Browse By

Metode Ekonomi Politik: Catatan atas Pengantar Grundrisse (Bagian III-Habis)

Sampul Grundrisse. Kredit gambar: amazon.com

Catatan editor:

Rizki Amalia Affiat, salah seorang redaktur Islam Bergerak yang sedang menempuh jenjang magister di Departemen Development Studies, SOAS, University of London, mengulas catatannya atas Pengantar Grundrisse, satu teks metodologi ekonomi-politik yang sudah berusia satu setengah abad, namun dirasa masih relevan untuk membaca situasi kapitalisme mutakhir. Tulisannya sendiri cukup panjang, lebih dari sepuluh ribu kata. Artikel ini adalah bagian kedua dari ulasannya tersebut. Untuk mendapat pemahaman utuh, silakan rujuk bagian pertama di sini, dan bagian kedua di sini. Selamat membaca!

***

3. Metode ekonomi politik

Di bagian ini Marx memulai dengan objek analisis berikutnya: populasi. Biasanya, analisis semacam ini dimulai dari melihat populasi terlebih dahulu, lalu distribusi diantara kelas, kota, wilayah pinggiran, kemudian dari sini dilihat perbedaan cabang-cabang produksi, ekspor-impor, produksi tahunan, konsumsi, harga komoditas dan sebagainya. Ia menunjukkan kontradiksi dengan mengatakan bahwa populasi adalah abstrak tapi juga konkret. Abstrak dalam artian ia mengritik analisis yang memandang populasi sebagai satu entitas dan titik berangkat. Apa yang terjadi jika kita mengeluarkan elemen kelas dari populasi? Maka ‘populasi’ hanya akan menjadi abstraksi. ‘Kelas’ itu sendiri hanya akan menjadi frasa kosong jika kita tidak melihat elemen-elemen di dalamnya seperti kerja upahan, harga, dll., sebagaimana kapital tidak akan ada tanpa kerja upahan, nilai, harga, uang, dll.

Pendekatan melihat populasi semacam ini adalah seperti hendak meneliti tentang satu bangunan rumah dengan cara mencopot jendela, pintu, membongkar batu bata satu per satu, lalu menelitinya secara terpisah. Untuk ini, Marx menulis,

“Thus, if I were to begin with the population, this would be a chaotic conception of the whole, and I would then, by means of further determination, move analytically towards ever more simple concepts, from the imagined concrete towards ever thinner abstraction until I had arrived at the simplest determinations. From there the journey would have to be retraced until I had finally arrived at the population again, but this time not as the chaotic conception of a whole, but as a rich totality of many determinations and relations.” (hlm. 33)

“Maka, jika saya memulai dengan populasi, ini akan menjadi konsepsi yang kacau secara keseluruhan, dan saya akan, untuk kepastian yang lebih jauh, mengarahkan analisis [saya] ke konsep-konsep yang lebih sederhana, dari hal konkret yang diimajinasikan ke arah abstraksi yang lebih ringan sampai saya tiba pada kepastian yang paling sederhana. Dari situ tahapannya dilacak kembali sampai saya akhirnya tiba kembali di populasi, tapi kali ini tidak sebagai konsepsi kacau secara keseluruhan, melainkan sebagai suatu totalitas yang kaya akan banyak [faktor-faktor] penentu dan relasi.”

Kembali ke kata kunci: totalitas dan relasi, yang digambarkan sebagai suatu siklus. Dimulai dari entitas besar misalnya, populasi, bangsa, atau negara, Marx mengritik kekurangan para ekonom dan menambahkan metodenya sendiri,

“…but they always conclude by discovering through analysis a small number of determinant, abstract, general relations such as division of labour, money, value, etc. As soon as these individual moments had been more or less firmly established and abstracted, there began the economic systems, which ascended from the simple relations, such as labour, division of labour, need, exchange value, to the level of the state, exchange between nations and the world market. The latter is obviously the scientifically correct method. The concrete is concrete because it is the concentration of many determinations, hence unity of the diverse.” (hlm. 34)

“…tapi mereka selalu menyimpulkan dengan temuan melalui analisis sejumlah kecil faktor determinan, abstrak, relasi umum seperti pembagian kerja, uang, nilai, dll. Segera setelah momen-momen individual ini kurang lebih terbentuk dan terabstraksikan, maka sistem ekonomi dimulai, yang naik dari relasi-relasi sederhana, seperti kerja, pembagian kerja, kebutuhan, nilai tukar, hingga ke tingkat negara, pertukaran antarbangsa dan pasar dunia. [Yang] terakhir ini jelas adalah metode ilmiah yang benar. Hal konkret adalah konkret karena ia adalah kumpulan dari banyak determinasi, [yaitu] kesatuan dalam keberagaman.”

Dalam contoh menganalisa satu bangunan rumah misalnya. Tak cukup hanya dengan membongkar satu per satu jendela, pintu, batu bata dan menganalisisnya secara terpisah: harga batu bata, jendela, pintu, nilai pakainya, fungsi kamar, dapur, dsb. Melainkan, jendela, pintu, dan batu bata dilihat dalam relasinya terhadap satu sama lain. Tanpa batu bata dan semen, jendela dan pintu tidak akan bisa tertempel. Jika semua dinding terdiri dari jendela, maka fungsi batu bata menjadi tidak ada. Begitupun sebaliknya. Masing-masing memiliki nilai pakai. Tak kalah pentingnya juga, dalam konteks komoditas dan harga, para pekerja yang menghabiskan waktu tertentu untuk membuat batu bata dan menyusunnya menjadi satu bangunan rumah juga harus diperhitungkan dalam relasinya dengan sistem ekonomi (bagaimana mereka dibayar oleh pemilik modal, harga rumah itu dijual di pasar properti, dll) dan sistem politik (pengembang perumahan, agen properti, pemborong yang mengontrol proses produksi). Untuk konteks populasi dan negara, relasi ini tentu lebih kompleks, tapi Marx selalu menyarankan agar kembali pada titik berangkat yang krusial.

Dalam teori sistem ataupun ekonomi arus utama, logika yang sering diajarkan pada kita adalah alur berupa input → proses → output. Dalam teori komunikasi misalnya, penyampai pesan → medium → pesan. Dalam ekonomi bentuknya adalah kerja (produksi) → distribusi → konsumsi. Alur ini menggambarkan sistem yang seimbang (ekuilibrium), yaitu jumlah yang masuk (input) akan diproses dengan menghasilkan sesuatu yang seimbang atau setara dalam bentuk produk (output). Alur ini membuat kita berpikir bahwa tas Louis Vuitton-nya Syahrini berharga ratusan juta rupiah karena dibuat dengan menggunakan bahan berkualitas berupa sutera, dengan hiasan berlian, dan sapuhan emas asli pada logonya (input) dan diproses melalui tangan pengrajin terampil dengan desain rumit yang ‘elegan’ (proses produksi) sehingga menghasilkan suatu mahakarya (output). Kira-kira begitu yang diiklankan rumah mode Loius Vuitton. Apa yang membuat Syahrini dan begitu banyak sosialita ingin memilikinya? Bukankah tas buatan Cibaduyut juga memiliki nilai pakai (use value) yang sama?

Untuk menjawab ini, Marx dalam Capital menjabarkan lagi elemen lain dalam komoditas, yaitu ‘mistifikasi’ atau fetishism of commodities. Fetisisme dibentuk oleh kapitalis ketika uang sudah masuk dalam perhitungan, yaitu ketika segala sesuatu diukur dengan harga. Disinilah ‘mistifikasi’ diartikan sebagai relasi sosial dalam pengorganisasian produksi antara pekerja dan kaum kapitalis yang ditunjukkan (atau diselubungi) sebagai relasi antar barang. Alhasil, ‘input’ dalam logika ekonomi arus utama sama sekali tidak memperhitungkan faktor pekerja atau tenaga kerja (labour power) kecuali hanya sebagai bagian dari ‘komoditas’ yang memproduksi ‘komoditas baru’ untuk kaum kapitalis. Keringat para pekerja yang membuat bahan-bahan untuk tas Louis Vuitton dalam rantai produksi menjadi abstrak. Upah mereka tidak seberapa dibanding untung yang didapat oleh rumah mode Louis Vuitton dengan menjual tas tersebut seharga ratusan juta. Selisih untung ini menjadi nilai lebih atau surplus value bagi kaum kapitalis.  

Disini, kapitalisme “…menutupi relasi sesungguhnya berupa eksploitasi dan membenarkan ini dengan doktrin ‘kebebasan dalam pertukaran’” (Fine dan Saad-Filho, ibid.). Alhasil, dalam kapitalisme, individu dipaksa ‘dalam [ilusi] kebebasan yang dicipta pasar’ untuk menjual dirinya sendiri dengan harga murah pada kelas kapitalis sebagai pekerja. Bebas dalam artian, dia bisa memilih mau melamar kerja dimana saja, tapi dia dibatasi oleh mekanisme persaingan pasar yang tidak setara dan eksploitatif. Ini yang membedakan eksploitasi dalam kapitalisme dengan perbudakan di jaman feodal atau prakapitalisme. Jadi, ratapan soal krisis ekonomi yang mengatakan ‘semua harga naik kecuali harga diri: turun’ – menggambarkan relasi ini, meski dengan melodramatis.

Di Pengantar Grundrisse, merujuk pada uang, Marx menulis, “to that extent the path of abstract thought, rising from the simple to the combined, would correspond to the real historical process.” (hlm. 35). Maksudnya adalah, uang tak hanya dicipta manusia dari alam abstrak sebagai alat tukar sederhana atau simbol pertukaran, melainkan tumbuh dalam proses sejarah riil. Uang menyimbolkan harga sebagai sistem nilai yang ditentukan oleh relasi kelas atas produksi dan eksploitasi.   

Setelah membahas tentang nilai (value) dan uang (money), Marx mulai masuk ke dalam term ‘kerja’ atau labour. Agak rumit bahwa dalam Bahasa Inggris, labour memiliki dua makna (dalam Bahasa Indonesia), yaitu kerja dan buruh (pekerja). Mencakupnya dua makna dalam satu term ini dianggap Engels, dalam catatan kakinya di pengantar untuk Capital Volume I edisi Bahasa Inggris, sebagai suatu kelebihan yang unik. Ketika Marx menulis Capital, ia memulai tidak dengan kategori-kategori umum seperti produksi, konsumsi, distribusi, dsb., melainkan dengan relasi komoditas. Komoditas merupakan pembuka yang tepat sebagai konsep (dan konkret) yang menjahit elemen produksi, relasi sosial, dan uang ke dalam sistem kapitalisme.

Di bagian awal Capital Volume I, Marx mulai menguliti ‘komoditas’ dengan menunjukkan bahwa ‘komoditas’ bukanlah semata barang yang kita beli dengan harga yang ditentukan oleh kalkulasi rasional ekonomi saja. Disini Marx lantas berbicara soal nilai, kerja, dan kerja buruh. Misalnya, satu tas merk Louis Vuitton milik Syahrini bisa ditukar dengan satu rumah kecil di pinggiran Depok bagi pasutri Syahrul dan Siti dari kelas pekerja. Namun, tas Louis Vuitton dan rumah di Depok tak hanya memiliki nilai pakai (use-value), yaitu tas yang bisa diisi barang dan dijinjing untuk dipamerkan dan rumah untuk ditempati, tapi juga nilai tukar (exchange value), yaitu harga dalam jumlah uang menjadi nilai komoditas (value of commodity). Di Pengantar Grundrisse, Marx menyebut ‘abstraksi kerja’ yang kemudian terkait dengan nilai suatu komoditas:

“On the other side, this abstraction of labour as such is not merely the mental product of a concrete totality of labours. […] labour in reality has here become the means of creating wealth in general, and has ceased to be organically linked with particular individuals in any specific form.” (Grundrisse, hlm. 37, garis bawah oleh penulis)

“Di sisi lain, abstraksi dari kerja tak semata produk mental dari totalitas kerja konkret. […] kerja dalam realitasnya telah menjadi sarana untuk mencipta kekayaan secara umum, dan telah berhenti terhubung secara organik dengan individu tertentu dalam bentuk yang khusus.”

Dua term di atas, yaitu abstraksi kerja dan totalitas kerja konkret, terkait dengan cara kapitalisme bekerja di masyarakat. Dalam kapitalisme, produk dari kerja konkret adalah kerja sosial yang abstrak. Bagaimana bisa hal konkret berubah menjadi abstrak? Pertama-tama, kita harus ingat bahwa filsafat Marx adalah materialisme historis. Disini, Marx membalikkan logika Hegelian yang menyatakan segala sesuatu berasal dari Ide Absolut, alias alam pikir manusia, yang kemudian menentukan realitas. Bagi Marx, adalah materi, atau kondisi riil dalam dunia manusia, yang menentukan kesadaran. Jadi, kerja sebagai hal konkret menentukan proses produksi. Kuncinya ada pada penambahan kata ‘sosial’ dimana kerja konkret → kerja sosial yang abstrak.

Pada masyarakat kapitalisme, nilai dari tiap komoditas adalah jumlah (kuantitas) dari waktu kerja yang diperlukan secara sosial (socially necessary labour time) untuk berproduksi. Misalnya, buruh pembuat tas Louis Vuitton di Cina dan buruh bangunan yang membangun rumah di Depok sama-sama menghasilkan kerja konkret dengan waktu tertentu. Namun, Marx menggunakan kata sosial (socially) untuk menggarisbawahi hal yang amat penting: komoditas adalah hasil dari relasi sosial yang dimediasi dan diikat oleh pasar (market). Artinya, karena bergantung pada relasi sosial yang koersif dalam mekanisme pasar, kerja konkret dari para buruh menjadi ‘abstrak’, alias impersonal. Syahrini membeli tas Louis Vuitton tapi ia tidak tahu dari mana tas itu berasal dan siapa pembuatnya. Begitupun Syahrul dan Siti, yang membeli rumah dari agen properti tanpa mengenal siapa buruh bangunannya maupun bagaimana proses pembuatan benda yang mereka konsumsi itu dalam relasinya antara buruh dengan pemilik modal. Ini yang disebut oleh Fine dan Saad-Filho (ibid.) sebagai ‘hubungan sosial yang kualitatif dan impersonal’. Hubungan inilah yang membuat kerja para buruh berubah menjadi abstrak, sosial, dan diekspresikan melalui harga komoditas. Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana harga komoditas ditentukan? Mengapa tas Louis Vuitton yang dibuat oleh buruh di Cina bisa dijual seharga ratusan juta rupiah? Jawabannya ada pada nilai lebih, atau surplus value yang terkandung pada Teori Nilai Kerja.  

Teori Nilai Kerja (Labour Theory of Value/LTV) merupakan salah satu elemen sentral dalam Marxisme. Lenin (1913) menyatakan ada tiga komponen penting dalam Marxisme, yaitu filsafat materialisme historis, nilai lebih (surplus value) sebagai teori ekonomi [politik], dan perjuangan kelas sebagai basis kekuatan sosial. Teori Nilai Kerja adalah alat analisis yang mampu menangkap aspek inti dari kehidupan material di bawah kapitalisme, yaitu bagaimana produk dari kerja sosial dihasilkan (atau direnggut) dan didistribusikan di dalam masyarakat (Fine dan Saad-Filho, ibid., hlm. 17).

Substansi nilai adalah kerja, dan subbab metode ekonomi politik di Pengantar Grundrisse memperkenalkan substansi ini. Kerja adalah suatu produk dari relasi sejarah, dan Marx memberikan perhatian khusus pada masyarakat borjuasi karena ini merupakan periode yang berbeda dari sejarah masyarakat sebelumnya, yaitu masyarakat pra-kapitalis. Ini adalah kutipan panjang yang menjadi titik tekannya:

“Bourgeois society is the most developed and the most complex historic organization of production. The categories which express its relations, the comprehension of its structure, thereby also allows insights into the structure and the relations of production of all the vanished social formations out of whose ruins and elements it built itself up, whose partly still unconquered remnants are carried along within it, whose mere nuance have developed explicit significance within it, etc. Human anatomy contains a key to the anatomy of the ape. The intimations of higher development among the subordinate animal species, however, can be understood only after the higher development is already known. The bourgeois economy thus supplies the key to ancient, etc.” (hlm. 38, garis bawah oleh penulis)

“Masyarakat borjuasi adalah organisasi sejarah produksi yang paling maju dan kompleks. Kategori-kategori yang menunjukkan relasi-relasinya, strukturnya yang menyeluruh, memberikan wawasan terhadap struktur dan relasi produksi dari semua formasi sosial yang telah punah, yang membangun sendiri sisa reruntuhan dan elemen-elemennya, dengan membawa di dalamnya sisa-sisa yang sebagiannya masih tidak tertaklukkan, dengan perbedaan kecil yang berkembang secara signifikan di dalamnya, dll. Anatomi manusia menyimpan kunci untuk anatomi kera. Namun, kedekatan dari perkembangan tahap tinggi diantara spesies hewan tingkat rendah hanya bisa dipahami hanya jika perkembangan dalam tahap yang lebih tinggi sudah diketahui. Ekonomi borjuasi, oleh karenanya, menyediakan kunci untuk [peradaban] kuno, dll.”

 

Menurut Ellen Wood, kalimat ‘anatomi manusia menyimpan kunci untuk anatomi kera’ adalah permulaan analisis bagi formasi ekonomi pra-kapitalis yang (tampak sengaja) memperdaya. Ini merupakan cara Marx untuk menunjukkan antitetis dari semacam pepatah yang merujuk pada suatu bentuk teleologi, yaitu dengan tidak membuatnya menjadi klaim universal dengan menyatakan bahwa formasi aktivitas ekonomi masyarakat pra-kapitalis hanya sebagai bentuk kapitalisme yang belum sempurna. Sebaliknya, Marx ingin menyingkap perbedaannya. Kapitalisme bukanlah tahap matang dari bentuk sosial yang sudah ada sebelumnya dalam peradaban manusia, melainkan suatu transformasi (Wood, 1995, hlm. 150). Artinya, ini bukan suatu proses linear yang ‘alamiah’. Disinilah amunisi-amunisi yang dilempar Marx sejak awal pembuka Grundrisse mulai membentuk logika ilmiahnya.

Jika kapitalisme bukan transformasi, melainkan merupakan tahapan matang yang alamiah dari perkembangan manusia, maka kita akan mudah melakukan pembenaran atas sistem yang eksploitatif semacam ini atas dalil ‘evolusi peradaban’. Marx mencoba membatahnya dengan membalikkan logika itu, sehingga mesin kapitalisme bisa ia preteli dari relasi produksi sebagai bukti bahwa kapitalisme adalah produk sejarah dan relasi sosial.

Kutipan kalimat dalam Grundrisse di atas itu juga bentuk argumentasi logis atas evolusi dalam kapitalisme, dan bukan sebatas pada argumentasi sejarah (Harvey, 2010, hlm. 86). Marx menolak asumsi teleologis dalam sejarah (yaitu anggapan bahwa segala sesuatu berkembang dan bergerak secara linear menuju satu tujuan tertentu yang pasti secara teologis). Ia menegaskan bahwa revolusi borjuasi bukanlah suatu tahapan alami, melainkan tumbuh dari proses yang penuh kekerasan dan penindasan. Term akumulasi primitif masuk sebagai bentuk perampasan manusia atas kepemilikan alat-alat produksi, sehingga manusia hanya menyisakan dirinya sendiri sebagai tenaga kerja yang harus bertahan hidup dengan menjual diri kepada mekanisme pasar. Disini fase perkembangan manusia yang berbeda dari zaman feodal atau prakapitalisme.

Marx tidak menjelaskan ini dalam Bab Pengantar Grundrisse. Ia masih menyisakan ratusan halaman dalam bukunya dan ribuan lembar dalam Capital untuk mengembangkan pemikirannya. Seperti siklus, namun kini pusarannya semakin besar, Marx menutup Bab Pengantar dengan produksi.    

 

4. Produksi. Alat-alat produksi dan relasi produksi. Relasi produksi dan relasi sirkulasi. Bentuk-bentuk negara dan bentuk-bentuk kesadaran dalam relasi produksi dan sirkulasi. Relasi hukum. Relasi keluarga.

Meski memiliki judul subbab terpanjang, ini merupakan bagian tersingkat dan terakhir dalam Pengantar Grundrisse. Marx memberikan delapan poin singkat yang sepenuhnya tidak dijabarkan di pengantar kecuali beberapa paragraf berikutnya yang menjelaskan tentang pemaknaan atas seni dan sastra. Ini adalah ke delapan poinnya:

  1. Perang berkembang terlebih dahulu sebelum damai.
  2. Relasi dari historiografi ideal sebelumnya dengan [kondisi] riil, yaitu apa yang disebut dengan ‘sejarah budaya’, yang hanya berubah sejarah agama-agama dan negara.
  3. Urusan sekunder dan tertier, misalnya hubungan internasional.
  4. Tuduhan atas materialisme dari konsepsi ini, yaitu materialisme naturalistik.
  5. Dialektika dari konsep kekuatan produksi (alat-alat produksi) dan relasi produksi.
  6. Perkembangan yang tidak setara (uneven development) dari produksi material yang relatif tehadap, misalnya, perkembangan artistik. Seni modern. Termasuk juga bagaimana relasi produksi berkembang secara tidak setara sebagai hubungan hukum. Marx mencontohkannya dengan hubungan hukum perdata Roma dengan produksi modern.
  7. Konsepsi yang muncul sebagai perkembangan yang diperlukan (necessary development). Marx menyinggung soal alat-alat komunikasi dan sejarah dunia.
  8. Titik berangkat dari watak alamiah secara subjektif dan objektif. Suku, ras, dll.        

Pada poin pertama tentang perang, Marx menyatakan bahwa relasi ekonomi yang telah berkembang sebelumnya seperti kerja upahan dan mesin merupakan sebagian hasil dari perang dan kekuatan militer ketimbang sebagai produk yang lahir dari masyarakat borjuasi. Hal ini bisa dilihat dari relasi antara kekuatan produksi dan relasi pertukaran pada militer. Carver (ibid., hlm. 153) menjelaskan lebih jauh tentang poin ini dengan mengutip pada tulisan Marx lainnya, Wage-labour and Capital:

“With the invention of a new instrument of war, the fire-arm, the whole internal organization of the army was necessarily altered, the relations within which individuals form an army and can work as an army were transformed, and the relation of different armies to each other was also altered.”  

“Dengan penemuan instrumen perang baru, senjata api, seluruh organisasi internal militer berubah, relasi dimana individu-individu membentuk militer dan mampu bekerja sebagai kesatuan militer juga mengalami transformasi, dan relasi dari kekuatan militer yang berbeda-beda juga berubah terhadap satu sama lain.”

Perang merupakan bagian dari relasi material pada organisasi sosial. Pada tahun 1877, kurang lebih dua dekade sejak naskah Grundrisse ditulis, Engels menerbitkan Anti-Duhring yang diantaranya memberikan jabaran tentang relasi kekuatan produksi dan perang serupa dengan kalimat Marx di atas. Penekanannya ada pada gagasan bahwa perang tak hanya soal keinginan suatu negara atau bangsa menaklukkan dan menguasai jajahannya. Pernyataan Engels dikutip oleh Karel Kara (1968), perang,   

“…requires the existence of very real preliminary conditions before it can come into operation, namely instruments, […] these instruments have to be produced; […] in a word, the triumph of force is based on the production in general – therefore, on ‘economic power’, on the ‘economic situation’, on the material means which force has at its disposal.” (Engels (1962 [1877]) dalam Kara, 1968, hlm.7)

“…mensyaratkan adanya kondisi-kondisi awal yang riil sebelum diwujudkan dalam operasi, yaitu instrumen, […] instrumen-instrumen ini harus diproduksi; […] artinya, kemenangan dari kekuatan didasari pada produksi senjata, dan sebaliknya, pada produksi secara umum – yaitu pada ‘kekuasaan ekonomi’, ‘situasi ekonomi’ pada perangkat material yang dimiliki oleh kekuatan tersebut.”

Sederhananya, perang ‘berkontribusi’ pada inovasi dan kemajuan teknologi sehingga merupakan perwujudan dari kekuatan produksi. Hal ini menjelaskan kenapa kolonialisme dan imperialisme Eropa, termasuk imperialisme dalam wujud korporasi internasional dan dominasi Amerika Serikat dalam segi kekuatan militer dan finansial, terus berlangsung. Berbagai bentuk senjata canggih dan teknologi pengawasan diproduksi. Ini adalah bagian dari ekspansi kapitalisme yang dalam perjalanan sejarahnya muncul dengan membawa elemen-elemen penindasan lainnya seperti rasisme dan seksisme. Ibaratnya, seperti paket lengkap untuk penderitaan umat dunia. Namun, tentu dengan selubung manisnya yang kini direformulasi sebagai neoliberalisme yang kaya bumbu penyedap seperti kebebasan individu, tata kelola pemerintahan yang baik, stabilitas, dan dosis finansialisasi tingkat tinggi. Singkat kata, neoliberalisme adalah KGB – Kapitalisme Gaya Baru.  

Subbab terakhir ini juga menaruh perhatian pada relasi antara produksi material dan intelektual, terutama dengan karya seni. Disini Marx menekankan tidak ada relasi langsung antara perkembangan sosial-ekonomi dengan produksi artistik. Oleh karena itu produksi seni dan intelektual secara umum harus ditelisik dalam relasinya dengan kondisi material dalam masyarakat, tapi tanpa menarik persesuaian yang kuat antara kedua ranah tersebut. Dalam telaahnya tentang seni Yunani kuno misalnya,

“Is the view of nature and of social relations on which the Greek imagination and hence Greek [mythology] is based possible with self-acting mule spindles and railways and locomotives and electrical telegraphs? […] all mythology overcomes and dominates and shapes the forces of nature in the imagination and by the imagination; it therefore vanishes with the advent of real mastery over them. […] Greek art presupposes Greek mythology, i.e. nature and the social forms already reworked in an unconsciously artistic way by the popular imagination. This is its material.” (hlm. 43)

“Apakah pandangan tentang alam dan relasi sosial dimana imajinasi peradaban [dan mitologi] Yunani bertumpu dimungkinkan oleh adanya mesin tenun dan jalur kereta dan lokomotif dan telegraf elektrik? […] semua mitologi telah melalui dan mendominasi dan membentuk kekuatan alam di dalam imajinasi dan oleh imajinasi; karenanya ia akan menghilang dengan kebangkitan penguasaan sesungguhnya [terhadap alam]. Seni Yunani dianggap didahului oleh mitologi Yunani, misalnya alam dan bentuk-bentuk sosial telah diolah kembali dengan cara artistik secara tidak sadar melalui imajinasi populer. Ini adalah materialnya.”

 

Ini merupakan cara Marx dalam pendekatan yang anti-dogmatik terhadap bagaimana bentuk-bentuk produksi material terhubung dengan karya dan perilaku intelektual (Musto, ibid.). Marx berbicara soal hal-hal yang ‘immaterial’ dengan menyatakan bahwa seni dan sastra merupakan bentuk imajinasi dan terinspirasi oleh mitologi. Artinya, perkembangan seni tidak memiliki relasi linear dengan perkembangan sosial seperti kemajuan teknologi dan kapitalisme.

Sebagai seorang yang sangat menguasai karya sastra klasik dan menyukai seni, apakah ini berarti Marx tidak mengukur segala sesuatu – termasuk hal-hal yang estetik dan intelektual – dari kerangka ‘material’? Dalam kritiknya terhadap pembacaan ‘Marxist-Leninist’, Musto menyatakan bahkan kutipan Marx dalam A Contribution to the Critique of Political Economy, bahwa “corak produksi dari kehidupan material menentukan proses umum dari kehidupan sosial, politik, dan intelektual” sebaiknya tidak diinterpretasikan dalam arti yang deterministik, bahwa fenomena superstruktur dari masyarakat hanya suatu refleksi dari keberadaan material manusia.

Sebagai seorang ayah, Marx menularkan kecintaannya pada karya sastra ke anak-anaknya. Eleanor Marx, anak kesayangannya yang juga mewarisi intelektualitas dan aktivisme militan, hafal karya-karya Shakespeare di luar kepala sejak kecil dan bercita-cita menjadi aktris. Ia dikenal memiliki kepribadian yang melankolis dan bakat seni pertunjukkan yang tinggi. Namun, dedikasinya pada perjuangan kaum proletar dan kerja-kerja penerjemahan karya ayahnya yang menyita energi, serta komitmennya dengan sang kekasih yang ternyata abusif, berakhir tragis. Setelah seumur hidupnya menghadapi konteks masyarakat kapitalis di Inggris yang masih diskriminatif terhadap perempuan, terutama dengan norma borjuasi, menyaksikan mirisnya kehidupan kaum miskin dan perjuangan revolusioner, ditinggal wafat oleh sang ayah dan Engels, Eleanor akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri di usia pertengahan 40-an.

Dari telaah singkat Marx soal seni, imajinasi, dan relasi produksi, serta kisah Eleanor yang partikular sebagai perempuan aktivis pada masanya, bagaimanakah kita merefleksikannya dengan isu seperti diskriminasi gender, dan hal-hal lain yang dianggap tidak langsung terkait pada kelas yang memiliki basis material?

Di masa kini, persoalan penindasan berdasarkan ras, gender, agama dan berbagai modalitas lain selain aspek kelas tampak menjadi bagian perlawanan penting terhadap neoliberalisme. Ini dianggap sebagai tanda bahwa pendekatan Marxis tidak lagi relevan. Fenomena ini kerap muncul sebagai ‘politik identitas’ dan belakangan sebagai ‘interseksionalitas’. Politik pengakuan (politics of recognition) yang berbasis identitas seperti suku, agama, ras, etnis, gender, orientasi seksual dan kasta misalnya, oleh kajian interseksionalitas, termasuk kaum feminis dan sebagian kaum poskolonialis, dianggap memiliki ruang pertarungan dan penekanan yang sama atau bahkan lebih penting ketimbang aspek kelas dan harus dianalisis serta diperjuangkan beriringan. Artinya, ini merupakan bentuk kritik atas pendekatan Marxist karena menekankan semata pada ‘kelas’ dianggap akan mereduksi dan melemahkan perjuangan melawanan praktik penindasan yang amat luas dan beragam. Artikel sederhana ini tidak bermaksud untuk menjabarkan perdebatan tersebut, melainkan mengambil inti gagasan dari Marx yang bisa merespon perdebatan tersebut.

Pengantar Grundrisse, sebagaimana Capital, ditulis untuk membongkar mesin kapitalisme. Marx tidak berbicara soal aspek identitas yang dikonstruksikan melekat pada manusia. Ibarat seorang mekanik (dengan latar belakang filsafat, sejarah, dan ekonomi) yang membongkar mobil untuk melihat caranya bekerja, Marx fokus pada apa yang membuat mobil itu bekerja. Caranya adalah dengan membuka kap mobil dan mempreteli mesinnya – yaitu bagaimana mobil bisa hidup, bergerak, dan menjalankan fungsinya. Marx tidak menaruh perhatian pada warna dan merk mobil, jenis jok dan ban – intinya, urusan eksterior dan interior selain mesin. Tentu saja pada perjalanannya, ketika mesin mobil sudah dipasang, faktor-faktor lain akan berpengaruh: kualitas dan jenis ban mobil, ketersediaan dan jenis bahan bakar, aki, pelumas, dsb. Dalam kapitalisme, mesin ini adalah relasi produksi yang tak terpisahkan dari Teori Nilai Kerja yang berbasis pada buruh dan kerja.

Tentu, kaum Marxist memiliki perbedaan pendapat dalam menafsirkan karya-karya Marx. Sebagian menegaskan bahwa karena kapitalisme bukan mesin yang independen dari aspek-aspek historis, maka inheren di dalamnya aspek rasisme dan seksisme. Bisa kita pertanyakan, apakah relasi produksi eksploitatif dalam buruh dan kerja melekat bersamanya elemen ras dan gender? Roediger dalam Class, Race and Marxism (2017) percaya bahwa kapitalisme dan rasisme saling menguatkan satu sama lain, bahkan dalam konteks diskriminasi kulit hitam di AS, elemen supremasi kulit putih lebih menonjol ketimbang faktor kelas. Lainnya seperti Battacharya (2017), Vogel (2013) dan Hartsock (2006) menyatakan persoalan opresi terhadap perempuan inheren di dalam kapitalisme – meski dalam spektrum yang berbeda. Sebaliknya, Ellen Wood (1995) justru menganggap bahwa kapitalisme bisa tetap hidup tanpa opresi terhadap ras dan perempuan, menegaskan independensi kapitalisme sebagai mesin yang bergerak lebih mendasar ketimbang elemen-elemen identitas.         

Dinamika ini bisa kita simpan untuk kesempatan lain. Tentunya, yang perlu kita tandai adalah saat ini ada problem dimana politik identitas lebih dipahami oleh sebagian kaum feminis, interseksionalis dan posmodernis sebagai problem ideal yang berada dalam aspek-aspek imaterial (penindasan berbasis warna kulit, aliran kepercayaan, agama, orientasi seksual, gender) dan dikontestasikan dalam diskursus. Adapun sebaliknya, politik identitas dianggap sebagian kaum Marxist sebatas konflik yang semata menyelubungi problem ekonomi sehingga segalanya direduksi menjadi aspek ekonomistik.  

Dalam bab Pengantar Grundrisse ini, Marx mencoba menunjukkan metodenya sebagai suatu totalitas, relasi, dan kesatuan dinamis antara abstraksi dan material. Marx menerima penggunaan kategori abstrak hanya jika aspek-aspek umum tidak menghilangkan aspek partikular atau meleburkan aspek partikular ke dalam hal umum (Musto, ibid.). Di Grundrisse, Marx memanfaatkan abstraksi tidak dalam artian meninggalkan aspek realitas sosial dan semata urusan filsafat idealis, melainkan abstraksi memiliki peran penting dalam proses kognitif, dimana analisis teoretis dimungkinkan untuk membedakan definisi dan pemaknaan yang absah bagi seluruh tahapan sejarah dengan yang absah bagi periode atau epos tertentu dalam sejarah, namun tetap menekankan pada aspek terakhir (periode tertentu dalam sejarah).

Politik identitas misalnya, tidak semata soal dikotomi diskursus-ideal atau ekonomi-material. Ekonomi politik bukanlah alat analisis yang reduksionis dan matematis-ekonomistik. Melihat basis material dalam keutuhan aspek ekonomi dan politik juga mengakui kemampuan abstraksi dalam tingkatan yang berbeda dari filsafat idealisme Hegel. Disinilah yang membedakan Marx dari para ekonom klasik: penekanannya pada sejarah sebagai suatu momen, epos yang partikular, tanpa mencerabutnya dari trajektori relasi sosial dalam suatu totalitas.   

 

Penutup

Hal terpenting dari membaca Marx menurut Carver adalah, karya sejarah dan filsafatnya bukanlah sesuatu yang ajeg dan mengklaim sebagai kebenaran tunggal atau universal. Marx justru menekankan pada perubahan dan perkembangan. Ia mencoba membangun generalisasi dan abstraksi dari hal-hal konkret untuk menemukan hukum umum dalam kapitalisme tanpa mencoba menawarkan suatu ‘arahan’ praktis atau reduksi atas realitas dunia.

Perjuangan kelas dan kehancuran kapitalisme, misalnya, bukanlah suatu ramalan dari renungan filosofis, melainkan upayanya dalam menjelaskan kontradiksi internal dalam mesin kapitalisme, membangun ruang emansipasi dan mendorong perubahan revolusioner. Sebaliknya, Marx menyerang kaum sosialisme utopis yang dianggapnya gagal menunjukkan alur dan penjelasan ilmiah yang menjembatani kritik atas kapitalisme dengan impian sosialisme. Dialektika, siklus, dan relasi sosial yang bertebaran dalam kerangka berpikir dan metodenya menunjukkan bahwa analisisnya adalah sesuatu yang organik dan esensial dalam menyingkap praktek eksploitasi dalam masyarakat kapitalisme.

Tentu sudah banyak kritik dan perdebatan yang muncul dari kalangan Marxis sendiri atau para intelektual kiri, termasuk kaum religius, feminis, revolusioner, posstrukturalis, posmodernis, poskolonialis – apapun. Kadang ini berujung pada perpecahan afiliasi dan pemisahan ‘pendekatan ilmiah’ atau ‘faksi intelektual’. Rekonsiliasi ataupun konfrontasi diajukan tentang kaitan gagasan-gagasan Marx untuk menganalisis kolonialisme, patriarki, rasisme, seksisme, kesehatan mental, psikoanalisis, teologi dan sebagainya. Ini menandai suatu warisan dari kekuatan teori dan praktik yang dilahirkan oleh Marx dan bagaimana perspektif dan alat analisis yang ia tawarkan mampu bertahan hingga kini dan dalam banyak hal terbukti benar dalam memprediksi krisis dan logika penindasan masyarakat modern. Segala perdebatan yang muncul adalah undangan terbuka bagi siapapun untuk bergerumul dengan Marxisme namun tetap dengan semangat intelektual dan pergerakan yang tidak jumud. Gigih, silakan, tapi tidak dengan ‘kesombongan ala kaum Robinsonades’!     

 

Catatan: penulis berterima kasih pada Khalid Syaifullah atas masukan pentingnya untuk artikel ini.

Referensi

Carver, Terrell. 1975. Karl Marx: Texts on Method . Oxford: Basil Blackwell.

Choonara, Joseph. 2017. A Reader’s Guide to Marx’s Capital. London: Bookmarks.

Fine, Ben, and Alfredo Saad-Filho. 2010. Marx’s ‘Capital’, Fifth Edition. Pluto Press.

Harvey, David. 2010. A Companion to Marx’s Capital. Verso.

Kara, Karel. 1968. “On the Marxist Theory of War and Peace.” Journal of Peace Research, Vol.5, No.1.

Lenin, V.I. 1947 [1913]. “The Three Sources and The Component Parts of Marxism.” In Lenin, Selected Works Two-Volume Edition I. London: Lawrence & Wishart.

Marx, Karl. 1976. Capital Volume I. Penguin Books in association with New Left Review.

—. 1973 [1857]. Grundrisse: Foundations of the Critique of Political Economy. Penguin Books in association with New Left Review.

Milonakis, Dimitris, and Ben Fine. 2009. From Political Economy to Economics: Method, the social and the historical in the evolution of economic theory. Routledge.

Musto, Marcello. 2008. “History, production and method in the 1857 ‘Introduction’.” In Karl Marx’s Grundrisse: Foundations of the critique of political economy 150 years later, by Marcello Musto (ed.). Routledge.

Tolo, Emilianus Yakob Sese. 2016. “Akumulasi Melalu Perampasan dan Kemiskinan di Flores.” MASYARAKAT: Jurnal Sosiologi 21(2) 173-204.

Vogel, Lise. 2013. Marxism and the Oppression of Women: Toward a Unitary Theory. Chicago: Haymarket.

Wood, Ellen Meiksins. 1995. Democracy against Capitalism: Renewing historical materialism. Cambridge University Press.

—. 1986. The Retreat from Class: A New ‘True’ Socialism. Verso.

Yudhiyansyah, Angga. 2016. “Militer dan Konflik Agraria di Kebumen.” In Indonesia Bergerak 2: Mozaik Kebijakan di Indonesia. MAP Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan