Browse By

Metode Ekonomi Politik: Catatan atas Pengantar Grundrisse (Bagian II)

Sampul Grundrisse. Kredit gambar: amazon.com

Catatan editor:

Rizki Amalia Affiat, salah seorang redaktur Islam Bergerak yang sedang menempuh jenjang magister di Departemen Development Studies, SOAS, University of London, mengulas catatannya atas Pengantar Grundrisse, satu teks metodologi ekonomi-politik yang sudah berusia satu setengah abad, namun dirasa masih relevan untuk membaca situasi kapitalisme mutakhir. Tulisannya sendiri cukup panjang, lebih dari sepuluh ribu kata. Artikel ini adalah bagian kedua dari ulasannya tersebut. Untuk mendapat pemahaman utuh, silakan rujuk bagian pertama di sini. Selamat membaca!

***

1. Produksi

Produksi bisa dipahami sebagai proses membuat alat untuk bertahan hidup, mengambil hasil alam dan memprosesnya untuk dimakan, mencipta teknologi untuk memudahkan hidup, dsb. Jadi, hal pertama yang dibutuhkan manusia begitu muncul di dunia adalah kerja produktif (labour) untuk ‘berproduksi’ demi keselamatannya, diawali dengan menggunakan tangannya sendiri untuk bersentuhan langsung dengan alam (memetik buah dari pohon, minum air dari sungai), lalu membuat alat atau perkakas untuk membantunya memproduksi atau mengkonsumsi (membuat benda-benda tajam untuk berburu, jaring untuk tangkap ikan, dsb). Seperti berbahasa, aktivitas produksi manusia bergantung pada relasinya dengan orang lain atau masyarakatnya.

Marx mengawali pengantar ini dengan kritiknya terhadap para ekonom (dia tidak membedakan ‘ekonomi’ dengan ‘ekonomi politik’, yang justru menunjukkan prinsipnya untuk mengritik para ekonom abad-18) seperti David Ricardo dan Adam Smith (nama-nama ekonom lain juga disebut di bab pengantar Grundrisse). Kritiknya disampaikan secara tajam namun menggunakan medium tokoh dari novel terkenal yang terbit tahun 1719 karya Daniel Defoe bertajuk Robinson Crusoe, yang oleh Marx – mungkin dengan agak nyinyir – disebut para Robinsonades.

Robinson Crusoe adalah kisah seorang pelaut dari Inggris di abad ke-17 yang terdampar di pulau antah berantah di lautan Pasifik dan bertemu masyarakat kanibal dan kaum buangan. Crusoe adalah produk dari era dimana masyarakat borjuasi di Eropa mulai berkembang. Ia bertahan hidup dari berbagai petualangannya di wilayah yang dianggap jauh dari peradaban. Ricardo dan Smith menggunakan Robinson di dalam karya mereka untuk menggambarkan relasi individu kapitalis dengan situasi alamnya.

“The individual and isolated hunter and fisherman, with whom Smith and Ricardo begin, belongs among the unimaginative conceits of the eighteen-century Robinsonades.” (hlm.17)

“Sang individu serta pemburu dan penangkap ikan yang terisolir, yang digunakan Smith dan Ricardo sebagai pembuka, adalah bagian dari kesombongan imajinasi para Robinsonades dari abad kedelapan belas.”

Kisah Crusoe ini diangkat kembali oleh Marx dalam bab awal Capital Volume I sebagai satir yang digunakannya untuk menyerang para ekonom. Crusoe dianggap sebagai seorang kapitalis produsen komoditas yang terisolir karena terdampar dengan membawa serta barang-barang seperti buku, pena, dan jam dari kapalnya yang karam. Seolah, Crusoe membangun dunia kapitalisnya sendiri di pulau tersebut karena itulah yang dia anggap sebagai alami (Choonara, 2017, hlm. 36). Marx menganggap seperti inilah bagaimana para ekonom memandang produksi komoditas kapitalis sebagai suatu fenomena alamiah.      

Marx mengritik pendekatan para ekonom yang memandang produksi dengan mendefinisikan hal yang dianggap umum pada semua produksi. Mereka berasumsi ada suatu prakondisi umum pada produksi, suatu abstraksi tanpa momen atau epos sejarah yang spesifik. Mengambil contoh kisah Crusoe untuk menunjukkan manusia sebagai subjek yang sepenuhnya independen dari pengaruh atau kebutuhan atas lingkungan materialnya adalah semacam cangkokan ‘produksi [ala] borjuis’, imaji roman dari seorang individu yang terisolir dan seolah mampu hidup sepenuhnya terlepas dari relasinya pada masyarakat. Sebaliknya, Marx melihat produksi pada manusia sebagai suatu totalitas dalam masyarakat, bentuk apropriasi langsung dari alam untuk reproduksi sosial, dengan menciptakan ‘properti’ (dalam artian dimiliki bersama atau secara komunal).

Reproduksi disini menjadi sentral dalam relasi individu melalui konsumsi produk, karena reproduksi sosial adalah tentang bagaimana masyarakat mereproduksi dirinya sendiri, termasuk dalam ranah produksi di ruang publik maupun di dalam rumah tangga. Grundrisse menekankan pada reproduksi individu sebagai produsen langsung dalam corak produksi kapitalis, yaitu sebagai kelas pekerja (Vogel, 2013).  Syahrul misalnya, adalah seorang pegawai pangkat rendah di suatu perusahaan katering. Istrinya, Siti, bekerja sebagai kasir di mini market. Keduanya sama-sama kelas pekerja, namun Siti juga memiliki peran penting dalam hidup Syahrul, yaitu memastikan bahwa Syahrul (dan dirinya sendiri) bisa makan sehat, istirahat yang baik, dan tinggal di rumah yang bersih agar mereka bisa melanjutkan hidup untuk bekerja kembali tiap hari (kepada kaum kapitalis) dan bisa membayar cicilan rumah di Depok. Peran domestik Siti termasuk dalam reproduksi sosial, namun tidak masuk ke dalam kalkulasi sistem produksi kapitalis karena perannya di rumah tangga tidak diupah (ini kemudian menjadi bagian dari diskusi dan perdebatan feminis-Marxis dalam Teori Reproduksi Sosial).  

Dari relasi ini maka produksi adalah hasil dari perkembangan sejarah, bukan sesuatu yang sifatnya muncul begitu saja dari alam atau biologis. Disini Marx membedakan makna dari individu yang tergantung pada masyarakat primitif seperti manusia pemburu dan penangkap ikan yang dikaitkan Smith dan Ricardo pada kisah Crusoe dengan “the individual and isolated” (individu yang terisolir) atau terjemahan yang dipilih Carver, “the individuated individual”– yang lebih merupakan ciri masyarakat borjuis modern. Menurut Marx, kedua ekonom tersebut melakukan anakronisme dengan mencampuradukkan imajinasi tentang Crusoe yang lahir dari era masyarakat borjuis ke dalam konteks masyarakat primitif.

Berbeda dari masyarakat sebelumnya yang hidup secara komunal dalam kepemilikan bersama, produksi dalam masyarakat kapitalis diperkokoh oleh keberadaan institusi seperti hukum dan aparatus negara karena berkaitan dengan pengaturan kepemilikan pribadi. Ini disadari oleh para ekonom borjuis. Marx menyebutnya sebagai ‘protection of acquisition etc.’ (hlm. 21). Prinsip ini merupakan relasi hukum yang menunjukkan hak mereka yang lebih berkuasa tampak dalam bentuk pemerintahan seperti republik konstitusional dan bentuk lainnya.  

Artinya, bentuk sosial dan relasi produksi berubah dan berkembang dalam sejarah sosial perjalanan manusia. Konteks Crusoe tidak bisa dirujuk sebagai kemampuan individual untuk bertahan sendirian sebagaimana pada masyarakat jaman purbakala karena corak produksi dalam tahapan periodenya berbeda. Buktinya, Crusoe terdampar di pulau itu dengan membawa barang-barang yang selamat dari peradabannya (yaitu hasil dari relasi sosial).  Aspek inilah yang dianggap Marx luput dari para ekonom atas konsep ‘produksi secara umum’.

Kapital itu sendiri bukan sesuatu yang ‘umum, abadi, dan relasi alami’, melainkan kondisi ‘produksi borjuasi modern’ yang lahir dari berbagai proses perubahan sosial yang telah terjadi sejak abad ke-16 dan 17. Hal ini membawa kita pada kunci penting dalam analisis ekonomi politik: relasi sosial.

 

 2. Relasi umum dari produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi

Marx memulai subbab ini dengan definisi yang dipakai oleh para ekonom. Produksi adalah tahap dimana anggota masyarakat mengapropriasi (mengambil, mencipta, membentuk) produk alam sesuai kebutuhan manusia. Distribusi menentukan proporsi produksi yang dibagi oleh individu. Pertukaran (exchange) adalah pengiriman atau penyerahan produk tertentu yang diinginkan individu dengan mengkonversi bagian yang didistribusikan (lewat penentuan harga, misalnya). Terakhir, konsumsi, adalah ketika produk menjadi objek dari kepuasan atas apropriasi individu.

Marx mengritik asumsi para ekonom bahwa ranah distribusi dan produksi terpisah satu sama lain dan bersifat otonom. Jadi Marx menekankan relasi diantara keempat elemen tersebut tidak berarti terpisah maupun bersifat satu, melainkan tergabung dalam suatu relasi. Jika produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi tidak berada dalam dikotomi klasik (terpisah versus menyatu) maka bagaimana bentuk relasinya?

Bagi para ekonom, misalnya Mills, perbedaan mendasar pada produksi dan distribusi ada pada dua hal. Pertama, produksi dari kekayaan merupakan karakter dari kebenaran yang bersifat fisik, sedangkan distribusi dari kekayaan merupakan semata urusan institusi manusia. Menurut Marx, ini merupakan bentuk pemisahan yang semena-mena. Dalam Grundrisse, Marx membahas relasi ini dengan konsep alienasi yang dialami pekerja dalam perkembangan kapitalisme atau inversi. Disini, inversi diartikan sebagai suatu proses dalam menemukan jumlah atau fungsi sehingga dua elemen tertentu di bawah satu bentuk aktivitas dapat dicirikan. Di dalam proses ini, individu diposisikan sebagai properti. Kondisi dimana mereka dapat melanjutkan hidup (reproduksi sosial) yaitu dalam proses yang produktif, hanya diposisikan ke dalam proses sejarah ekonomi itu sendiri yang merupakan dua bentuk berbeda dalam kondisi yang sama.  

“The ‘laws and conditions’ of the production of wealth and the laws of the ‘distribution of wealth’ are the same laws under different forms, and both change, undergo the same historic process; are as such only moments of a historic process.” (hlm. 751)

“’Hukum dan syarat’ dari produksi atas kekayaan dan hukum dari ‘distribusi kekayaan’ adalah sama di bawah bentuk yang berbeda-beda, dan keduanya berubah, melalui proses sejarah yang sama; hanya momen dari suatu proses sejarah.”

Marx mencontohkan, di paragraf berikutnya, sebagai titik awal, adalah pekerja bebas (free labour) atau pekerja upahan (wage labour) yang muncul dari lenyapnya perbudakan. Disini, mesin hanya dapat muncul sebagai antithesis dari pekerja hidup (living labour), sebagai properti yang asing, bermusuhan, dan dianggap sebagai modal (capital). Namun, mesin tidak akan berhenti menjadi agensi dari produksi sosial ketika menjadi properti kaum pekerja. Dalam kasus pertama, distribusi mereka, adalah mesin tidak dimiliki oleh pekerja, karena kondisi dari corak produksinya berada pada pekerja upahan. Pada kasus kedua, perubahan pada distribusi dimulai dari perubahan dasar dari produksi, suatu dasar baru yang diciptakan oleh proses sejarah.

Misalnya, para buruh perempuan di Bangladesh (living labour) memproduksi renda dengan alat sederhana di rumah-rumah mereka untuk perusahaan X, dan perusahaan Y membelinya untuk dijahit sebagai pakaian, yang akan dijual lagi ke pasar. Jika kemudian perusahaan X mampu berinvestasi untuk menyediakan mesin (dan pabrik) yang akan meningkatkan produktivitas para buruh agar bisa memproduksi lebih banyak renda dengan waktu kerja yang sama, mesin itu sendiri menjadi properti kaum kapitalis yang membuat kaum buruh teralienasi karena toh meski mesin itu dianggap membantu kerja para buruh perempuan, tapi itu hanya alat tambahan agar mereka bekerja lebih disiplin dan giat. Tidak akan ada pengurangan jam kerja atau penambahan upah. Artinya, mesin itu didistribusikan untuk mempengaruhi proses produksi.

Dalam kasus kedua dimana para perempuan pekerja itu memiliki mesinnya, apakah ini sebatas pada persoalan distribusi? Menjawab ini membutuhkan perubahan pada corak produksi, karena berarti, jika para perempuan itu memiliki mesinnya, relasi produksi dengan perusahaan X akan berubah secara mendasar. Bisa jadi, yang terjadi adalah para perempuan itu bersatu untuk merebut kepemilikan mesin itu dengan melakukan aksi yang radikal, misalnya, dengan mengokupasi ruang dan sarana produksi perusahaan X. ini menjadi momen sejarah yang berbeda.      

 

Konsumsi dan produksi

Marx mengritik para ekonom yang menggunakan istilah ‘konsumsi produktif’. ‘Konsumsi produktif’ adalah anggapan bahwa produksi identik dengan konsumsi, dan konsumsi terkait langsung dengan produksi. Contohnya, mengkonsumsi bahan mentah berarti mengubah bentuk dan komposisi dari alam pada saat kita menggunakannya, jadi ini bisa dianggap memproduksi juga. Menurut Marx, menautkan produksi menjadi semacam kata sifat ‘produktif’ ke dalam term ‘konsumsi produktif’ berdampak pada hilangnya makna produksi itu sendiri. Para ekonom yang menganggap produksi identik dengan konsumsi membuat produksi menjadi aspek sekunder karena dianggap sebagai hasil dari konsumsi – yaitu pengolahan (atau penghancuran) produk sebelumnya.

Menurut Marx, relasi antara konsumsi dan produksi yang tampak saling menyatu atau identik ini mempunyai tiga lipatan penjelasan filosofis. Pertama, identitas melekat (immediate identity), produksi sebagai konsumsi dan sebaliknya sebagaimana ‘produksi konsumtif’ atau yang dianggap para ekonom dengan ‘konsumsi produktif’. Kedua, satu sama lain tampil sebagai alat atau mediasi bagi lainnya, artinya, ada saling ketergantungan dimana gerak satu sama lain terhubung dan saling mempengaruhi sehingga tidak bisa hadir tanpa satunya. Produksi mencipta material sebagai objek eksternal untuk dikonsumsi, lalu konsumsi mencipta kebutuhan sebagai objek internal sebagai tujuan untuk diproduksi. Ketiga, produksi dan konsumsi sama-sama saling menyediakan satu sama lain. Produksi menyediakan objek eksternal untuk konsumsi, dan konsumsi menggunakan objek produksi.

Sebagaimana bentuk relasional antara produksi dan distribusi (yang tidak otonom terhadap satu sama lain tapi juga tidak identik), bagi Marx, ketiga lipatan penjelasan filosofis diatas tidak mengartikan produksi dan konsumsi bersifat identik. Turunannya seperti logika permintaan dan penawaran (supply and demand). Misalnya pada para buruh penghasil renda di Bangladesh, dimana mereka diupah rendah oleh perusahaan X yang akan menjual rendanya ke perusahaan Y untuk diproduksi sebagai pakaian. Apa yang dilakukan oleh perusahaan Y adalah mengkonsumsi produk dari perusahaan X untuk diproduksi sebagai pakaian.

Ini kedengarannya seperti siklus yang berjalan harmonis, seolah ketika kita melihat keseluruhan masyarakat, maka produksi adalah juga konsumsi. Bagi Marx, memandang masyarakat sebagai satu subjek tunggal adalah kekeliruan. Produksi dan konsumsi tidaklah semata kumpulan atau agregrat dari satu atau banyak individual, namun juga momen dari satu proses dimana produksi justru menjadi titik awalnya. Menurut Carver, Marx menggunakan term ‘momen’ (moments) yang berarti “salah satu elemen dalam entitas konseptual yang kompleks; [ini adalah] standar term [yang lazim dipakai] dalam logika pertengahan abad ke-19” (catatan kaki no.16, hlm. 53).

Basis dari argumen yang menekankan produksi sebagai elemen dominan ketimbang distribusi atau pertukaran ada pada ikatannya dengan relasi sosial. Jika kita kembali pada contoh buruh perempuan penghasil renda di Bangladesh di atas, relasi para buruh dengan renda yang diproduksinya bisa menjelaskan bahwa relasi produsen terhadap produk yang ia buat, begitu barang itu jadi, menjadi eksternal, dan kembalinya barang itu kepada subjek (yaitu produsen) bergantung pada relasinya dengan individu lain (misalnya pemilik perusahaan renda, atau penjual). Sehingga, buruh perempuan itu tidak memiliki langsung renda yang ia buat, maupun tujuan para buruh itu bukan untuk ‘pengambilalihan kepemilikan’ secara langsung. Lalu, apa yang terjadi? Disinilah distribusi masuk, yang berarti renda yang diproduksi buruh perempuan di Bangladesh akan diserahkan ke pihak lain (pemilik modal) sebagai komoditas.

 

Distribusi dan produksi

Sejauh ini, penjelasan Marx yang beruntun menunjukkan bagaimana ia mencoba memperkenalkan konsep ‘alienasi’ dan ‘pasar’ melalui pembahasan soal produksi dan konsumsi. Buruh perempuan pembuat renda di pabrik itu mengalami alienasi (keterasingan) karena karya yang ia buat bukanlah untuknya, apalagi miliknya. Ia bekerja di dalam suatu corak produksi kapitalisme yang penuh disiplin (ditekan oleh target produksi dalam jangka waktu tertentu dan upah yang murah). Ia mencipta produk sebagai bagian yang eksternal, yang akan dipengaruhi oleh relasinya dengan pemilik modal, proses distribusi (pasar), dan konsumsi. Misalnya, renda yang dihasilkan akan dijual ke perusahaan pakaian oleh pemilik pabrik dengan harga yang jauh lebih mahal (yang tidak bisa dibeli oleh para buruh Bangladesh itu sendiri). Penjelasan tentang konsep alienasi bisa ditelisik lebih jauh pada karya Marx sebelumnya, Economic and Philosophical Manuscript.

Di dalam Bab Pengantar Grundrisse sendiri, Marx tidak membahas tentang logika pasar. Ia ingin membedah terlebih dahulu relasi-relasi produksi, distribusi dan konsumsi sebagai bagian dari metodenya. Produksi, distribusi, dan konsumsi bukan suatu aktivitas ekonomi yang mekanik, alami, dan harmonis. Disini, relasi sosial yang antagonistik mulai terlihat jelas.

Subbab mengenai distribusi dan produksi ini diawali (seperti subbab sebelumnya) dengan amunisi: kritik Marx terhadap konsep yang menganggap bahwa distribusi mendahului produksi. Menurutnya, para ekonom senang dengan mengajukan posisi ganda, yaitu gaya “(1) X serupa Y, tapi juga (2) Y serupa X” kemudian meletakkan aspek produksi sama dengan konsumsi dan distribusi, tapi tetap meletakkan produksi dalam posisi setelah distribusi dan konsumsi. Marx bersikukuh sebaliknya: meskipun ketiganya merupakan bagian dari suatu totalitas, produksi tetap muncul sebagai titik awal dan sentral. Konsep ‘totalitas’ ini penting dalam konsistensi analisis Marxisme hingga saat ini: totalitas dan siklus menunjukkan dinamika dan dialektika yang membuktikan bahwa Marxisme bukanlah suatu doktrin determinisme ekonomistik yang statis.

Kembali ke bantahan Marx soal distribusi sebagai awalan dari produksi. Untuk menghindari deskripsi yang njlimet tentang ini, berikut adalah tabel yang membedakan konsep keutamaan distribusi menurut para ekonom versus keutamaan produksi menurut Marx sebagaimana yang ia jabarkan sendiri di dalam contoh:

Satu bangsa menaklukkan tanah bangsa lain. Apa yang dilakukan oleh bangsa penakluk?

Ekonom: distribusi adalah titik awal Marx: produksi adalah titik awal
  • memaksakan bentuk distribusi tertentu dan menciptakan kepemilikan tanah, atau
  • menundukkan pihak yang ditaklukkan di bawah corak produksinya sendiri

Contoh: penjajahan Inggris di Irlandia abad ke-19 atau sebagian di India, atau

  • membagikan tanah dan menentukan produksi, atau
  • memperbudak bangsa yang ditaklukkan sehingga membuat kerja perbudakan sebagai dasar produksi, atau
  • membiarkan corak produksi lama berjalan dan memasukkan sistem itu melalui upeti

Contoh: Turki dan Romawi, atau

  • sistem hukum yang mengatur kepemilikan tanah untuk beberapa keluarga diciptakan untuk melanggengkan penguasaan, atau
  • bangsa yang ditaklukkan melawan melalui revolusi, menghancurkan kompleks tanah yang dikuasai secara massif untuk kemudian dibagi-bagikan ke dalam petak-petak yang lebih kecil, sehingga melalui distribusi  baru macam ini menciptakan karakter produksi yang baru, atau
  • interaksi timbal-balik berlangsung dimana sesuatu yang baru, sintesa, muncul

Contoh: sebagian dalam penaklukkan oleh bangsa Jerman

  • mendistribusikan kerja sebagai privilise yang diwariskan sehingga menjadikannya permanen di dalam kasta tertentu.

 

Logika ekonom semacam ini menunjukkan bahwa distribusi tidak distrukturkan dan ditentukan oleh produksi, melainkan sebaliknya, produksi ditentukan distribusi. Meski argumen ini bisa diterima, Marx tetap bersikukuh bahwa distribusi pada dasarnya ditentukan oleh produksi. Namun ini mnunjukkan bahwa produksi dan distribusi memiliki hubungan erat satu sama lain. Distribusi tidak direduksi hanya pada tindakan membagikan agregat hasil produksi ke masyarakat. Dalam halaman lain di Grundrisse, ia kembali menyatakan,

“This specific form of distribution, however, is not an arbitrary arrangement which could be different; it is, rather, posited by the form of production itself, is only one of its own moments considered from another angle. The value of the machine certainly forms a part of the capital laid out in it; but the machine does not produce, as value, although it brings the manufacturer income. The wage does not represent labour as an instrument of production, any more than value represents the machine as instrument of production.” (hlm. 516-517)

“Bentuk khusus dari distribusi, bagaimanapun, bukanlah suatu pengaturan sewenang-wenang yang bisa berbeda; melainkan, diposisikan oleh bentuk produksi itu sendiri, hanya satu dari momen yang dilihat dari sudut berbeda. Nilai dari mesin tentunya menjadi bagian dari kapital; namun mesin tidak memproduksi nilai meski memberi keuntungan bagi produsen [pabrik]. Upah tidak merepresentasikan pekerja sebagai instrumen produksi, lebih dari nilai yang direpresentasikan oleh mesin sebagai instrumen produksi.”  

Ada basis sosial dan ideologis bagi pemisahan atas konsep produksi, konsumsi, distribusi dan pertukaran. Ricardo misalnya, menyatakan bahwa fokus studi ekonomi modern adalah distribusi, bukan produksi, yang menurut Marx merupakan suatu ‘tindakan bodoh’ karena mengabaikan aspek produksi berarti mengandaikan bahwa produksi adalah “…suatu kebenaran abadi sembari melenyapkan sejarah ke ranah distribusi” (hlm. 30).  

Kita bisa memahami dari contoh penguasaan tanah di atas bahwa ini bisa dipakai sebagai bentuk analisis terhadap kolonialisme. Menurut Marx, produksi memang memiliki faktor-faktor determinan dan prakondisi yang membentuk momennya, namun di dalam prosesnya ini merupakan bentuk transformasi dari alam ke determinasi sejarah. Artinya, semua adalah refleksi dari produk sejarah yang berubah seiring masa. Penggunaan mesin dalam pemanfaatan lahan skala besar, perdagangan, industri dan pertanian modern misalnya, mengubah distribusi instrumen produksi sebagaimana produk itu sendiri. Jadi, distribusi dipengaruhi oleh apa yang diproduksi. Menurut Musto (ibid.) penekanan pada aspek produksi ini memiliki implikasi penting secara teoretis dan politis yang membedakan Marx dari para sosialis lainnya, yaitu penekanannya pada kekuatan kaum pekerja yang titik sentralnya berada di aspek produksi dimana relasi eksploitasi berada, dan tidak bisa dilakukan hanya dengan melakukan transformasi dalam ranah sirkulasi (misalnya melakukan perubahan pada sistem perbankan saja).

Marx berargumen bahwa penaklukkan atas tanah tergantung pada konteks sosial-ekonomi masyarakat yang ditaklukkan. Dalam beberapa kasus, hal ini dilakukan dengan menghancurkan terlebih dahulu relasi agraria yang dianut oleh bangsa tertakluk untuk kemudian memperkenalkan sistem yang baru. Di Amerika misalnya, orang-orang yang diciduk paksa diubah menjadi budak sebagai instrumen langsung untuk produksi (kita bisa membayangkan ratapan ini dalam lagu Redemption Song-nya Bob Marley yang legendaris). Namun, agar produksi bisa berjalan, sistem produksi di wilayah tempat budak itu berasal harus dibuat sedemikian rupa agar bisa ‘memuluskan jalan menuju perbudakan’, yaitu mencipta corak produksi yang sesuai. Kolonialisme Amerika Serikat dan Eropa di benua Afrika misalnya, dengan pembantaian massal, penaklukkan dan perampasan sumber daya alam yang brutal, merupakan salah satu cara ekspansi kapitalisme dengan membuat sistem eksploitasi.

Cara berikutnya yang krusial dalam membangun sistem eksploitasi untuk produksi ini adalah dengan merancang hukum beserta seperangkat aparatusnya. Jadi, Marx disini juga terasa sedang melempar granat ke arah JJ Rosseau yang terkenal dengan teori kontrak sosial-nya itu (Marx sudah melakukannya di paragraf awal Bab Pengantar Grundrisse) setelah mengritik rombongan Robinsonades. Teori kontrak sosial mengandaikan bahwa masyarakat berkumpul dan bersepakat untuk menyerahkan hak-haknya ke negara (pemerintah) dengan imbalan negara akan ‘mengatur dan mengurus’ kepentingan masyarakat sebagai warga negara. Ini dianggap sebagai bentuk kontrak sosial antara rakyat dan negara.

Marx membantah logika semacam ini, yang menurutnya superfisial. Rakyat yang berkumpul sebagai ‘masyarakat’ atau ‘warga negara’ dan ‘negara’ atau ‘pemerintah’ itu sendiri bukanlah entitas netral yang ada dengan sendirinya. Contoh soal kolonialisme di atas, serta relasi produksi, konsumsi dan distribusi yang dipreteli Marx menunjukkan bahwa aturan dan sistem yang mapan adalah bagian dari sejarah pertarungan dimana relasi sosial ditentukan oleh ketegangan antara ketiga ranah ini, terutama dalam ranah produksi. Indonesia, misalnya, menerapkan hukum yang dibentuk oleh warisan Belanda. Bagi Marx, sistem hukum dalam kolonialisme (atau imperialisme modern masa kini) mampu mengawetkan instrumen produksi, misalnya tanah, kepada kelompok tertentu. Hal yang paling nyata adalah hukum kepemilikan pribadi (atau bahkan, perusahaan). Tujuannya adalah untuk menstabilkan relasi distribusi dan dampaknya pada produksi pada konteks yang spesifik.          

Kesimpulan yang bisa didapat dari menganggap distribusi dan produksi terpisah satu sama lain adalah, diantara semua, produksi itu sendiri adalah yang dominan.

“…not that production, distribution, exchange, and consumption are identical, but that they all form the members of a totality, distinctions within a unity.” (hlm. 32)

“…bukanlah produksi, distribusi, pertukaran, dan konsumsi yang identik, tapi kesemua itu membentuk bagian dari suatu totalitas, perbedaan di dalam kesatuan.”

Proses ini selalu kembali pada produksi sebagai suatu siklus yang utuh. Ini menunjukkan bagaimana Marx juga melihat manusia sebagai agensi yang aktif dalam kehidupan karena didasari pada insting dan hakekatnya untuk memproduksi atau mencipta, dan bukan menitikberatkan pada konsumsi, distribusi, dan pertukaran. Jadi dua faktor penting, struktur dan agensi dibangun dalam relasi yang saling terhubung, berdialektika dalam masyarakat kapitalis melalui ketegangan-ketegangan yang dibangun secara eksploitatif dan relasional. Proses ini kemudian melahirkan adanya kelas kapitalis dan kelas pekerja yang berinteraksi dalam suatu sistem ekonomi dan politik.   

 

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan