Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Rabu Abu dan Pertobatan Ekologis

Daniel Sihombing
26 Februari 2020
di Artikel
Dibaca dalam 5 menit
A A
Rabu Abu dan Pertobatan Ekologis

Sumber gambar: www.aasembly.uca.org

Pada tanggal 26 Februari tahun ini, sebagian umat Kristiani di Indonesia akan berpartisipasi dalam ibadah Rabu Abu. Di negeri ini, ibadah yang mengawali masa Prapaskah tersebut telah lama diidentikkan dengan Gereja Katolik. Namun dalam beberapa tahun terakhir, beberapa gereja Protestan di Indonesia mulai mengadakannya.

Rabu Abu menyerukan pesan pertobatan. ‘Bertobatlah dan percayalah kepada Injil’ atau ‘ingatlah, kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu’ adalah dua formula yang biasanya diucapkan oleh imam atau pendeta dalam ibadah tersebut, sembari menorehkan abu dengan bentuk salib pada dahi umat. Lewat ritual tersebut, umat Kristiani diundang untuk melakukan introspeksi diri dan bertobat.

Ibadah Rabu Abu sendiri telah dipraktikkan gereja sejak berabad-abad silam. Dalam bukunya, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja, Rasid Rachman menjelaskan bahwa hingga abad ke-10, istilah Rabu Abu sebenarnya belum dikenal. Ritual menorehkan abu di dahi umat juga baru secara resmi diterapkan di abad ke-13. Namun penggunaan hari Rabu untuk mengawali masa Prapaskah sebenarnya telah dipraktikkan sejak abad ke-6.[1]

Bagaimana gereja-gereja di Indonesia memaknai pertobatan dalam penyelenggaraan ibadah Rabu Abu di tahun 2020 ini tentu menarik untuk disimak. Di sini gereja-gereja ditantang untuk menunjukkan relevansi ritual peribadatan ini, sekian abad sejak ibadah Rabu Abu mulai dilaksanakan.

Terkait dengan tema pertobatan yang menjadi pesan ibadah Rabu Abu, salah satu upaya gereja untuk menunjukkan relevansinya di abad ke-21 ini adalah dengan mendengungkan istilah yang dalam beberapa tahun terakhir semakin populer, yakni ‘pertobatan ekologis’. Surat edaran Paus Fransiskus di tahun 2015, Laudato Si, adalah salah satu faktor pendorong popularitas istilah tersebut. Oleh banyak pengamat, surat yang menyerukan pertobatan ekologis tersebut dilihat sebagai salah satu dokumen yang sifatnya monumental dalam pergumulan gereja untuk menjawab tantangan zaman. Namun bukan hanya di Gereja Katolik, di gereja-gereja Protestan istilah ‘pertobatan ekologis’ juga makin sering dipercakapkan. Lewat seruan pertobatan ekologis ini, gereja-gereja berusaha merespons salah satu pergumulan utama dunia di masa kini, yaitu ancaman kiamat iklim.

Ancaman Kiamat Iklim

Meski telah disuarakan sejak puluhan tahun silam, isu perubahan iklim (climate change) semakin menunjukkan urgensinya di tahun ini. Banjir besar di Jakarta dan kebakaran hebat di negara tetangga, Australia, di awal tahun 2020, seakan menyalakan alarm bahaya tentang apa yang mungkin terjadi dalam dekade ke depan.

Menanggapi banjir di Jakarta Januari lalu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menemukan adanya peningkatan curah hujan yang signifikan jika dibandingkan dengan kondisi seratus tahun lalu ketika keadaan iklim global masih sangat berbeda. Perubahan ini disinyalir sebagai faktor dominan penyebab banjir kemarin serta peningkatan resiko terjadinya bencana serupa di waktu-waktu ke depan.

