Perlu diakui bahwa dalam kehidupan modern saat ini, keyakinan tentang hantu, setan, atau ilmu hitam tidak serta-merta hilang dari keseharian para buruh. Keyakinan spiritual hadir berdampingan dengan pengalaman kerja buruh bersama mesin, shift kerja, dan target produksi harian. Khususnya ini terjadi dalam ruang kerja buruh di sektor industri, seperti pabrik tekstil, manufaktur, hingga tambang.
Ruang pabrik hingga tambang yang sering dibayangkan sebagai ruang rasional dan teknis, ternyata juga didominasi oleh cerita tentang tempat angker, mesin yang ada penunggunya, hingga kecelakaan kerja yang dihubungkan dengan kekuatan atau gangguan gaib. Bagi saya yang cukup sering mendengarkan ‘cerita unik’ dari keseharian buruh, narasi gaib ini tidak bisa semata-mata dipahami sebagai pola pikir yang irasional. Dalam perspektif antropologis, keyakinan spiritual di ruang kerja dapat dibaca sebagai bagian dari pengetahuan lokal buruh dalam memahami risiko, ketidakpastian, dan bahaya kerja yang mereka alami sehari-hari.
Justru dari cerita seperti ini, buruh sedang mengomunikasikan bagaimana mereka memahami ruang kerja modernitas industrial, yang penuh akan pengalaman tubuh buruh yang lelah, rentan, dan terus dipaksa untuk menyesuaikan dengan ritme produksi. Namun, narasi spiritual ini juga tidak lepas dari relasi kuasa yang timpang. Pengetahuan lokal buruh tentang dunia gaib dapat dengan mudah diapropriasi oleh pemilik modal dan manajemen pabrik. Tujuannya beragam, agar bisa menghindari pembayaran ganti rugi atas kecelakaan kerja, menunda evaluasi keselamatan, hingga terus menggunakan mesin yang sudah usang.
Tumbal dalam Spiritualitas Industrial
Kita bisa membaca tulisan Michael Taussig dalam “The Devil and Commodity Fetishism in South America” untuk memahami mengapa mesin, produksi, dan alat industrial dapat terlihat memiliki kuasanya sendiri. Di sini, Taussig menunjukkan bagaimana figur setan dalam folklor pekerja tidak dapat dilepaskan dari relasi kapitalisme. Setan atau hantu, bukan sekadar simbol kepercayaan mistis, melainkan cara pekerja memahami relasi produksi yang terasa ganjil, tidak manusiawi, dan eksploitatif.
Salah satu konsep penting dari tulisan Taussig ialah commodity fetishism. Dalam masyarakat kapitalis, relasi sosial antarmanusia sering tampil seolah-olah sebagai relasi antarbenda. Fetisisme terjadi ketika benda-benda yang sebenarnya mati justru dianggap memiliki kehidupan, kekuatan, dan otonomi. Pada saat yang sama, manusia yang menciptakan atau mengoperasikan alat produksi justru kehilangan kuasanya.
Dalam konteks pabrik dan tambang, pengalaman ini terasa nyata bagi mereka. Ketika buruh meyakini bahwa sebuah mesin ‘ada isinya’, kecelakaan terjadi karena gangguan gaib, atau lorong pabrik yang angker, narasi ini dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana kapitalisme industrial membuat benda mati yang lebih tampak lebih berkuasa dibandingkan manusia. Sehingga, fokus para buruh menjadi teralihkan pada masalah struktural yang terjadi.
Melalui penjelasannya, Taussig menambahkan, “instead of man being the aim of production, production has become the aim of man […]”. Di kalimat ini, saya jadi tersadar bahwa dalam keseharian produksi, buruh tidak lagi diposisikan sebagai tujuan dari produksi. Sebaliknya, buruh justru dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan produksi, seperti mengikuti target, shift, ritme mesin, dan aturan perusahaan lainnya. Ketika tubuh buruh gagal menyesuaikan diri, tubuh tersebut sering dianggap lalai, tidak berdaya, atau tidak disiplin. Padahal, kegagalan tubuh sering kali menunjukkan batas dari sistem produksi itu sendiri, di mana tubuh buruh tidak selalu mampu mengikuti kecepatan dan tuntutan mesin.
Menariknya, jika Taussig membantu kita memahami bagaimana benda-benda produksi dalam kapitalisme tampak hidup dan berkuasa atas manusia, bacaan Aihwa Ong berjudul “Spirits of Resistance and Capitalist Discipline” menunjukkan bahwa spiritualitas di pabrik tidak selalu bekerja untuk menundukkan buruh. Di tulisan Ong ini justru hal suprantarual jadi bentuk “perlawanan” buruh. Dalam kasus buruh perempuan di Malaysia, Ong berargumen jika kesurupan massal yang terjadi pada pabrik tersebut justru sebagai gangguan terhadap disiplin kapital dan menghambat proses produksi. Momen kesurupan tersebut juga merupakan perlawanan buruh perempuan yang diopresi oleh kontrol perusahaan terhadap tubuh mereka agar tetap patuh, produktif, dan diam.
Spiritualitas Industrial dalam Keseharian dan Budaya Populer
Berbeda dari bacaan Ong yang melihat narasi spiritual sebagai ruang perlawanan, pengalaman buruh yang saya dengar menunjukkan posisi buruh yang lain. Saya jadi teringat dengan beberapa cerita yang justru memperlemah posisi buruh. Misalnya, cerita tentang seorang buruh pabrik yang mengalami kecelakaan kerja hingga tangannya terluka saat menggunakan mesin. Dalam diskusi formal, kejadian ini bisa dilihat sebagai persoalan keselamatan kerja. Namun, kabar yang beredar di kalangan buruh pabrik tersebut justru mengatakan bahwa mesin itu berisikan penunggu seorang tuyul. Narasi ini kemudian dibiarkan berkembang di kalangan buruh, sehingga fokus pembicaraan bergeser dari mesin yang usang menjadi gangguan gaib yang berada di luar kuasa manusia.
Dalam cerita lain, narasi spiritual juga diwariskan melalui hubungan kerja yang bersifat kekeluargaan. Dikarenakan rekrutmen buruh masih banyak berlangsung melalui hubungan kekerabatan, cerita tentang pabrik juga diwariskan melalui senioritas kerja. Melalui kabar mulut ke mulut tersebut, buruh lama tidak hanya berupaya memahami ruang kerjanya, melainkan juga mengenalkan sejarah informal pabrik; dari lokasi yang dianggap angker karena bekas kuburan sampai cerita tentang pemilik pabrik yang dikaitkan dengan praktik perdukunan yang meminta tumbal.

Sumber: Palari Films
Tak hanya dalam cerita keseharian buruh, narasi spiritual juga muncul dalam budaya populer, salah satunya melalui film Monster Pabrik Rambut garapan sutradara Edwin. Film ini mengangkat kisah Putri dan Ida yang mencoba menyelidiki kematian ibunya di sebuah pabrik rambut. Sang ibu yang bekerja di pabrik tersebut mengalami kesurupan dan kemudian meninggal secara tragis. Dari kejadian itu, para buruh meyakini bahwa kematiannya berhubungan dengan kekuatan gaib yang meminta tumbal. Untuk menemukan kebenaran di balik kematian tersebut, Putri dan Ida kemudian masuk ke dalam pabrik dan seolah-olah berperan sebagai buruh pabrik.
Yang menarik dari film ini adalah bagaimana cerita tentang hantu dijadikan sebagai medium untuk membuka mata penonton akan kekerasan yang tersembunyi dalam ruang produksi pabrik. Putri dan Ida akhirnya menemukan jawaban atas kemalangan yang menimpa ibunya, yang juga dialami oleh buruh lain. Namun, dalam salah satu bagian cerita, ketika seorang buruh mengalami kecelakaan kerja hingga wajahnya cacat, buruh tersebut justru berterima kasih kepada pemilik pabrik karena dianggap sudah membantu proses penyembuhan dari kecelakaan kerja yang terjadi. Adegan ini memperlihatkan bagaimana relasi kuasa dapat mengubah tuntutan atas tanggung jawab perusahaan menjadi rasa terima kasih kepada pemilik kapital.
Meski kedua cerita di atas berasal dari medium yang berbeda, hal ini mengingatkan bahwa narasi mistis melekat di kalangan buruh sebagai pengetahuan lokal buruh untuk menandai ruang kerja yang berbahaya, mengingat korban, dan menyimpan memori kolektif tentang luka dan trauma. Dalam hal ini, narasi gaib menjadi mekanisme saling mengingatkan dan menjaga di antara buruh melalui ruang informal.
Namun, narasi yang sama juga dapat bekerja sebaliknya. Ketika manajemen membiarkan cerita gaib berkembang tanpa membuka investigasi dan evaluasi K3 secara transparan, narasi tersebut menjadi pengalihat isu dari pelanggaran SOP hingga pembayaran kompensasi. Sehingga, narasi spiritualitas ini punya posisi yang paradoksikal. Ia bisa menjadi peta risiko informal bagi buruh, tetapi juga digunakan untuk melemahkan tuntutan, meredam amarah, hingga menjaga agar buruh tetap bekerja dalam kondisi yang tidak aman.
Depolitisasi Kecelakaan Kerja
Ketika kecelakaan kerja dipercaya terjadi karena kuasa di luar tubuh buruh dan di luar relasi kerja, tuntutan buruh terhadap perusahaan dapat melemah. Dalam situasi seperti ini, narasi spiritual yang hidup di kalangan buruh dapat dimanfaatkan oleh pemilik kapital untuk mengaburkan tanggung jawab atas kecelakaan kerja.
Hal ini menggiring kita pada tulisan Chidi Oguamanam, “Local Knowledge as Trapped Knowledge: Intellectual Property, Culture, Power and Politics”. Oguaman mengingatkan bahwa pengetahuan lokal sering berada dalam relasi kuasa yang timpang. Pengetahuan semacam ini bisa dengan mudah ‘ditangkap’ oleh rezim kuasa dan dipindahkan ke dalam kerangka yang menguntungkan pihak dominan. Dalam konteks keyakinan spiritual di kalangan buruh, narasi gaib pun rentan ditangkap oleh aktor yang bekerja untuk kepentingan pemilik kapital.
Ketika manajer pabrik memakai atau membiarkan narasi spiritual ini, pengetahuan tersebut tidak hilang, tetapi maknanya bergeser. Cerita yang awalnya ingin menandai bahaya, mengingat korban, justru berubah menjadi narasi yang melemahkan tuntutan buruh atas ganti rugi atau evaluasi keselamatan kerja misalnya.
Di titik ini, konsep Tania Li tentang rendering technical dapat dikembangkan menjadi rendering spiritual. Jika rendering technical menjelaskan tentang bagaimana persoalan politis diubah menjadi persoalan teknis, maka rendering spiritual menggambarkan bagaimana kecelakaan kerja yang seharusnya dibaca sebagai persoalan material politik, justru dipersempit menjadi urusan gaib.
Maka dari itu, dampaknya tidak berhenti hanya pada level narasi. Investigasi terhadap K3 menjadi melemah, tuntutan ganti rugi menjadi tidak mendesak, dan mesin yang sudah usah masih tetap digunakan. Buruh tidak hanya kehilangan kesempatan untuk menuntut pertanggungjawaban, melainkan juga kehilangan bahasa politik untuk menjelaskan luka dan trauma mereka.
Epilog: Perebutan Makna atas Kecelakaan Kerja
Melalui tulisan ini, saya ingin menunjukkan bahwa cerita hantu tidak terjebak di masa lalu. Ia justru memberi gambaran kepada kita tentang peta risiko informal tentang pengalaman kerja buruh modern yang tetap sarat dengan bahaya, ketidakpastian, dan ketimpangan kuasa.
Selain itu, narasi hantu atau kecelakaan di pabrik menjadi ruang perebutan makna oleh berbagai aktor dan tidak bisa dipisahkan dari relasi produksi. Di tengah suara mesin, target produksi, dan tubuh yang terus dipaksa bekerja, spiritualitas menjadi bahasa untuk memahami kuasa yang tidak terlihat dan timpang.
Pertanyaannya selanjutnya ialah bukan ada atau tidaknya hantu di pabrik, tapi siapa yang kemudian paling diuntungkan ketika kecelakaan kerja dijelaskan melalui narasi hantu? apakah narasi ini akan dibaca sebagai alat untuk mengalihkan tanggung jawab perusahaan?
Sebab, dalam relasi kuasa yang timpang, cerita hantu memiliki dua makna. Ia bisa menjadi bahasa buruh dalam memahami risiko dan mengingat luka. Namun, juga bisa bekerja untuk pemilik modal dalam memendam amarah, melemahkan tuntutan, dan lepas dari tanggung jawab perusahaan terhadap buruhnya.
Daftar Pustaka
Edwin. (Director). (2026). Monster Pabrik Rambut [Film]. Palari Films.
Li, T. M. (2007). The will to improve: Governmentality, development, and the practice of politics. Duke University Press.
Oguamanam, C. (2008). Local knowledge as trapped knowledge: Intellectual property, culture, power and politics. The Journal of World Intellectual Property, 11(1), 29–57. https://doi.org/10.1111/j.1747-1796.2008.00333.x
Ong, A. (2010). Spirits of resistance and capitalist discipline: Factory women in Malaysia (2nd ed.). State University of New York Press.
Taussig, M. T. (2010). The devil and commodity fetishism in South America (2nd ed.). University of North Carolina Press.





