Membedah Madilog, Gagasan Liberasi Tan Malaka

12.8k
VIEWS

Judul: Madilog

Penulis: Tan Malaka

Penerbit: Narasi

Cetakan: Ketigabelas, 2019

Ukuran: iv + 560 halaman

ISBN: 978-602-579-240-3

“Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.” — Tan Malaka.

Madilog merupakan akronim dari materialisme, dialektika, dan logika. Berbeda dengan buku-buku lain karyanya yang biasanya membahas ilmu-ilmu sosial, politik, ekonomi, dan sejarah seperti Menuju Merdeka Seratus Persen, Tan Malaka dalam Madilog menuliskan ilmu-ilmu alam mutlak (sains)—biologi, fisika, dan kimia—dengan pendekatan filosofis. Menurut mendiang peneliti politik LIPI, Alm. Dr. Alfian, Madilog adalah magnum opus-nya Tan Malaka.

Latar belakang Tan Malaka menulis buku tersebut ialah membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu pemikiran mistik nan irasional yang sudah mendarah-daging dalam benak masyarakat Nusantara. Suatu gagasan dan gerakan liberasi ala Tan yang masih relevan sampai sekarang. Menurutnya, sebelum Murba melancarkan revolusi kemerdekaan melawan imperialisme, logika mereka haruslah dimerdekakan terlebih dahulu dari segala rupa mistika seperti sesajen, dukun, pesugihan, dsb.

“Buat Timur umumnya dan Indonesia khususnya, yang sampai pada saat saya menulis kitab ini, masih gelap gulita, diselimuti macam-macam ilmu kegaiban, maka logika itu masih barang baru, hangat, perlu diketahui dan dipahamkan bersama-sama dengan dialektika dan materialisme.

Tetapi janganlah pula kita sesat karena mengunggulkan dan menunggalkan logika itu dengan tidak mengenal batas dan kelemahannya.” (hal. 21)

Tan Malaka menulis Madilog dengan menggunakan nama samaran Ilyas Hussein. Nama samaran yang dipakainya pula ketika bertemu K. H. Wahid Hasyim, putra dari Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sekaligus ayah dari Gus Dur.

Dalam pengantar Madilog, yang ditulis Tan Malaka pada 15 Maret 1946, ia sedikit banyak bercerita tentang dirinya dan Madilog. Ia memakan waktu selama sekitar delapan bulan (15 Juli 1942–30 Maret 1943) untuk menyelesaikan mahakaryanya ini. Ia menulisnya ketika pulang dari mancanegara ke Indonesia yang waktu itu masih dijajah Jepang, ia pun turut menjadi buronan tentara penjajah Jepang.

Sebelum kembali ke tanah air, Tan Malaka menjadi tahanan pemerintah kolonial Belanda. Ia kabur ke beberapa negara seperti Rusia, Tiongkok, Singapura, dan Filipina untuk bersembunyi. Ia juga bekerja sebagai guru bahasa Inggris selama berkelana di tanah luar. Bukan petualangan yang mudah, ia harus menyamar berkali-kali bahkan sampai terpaksa membuang buku-bukunya ke laut demi terhindar dari razia para polisi yang mengincarnya. Tapi, setiap mendapat uang, ia kembali membeli beberapa buku untuk dipelajarinya, meski tak bisa ia bawa pulang ke Indonesia. Baginya, pustaka sangat penting. Ia meneladani kecintaan Bung Hatta kepada buku. Ia menulis Madilog ini hanya mengandalkan ingatannya.

“Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.” (hal. 14)

Masih dalam pengantarnya, Tan Malaka menyindir Bung Karno yang kurang radikal. Bung Karno diasingkan dalam negeri ‘hanya’ 10 tahun, sementara Tan Malaka diasingkan di luar negeri selama 20 tahun. Bung Karno menyebar propaganda di surat kabar Sinar Matahari milik Jepang, sedangkan Tan Malaka melakukan agitasi bawah tanah.

Membedah Madilog

Memasuki Bab 1, Tan Malaka membahas Maha Dewa Rah—Tuhannya bangsa Mesir kuno pimpinan Firaun—yang konon dalam mitologi Mesir kuno, Rah menciptakan alam hanya dengan berkata-kata lalu muncullah segala materi di alam semesta. Ia membantah kepercayaan bangsa Mesir kuno tersebut secara ilmiah dengan membawakan dalil-dalil sains dari Charles Darwin, Immanuel Kant, Isaac Newton, Prescott Joule, John Dalton, Niels Bohr, dan Albert Einstein. Ia menguraikan proses terbentuknya alam semesta beserta kompleksitasnya yang terbentuk bukan dari omongan Rah nan sekejap itu.

Guna melengkapi negasinya, Tan Malaka memberikan tiga kemungkinan atas Maha Dewa Rah. Pertama, bila Rah lebih kuat dari alam yang (konon) diciptakannya, maka sudah pasti hukum-hukum ilmu alam akan runtuh. Tapi nyatanya Rah tidak berkuasa akan hal itu. Kedua, jika kekuatan Rah seimbang dengan alam yang (konon) diciptakannya, maka sifat kedewaan Rah luntur. Dan jikalau Rah bertarung melawan alam ciptaannya yang setara, maka pertempuran tersebut tak akan pernah selesai. Ketiga, apabila Rah lebih lemah dari alam yang (konon) diciptakannya, maka selain sifat kedewaannya yang luntur, Rah akan seperti ilmuwan yang membikin penemuan berbahaya yang dapat membunuh pembuatnya sendiri, Rah dapat dikalahkan oleh alam ciptaannya.

Namun, ada satu hal yang sedikit menggelitik bagi saya dalam Bab 1 ini. Yaitu Tan Malaka meyakini teori evolusi spesies dari pisces→amfibi→reptil→mamalia. Jelas hal ini keliru. Yang dimaksud Darwin dalam Origin of Species-nya ialah bahwa seluruh makhluk kingdom animalia itu memiliki leluhur yang sama, dan yang terkuatlah yang bertahan & beradaptasi, bukan menjelma menjadi lain kelas (istilah taksonomi).

Sebelum menjelaskan filsafat secara terperinci, pada Bab 2, Tan Malaka membawakan peta para filosof idealis dan materialis yang telah disusun oleh Friedrich Engels, co-creator Marxisme. Kemudian, ia menyanggah filsafat idealisme yang menurutnya kurang tepat, dan ia juga menjelaskan secara singkat tentang mengapa materialisme lebih tepat dari pada idealisme.

“Beginilah akibatnya yang konsekuensi dari idealisme, dengan membatalkan adanya benda, ia membatalkan dirinya sendiri.” (hal. 49)

Menurut Tan Malaka, filosofi idealisme umumnya dianut oleh kelas penghisap seperti fasis Jerman yang dipimpin Hitler dan Italia yang dipimpin Mussolini, sedang kelas yang dihisap umumnya adalah materialis sebagaimana kaum Bolshevik Rusia yang dipimpin Lenin.

Mendukung gagasannya akan logika, Tan Malaka pada Bab 3 menjelaskan pentingnya menguasai sains dan matematika. Bukan sekadar menguasai sains dan matematika, tapi kedua ilmu tersebut harus merdeka dari kapitalisme. Karena sejarah membuktikan, barangsiapa yang menguasai ilmu sains dan matematika, pasti akan memengaruhi dunia. Sebagaimana Aristoteles, Demokrit, Heraklit, Euclid, Phytagoras, dan Archimedes dari Yunani; Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan lain-lainnya dari dunia Islam; Newton, Laplace, dan Einstein dari dunia Barat.

Baca Juga:

“Kemerdekaan ilmu alam itu hidup atau mati dengan kemerdekaan negara. Begitu juga kemerdekaan ilmu alam buat suatu kelas hidup, dan mati dengan kemerdekaan kelas ini.” (hal. 62)

Tan Malaka juga menegaskan kembali bahwa manusia ialah hewan yang berpikir. Hal ini senada dengan pernyataan Ibnu Khaldun (sosiolog Muslim) dan Al-Ghazali (teolog Muslim). Bahwa kecerdasan manusia (Homo Sapiens) berdasarkan logika, sebaliknya kecerdasan hewan lain bersandar pada insting. Namun, orang gila juga manusia meskipun mereka berbeda, dalam sains, hal ini disebut pengecualian.

Tan Malaka juga mengkiritik penghitungan sains & matematika yang terlalu dogmatis seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Murid dipaksa mengikuti rumus guru tanpa boleh menyelidiki sendiri, seolah-olah diprogram seperti robot/mesin. Karena menurutnya, proses lebih bernilai daripada hasil; sayangnya guru-guru hanya melihat hasil tanpa menghormati proses.

“Bagaimana cara memperoleh pendapatan yang betul tidak dipikirkan sama sekali. Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting dari pada hasil sendiri.” (hal. 74)

Dalam menjabarkan suatu hal secara ilmiah, Tan Malaka mengajarkan pentingnya definisi, observasi, dan eksperimen. Definisi memiliki tiga syarat: singkat, tak berputar-putar, dan umum, tapi haruslah padat juga jelas. Observasi juga tak kalah penting. Sebelum menyimpulkan suatu hukum, kita harus melakukan pengamatan/observasi agar mendapatkan bukti. Kalau observasi tak membuahkan hasil, maka jalan selanjutnya ialah eksperimen. Dalam eksperimen, peneliti tidak hanya mengamati, tetapi menjadi subjek proaktif. Dalam pengujiannya, Tan Malaka menggunakan 3 buah metode, yaitu syntethic, analitic, dan reductic ad absurdum.

Masih tentang sains dan berkelindan dengan bab sebelumnya, pada Bab 4 Tan Malaka memberi tahu kita untuk memverifikasi suatu persoalan, pakailah gabungan metode induktif dan deduktif, jangan hanya salah satunya! Sebab, bilamana kita hanya memakai salah satunya, hasilnya pasti keliru. Ilmu sains dapatlah diuji dengan logika. Ilmu mutlak hanya memiliki satu jawaban, ya atau tidak saja. Ya itu ya, dan ya itu bukan tidak; tidak itu tidak, dan tidak itu bukan ya. Banyak contoh kasus dari Archimedes dan Phytagoras yang dikutip Tan Malaka sebagai permisalan.

Kita diajarkan mengenai dialektika lebih mendalam ketika beralih pada Bab 5. Ilmu mutlak dapat diuji dengan logika saja, sedangkan ilmu relatif membutuhkan dialektika. Dalam dialetika yang telah dikembangkan Georg Wilhelm Friedrich Hegel, dijembatani Ludwig Feuerbach, hingga dilengkapi Karl Marx, dan digenapi oleh Friedrich Engels, kita mempunya premis sebagai tesis, lawan premis tersebut sebagai anti-tesis, dan hasil dari keduanya disebut sintesis. Hal inilah yang mesti dipakai dalam ilmu-ilmu non-mutlak seperti ilmu masyarakat—sosiologi, ekonomi, sejarah, politik, psikologi, dll—dengan segala cabangnya.

Berbeda dengan logika, dalam dialektika ya berarti ya, bisa juga berarti tidak; tidak berarti tidak, bisa juga berarti ya. Dalam bab sebelumnya Tan Malaka menggunakan contoh kasus sains dan matematika dari Phytagoras dan Archimedes untuk mendeskripsikan implementasi logika dalam ilmu mutlak, maka dalam bab ini ia mengutip contoh historis yang telah ditulis Karl Marx dalam buku-bukunya sebagai permisalan guna mendeskripsikan implementasi dialektika dalam ilmu relatif.

Masih di bab yang sama, setelah cukup panjang menjelaskan dialektika, Tan Malaka lanjut dengan menjelaskan materialisme dialektika sebagai contoh riil. Dengan materialisme dialektika, ia membuktikan setidaknya empat ramalan Jayabaya yang meleset alias hanya isapan jempol belaka, sayangnya tidak sedikit masyarakat Jawa yang masih mengimani bualan tak berdasar tersebut. Akar idealisme Jayabaya ialah filsafat Hindustan. Tanah Hindustan itu tempat lahirnya agama Hindu yang berkasta-kasta, dan mengunggulkan ras Arya—ras yang digembar-gemborkan Adolf Hitler. Bukan hanya Hindu yang dikritiknya, Kristen (yang ultra-konservatif) dan Islam (yang terlalu bercorak Arab Badui) pun tak luput dari Madilog-nya.

Guna menjabarkan tesis Karl Marx soal pengaruh materi dan ide terhadap masyarakat, Tan Malaka mengambil seni budaya sebagai contoh. Misalnya kondisi sosio-ekonomi masyarakat pra-Hindu di Jawa yang melahirkan kebudayaan wayang sebagai seni hiburan bagi rakyat, lalu datanglah bangsa India ke tanah Jawa, maka terjadilah akulturasi berupa dongeng-dongeng Hindu seperti Mahabharata yang dipentaskan dengan wayang. Kultur kesenian seperti tarian dan nyanyian juga lahir karena kondisi masyarakat pada saat itu. Sederhananya dapat disebut dengan “keadaan memengaruhi kesadaran”, bukan “kesadaran memengaruhi keadaan”.

Lagi-lagi kita diajarkan metodologi berpikir pada Bab 6. Tan Malaka menguraikan apa itu perubahan kuantitas menjadi kualitas, negasi atas negasi; perselisihan, pertentangan, perlawanan; konversi, obversi, kontra-posisi; silogisme; dan kausalitas. Semuanya ia uraikan secara detail beserta puluhan contohnya pun ilustrasi Euler-nya.

Dibandingkan bab-bab sebelum-sebelumnya, unsur-unsur Islami banyak dijadikan permisalan metodologis oleh Tan Malaka di bab ini. Dari mulai Allah SWT, Rasulullah Muhammad SAW, Muslimin dari seluruh dunia, kewajiban berpuasa, akhlak sabar, haramnya riba, sampai neraka ia kembangkan dalam silogisme yang diilustrasikan dengan diagram ala Leonhard Euler. Mungkin beberapa pembaca non-Muslim (dalam buku ini disebutnya ‘kafir’—begitupun dalam Al-Quran) dapat tersinggung jika membaca Madilog. Karena meskipun secara eksplisit menerangkan logika, tapi secara implisit menyinggung agama—khususnya non-Islam.

Dalam bab ini Tan Malaka terang-terangan mengaku Islam. Namun ada premisnya yang sesat. Ia mengakui ke-Esa-an Allah SWT tapi meragukan Asmaul Husna-Nya. Ia berpendapat bahwa tidak mungkin Allah SWT itu Maha-Pengasih tapi membiarkan makhluknya memasuki neraka, menurutnya hal tersebut bersifat kontradiktif.

“Kalau satu detik saja, satu manusia saja DIA (Allah SWT) biarkan dimakan api Neraka yang maha-panas itu, Tuhan tidak lagi Maha-Kasih. Jangankan lagi kalau sekiranya DIA membiarkan juta-jutaan manusia dibakar yang berabad-abad!” (hal. 240)

Kutipan di atas merupakan bentuk keraguan Tan Malaka terhadap Asma Allah SWT. Padahal, Allah SWT sudah menjawabnya kepada Nabi Musa AS, jauh sebelum Rasulullah Muhammad SAW lahir.

Setelah menguraikan banyak tentang metologi-metodologi berpikir, Tan Malaka juga menjelaskan kesalahan-kesalahan dalam pencarian bukti ilmiah.

Pertama, menjadikan pemahaman populer (yang umum dipahami masyarakat) sebagai bukti. Kekeliruan hal tersebut dikarenakan tidak diuji terlebih dahulu. Contohnya seperti Galileo dan Copernicus, ilmuwan astronomi yang dihukum oleh Gereja karena dianggap menentang agama.

Kedua, salah dalam mengamati bukti. Acap kali disebabkan karena sugesti. Karena manusia berpikir subjektif sesuai hasrat pribadi, bukti nyata jadi kabur. Seperti kesaksian yang berbeda antara masing-masing pihak dalam persidangan, sang hakim pun menjadi bingung.

Ketiga, kesalahan yang dikarenakan cacat dalam menyusun bukti. Umumnya terjadi karena memakai analogi induktif. Analogi yang dipakai tak jarang melenceng. Contoh analogi sesat: Seorang petani dizalimi hutang berbunga (riba) oleh seorang saudagar Tionghoa, maka petani tersebut menganggap seluruh orang Tionghoa adalah lintah darat/rentenir.

Keempat, sama seperti poin yang ketiga, namun yang ini deduktif. Contoh analogi deduktif yang salah: -Bung Karno adalah seorang presiden, -Bung Karno adalah orang Jawa, -Semua orang Jawa adalah presiden.

Kelima, kesalahan dalam pelaksanaan. Misalnya dalam pengujian, seorang peneliti melewatkan satu tahap, maka tahap selanjutnya tidak akan benar, tapi peneliti tadi tidak sadar. Sehingga hasil bukti dari percobaan tadi mestilah berbeda dengan hasil bukti apabila percobaannya dilakukan dengan benar.

Lagi-lagi Tan Malaka mengajari kita sains ketika masuk ke Bab 7. Dari mulai atom, tumbuhan, hewan, manusia, planet bumi, tata surya, nebula, sampai alam semesta. Kesemuanya ia jelaskan secara mendalam lengkap dengan perhitungannya. Setelah menjelaskannya panjang lebar, ia berbicara mengenai kemungkinan kehidupan di luar alam dunia ini. Menurutnya, berdasarkan sains, kehidupan tersebut mungkin saja ada jika di alam selain dunia kita ini terdapat zat-zat penunjang kehidupan seperti O2, H2O, dan zat-zat lainnya.

Soal kehidupan di dunia luar, tidak perlu jauh-jauh. Ia mengambil studi kasus dari planet-planet di tata surya kita. Intinya, sekalipun planet-planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus memiliki zat-zat seperti yang sudah disebut di atas, manusia, hewan, dan tumbuhan akan tetap sulit hidup. Hal tersebut dikarenakan suhu yang terlalu panas akan membuat kita meleleh, suhu yang terlalu dingin akan membuat kita membeku; gravitasi yang kurang akan memaksa kita melayang, gravitasi yang berlebih tak akan mengizinkan kita bergerak ke sana ke mari. Meskipun ia berpikiran sangat saintifik/ilmiah, ia berterus terang bahwa ia tidak mengetahui segalanya, “Wallahu ‘alam”, katanya.

Selepas membicarakan sains, Tan Malaka mulai membicarakan agama. Dimulai dengan Kitab Genesis yang diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Musa AS. Kitab Genesis merunutkan kejadian-kejadian penciptaan alam oleh Allah secara bertahap selama enam hari (enam hari dalam perhitungan waktu Ilahi)—bukan instan seperti omongan Mahadewa Rah—dimulai dari diciptakannya langit dan benda-bendanya, lautan dan daratan, tumbuhan dan hewan, serta manusia, hingga terusirnya Adam dan Hawa dari Taman Eden/Surga dikarenakan memakan buah terlarang akibat termakan bujuk rayu setan berwujud ular. Sebagai seorang Muslim yang menerjemahkan Kitab Genesis milik umat Yahudi dan Nasrani hanya berdasarkan ingatan semata, ia meminta maaf kepada umat Yahudi dan Nasrani apabila terdapat ketergelinciran dalam terjemahannya. Namun, pembaca yang bijak tentu memahami maksudnya dalam memberikan garis besar dari Kitab Genesis tersebut. Sayangnya, ia tak langsung menulis pandangan Madilog atas Kitab Genesis tersebut.

Setelah Kitab Genesis, kita masuk ke kepercayaan asli masyarakat Indonesia (animisme‒dinamisme‒daemonisme). Animisme‒dinamisme‒daemonisme yang dianut masyarakat Indonesia menurut Tan Malaka sangat mirip dengan kepercayaan asli orang-orang Burma (Myanmar), Siam (Thailand, Kamboja, dan Laos), Annam (Vietnam), dan negara-negara serumpun Malayan-Mongoloid lainnya sebelum dijajah secara kultural oleh India.

Animisme/kepercayaan akan roh leluhur yang sudah mati, baginya adalah kebodohan, karena manusia hidup tidak akan mendapat secuil pun pemberian dari arwah orang yang sudah mati. Dinamisme/kepercayaan akan benda yang diyakini memiliki kodrat sakral pun tak berbeda jauh, nyatanya manusia hidup jelas lebih berdaya daripada benda mati yang disembahnya. Daemonisme/kepercayaan akan makhluk astral pun mirip dengan keduanya, ia yakin kodrat manusia lebih tinggi daripada kodratnya setan.

Selesai Tan Malaka mengupas kepercayaan asli Indonesia, langsung ia lanjut membabat Hinduisme dengan Madilog-nya. Baginya filsafat idealisme Hindustan yang berakar pada Brahmanisme itu sangatlah tidak ilmiah, irasional. “Sekali lagi mesti saya peringatkan, bahwa Madilog tak berlaku langsung pada penerangan kepercayaan idealisme Hindustan.” (hal. 402) Ia juga melancarkan kritik terhadap sistem kasta dalam Hindu. Kasta Brahmana (pemuka agama) dan Ksatriya (bangsawan & aparat) merekalah kasta penindas, sementara kasta Vaisya (pedagang), Sudra (kuli), Pariya (orang najis/haram), dan Dalit (tak diakui sebagai manusia) merekalah korban penindasan dari Brahmana dan Ksatriya. Benarlah pernyataanya bahwa filsafat idealisme umum dianut oleh penindas, sebagaimana telah ia singgung di Bab 2.

Terlampau jauh idealisme Hindustan untuk berinovasi menciptakan perkakas teknik sains modern, saking ‘gelap’-nya ajaran Hindustan dari cahaya ilmu pengetahuan, orang-orang India sampai lebih khatam dongeng-dongeng mitos seperti Mahabharata dsb, dibandingkan sejarah nyata bangsanya sendiri yang berdasarkan materialisme historis—hal ini pun juga berpengaruh ke dalam historiografi kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa sebagaimana dicatat oleh para empu yang terlalu istana-sentris, mengagung-agungkan bangsawan, bercampur dengan mitos, dll—barulah pada abad ke-19, sejarah Hindustan yang bebas dari mistika dibukukan, itu pun oleh sejarawan Inggris, H. G. Keene yang datang ke India—sebagai bangsa penjajah—bukan oleh pribumi India sendiri. Intinya, filsafat India ialah yang paling utopis dibandingkan dengan filsafat Tiongkok, Yunani, Dunia Islam, dan Barat. Demikianlah kritik pedasnya terhadap Hinduisme.

Di tengah ketimpangan sosial yang dizalimi kaum Brahmana, muncullah ajaran-ajaran seperti Budhisme dan Yainisme sebagai anti-tesis dari Hinduisme. Budhisme dan Yainisme memang agaknya lebih rasional dibandingkan Hinduisme. Namun, bukan berarti ia membenarkan kedua ajaran tersebut. Bila dilihat dari kacamata materialisme dialektika historis, kedua ajaran tadi hanyalah produk negasi dalam dinamika sejarah. Lagipula, Budhisme dan Yainisme masih kurang akseptabel untuk dikategorikan materialis. Baginya Budhisme pun gagal meruntuhkan eksploitasi oleh kasta Brahmana dan gagal pula membumikan keadilan sosial. “Paham yang berdasarkan idealisme semata-mata seperti Budhisme sudah terbukti tak berdaya membatalkan peraturan kasta di Hindustan itu. Materialisme asli yang terdapat di Hindustan pun akhirnya diisap oleh Brahmanisme buat memperteguh culanya mengisap kasta yang bukan Kasta Brahmana.” (hal. 444).

Sungguh sial nasib rakyat Hindustan. Sudah diinjak-injak Brahmana & Ksatriya, dijadikan koloni pula oleh imperium Britania. Barulah mereka bisa merdeka dari pendudukan setelah pemuda-pemudinya yang memiliki kesadaran kelas berusaha mengusir serdadu Inggris. Tapi nahas, meskipun secara de jure sudah merdeka dari Britania, secara de facto mereka masih belum merdeka dari sistem kasta, irasionalisme, dan kapitalisme; apalagi sekarang mereka dipimpin oleh pemimpin fasis Narendra Modi dari Partai BJP yang ultra-nasionalis-Hindu.

“Selama Vakbond atau perkumpulan politik bisa dipecah-belahkan oleh kasta, agama, dan kebangsaan, selama itulah pula akan sia-sia semua pertarungan buat lahir dan batin.” (hal. 445)

Kritik Agama Abrahamik

Selesai sudah Tan Malaka mengomentari tiga -isme—Hinduisme, Budhisme, dan Yainisme—asal Hindustan. Kini giliran tiga agama Abrahamik—Yudaisme, Kristen, dan Islam—yang akan dianalisis dengan Madilog. Menurutnya, Yudaisme, Kristen, dan Islam bukan hanya tiga serangkai, melainkan tiga sejiwa, dikarenakan sama-sama berakar dari kearifan rumpun bangsa Semit (Yahudi & Arab). Dalam memandang tiga agama monoteis tersebut, ia jauh lebih memberikan kesan positif kepadanya, berbanding terbalik dengan sikapnya yang antipatik terhadap tiga idealisme Hindustan. Pun dalam sejarahnya, tiga agama Asia Barat/Timur Tengah tersebut jauh lebih terarsip dibandingkan tiga kepercayaan Hindustan.

Dimulai dengan Yudaisme. Tan Malaka menyebutkan tentang kitab-kitab umat Bani Israil. Ia mengambil keteladanan moral dari kisah-kisah Nabi Ibrahim, Musa, Daud, Sulaiman AS yang tercantum di dalam kitab tersebut. Nabi Musa AS, misalnya, Nabi Musa mempersatukan suku-suku Bani Israil yang ditindas di Mesir dan mengajarkan Tauhid kepada mereka, serta menyelamatkan mereka dari kezaliman Firaun, Firaun akhirnya tewas ditenggelamkan di laut merah, sementara Bani Israil selamat hijrah ke Palestina. Tapi, setelah Nabi Musa wafat, Bani Israil kehilangan sosok pemersatu di antara mereka. Barulah pada masa Nabi Daud AS, Bani Israil bersatu kembali mengalahkan bangsa Kan’an yang dipimpin Jalut si raksasa. Setelah itu, putra Nabi Daud, Nabi Sulaiman AS menjadi raja Israil. Kerajaan Israil berhasil mencapai puncak kemakmurannya kala dipimpin Nabi Sulaiman.

Ajaran kesemuanya itu berakar pada keimanan tunggal Nabi Ibrahim AS, nabi yang merobohkan berhala-berhala pagan. Akhirnya kejayaan Kerajaan Israil menemui ajalnya saat dikalahkan Babilonia. Lalu, apakah Tuhan tidak berkuasa menolong Bani Israil? Justru “Ke-Esaan Tuhan tidak bersalah! Keesaan bangsa Yahudi mesti diperkukuh. Keesaan itu tentu perlu, malah lebih perlu lagi disertai ke-Esaan Tuhan.” (hal. 458)

Lanjut ke agama Kristen yang dibawa Nabi Isa AS. Nabi Isa diutus ke dunia untuk menjadi penyelamat dan penebus umatnya. Nabi Isa mewujudkan keadilan pada kaum yang terzalimi, menentang para penindas yang semena-mena, hingga sukses menuntaskan misinya, kemudian Nabi Isa diyakini diangkat ke langit oleh Tuhan, sebagaimana yang tercatat di Injil. Ajaran Nabi Isa yang semula untuk Bani Israil saja, telah menjadi agama resmi Kekaisaran Romawi. Dalam perkembangannya, Kristen terpecah belah menjadi sekte Ortodoks, Katolik, Protestan.

Pada Eropa abad pertengahan, Kristen menjadi agama resmi, dan pemukanya menjadi apologetis borjuis. Muncullah para penentangnya yang sekuleris sampai ateis. Zaman Renaisans menjadi tak terelakkan. Puncaknya pada 1789 di Prancis, revolusi meletus, agama dan negara dipisahkan. Semangat revolusi Prancis menular ke negara-negara lain yang akhirnya ikutan memisahkan agama dengan negara—sementara Rusia baru pada 1917—zaman ‘pencerahan’ pun tercapai, lanjut ke zaman modern. Lahirlah filosof-filosof seperti Hegel, Feuerbach, Marx, dll.

“Walaupun kepercayaan bahwa Nabi Isa hidup kembali dan memberi amanat kembali pada pengikutnya ada di luar daerah Madilog, tetapi logis dan sepatutnyalah azas dan sikap Nabi Isa terus hidup kekal.” (hal 470)

Kemudian, Islam—agamanya Tan Malaka sendiri. Awalnya ia menceritakan tentang dirinya dan keluarganya yang sangat taat. Orangtuanya mendidiknya ilmu agama Islam sedari kecil, sampai ia cakap dalam ilmu Al-Quran dan Hadis. Dalam pengembaraannya baik di dalam negeri maupun luar negeri, ia tetap gemar membaca literatur-literatur Islam. Namun, ia agak kecewa karena pada saat itu belum ada buku yang membahas Islam dari perspektif materialisme historis—sebagaimana Foundation of Christianity-nya Kautsky.

Tan Malaka mulai membahas tentang kelompok-kelompok yang berpecah-belah dalam Islam, seperti Sunni, Syiah, Mu’tazilah, Wahabi, dll. Ia memandangnya sebagai produk budaya yang terbentuk karena terpengaruh keadaan sosio-politik pasca-Rasulullah Muhammad SAW. Perpecahan Sunni‒Syiah, misalnya, hal tersebut disebabkan sengketa suksesi pemimpin umat Islam pasca-wafatnya Rasulullah Muhammad. Syiah meyakini bahwa jabatan Khalifah mesti diberikan kepada Ali bin Abu Thalib, karena Ali seorang Bani Hasyim yang sangat dekat dengan Rasulullah. Sementara kaum Sunni, meyakini—khalifah tidaklah harus dari kalangan Bani Hasyim—Abu Bakar ash-Shiddiq RA pantas memangku posisi khalifah karena terpilih secara musyawarah. Namun, pada masa Abu Bakar–Umar bin Khattab al-Farouq RA, Ali tetap berbai’at kepada keduanya, sedangkan konflik baru membara pada masa khalifah Utsman bin Affan, dan konflik Sunni‒Syiah masih berlanjut hingga masa kini.

Sementara Mu’tazilah terbentuk pada zaman Tabi’in di awal-awal era dinasti Umayyah. Mu’tazilah awalnya dibikin oleh Wasil bin Atha yang mengutamakan akal hingga menentang gurunya, Hasan al-Bashri. Lalu aliran ini mencapai keemasannya pada era dinasti Abbasiyah. Sedangkan Wahabi yang diprakarsai oleh Muhamad bin Abdul Wahab baru muncul pada abad ke-18. Muhamad bin Abdul Wahab, seorang pengikut mazhab Hambali yang terpengaruh pemikiran reaksioner Ibnu Taimiyah membentuk Wahabisme karena penentangannya terhadap Sufisme yang menurutnya bidah.

Tan Malaka juga memuji keteladanan yang ada pada diri Rasulullah Muhammad SAW. Ia membicarakan bagaimana masyarakat Arab sebelum Islam yang sangat biadab, dari mulai perang antar-suku, sampai kekerasan terhadap perempuan, dsb. Setelah Muhammad bin Abdullah hadir—lahir yatim, hidup piatu, diasuh kakek dan pamannya—bangsa Arab menjadi jauh lebih berbudaya, bahkan membentuk dan memengaruhi peradaban dunia selama kurun waktu yang tidak singkat.

“Dari kecil sudah mengenal susah melarat di tengah-tengah masyarakat saling sengketa dan gelap gulita itu dan dalam keadaan semacam itu bisa timbul paham perangai dan budi seperti Muhammad bin Abdullah. Tetapi memang intan itu bisa diselimuti, tetapi tak bisa dicampur leburkan oleh lumpur.” (hal. 475)

Kepercayaan terakhir yang akan dibahas Tan Malaka adalah dua ajaran dari tanah Tiongkok: Konfusianisme, yang didirikan oleh Konfusius; dan Taoisme, yang didirikan oleh Lao Tzu. Menurutnya, kedua ajaran tersebut hanya bisa disebut sebagai filsafat, belum sampai ke tingkat agama. Karena keduanya tidak mengalami dinamika historis yang signifikan, maka analisis Madilog terbatas hanya sampai di situ.

Setelah Madilog membahas agama, Tan Malaka mengajari kita formula sains lagi. Tapi yang berbeda di sini adalah pengaplikasian materialisme dialektika historis pada Teori Relativitas. Teori Relativitas tidak sekonyong-konyong dicetuskan Einstein. Namun melalui proses panjang dari Galileo, Newton, Maxwell & Hertz, Fizeau, Michelson, barulah berpuncak pada Einstein.

Pada bagian penutup, Tan Malaka membicarakan keajaiban angka 0 (nol)—angka yang dipopulerkan ilmuwan Muslim al-Khawarizmi—angka terkecil yang awalnya tak bernilai namun mampu mengubah satuan jadi puluhan, ratusan, ribuan, jutaan, milyaran, triliunan, sampai kuadriliunan!

Setelah angka 0, Tan Malaka memulai pembicaraan tentang jiwa. Selama berabad-abad, manusia terus berusaha memahami ‘bagaimana jiwa itu?’; menurut Plato jiwa itu kekal, sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa jiwa akan mati bersama raga, Hindu meyakini jiwa akan bereinkarnasi/terlahir kembali dalam entitas raga yang berbeda, sementara Islam mengimani jiwa akan berpindah dari alam dunia ke akhirat; Satu hal yang pasti—menurut materialisme—jiwa ialah refleksi (cerminan) dari raga.

Setelah jiwa, Tan Malaka membicarakan tentang iman dan moral. Saat membicarakan mengenai iman dan moral, ia seakan-akan ‘menegur’ orang-orang munafik. Manusia, baik yang beriman ataupun tidak, menurutnya haruslah bermoral. Jadilah pemuka agama yang membimbing ke surga, jangan menyesatkan ke neraka; jadilah pemimpin yang mengatur dengan baik, jangan menjerumuskan; jadilah dokter yang menyembuhkan, jangan menyakitkan; jadilah insinyur yang membangun, jangan merubuhkan! Karena masyarakat menuntut Anda berperan sesuai status Anda. Bagian paling akhir, Tan Malaka menamainya “Seni – Sesat” (bukan kesesatan seni)—tapi entah di mana letak seni/sesatnya. Ia mengajak kita berandai-andai. Bayangkan kita sedang berjalan-jalan menikmati keindahan alam beserta isinya, hingga berkeliling-keliling merasakan kecanggihan teknologi beserta kompleksitasnya. Baik yang primitif maupun modern, semuanya takluk pada satu hukum, hukum alam. “Cukuplah sudah buat otak kita hukum alam sebagai asal dan dasar.” (hal. 560).

Epilog

Akhirul kalam, buku ini sangatlah bagus untuk dijadikan pisau analisis bagi kita. Meskipun agak menggurui pembacanya, ide-ide Tan Malaka dalam Madilog mengajarkan kita untuk berpikir secara ilmiah, kritis, progresif, dan inovatif agar menjauhkan kita dari yang sekadar utopia belaka, pemikiran dogmatis, doktrin-doktrin konservatif, dan tak lupa mengejar ketertinggalan. Walaupun ditulis sebelum Indonesia merdeka, buku ini masih cukup relevan untuk dibaca—bukan hanya untuk rakyat Indonesia, tapi revolusioner seluruh dunia—kecuali khusus saintek dalam buku ini sedikit kurang update karena kondisi perkembangan ilmu pengetahuan masa sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan pada masa itu.

Kekurangan buku ini antara lain tidak sedikit ditemukan kesalahan ketik, juga tanda baca yang kurang tepat, tapi keduanya bukanlah masalah yang mendesak. Buku ini terlalu banyak memakai istilah-istilah bahasa asing yang cukup sulit dipahami oleh awam seperti saya. Buku ini pun sedikit berbahaya apabila disalahpahami, dikhawatirkan pembaca malah tergelincir menjadi ateis. Padahal, sebagai Muslim kita dapat memaknainya untuk menjauhkan dari segala bentuk kesyirikan alih-alih meninggalkan agama. Lagipula, sekalipun Tan Malaka seorang sekuler, ia memilih agama Islam dengan penuh kesadarannya, bukan semata-mata agama bawaan dari keluarga. Ia banyak membaca kitab-kitab agama lain, tapi tetap memilih Islam sebagai agamanya. Dan, ia juga pernah berpidato membela Pan-Islamisme di kongres Komintern ke-4. Untuk memahami kedudukan agama dalam tinjauan Madilog, amat sangat disarankan membaca karya lanjutannya yang berjudul Islam dalam Madilog, juga Nasrani dan Yahudi dalam Madilog.

Related Posts

Comments 3

  1. Ira A says:

    Assalamualaikum Naufal, tulisan yang luar biasa. Ibu bangga sama Naufal. Semangat dan teruslah berkarya. Barakallah.

  2. Karya “Madilog” sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. Lihat:
    http://www.litsovet.ru/index.php/material.read?material_id=578674
    http://www.litsovet.ru/index.php/material.read?material_id=578675
    http://www.litsovet.ru/index.php/material.read?material_id=578676

    Saya belum memuat karya itu seluruhnya (Pendahuluan dan bab2 I dan II saja) karena saya hendak memperbaiki terjemahan itu. Insya Allah, sesudah beberapa bulan saya akan memuat karya itu seluruhnya.
    https://gachikus.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.