Agama adalah Perlawanan, dan Dunia Itu Penipu Ulung!

2.6k
VIEWS

“Dunia itu penipu paling ulung!” ucap Picek kawan saya. Ia sedang “kecanduan” tasawuf sejak ikut pengajian tarekat di kampung. Bagi Picek, dunia adalah cerminan “dajal” yang akan terus menjebak manusia ke dalam kubangan dosa. “Dajal bukan turun waktu kiamat! Dajal itu hidup bareng kita, dunia kita ini! Sekarang ini!” katanya sambil mengepulkan asap rokok ke atas langit. Agar terhindar dari jebakan ini, umat manusia harus pasrah kepada “Sang Pencipta.” Pasrah, baginya, sepenuhnya berserah diri. Tidak menuntut apa-apa, tidak mengeluh apa-apa, tidak berharap apa-apa. “Mengalir saja,” katanya. Kalau sudah begitu, “kalamullah” (perkataan Tuhan), lanjutnya, akan menghampiri kita, memberikan ketenangan hidup, membuka kebijaksanaan, menjadikan kita sebagai hamba pilihan, dan menjauhkan kita dari tipuan dajal atau tipuan dunia.

Dunia adalah dajal, sumber dosa, dan akan terus menipu kita sampai kita terjebak dalam kubangan dosa. Sikap pasrah kepada Tuhan, oleh karenanya, adalah penyelamat kita dalam kehidupan ini. Dunia adalah sumber penyakit dan pasrah kepada Tuhan adalah obat mujarabnya. Silogisme seperti ini, sebetulnya, sudah sering saya dengar. Bukan hanya dari Picek, tapi juga dari kawan-kawan saya yang lain. Saat wabah Covid-19 merebak luas dan meluluhlantakkan kehidupan mereka, silogisme ini berbunyi semakin nyaring. Sebagian besar mereka kehilangan pekerjaan, bangkrut, kelilit utang, dan yang pasti kehilangan kepastian hidup dan masa depan yang sudah terlanjur diimpikan.

Sebetulnya saya jengkel dan sudah bosan mendengar silogisme semacam itu. Bukan saja karena sikap pasrahnya, tapi cara bertuturnya yang mirip pidato pejabat bikin perut mual dan sakit kepala. Tapi pada akhirnya tetap saya dengarkan juga. Karena silogisme itu keluar dari mulut kawan saya yang sedang ketiban nasib buruk. Amat buruk. Kedua orang tua Picek meninggal tiga tahun yang lalu dalam tahun yang sama. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia harus menghidupi dua adik. Usia adik-adiknya yang masih remaja membuat Picek harus siap menjadi tulang punggung keluarga. Sepeninggal kedua orang tuanya, adik pertama mengidap sakit parah. Biaya dengan jumlah teramat banyak digelontorkan untuk keperluan berobat. Saking banyaknya, ia sampai harus menjual rumah petak warisan orang tua satu-satunya. Duit penjualan rumah sudah habis, tapi sakit adiknya ternyata belum juga habis. Cari uang pun sulit.

Pandemi melempar tubuhnya dari pabrik ke jalanan tanpa pesangon sepeser pun. Pernah suatu ketika, ia tak punya duit barang seperak dan adiknya harus dirawat di rumah sakit. Pengajuan BPJS-nya tak kunjung diterima, “Alasannya belum inilah, harus itulah. Pokoknya ditolak” katanya. Picek hilang akal. “Kalau ada orang mau kasih gue duit tapi syaratnya harus murtad, murtad dah!” ucap Picek emosi sambil membanting rokok ke tanah dan meludah kencang. Namun pikiran murtad itu tak terlaksana. Ia hanya pasrah. Sebenar-benarnya pasrah. Tiba-tiba ada orang tak dikenal memberikannya uang bantuan sukarela. “Kenalan bukan, saudara bukan, dia (bapak-bapak) kasih gue duit. Kasihan katanya lihat muka gue yang linglung.” Dari momen itu, nasib mengantarkannya pada kelompok tarekat. Sikap pasrah yang “menyelamatkan” hidupnya dari kemurtadan membawanya semakin terlibat dalam pergumulan sufistik di kelompok pengajian itu.

Kisah Picek adalah kisah pilu, sebagaimana pula kisah pilu kawan-kawan saya yang lain. Badannya yang kurus, serta rambut, kumis dan, janggutnya yang melebar kemana-mana adalah tanda kepiluan itu. Sudah sering ia dan adik keduanya menahan lapar seharian penuh. Jatah makan sehari-hari yang cuma secuil (entah dari pemberian teman, entah dari upah serabutan) harus diberikan ke adik pertama. “Sudah kenyang nahan lapar, kenyang betul malah!” katanya. Rokok yang ia banting pun adalah pemberian saya.

Kisah pilu inilah yang membuat saya rela mendengarkan “pidato” Picek. Meskipun bikin jengkel, tapi kejengkelan yang dirasakan Picek barangkali lebih autentik dari kejengkelan saya—yang nasibnya lebih beruntung—terhadap dia. Kepada siapa lagi dia mencurahkan kekecewaan, kesedihan, dan amarahnya? Barangkali hampir tidak ada. Sudah tersingkir dari akses ekonomi, apa orang seperti Picek juga harus tersingkir dari kanal untuk mengekspresikan ketersingkirannya itu?

Berapa banyak orang seperti Picek yang pernah jadi perhatian orang-orang di sekelilingnya? Seberapa besar aspirasinya diserap ke dalam gerakan politik yang tepat? Mungkin tidak ada. Maka dari itu, sikap jengkel pada mereka, yang dalam keadaan sulit menjadikan agama sebagai pegangan, tidak autentik. Orang-orang yang terjun dalam Aksi Bela Islam, misalnya, biar lagaknya bikin jengkel, tapi sebagian besar mereka adalah kelas pekerja yang, dalam berbagai variannya, kecewa dengan janji-janji modernitas. Melempari mobil pejabat dengan batu dan menjarah minimarket mungkin adalah cara satu-satunya meluapkan kekecewaan itu.

Agama dan sekulerisme

Orang boleh sinis pada mereka yang ikut Aksi Bela Islam. Orang juga boleh sinis pada Picek dan kawan-kawan saya yang lain. Terserah saja. Tapi, apakah ekspresi keagamaan mereka harus diisolasi dari pengalaman pahit yang mereka rasakan? Apakah ekspresi Picek harus ditaruh di tempat terpisah dari kondisi hidupnya? Apakah agama memang harus dipisahkan dari aspirasi politik? Bukankah pemisahan itu adalah salah satu bentuk ekspresi keagamaan atas kondisi sosial tertentu juga?

Pemisahan gereja dari kehidupan politik (negara) di Eropa, misalnya, tidak lain dan tidak bukan terjadi dalam konteks pelucutan hak gerejawan dari penguasaan lahan (Marx, 1992: 881-882). Di Indonesia, pemisahan agama dan politik semasa kolonialisme Belanda, berlangsung di atas proyek penjinakkan elemen-elemen anti-kolonialisme berbasis agama (Benda, 1958). Begitu pula pemisahan agama-politik di masa Orde Baru, yang ditujukan untuk menyempitkan ruang oposisi umat beragama (Hefner, 2000). Setelah gedung kembar WTC dibom (9/11), ekspresi “pluralisme” dan “toleransi” beragama, yang intinya memasukkan agama ke dalam kehidupan “privat” dan menjauhkannya dari ruang “publik”, naik ke permukaan. Kategorisasi privat dan publik ini, yang juga berarti pemisahan agama dari kehidupan politik, berlangsung di atas proyek neoliberalisme dan berfungsi sebagai justifikasinya (Esack, 2003). Mereka yang meneriakkan pemisahan agama dari ruang politik sembari menertawakan orang-orang yang menggunakan agama sebagai aspirasi politik, oleh karena itu, sebetulnya seperti sedang menepuk-nepuk air didulang: terpercik muka sendiri. Mereka sebetulnya sedang menertawakan diri mereka sendiri.

Namun, terlepas dari kejengkelan-kejengkelan itu, sebetulnya satu pertanyaan muncul di kepala saya: Jika kekacauan ekonomi yang menjadi sumber penderitaan hidup orang-orang seperti Picek, mengapa agama yang menjadi ekspresi kekecewaan? Mengapa bukan ekspresi kelas yang muncul? Bukankah agama itu justru menyamarkan penderitaan mereka? “Agama adalah candu,” begitu ungkap Marx. Yang namanya candu pasti memberikan efek halusinogen; mendistraksi rasa sakit dengan cara memberikan efek “tenang” kepada pemakainya. Rasa tenang yang dihasilkan hanyalah bersifat sementara. Begitu habis, rasa sakit kembali muncul, dan untuk meredakannya, maka dosis mesti ditambah. Itu artinya, penyakitnya tetap ada dan agama (sebagai candu) bukanlah obatnya. Hanya “operasi pengangkatan” (dalam artian paling radikalnya) barangkali yang dapat menyembuhkan penyakit itu.

Namun kalimat Marx barusan tidak boleh dikutip sepenggal saja. Pada kalimat sebelumnya, Marx berkata:

“[p]enderitaan agama, pada saat yang sama, adalah ekspresi dari penderitaan yang nyata sekaligus protes atasnya. Agama adalah rintihan dari makhluk yang tertindas, hati bagi dunia yang tak berperasaan, dan jiwa bagi dunia yang tak berjiwa.”

Itu artinya, candu agama bukanlah candu dalam pengertian negatif. Bukan candu sebagai sejenis “narkotika” yang sekarang ini dianggap “terlarang” dan “merusak manusia”. Sebaliknya, agama memberikan hati dan jiwa, memberikan harapan, dan memberikan pegangan di tengah dunia yang kacau, yang memupuskan harapan dan menghancurkan pegangan itu. Agama adalah:

“[t]eori umum tentang dunia. Agama merupakan intisari, bentuk populer, spiritual … dan penghiburan serta justifikasi umum atas dunia … [a]gama adalah kesadaran fantastis manusia yang mendasar karena manusia belum memperoleh kenyataan [duniawi] sesungguhnya.”

Memang benar agama sering dipakai oleh kelas-kelas yang berkuasa justru untuk menjustifikasi kekacauan hidup. Kita bisa lihat itu dalam “populisme Islam” ketika elit-elit mengeksploitasi massa demi meraih kepentingan ekonomi politik mereka (Hadiz, 2016). Tetapi, lanjut Marx,

“[m]anusia bukanlah makhluk abstrak yang berada di luar dunia. Manusia adalah makhluk dunia–bagian dari negara dan masyarakatnya. Negara dan masyarakat memproduksi agama, yang merupakan kesadaran dunia yang terbalik, karena agama adalah dunia terbalik.

Di satu sisi, agama memang bisa dipakai untuk membalikkan kesadaran tentang kacaunya dunia menjadi seolah dunia yang baik-baik saja. Tetapi di sisi lain, agama juga bisa berfungsi untuk membangkitkan rasa perlawanan terhadap dunia dengan cara mengembalikan ideal hidup manusia, secara sugestif, yang sudah dibuat kacau oleh dunia. Agama bersifat historis, yang oleh karenanya berkembang, berubah, dan menyesuaikan keadaan sepanjang sejarah itu, tergantung mana yang dipilih. Sebagaimana Ali Syariati pernah menawarkan pilihan kepada umat muslim: “[t]idak cukup hanya dengan mengatakan ‘kembali kepada Islam’. Kita harus spesifik, Islam yang mana? Islamnya Abu Dzar atau Islamnya Marwan? Yang satu milik rakyat tertindas, satunya lagi milik penguasa.”

Pengertian Marx tentang agama di atas juga bersifat dua cabang, dan orang bisa mengartikannya secara sepihak. Soalnya kemudian tergantung pada apakah pengertian itu ditempatkan dalam konteks sosial kemunculannya atau tidak. Ketika pengertian ini muncul, Marx sebetulnya sedang membangun eksposisi di hadapan para pemikir Jerman yang sinis terhadap agama. “Bagi para pemikir Jerman,” kata Marx, “kritisisme terhadap agama pada dasarnya telah selesai, dan kritisisme itu adalah prasyarat bagi seluruh kritisisme.” Padahal, lanjut Marx, “[a]gama diciptakan manusia, bukan sebaliknya.” Oleh karena itu, kritik terhadap agama, pada dasarnya, adalah “kritik terhadap [kekacauan] dunia yang beraromakan agama.”

Eksposisi ini juga Marx sampaikan pada debat awalnya dengan pemikir besar Jerman, Bruno Bauer. Dalam tulisan berjudul On The Jewish Question, Marx menghantam Bauer yang menyebut-nyebut kalau kaum Yahudi di Jerman tak akan pernah mengemansipasi dirinya kecuali mereka meninggalkan agamanya, karena Yudaisme pada dasarnya egois sehingga akan membelenggu dan memisahkan orang Yahudi dari orang-orang non-Yahudi. Jalan satu-satunya emansipasi sosial, bagi Bauer, adalah dengan memeluk erat ateisme dan sebentuk “negara sekuler” secara kaffah. Namun pertanyaannya, di manakah letak masyarakat tanpa agama itu? Di negara sesekuler Amerika pun, kata Marx, agama hanya diprivatkan, bukan dihilangkan. Agama tetap menjadi “vitalitas hidup” masyarakatnya. Barangkali begitu pula dengan orang-orang ateis. Mereka (mungkin) hanya menolak agama sebagai norma dan institusi, tapi terhadap realitas abstrak atau “kesadaran fantastis”? Entah.

Kerja, kolonialisme, kapitalisme

Mungkin kita semua masih ingat perkataan Marx tentang kerja. Kerja adalah:

Baca Juga:

“[s]ebuah proses ketika manusia dan alam terlibat, dan ketika manusia berdasarkan keinginannya memulai, mengatur, dan mengontrol reaksi material antara dirinya dengan alam. Manusia menghadapi alam sebagai kekuatan, dengan menggerakkan lengan dan kaki, kepala dan tangan, kekuatan alamiah tubuhnya, untuk mengapropriasi produksi alam sesuai kebutuhannya. Dengan mengubah alam, manusia mengubah dirinya sendiri.”

Pengertian kerja di atas adalah pengertian umum. Terlepas dari konteks sejarah dan hubungan produksi yang berlangsung. Sejak manusia ada, kira-kira begitu, ia telah mengidentifikasi alam sebagai sasaran realisasi dirinya. Hanya melalui kerjalah manusia merealisasikan dirinya dan ciri alamiahnya. Dari kutipan di atas, Marx sebetulnya menempatkan manusia sebagai bagian dari alam: “kekuatan alamiah tubuhnya” (the natural force of his body). Secara logika, manusia memang makhluk alam, yang di dalamnya terdapat saluran darah, oksigen dan karbondioksida, sel pertumbuhan, dan emosi.

Dalam tulisan lain, Marx mengatakan bahwa “[a]lam merupakan sumber nilai guna (juga sumber kekayaan material) sebagaimana kerja. Dengan sendirinya, kerja hanyalah merupakan manifestasi dari kekuatan alam, yaitu tenaga kerja manusia.” Karena kerja adalah manifestasi kekuatan alam, jadi, ketika manusia menggarap sepetak lahan, misalnya, maka ia tidak hanya mengubah alam dan memproduksi sesuatu untuk memenuhi kebutuhan materialnya, melainkan ia juga merealisasikan metabolisme alamiah yang terdapat dalam dirinya. Dengan kerja, manusia mengubah alam sekitar sekaligus mengubah dirinya sendiri. Di situ manusia terpuaskan karena telah menjalankan kodrat alamiahnya. Kita menemukan diri kita yang sebenarnya (self-realisation) melalui kerja.

Aktivitas metabolik ini bukan cuma perkara kegiatan fisik saja, karena kerja manusia tidak terbatas pada fisik, melainkan juga mental. Sebagaimana Marx singgung dalam The German Ideology:

“[c]ara manusia memproduksi kebutuhan hidupnya bergantung pertama-tama pada karakteristik kebutuhan hidup yang mereka temui di sekitar dan harus direproduksi. Cara produksi ini jangan direduksi menjadi sebatas produksi keberadaan fisik manusia. Melainkan, cara tersebut merupakan bentuk tertentu dari aktivitas manusia, sebuah bentuk mengekspresikan hidup, sebuah cara hidup. Sebagai manusia, mereka mengekspresikan hidup mereka. Siapa mereka, oleh karena itu, ditentukan oleh apa yang mereka produksi dan bagaimana mereka memproduksi.”

Ada dua hal yang bisa ditarik dari kutipan barusan. Pertama, manusia tidak hanya merupakan organisasi fisik belaka, tetapi juga terdiri dari elemen mental/simbolik yang keduanya saling berkaitan erat. Jika kita lapar, kita tahu harus makan. Untuk makan, kita punya keinginan dan selera, sehingga bisa memilih makanan apa yang hendak dimakan. Kita boleh milih nasi uduk atau lontong sayur. Terserah saja. Intinya, untuk mengisi perut yang kosong, kita juga sebetulnya mengisi kepuasan batin kita. Kedua, dalam memproduksi kebutuhan, manusia juga memproduksi cara memproduksinya. Saat bikin nasi uduk, kita juga sebetulnya sedang mewujudkan cara memasak yang terbaik menurut kita: dengan kombinasi bahan-bahan, teknik pengolahan, dan penggunaan waktu yang tepat. Seorang arsitek, sebagaimana dicontohkan Marx, tidak hanya menciptakan bangunan rumah saja, tetapi mentransfer konsep bangunan yang sebelumnya telah ada dalam pikirannya. Setiap arsitek punya konsep bangunan yang berbeda-beda. Tapi intinya, “[p]ada akhir setiap proses kerja,” kata Marx, “manusia mendapatkan hasil yang sebetulnya sudah ada di dalam imajinasi mereka sejak awal.” Oleh sebab itu, aktivitas metabolik mengandaikan kesatuan antara material dan mental sekaligus, antara kerja fisik dan kerja intelektual dalam waktu bersamaan. Tanpa salah satunya, aktivitas itu tidak akan terjadi.

Ketika metabolisme alamiah itu terganggu, di situlah letak masalahnya. Tidak hanya alam sekitar saja yang rusak, manusia juga ikut rusak. Ia mengalami apa yang Marx sebut sebagai “alienasi” atau “keterasingan.” Terasing dari apa? Terasing dari kodrat metaboliknya sebagai bagian dari alam. Setiap mengalami keterasingan, bukan cuma tubuhnya yang cacat, pikirannya pun ikut cacat.

Marx pernah menyandingkan dua istilah penting: “accumulation of wealth” dan “accumulation of misery” (“akumulasi kekayaan” dan “akumulasi penderitaan”). Penimbunan harta oleh seseorang pasti selalu berlangsung di atas penumpukan penderitaan oleh orang lain. Apa maksudnya? Kapitalisme, yang memungkinkan penimbunan kekayaan, bekerja di atas pencurian hasil kerja orang lain, yang tidak lain adalah pekerja. Bagaimana itu terjadi? Pertama-tama, kapitalisme menceraikan manusia dari sumber produksi dan hasil produksi, tempat manusia merealisasikan metabolisme alamiahnya, merealisasikan kodratnya. Tidak cukup hanya diceraikan, kapitalisme merampas kodrat itu, memasukkannya ke dalam mesin akumulasi kekayaan—kekayaan yang hanya mengalir ke kantong-kantong kapitalis—dan mengembalikannya ke mereka, para pekerja, dalam secuil upah yang kadang hanya cukup untuk bertahan hidup, kadang tidak. Keadaan ini tentu membuat para pekerja terasing dari aktivitas kerja mereka. Kerja mereka bukan lagi untuk menjalankan kodrat alamiahnya, melainkan untuk diserahkan kepada kapitalis dan tinggal satu yang tersisa bagi mereka: penderitaan. Oleh karena itu, “akumulasi kekayaan di satu sisi, pada saat yang sama adalah akumulasi penderitaan, penderitaan akan perbudakan, pembodohan, brutalitas, dan degradasi mental pada sisi yang lain, yakni sisi kelas yang memproduksi dalam bentuk kapital.”

Penderitaan (misery), kalau kita rujuk ke kamus Oxford, dapat berarti “something that causes great physical or mental pain. Sementara jika mengacu ke KBBI, penderitaan berarti “keadaan yang menyedihkan yang harus ditanggung; penanggungan.” Itu berarti, kehancuran yang diakibatkan oleh kapitalisme bukan sekedar fisik belaka, tapi juga meliputi mental. Setiap kelas pekerja, yang dihancurkan kodratnya, tidak hanya mengalami penderitaan jasmaniah, melainkan juga meliputi perasaan atau batiniah.

Sebagai penduduk di belahan Selatan Dunia, penderitaan batiniah itu tentu paling jelas terlihat dari “rasa rendah diri” (inferiority complex) dalam memandang kehidupan sehari-hari. Perasaan yang menempatkan diri mereka sebagai kelas rendahan, pecundang, tak pantas meraih kehidupan layak, dan merasa pantas-pantas saja hidup di bawah kaki kapitalis dan menderita.

Syed Hussein Alatas bersikeras, dengan fakta-fakta yang ia tunjukkan, bahwa eksploitasi dan penindasan kolonial terutama dibangun dengan cara melabeli penduduk jajahan sebagai kumpulan pecundang nan pemalas. Label ini tidak hanya berdampak pada pembentukan legitimasi penindasan, tetapi juga pada penghancuran situasi mental, situasi batiniah para penduduk jajahan. Dilabeli sebagai pecundang dan pemalas, citra ini tidak hilang ketika Belanda angkat kaki dari Jawa. Citra ini terus diawetkan dari generasi ke generasi.

Kolonialisme merupakan bagian integral dalam perkembangan kapitalisme. Untuk menumpuk kekayaan, dibutuhkan ongkos seminim-minimnya. Untuk memperoleh tujuan itu, perceraian antara manusia dari sumber produksinya dilakukan, sebagaimana tadi disebutkan. Perceraian ini ditujukan agar pemilik sumber produsen itu kehilangan sumber produksinya dan satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menukar tenaga kerjanya pada kapitalis dalam bentuk upah. Kerja mereka kemudian dirampas kapitalis hingga titik darah penghabisan, begitu pula kerja alam yang lain. Perceraian dan perampasan ini menghasilkan relasi ketergantungan si buruh terhadap majikannya. Proses perceraian dan perampasan ini disebut akumulasi primitif, yang merupakan sejarah kekerasan dan memakan banyak korban, sehingga “harus ditulis dengan darah dan api.”

Proses ini tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali. Ada istilah yang terkenal: on going primitive accumulation. Karena kapitalisme selalu berusaha mereproduksi kapital dan tenaga kerjanya semurah mungkin, maka kapitalisme selalu mengekspansi dirinya untuk mencari sumber kerja dan sumber alam yang murah dan kalau bisa “gratis”. Dalam rangka mencari sumber-sumber itulah kolonialisme berlangsung. Ia membuka wilayah-wilayah baru dan menjadikannya koloni untuk diperas, dan dihancurkan tentunya. Para penduduk jajahan dijadikan sasaran empuk untuk menunaikan kerja murah tersebut. Alamnya pun dihancurkan. Bersamaan dengan itu: mentalitas atau batinnya ditundukkan pula, dibiarkan menderita.

Immanuel Wallerstein dan Anibal Quijano pernah bilang kalau pasca dekolonisasi, yang ditandai dengan gerakan anti-kolonial dan munculnya negara-negara baru, relasi kolonial itu tidak hilang. Relasi kolonial tetap berlangsung dan proyek dekolonisasi justru malah membakukan relasi itu. Pembakuan itu bisa dilihat dari pengintegrasian negara-negara “merdeka” ke dalam sistem antar negara (interstate system). “Kolonialitas” adalah elemen pokok dalam sejarah panjang kapitalisme dunia yang muaranya bisa kita lihat dari pencacahan populasi dunia menurut hierarki identitas baik intra maupun antar negara. Selain itu, relasi etnisitas dan rasisme adalah elemen pokok lainnya. Sebagai garis demarkasi komunal, etnisitas memaksa kita agar bersedia dikelompokkan dengan orang lain dan mengarahkan kita untuk menempatkan identitas dan posisi kita di dalam negara dan antar negara. Pengelompokkan ini juga adalah hasil konstruksi kolonial termutakhir yang sebelumnya tidak dikenal. Reinventing bahasa kerennya. Dampaknya, sebagai masyarakat jajahan, kita diatur berdasarkan identitas etnis kita, seambigu apapun identitas itu, dalam urusan mencari kerja, mencari sekolah, mencari bantuan, mengambil keputusan publik, dsb.

Memang, etnisitas itu, meski buruk, bisa melahirkan semangat perlawanan, yang dibuktikan dengan pengalaman dekolonisasi, misalnya. Tapi, di sisi lain, cerita tentang penundukkan etnis demi kepentingan akumulasi kapital nampaknya lebih signifikan. Mengapa? Karena “dalam etnisitas”, kata Wallerstein dan Quijano, “selalu tersirat rasisme.” Rasisme inilah yang mengawetkan hierarki etnisitas. Pengawetan ini tidak selalu dipaksakan dari atas, melainkan juga berjalan “sukarela” dari bawah. Hierarki etnis ini diwarisi turun temurun oleh keluarga, lingkungan pergaulan, sekolah, tempat kerja, dll. Praktik rasisme, oleh karenanya, dipelihara dari generasi ke generasi.

Penghancuran mental, perasaan rendah diri, perasaan sebagai pecundang, akibat dari pengalaman panjang kolonialisme, membuat penderitaan anak-anak muda seusia saya, termasuk Picek dan kawan-kawan saya yang lain, semakin menganga di tengah situasi ekonomi dan politik yang semakin kacau. Kami dibiarkan terasing dari kodrat kami yang sesungguhnya.

Saat manusia mengalami keterasingan, ia mencari “penghiburan” (consolation). Dulu mereka bisa pergi berpiknik dengan keluarga. Sekarang mereka bisa healing atau staycation ke Bali sendirian. Bagi teman-teman saya yang tinggal di perkampungan Betawi miskin dan tidak bisa pergi ke Bali, haha hihi dengan teman-teman di depan rumah adalah bentuk penghiburan mereka. Saat kumpul, mereka bisa bicara bebas hingga bercanda dan cekikikan dengan lepas. Kadang candaan mereka kelewatan dan melanggar batas-batas, barangkali, political correctness. Tapi tak ada yang ambil pusing. Masa bodoh! “Yang penting kagak stres!” kata Picek.

Menghidupkan kembali agama perlawanan

Mau healing atau staycation tak punya uang, apalagi yang bisa diandalkan untuk meredakan penderitaan itu? Agama. Sekarang memang telah ramai perbincangan soal apa yang disebut “mental illness” (penyakit mental). Meski secara kenyataan sudah berlangsung lama, tapi istilah ini baru dipercakapkan secara intens di kalangan anak muda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Dan itu bagus untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental. Namun problemnya, percakapan itu bersifat eksklusif di kalangan kelas menengah atas perkotaan, dengan term-term asing yang sulit dicerna oleh anak-anak kampung kelas bawah. Lebih problematis lagi, penyakit mental itu tidak ditempatkan dalam konteks misery dalam perkembangan kapitalisme. Solusinya, dengan demikian, juga dilepaskan dari accumulation of misery. “Destructive anger”, misalnya. Menghancurkan barang pecah belah mungkin bisa meredakan stres, tapi kalau disuruh membayar untuk menghancurkan barang-barang? Picek dan kawan-kawan saya tentu tak sudi. “Mending buat makan kalau kagak beli rokok, terus ngaji deh,” celetuk Picek sambil ketawa getir.

Akumulasi penderitaan, keterasingan, rasisme, perasaan rendah diri, dan ketersingkiran yang dialami oleh Picek membuat pertanyaan tentang “kekuatan agama” menjadi krusial. Selain haha hihi, agama barangkali adalah ekspresi paling “paliatif” dan menjadi “panasea” terhadap keterasingan mereka. Mengapa? Karena agama dapat meredakan keterasingan itu dan memberikan jawaban atas apa yang dapat mereka lakukan untuk menghadapinya. Lagi-lagi, agama memang sering digunakan untuk melegitimasi kekacauan hidup oleh mereka yang punya kekuasaan. Akan tetapi, agama juga menyediakan ruang bagi tafsir-tafsir yang mampu membangkitkan semangat hidup, terutama bagi orang-orang yang merasa frustasi akibat kekacauan hidup itu. Dan agama memberikan ruang itu secara cuma-cuma dan jangka panjang. Orang boleh menempati ruang itu dan memanfaatkannya kapanpun dia mau. Kalau healing atau staycation hanya memberikan hiburan barang dua hari paling mentok, agama bisa memberikan hiburan setiap saat.

Agama, oleh karena itu, barangkali tidak hanya mendistraksi rasa sakit yang diderita oleh pemeluknya, melainkan juga mampu menghadirkan keyakinan bahwa mereka akan sembuh dan baik-baik saja dalam penderitaan panjang yang mereka rasakan. Dengan keyakinan, setiap manusia dapat bangkit untuk melanjutkan hidup, meski kondisi material hidupnya mungkin tak melulu sesuai dengan apa yang mereka yakini. Tapi, jika tanpa keyakinan, bagaimana Picek dan orang-orang yang menderita lainnya tetap memilih untuk bertahan hidup? Jika tak ada lagi harapan yang bisa dipegang, jika tanpa pegangan agama, bunuh diri mungkin sudah mereka lakukan jauh-jauh hari.

Di sinilah, saya kira, sumber kekuatan agama terletak dan, dalam artiannya yang paling positif, mampu menyelamatkan kawan-kawan saya yang hidupnya luluh lantah, yang tidak hanya mereka alami dalam sesekali saja, melainkan mungkin sepanjang hidup mereka.

Di sepanjang hidup itulah, keyakinan agama selalu menyelamatkan mereka dari bayang-bayang kematian. Tanpa merendahkan orang-orang yang melakukan bunuh diri, pilihan untuk melanjutkan hidup rasanya lebih terhormat. Mengapa? Karena dengan melanjutkan hidup, potensi membangun solidaritas untuk mengubah keadaan ke arah yang lebih baik akan lebih terbuka lebar.

Pertanyaan berikutnya adalah: Jika ekspresi keagamaan sejatinya adalah ekspresi tentang kenyataan hidup, mengapa ekspresinya bisa bermacam-macam? Bukankah orang-orang seperti Picek yang keranjingan tasawuf dan orang-orang yang keranjingan populisme Islam berada dalam kenyataan hidup yang sama, dan sama-sama susah? Picek seorang pekerja serabutan, yang tempo-tempo dapurnya bisa ngebul, tempo-tempo bisa anyep. Orang yang doyan populisme Islam juga banyak yang nasibnya demikian (Hadiz, 2016).

Rasa takut, rendah diri, pesakitan, dan sebagainya membuat beban penderitaan itu rasanya semakin sulit ditanggung. Ekspresi keagamaan, konsekuensinya, semakin terang, karena, lagi-lagi, agama memberikan kekuatan dan rasa percaya diri dalam menghadapi penderitaan itu. Akumulasi penderitaan, kolonialisme, dan rasisme yang membuat orang seperti Picek terasing dan tersingkir dari kodrat alamiahnya di satu sisi, dan mencuatnya ekspresi keagamaan di sisi lain. Oleh karenanya, memunculkan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menghadapi kenyataan hal semacam ini? Apakah kita harus memalingkan wajah? Ataukah potensi kekuatan yang dikandung agama dapat digali lebih jauh? Bagaimana pula mengembangkan potensi amarah berbasis keagamaan yang dimunculkan oleh Picek dan orang-orang lainnya yang mengalami penderitaan di sepanjang hidup mereka?

Selama hidup terus bergulir dari dan melalui waktu ke waktu, sejarah adalah tempat terbaik untuk melihat peranan dan kekuatan agama dalam menyelamatkan penderitaan hidup para pemeluknya. Di Amerika Latin, kita bisa saksikan betapa besar sumbangsih “teologi pembebasan” dalam mendorong gerakan anti-kolonialisme.

Lalu, apa yang bisa dikembangkan dalam ekspresi keagamaan itu?

Di sisi lain, sufisme sebetulnya punya sejarah panjang perlawanan anti-kolonialisme.  Mengapa bukan kesadaran ini yang muncul? Pada perjalannya, tasawuf dihancurkan oleh kolonialisme (Orde Baru), disingkirkan dari ruang politik dan dilucuti elemen anti-kolonialnya. Yang tersisa tinggal bentuk Sufi “apolitis” sebagaimana yang kita kenal sekarang. Kalaupun ada tasawuf yang politis, politisnya terbatas pada oportunisme politik, bukan politik revolusioner yang seperti pada awal abad ke-20, mampu menghantam kolonialisme Belanda. “Puing-puing” itulah yang membentuk refleksi keagamaan orang-orang seperti teman saya. Tugas kita adalah mendengarkan dan berempati adalah sebaik-baiknya langkah.

Langkah berikutnya adalah kembali kepada sejarah untuk merumuskan konsep dan langkah praktis. Bukan hanya untuk mengakui agama sebagai sesuatu yang menyejarah, tetapi untuk menggali pengetahuan tentang peranan dan kekuatan agama yang (mungkin) belum kita sadari selama ini. Saatnya kita mengenali lebih jauh seberapa besar kekuatan agama dan seberapa besar tantangan yang akan menghalangi kita baik di masa sekarang maupun masa yang akan datang, untuk kemudian membangun perlawanan umat secara lebih strategis.

Daftar Pustaka:

Benda, HJ. 1958. The crescent and the rising sun Indonesian islam under the Japanese occupation. Netherlands: N.V.Uitgeverij W. Van Hoeve.

Esack, F. 2003. On Being a Muslim: Fajar Baru Spiritualitas Islam Liberal Plural. Yogyakarta: IRCiSoD.

Hadiz, VR. 2016. Islamic Populism in Indonesia and the Middle East. Cambridge University Press.

Hefner, RW. 2000. Civil Islam: Muslims and Democratization in Indonesia. Princeton University Press.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.