Sementara itu di Australia, kebakaran semak (bushfires) seluas jutaan hektar lahan di awal tahun 2020 yang menewaskan puluhan orang, menghabisi ribuan tempat tinggal, serta memakan korban jutaan hewan, juga tidak lepas dari faktor perubahan iklim. Climate Council, organisasi penyedia informasi terkait isu perubahan iklim di Australia, menyatakan bahwa rendahnya curah hujan, kekeringan, serta peningkatan suhu, yang semuanya terkait dengan perubahan iklim, adalah kondisi-kondisi yang bakal membuat ancaman kebakaran semak di waktu mendatang semakin membahayakan.[2]

Menanti Keberanian Gereja

Di tengah ancaman kiamat iklim yang semakin nyata, keberanian gereja memosisikan pewartaannya pada akhirnya bakal turut menentukan bagaimana ia akan dihakimi oleh sejarah. Sementara di abad-abad sebelumnya gereja telah seringkali menunjukkan wajah oportunis dan reaksioner di tengah gelombang sejarah masa lalu seperti kolonialisme dan perang imperialis, generasi mendatang nantinya juga akan menilai bagaimana gereja menghadapi tantangan krisis iklim di masa kini.

Salah satu tolok ukur keberanian gereja di masa genting ini ialah seberapa eksplisit pewartaannya berkonfrontasi dengan tatanan kapitalisme global. Sebagaimana telah dijelaskan oleh banyak studi, akar masalah krisis iklim hari ini ada pada sistem ekonomi yang sejatinya tengah memerangi kehidupan mayoritas penghuni muka bumi lewat obsesinya akan profit dan pertumbuhan ekonomi. Penulis bestseller Naomi Klein mungkin adalah salah satu yang terpopuler dalam penjelasannya tentang poin ini lewat bukunya yang terbit pada tahun 2014, This Changes Everything.[3] Namun poin serupa sebenarnya juga muncul dari petinggi dunia seperti mantan Sekjen PBB asal Korea Selatan, Ban Ki-Moon, yang dalam World Economic Forum tahun 2011 menyatakan bahwa melanjutkan model ekonomi yang berjalan selama ini berarti melangkah menuju ‘bunuh diri global’.[4]

Dalam hal keberaniannya menyoroti problem sistemik masalah iklim hari ini, surat edaran Paus Fransiskus, Laudato Si, bisa dibilang telah menunjukkan langkah yang cukup maju. Bahkan intelektual Marxis sekaliber Michael Löwy pun turut menyatakan apresiasinya atas naskah tersebut. Dalam artikelnya di Monthly Review yang khusus membahas dokumen gereja tersebut, Löwy mengkategorikan surat edaran tersebut sebagai tulisan yang bercorak anti-sistemik. Artinya, meski dalam surat tersebut Paus Fransiskus tidak sekalipun menyebut istilah ‘kapitalisme’, analisisnya tidak menyoroti akar masalah iklim pada perilaku individu semata, melainkan pada moda produksi dan konsumsi yang dominan hari ini, yang tidak lain adalah kapitalisme.[5]

Majunya posisi Laudato Si dalam percaturan kekristenan global hari ini akan sangat kentara ketika kita membandingkannya dengan ekspresi-ekspresi Kristen lainnya yang beredar. Kita tahu bahwa Presiden penyangkal masalah iklim, Donald Trump, punya basis pendukung yang luas di kalangan Kristen Injili Amerika Serikat. Laporan riset dari Pew Research Center, juga menunjukkan bahwa kesadaran di kalangan ini tentang masalah iklim terkategori paling rendah jika dibandingkan dengan kalangan Kristen lainnya di Amerika.[6] Di dalam tubuh Gereja Katolik sendiri, posisi yang dikemukakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si tidak serta-merta diterima oleh bawahannya. Uskup Agung Kraków, Polandia, yang bernama Marek Jędraszewski, misalnya, menyatakan bahwa gerakan lingkungan seperti yang dipelopori oleh Greta Thunberg adalah bertentangan dengan Alkitab dan melawan tradisi Kristen.[7]

Laudato Si sendiri tentu bukannya tanpa kelemahan. Kecermatan melakukan diagnosis atas akar permasalahan tidak selalu dibarengi tawaran solusi yang jitu. Michael Löwy, misalnya, menyoroti minimnya gagasan tentang gerakan politik yang diperlukan serta absennya pengakuan atas potensi peran kaum miskin sebagai protagonis pembebasan atas permasalahan ini. Yang terakhir ini dianggap Löwy lebih digambarkan sebagai korban alih-alih agen perubahan. Meski demikian, kritik ini disertai dengan permaklumannya karena dalam surat edaran tersebut Paus Fransiskus juga menyebut tentang keterbatasan peran gereja yang tidak bermaksud untuk menggantikan fungsi partai politik.[8]

Baca Juga

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

22 Desember 2025
Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

9 Desember 2025

Namun dalam batasan peran gereja sebagaimana dibayangkan oleh Paus Fransiskus tersebut pun sepertinya tidak akan mudah bagi kita untuk menemukan pewartaan yang semaju konten Laudato Si di gereja-gereja yang ada. Untuk mengembangkan ‘pelayanan’-nya, gereja membutuhkan biaya. Ongkos pembangunan gedung, pembelian tanah, remunerasi staf, hingga perlengkapan ibadah tidaklah murah. Dalam situasi yang demikian, peran anggota jemaat yang memiliki modal lebih menjadi semakin krusial. Pada posisi ini, pilihan untuk mewartakan sikap kritis terhadap kapitalisme adalah beresiko. Bakal berterimakah pesan-pesan anti-sistemik di telinga mereka yang justru dimungkinkan untuk bermodal lebih berkat sistem yang ada sekarang? Himbauan untuk mengurangi penggunaan plastik, menggalakkan penghijauan, atau mengurangi konsumsi individu, tentu akan jauh lebih mudah diucapkan di mimbar-mimbar gereja. Tetapi bagaimana jika akar permasalahannya terletak pada sistem pengorganisasian kegiatan produksi dalam masyarakat yang ada, yang operasinya dibiarkan tak tersentuh ketika fokus kita teralih pada pengamalan himbauan-himbauan tadi?

Tantangan yang tidak mudah ini barangkali membuat pesan pertobatan dalam hari raya Rabu Abu yang akan datang ini begitu mengena, pertama-tama bagi gereja sendiri. Sejauh apakah keberanian gereja untuk menempuh jalan salib yang penuh resiko, ketika hari ini ia ditempatkan di tengah-tengah krisis dunia yang begitu nyata? Agaknya pertanyaan ini layak menjadi perenungan bagi kita semua yang bakal menerima torehan tanda salib di dahi pada tanggal 26 Februari nanti.

[1] Rasid Rachman, Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Peran Pastoral Gereja (Jakarta: BPK-GM, 2005), 58.

[2] “The Facts About Bushfires and Climate Change”, https://www.climatecouncil.org.au/not-normal-climate-change-bushfire-web/.

[3] Naomi Klein, This Changes Everything: Capitalism vs The Climate (New York: Simon & Schuster, 2014).

[4] “Ban Ki-Moon on ‘Revolution’”, https://www.youtube.com/watch?time_continue=11&v=BmgEddwyTcY&feature=emb_logo.

[5] Michael Löwy, “Laudato Si—The Pope’s Anti-Systemic Encyclical”, https://monthlyreview.org/2015/12/01/laudato-sithe-popes-anti-systemic-encyclical/.

[6] “Religion and Views on Climate and Energy Issues”, https://www.pewresearch.org/science/2015/10/22/religion-and-views-on-climate-and-energy-issues/.

[7] “‘Ecologism is very dangerous and contrary to the Bible’, warns Polish Archbishop”, https://notesfrompoland.com/2019/12/27/ecologism-is-very-dangerous-and-contrary-to-the-bible-says-archbishop-of-krakow/.

[8] Löwy, “Laudato Si”.

Tags: Antar-Agama
Share1366TweetSendShare
Daniel Sihombing

Daniel Sihombing

Daniel Sihombing bergiat di Kristen Hijau

Tulisan Terkait

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Rachmadiar Perdana
22 Desember 2025
0

Rencana pemerintah pusat untuk menjadikan Pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional telah memicu perlawanan dari masyarakat setempat. Masyarakat Meratus menganggap bahwa...

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Fadiah Nadwa Fikri
9 Desember 2025
0

Pada Juli tahun ini, anggota parlemen Inggris dengan suara 385 berbanding 26 menyetujui penetapan Palestine Action sebagai organisasi teroris menyusul...

Moderatisme, Relasi Kekuasaan, dan Pembentukan Narasi Keberislaman

Moderatisme, Relasi Kekuasaan, dan Pembentukan Narasi Keberislaman

Rusda Khoiruz Zaman
8 Desember 2025
0

Suka cita penerimaan PBNU beberapa waktu lalu atas aturan izin konsesi pertambangan sekaligus tambangnya, terdengar kontradiktif. Setidaknya, bagi warga Nahdliyin...

Harita Group dan Duka Pulau Obi

Harita Group dan Duka Pulau Obi

Redaksi
27 April 2025
0

Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara telah menjadi simbol tragis dari ekosida dan krisis lingkungan akibat ekspansi industri...

Lainnya
Isu Kelas dan Krisis Industri Pariwisata

Isu Kelas dan Krisis Industri Pariwisata

Tugas Kita adalah Tidak Tumbang oleh Virus dan Menumbangkan Kapitalisme

Tugas Kita adalah Tidak Tumbang oleh Virus dan Menumbangkan Kapitalisme

Comments 6

  1. Sony Rospita Simanjuntak says:
    6 tahun ago

    Bagus sekali artikelnya. Penuh informasi. Terima kasih. Hanya ada satu komentar tentang terjemahan ‘bushfire’ ke ‘kebakaran semak’ di Australia. Seorang jurnalis Indonesia yang saya kenal dan hidup di Australia mengulas terjemahan itu sebagai tidak tepat karena dalam konteks Australia, ‘bushfire’ itu adalah ‘kebakaran hutan’ karena pohon-pohon yang banyak terbakar tinggi-tinggi. Hanya sebagai masukan

    Reply
  2. danielinsihombing says:
    6 tahun ago

    Wah, terima kasih banyak untuk masukannya. Saya memang agak bimbang waktu memutuskan terjemahan ‘kebakaran semak’. Keputusan banyak media lain untuk menggunakan istilah yang sama membuat saya berani memilih opsi tersebut. Tapi memang mungkin ‘kebakaran hutan’ lebih tepat untuk menggambarkan bencana yang skalanya masif tersebut.

    Reply
  3. Ping-balik: Rabu Abu (2020) – Daniel I.N. Sihombing
  4. Arif Harsana says:
    6 tahun ago

    Terimakasih dan apresiasi kepada penulis artikel bernas dan berbobot Damiel I.N. Sihombing.
    Penulis menunjukkan kemampuannya mengutarakan masalah yg berdimensi filosofis dg muatan makna yg dalam, universal dan fundamental dengan uraian yang mudah dibaca oleh publik luas tentang pentingnya menanggulangi bahaya perubahan iklim secara konsekwen.

    Semoga semangat yang mengilhami para pendukung paham Theologi Pembebasan akan ikut berperan aktiv dalam perjuangan bersama demi tercapainya tatanan yg lebih adil dan lebih ramah lingkunngan hidup.

    Reply
  5. danielinsihombing says:
    6 tahun ago

    Terima kasih, Pak Arif, untuk apresiasinya. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang banyak.

    Reply
  6. Ping-balik: Rabu Abu dan Pertobatan Ekologis | Kristen Hijau

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak