersama. Kalau pagi, kami 2 orang disuruh membuang isi tong ke laut, lalu dicuci pakai air asin sampai bersih. Suatu ketika ada napi (mungkin itu Kusni Kasdut, yang sudah bebas dari tahanan) bilang, “Eh mau singkong rebus?” Banyak sekali. Tapi bagaimana membawanya supaya tidak ketahuan? Pada akhirnya kami menaruhnya di tong bekas berak.

Dan tidak diperiksa. Di dalam, kami pesta rame-rame. Kira-kira 3-4 bulan saya di Nusakambangan, lalu saya diangkut ke pulau Buru tahun 1970. Kira-kira 1 minggu perjalanan. Karena kapal itu takut ketahuan internasional, jadi sembunyi-sembunyi, lewat pulau-pulau kecil, tidak lewat jalan kapal besar. Gelombang tidak karuan, dan saya muntah-muntah. Banyak yang muntah, sampai muntahan itu sekamar ada 2 drum. Terus dibuang ke laut, ada tukang buangnya, dari kami-kami juga. Sampai akhirnya kakus buntu. Baunya bukan main.

Buru

Waktu saya tiba di Buru, sudah ada 13 unit. Saya ditaruh di unit 4, bernama Sanleko. Kemudian diganti namanya oleh kami-kami, menjadi Savanajaya. Kenapa? Karena itu savana (hutan lalang), setelah ditempati tapol, tumbuh padi, jadi jaya. Unit ini paling dekat dengan laut. Kira-kira 3 kilo saja. Ada lapangan yang rata, dan juga tidak ada pohon besar-besar, jadi kami bisa bertani dengan cukup enak.

Unit yang lain, lebih tinggi, tidak rata dan ada pohon-pohon besar, mesti menggeraji dan merobohkan pohon-pohon itu untuk bikin sawah. Jadi, lebih susah kerja mereka. Sedangkan di Savanajaya ini, kami mau membuat galangan gampang, mau membuat irigasi dari Sungai Waibini juga gampang. Yang ditaruh di Savanajaya memang orang pilihan. Ada kira-kira 1500 orang. Pertimbangannya: yang pemimpin partai naik atas biar susah, tapi kami kebanyakan mahasiswa, pelajar, wartawan, dosen dan professor yang dianggap tidak ikut-ikutan partai. Kalau ada di antara intelektual ini yang ketahuan aktif di partai, ya dibuang ke atas. Itu kata beberapa penjaga penjara.

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya ditaruh di atas. Di unit 3. Teman-teman banyak yang tahu kalau Pram adalah penulis yang hebat. Saya sendiri sudah kagum dengan Pram. Kebetulan di belakang unitnya Pram itu, tepat ladang saya. Waktu melihat Pram, saya sudah ingin sekali bertemu. Jadi, saya menunggu kesempatan. Kalau yang jaga malas dan pergi, saya bisa ngobrol dengan Pram sebentar.

Saya kemudian mencoba pinjam mesin ketik dari kantor unit dan minta kertas sedikit saja. Eh, diberi. Siang hari, waktu semuanya tidur, saya berikan ke Pram supaya dia bisa ngetik. Lalu, saya ambil lagi dan saya kembalikan ke kantor. Begitu terus. Kalau ada kesempatan, saya bisa menyelinap ke unit Pram dan membantu dia. Pram ngarang dan ngetik, saya ngoreksi ketikan yang salah-salah. Di kertas tipis sekali.

Kami lalu membuat lubang. Naskahnya kami bungkus dengan daun pisang dan kami sembunyikan di lubang itu, lalu kami bikin tutupan yang mirip dengan penutup septic tank. Lubang berisi naskah itu kami tutupi dengan itu. Orang-orang berpikir itu tinja. Tidak ada yang berani buka. Jadi, naskah-naskah semua tersimpan di sana.

Karena protes luar negeri, akhirnya Pram diijinkan menulis kembali. Waktu itu Kopkamtibnya Sumitro. Dia datang ke pulau Buru dan bilang, Pram ini mesin ketik buat kamu. Tapi, mesin tik itu sudah rusak dan harus diperbaiki sendiri oleh Pram. Pitanya hanya ada 1. Waktu sudah habis, saya carikan nila, saya godog, saya basahi pita itu, lalu dijemur, ternyata bisa untuk tinta.

Memang Pram diberi kertas, tapi kertas duslah (doorslag, ed.). Waktu kertas itu habis, tidak diberi lagi. Tapi Pram punya telur ayam. Karena itu, saat teman-teman ke kota Namlea, Pram titip telur. Teman-teman barter telur di Namlea dengan kertas. Tulisan-tulisan Pram itu saya kumpulkan, saya lem dengan singkong yang direbus sampai tanak, dan dibendel. Saya press dengan tutupan yang mirip tutup sapi teng itu. Saya diberi rangkapan naskah Pram tahun 1975.

Pembangunan

Di unit 4, kemudian didirikan rumah sakit, dibangun oleh Tapol sendiri. Yang dikirim ke sini biasanya dokter yang baru lulus. Saya pernah kena flu. Waktu itu ada wabah flu Hongkong. Saya sampai tidak bisa berdiri. Saya pergi ke dokter, yang namanya Hadi, dokter muda, baru tamat dari UI. Dia sabar sekali, sangat sungguh-sungguh. Dia memperhatikan, sampai saya sembuh. Dokter lainya kadang-kadang sangat galak. Tapi dokter Hadi tetap jaga jarak dengan saya. Tidak mau omong lain, selain penyakit. Kelihatan sekali, dia tegang. Mungkin karena diancam juga.

Kami lalu diminta membuat masjid, vihara, gereja, gedung kesenian, perpustakaan. Pokoknya, kami membangun terus. Lalu, ada pendidikan rohani: terutama Islam dan Kristen. Ada pendeta didatangkan dari Jawa. Ada Imam didatangkan dari Jawa juga. Mereka dari departemen agama. Sebenarnya semua harus ikut. Kami harus memilih. Kalau yang Islam, Jumat harus ke mesjid dan harus sholat 5 kali, kan capek. Kalau di masjid, juga ditanya: “kamu sholat 5 kali atau tidak?” Kalau Kristen, hari Minggu harus ke Gereja. Dan itu diabsen.

Kami mencari akal. Apa yang bisa membuat kami tidak diawasi? Melok (ikut, ed.) Buddha, karena tidak pendetanya, jadi kami bisa kumpul dan omong-omong. Tapi di antara teman-teman, memang ada yang beragama Buddha sungguhan, dan kami minta mereka sembahyang atau pura-pura sembahyang kalau diawasi. Jadi, kami bisa istirahat, sambil ngobrol. Kalau tidak, kami harus ke ladang, nyangkul. Di situ ada perpustakaan agama juga. Rupanya indoktrinasi agama sudah dimulai kepada kami.

Savanajaya kemudian dijadikan etalase. Kalau ada tamu dari luar negeri, mereka dibawa Savanajaya (selain paling rendah letaknya, sehingga mudah dicapai, juga paling bagus kondisinya dan yang paling maju fasilitasnya daripada unit-unit lain). Mereka berkumpul dan diajak berkeliling ladang, sawah, rumah dan gedung-gedung lainnya. Kalau mereka datang, kami seolah tidak dijaga.

Di Savanajaya, setiap barak berisi 50 orang. Biasanya dari kami, ada 2-3 orang bertugas nyapu, masak nasi dan lain-lain. Sesudah masak selesai, beberapa mengirim makanan ke orang-orang yang bekerja di ladang. Kalau berhasil, memang enak. Tapi kalau panen tidak berhasil, biasanya singkong saja makanannya.

Pernah tiba-tiba saja, kami diberi pupuk dari luar negeri. Kami diminta memakai semua pupuk itu, padahal kami ingin menghemat. Menurut kami, kelebihan pupuk sebaiknya dipakai untuk lain waktu. Tapi tetap saja, kami diminta menghabiskan. Dan tanaman pun tumbuh subur sekali. Tidak lama setelahnya, ada tamu datang lagi: dari Amnesty international, Belanda, dsb. Saat itu kami sadar, rupanya semuanya memang disengaja supaya mereka melihat sawah dan ladang hijau semua. Para tamu itu digiring supaya percaya bahwa kami makmur dan diperlakukan baik oleh pemerintah. Tapi, setelah itu, waktu panen, tidak ada cukup tenaga untuk memanen karena produksi terlalu banyak. Sejak awal salah satu dari kami mewanti-wanti, panen itu seharusnya dibuat bergelombang. Jadi tidak semua dipupuk dan ditanam, supaya panen tidak bersamaan. Tapi mereka cuma ingin tampak “wah”, akibatnya, hasil panen terpaksa dibakar, karena tidak bisa dipanen, juga akhirnya mengundang ulat dan wereng. Setelah itu, kami tidak diberi pupuk lagi.

Tanah yang sudah ditanami itu tentu saja jadinya capek. Dipacul tidak bisa karena keras. Kami kekurangan panen. Jadi kami makan singkong lagi, dan untuk sayurnya ya daun singkong. Jika dimasak, daun singkong keluar minyaknya, itu protein bagi kami.

Suatu ketika ada keluarga salah satu tapol didatangkan. Salah seorang yang lain ditanya, “Mau keluarga didatangkan atau mau pulang?”. Ada yang iya, ada yang tidak. Ada yang dipaksa, tahu-tahu keluarga didatangkan. Anak istri tiba-tiba di situ. Ini yang membuat ruwet, karena mereka jadi stress berat, karena tidak siap istri dan anaknya melihat mereka dalam kondisi demikian. Mereka yang pulang diminta memberikan milik mereka kepada yang datang. Begitu juga saya. Saya kan masih bujang, jadi memutuskan pulang ke Jawa.

Terakhir yang dipulangkan unitnya Pram (di unit 3, lebih atas lagi). Di sana banyak terdapat orang penting partai. Selain Pram, ada Oei Hai Joen (Fraksi PKI di DPR. Memang dia orangnya tidak segan ngaku PKI). Dia masih famili saya. Sekarang sudah meninggal.

Pulang ke Jawa

Indonesia waktu itu memiliki program PELITA. Pada 1978, uang Suharto habis karena dikantongi anak buahnya yang korupsi. Menteri Luar Negeri pergi ke Amerika untuk pinjam uang. Saat itu presidennya Jimmy Carter. Dia bilang OK, Amerika akan memberi pinjaman asalkan HAM harus dilaksanakan. Tapol Buru harus segera dipulangkan. Suharto juga meminjam ke IGGI (Intergovernmental Group on Indonesia), organisassi lembaga donor untuk Indonesia pimpinan Jan Pronk. Pronk juga bilang, kalau tahanan pulau Buru harus dibebaskan. Terutama Pram.

Tahun 1978 itu, saya dibebaskan. Tapi Pram belum, rupanya Suharto masih belum rela. Baru setahun kemudian, Pram dan Oei Hai Joen dibebaskan. Oei Hai Joen juga tidak langsung dibawa ke Jawa, tapi diputar dulu ke Semarang dan kota-kota lainnya. Karena luar negeri protes terus, mencari terus, maka akhirnya Oei Hai Joen dikembalikan ke Surabaya. Setengah bulan dia dibawa berkeliling. Mungkin, kalau dia tidak disorot media international, ya akan hilang begitu saja.

Sebelum saya pulang, saya dititipi naskah asli Pramoedya, Bumi Manusia. Saya bawa juga penutup naskah-naskah Pram di pulau Buru, yang terbuat dari semen itu. Saya dinaikkan kapal haji. Sampai di kapal, saya takut sekali karena ada pemeriksaan beberapa kali. Buku Pram dan tutupan semen yang berat ini pasti tidak lolos, atau saya sendiri bisa dicemplungkan ke laut bersama kedua barang ini. Untung sekali saya tidak diperiksa.

Kembali ke Malang, saya seperti Tarzan masuk kota. Tiba-tiba saya lihat, ada bis kok besar sekali, di dalam ada TVnya. Jalannya kok besar, mobil-mobil besar dan banyak. Juga macet, saya bingung. Sampai di Malang, saya ditaruh di Kodim, untuk wajib lapor. Saya diberitahu bahwa saya wajib lapor seminggu 3 kali. Setelah itu, saya diperbolehkan pulang. Di sana, orang-orang lain dijemput anak dan istri, juga keluarga. Tapi saya tidak melihat anggota keluarga saya. Sudah agak lama saya melihat-lihat, tetap saja tidak ada wajah adik dan mama saya.

Akhirnya, saya pulang sendiri naik becak. Saya agak takut, karena sudah bertahun-tahun tidak di Malang. Apa saya masih ingat jalan pulang? Ternyata masih. Di situ, adik saya di rumah. Di rumah yang sama. Adik segera mengantar saya ke Kodim dan tanda tangan. Begitu juga adik saya harus memberi pernyataan akan bertanggung jawab akan saya dan menanggung kalau saya tidak akan ikut-ikutan politik atau organisasi. Kami pulang lagi, lalu adik bilang: “Mama sudah meninggal 50 hari yang lalu”. Dunia saya seolah runtuh. Luar biasa sedihnya. Saya mengharap bisa bertemu mama, tapi ternyata terlambat 50 hari.

Lama sekali saya mencari pekerjaan dan tidak bisa, karena KTP saya ada cap ET. Suatu saat, saya didatangi orang. Dia suruhan Haji Masagung, dan mengharap saya ke Surabaya. Saya ke Surabaya tapi tidak nginap, jadi tidak perlu surat jalan. Pagi-pagi berangkat. Sore pulang. Haji Masagung bilang, ikut saya juga. Lalu saya kerja dengan Masagung. Saya ditidurkan di Hyatt Hotel. Cuma siang saja saya di situ. Akhirnya saya minta surat ijin. Karena dari Haji Masagung, mereka langsung membolehkan.

Peristiwa Aneh di Luar Buru

Ada yang aneh setelah saya keluar penjara.

Karya Pram Bumi Manusia tiba-tiba beredar luas. Padahal, Pram masih dipenjara. Pram baru dikeluarkan tahun 1979, tapi bukunya tiba-tiba muncul tahun 1978. Itu bukan dari saya. Saya memang menyebarkan tulisan Pram tapi kepada orang-orang tertentu saja, yang berjanji tidak akan menyebarluaskan kembali. Saya menyetaknya pakai stensil, 10 buku saja. Jadi ulah siapa ini?

Ternyata, tidak lama setelah saya bebas, ada pastor yang menyelinapkan karya Pram juga. Pastor kebal hukum, jadi dia tidak digeledah. Dialah yang memberikan karya Pram ke sebuah penerbit, dan akhirnya novel Pram Bumi Manusia diterbitkan oleh Hasta Mitra. Tapi, sayang tidak lama kemudian, novel ini dilarang. Sebelum dilarang, buku ini sukses besar dan sempat 10 kali cetak ulang serta diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Setelah Pram bebas, saya mau mengembalikan naskah asli Bumi Manusia ke Pram, tapi dia bilang: “Jangan, beri foto-kopinya saja”. Rupanya, dia masih takut kalau naskah itu dirampas. Jadi, saya simpan naskah asli Pram.

Lahirnya Perpustakaan

Di Jakarta, saya sempat belajar tentang perpustakaan. Lalu, saya pindah ke Surabaya dan beli rumah di kota ini. Buku-buku di Malang saya bawa ke sini. Rumah saya jadi penuh buku. Hampir tidak ada ruang untuk manusia.

Sekitar tahun 1998, ada 2 orang Australia datang. Buku-buku, majalah dan koran saya mau dibeli. Semua pokoknya. Saya ditawari 1 Milliar. Waktu itu, uang segitu bisa dibelikan rumah yang besar dan mewah di Surabaya. Saya bilang tidak, walaupun saya sendiri kebingungan dengan biaya perawatan buku-buku ini. Banyak yang sudah dimakan ngengat dan bertambah rusak.

Seorang sahabat lama, anak dari mantan pengurus Baperki cabang Kepanjen mengusulkan supaya saya mendirikan perpustakaan saja. Saya memang sudah menginginkan hal ini. Tapi duitnya dari mana? Untungnya, pengusaha Sindhunata Sambudi dan Ongko Tikdoyo dari Surabaya yang mendengar rencana saya ini. Akhirnya membelikan rumah yang kini dijadikan gedung perpustakaan, yang berada di Jl. Medayu Selatan IV/ 42-44, Surabaya.

Banyak sekali peneliti dari berbagai Negara, termasuk Ben Anderson (Cornell University) dan Daniel S. Lev (Washington University) datang ke sini. Harapan saya semoga perpustakaan ini bisa terus berkembang, koleksi buku yang bermutu juga bisa bertambah, dan kalau bisa juga terus gratisan seperti ini, supaya generasi muda bisa belajar dari sini. Saya tidak pernah menyesal akan apa yang terjadi pada saya. Saya anggap “disekolahke karo pak Harto [Disekolahkan oleh Soeharto]”, supaya tambah pengalaman dan tabah.

Penulis adalah penulis lepas, dan komposer musik kontemporer. Bukunya antara lain, The Discrepancy between the Public and Private Selves of Indonesian Women, Mati Bertahun yang Lalu, Kisah di Balik Pintu, Kubunuh di Sini. Saat ini sedang menyelesaikan buku tentang Tapol ’65 dan keluarga mereka.

Print Friendly

2 thoughts on “Oei Hiem Hwie: Editor Pramoedya di Buru”

  1. hesti dji sam soe says:

    keluargaku juga punya pengalaman busukx Suharto

  2. Pingback: Eks Tapol 1965 : Dari OEY HAY DJOEN, SIAUW GIOK TJAN, TAN SWIE LING hingga OEI HIEM HWIE – Genosida 1965-1966
  3. Trackback: Eks Tapol 1965 : Dari OEY HAY DJOEN, SIAUW GIOK TJAN, TAN SWIE LING hingga OEI HIEM HWIE – Genosida 1965-1966

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *