Browse By

Kokom Komalawati: Dari Serikat Buruh, Isu Perempuan, Media Islam, sampai Wacana Islam Progresif







“Udah lama nunggu, ya?”, tanya perempuan berkerudung merah satin sembari melempar senyum paling ramah. Di sebuah kafe kecil nan teduh sekitaran stasiun Manggarai, Anastasia Anggoro dan Rassela Malinda, kotributor Islam Bergerak menemui Kokom Komalawati, Ketua Serikat Buruh Garmen, Tekstil dan Sepatu (SBGTS) Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) PT Panarub Dwikarya (PDK), perusahaan produsen sepatu merek kenamaan, Adidas.

Mbak Kokom, begitu ia disapa, menyempatkan waktu untuk bertutur tentang pengalaman panjangnya mengorganisir serikat buruh sejak tahun 2000—yang mengalami puncaknya saat demo besar-besaran SGBT GSBI pada media 2012. Ia membagi harapan dan keluh kesahnya tentang dinamika organisasi kelas pekerja hari ini: melemahnya solidaritas baik antar anggota, organisasi maupun sektoral buruh dan sistem kerja pabrik yang kian eksploitatif dan menindas, problem kebijakan negara terkait perburuhan (PP 78/2015) yang menggerus peran dan posisi serikat untuk mengintervensi besaran upah, hingga harapannya tentang peran Islam progresif dalam isu pekerja.

Mbak Kokom bak mesin pencerita. Selama lebih dari dua jam ia menceritakan kepada Islam Bergerak berbagai aspek mengenai gerakan buruh dan keterlibatannya dalam gerakan tersebut–mulai dari pengalamannya memimpin demonstrasi besar-besaran 2000 buruh anggota SBGTS GSBI pada Juli 2012 yang berujung pada pemecatan ilegal 1300 buruh , sampai teror yang ia terima dan kisah asmara.

Akvitisme Mbak Kokom bersama kawan-kawan buruh membuat ia menerima banyak intimidasi dan teror yang menyasar identitas keperempuanannya. Tidak terhitung berapa kali ia dihantui ancaman pemerkosan, pelecehan seksual, hingga kekerasan fisik. “Gak terhitung saya diancam lewat Whatsapp, SMS, telpon, bahkan dinding kontrakan saya ditulis macam-macam juga pernah”, tuturnya. Teror tersebut tentu saja menimbulkan rasa takut dan tidak aman pada dirinya, bahkan keluarga besarnya. Kakaknya pernah didatangi oleh orang-orang asing, meminta agar Kokom tidak lagi berserikat dan bersuara lantang di isu buruh. Untungnya keluarga besar cukup memahami, bahkan mendukung penuh perjuangan Mbak Kokom. Mereka mafhum bahwa hampir tidak mungkin meminta Kokom menghentikan langkahnya, sebab perempuan tersebut sudah melampaui banyak intimidasi yang lebih mengerikan, dan nyatanya tidak ada satupun yang berhasil. Kepada Islam Bergerak Mbak Kokom menceritakan semuanya, berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana perjalanan hidup Mbak Kokom hingga kemudian bisa terlibat di serikat buruh?

Saya berasal dari Bandung, rumah saya di depan rumah sakit Imanuel. Mamah saya Sunda, bapak saya Batak bermarga Simorangkir. Saya menghabiskan masa sekolah hingga kuliah di Bandung. Pada waktu itu, saya kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi. Saya pergi ke Tangerang pada tahun 2000 setelah lulus kuliah. Sebelumnya sempat bekerja di hotel di daerah Bandung sebagai staf akuntansi selama 3 atau 4 bulan. Akhirnya saya pindah ke Tangerang. Kayaknya kok bosen di Bandung. Akhirnya saya melamar ke berbagai perusahaan dan diterima di Panarub Dwi Karya. Sebenarnya tidak ada niat, tapi tidak tahu akhirnya kok jadi ke pabrik.

Apa bagian Mbak Kokom waktu di Panarub dulu?

Waktu di Panarub, saya bagian admin brand Adidas di level manajemen. Saya merupakan admin ekspat di Panarub. Di situ, saya diajak bergabung di salah satu serikat buruh sebelum bergabung dengan GSBI (Gabungan Serikat Buruh Indonesia). Tahun 2004 sempat di PHK, waktu itu masih P4D (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Daerah). Terus menang. Akhirnya, saya masuk lagi pada tahun 2006 dan dipindah ke Panarub Dwi Karya menjadi supervisor tahun 2008 sampai sekarang.

Saat berserikat pada tahun 2008 sampai 2009, saya dipindahkan ke bagian haste. Kerjanya di pojokan membersihkan cetakan sepatu. Padahal itu bukan skill saya, karena berserikat jadinya saya dipindahkan kesana di tempat yang tidak ada orang. Tidak ada orang yang mau ngobrol dengan saya, karena pimpinan mereka suka bertanya tentang apa yang kami obrolkan. Makanya, saya suka tidak enak dan kasihan juga kepada mereka. Setelah 2 tahun bekerja, saya dipindahkan ke bagian Continous Improvement (CI) di bagian produksi. Pada tahun 2012, Adidas memiliki sistem baru namanya line system, one piece flow. Awalnya, satu orang mengerjakan satu proses. Misalnya, saya mengelem. Nah, di sistem baru ini, satu orang bisa mengerjakan dua atau tiga. Kerjaan saya pada waktu itu, muterin mereka. Misalnya ada 4 orang yang menjahit, siapa yang menjahit paling lambat maka akan masuk kategori akan di PHK. Saya yang melaporkan mereka.

Dengan sistem one piece flow, orang yang mengerjakan akan dikurangi, namun targetnya tetap. Perusahaan tidak akan langsung mem-PHK, mereka akan ditempatkan di bagian surplus atau tempat orang buangan. Di sana mereka tidak diberikan kerjaan, diam saja selama seharian dan ujungnya mereka akan mengundurkan diri dari perusahaan. Tapi ada juga yang bertahan, hingga 4 bulanan. Mereka tetap dibayar, namun tidak mengerjakan apa-apa. Kalo ada rumput yang sudah tinggi, merka akan disuruh untuk mencabuti rumput. Kadang, surplus ini dijadikan tenaga cadangan. Misalnya ada yang tidak masuk, digantikan oleh mereka. Karena sudah merasa dibuang, maka biasanya mereka sudah malas dan bekerja asal-asalan.

Tahun 2012, ada produksi sepatu Adidas Predator. Awalnya, pada bulan Januari, satu assembling jumlahnya 75 orang. Namun, pada bulan Februari hingga Juni dikurangi menjadi 55 orang. Pada waktu itu targetnya tetap, 180 satu jam. Sistem itu pula yang menjadi salah satu penyebab terjadinya aksi di Panarub. Karena kerjaan saya yang mengurangi mereka, saya jadi dimusuhi oleh mereka. Kalau orang produksi menyebutnya malaikat pencabut nyawa.

Jadi, waktu ditempatkan di CI, Mbak Kokom mendirikan serikat buruh?

Sudah tidak niat berserikat sebenarnya, inginnya bekerja saja mencari karir. Kebetulan banyak tawaran bagus dan sedang mengerjakan pilot project. Jika berhasil, maka saya akan mendapatkan kenaikan gaji di luar kenaikan gaji setahun sekali. Saat itu, saya banyak turun ke bagian produksi dan ngobrol dengan mereka. Ternyata mereka banyak yang mengeluh dan tidak suka dengan saya. Banyak yang ngomong kalo saya dijuluki malaikat pencabut nyawa. Ada juga yang cerita, “Gimana teh, teteh nggak ngerasain ya, saya kan ndak bisa kencing, nggak bisa minum, nggak bisa apa.” Saya perhatikan, ternyata benar juga, tidak ada pengganti. Bayangkan saja dari 75 orang menjadi 55 orang selama 3 bulan. Ini membuat mereka susah untuk mengambil cuti.

Mereka bilang tidak bisa kencing, karena tidak boleh ada yang menumpuk. Kalo menumpuk pasti akan saya foto dan laporkan. Misalnya di bagian jahitan, maksimal ada 3 tumpukan sepatu, kalo lebih dari itu tidak bisa. Bayangkan, jika dia kencing dan tidak ada yang mengganti. Maka produksi akan berjalan terus dan akan mengalami penumpukan di tempat dia. Akhirnya mereka menahan kencing, begitu pula saat istirahat makan. Kalo banyak yang dikerjakan, istirahat mereka hanya untuk makan saja. Saat jam istirahat, mereka tetap menjahit, karena di pabrik sistemnya target. Sekarang saya baru berpikir ternyata sistem target itu jahat, bikin buruh individualistis. Sistem itu jahat sekali karena membentuk orang menjadi mementingkan diri sendiri, yang lain terserah. Saat jam istirahat juga begitu, saat melihat teman sebelahnya menjahit, mereka juga mau tidak mau harus ikut menjahit. Karena jika tidak, maka barang akan menumpuk.

Hukuman apa yang paling jahat dikenakan pada buruh di pabrik?

Atasan itu kalau ngomelin gurih-gurih sedap ya, “Bego lo! Tolol lo!”, terus kencang lagi suaranya. Ada anggota saya, namanya Ramsah. Dia sebenarnya buruh yang baik, loyalitasnya tinggi, tidak pernah cuti. Saat itu, kakak dan adiknya mau menikah dan memutuskan untuk meminta cuti. Tapi nggak dikasih. Karena dia harus ngikutin adiknya, akhirnya surat cutinya disobek-sobek dan bolos kerja. Saat dia masuk lagi, dia dipajang di meja atasan. Dia disuruh berdiri sambil dimaki-maki dengan suara kencang, setelah itu dia didiamkan, sementara posisi dia saat itu sedang hamil. Saya pikir, itu yang paling kejam. Tidak dikasih kerjaan itu hanya satu bagian. Biasanya kalau di line, saat buruh tidak masuk, besoknya mereka tidak dikasih kerjaan. Disuruh diam saja, terserah mau ngapain. Hukuman dimaki-maki itu sudah biasa dan umum. Hukuman fisik itu yang sadis, seperti berdiri di dekat meja atasan dalam posisi hamil berjam-jam.

Dari dimusihi sampai mendirikan serikat itu, bagaimana bisa dipercaya sama teman-teman?

Selama saya berserikat, memang tidak mudah untuk meyakinkan mereka. Puncak kecurigaan anggota terjadi pada aksi 18 Oktober 2018. Waktu itu, aksinya berjalan rusuh. Di mana aksi melibatkan warga, keluarga, dan aliansi mahasiswa. Kalau tidak salah hampir 3000an yang bergabung waktu itu. Aksi berjalan rusuh, karena kita dibentrokan dengan preman-preman warga. Sementara di dalam masih ada yang kerja, saya diberikan waktu setengah jam untuk mengeluarkan mereka dari dalam. Anggota kita yang aksi tidak mau. Tidak apa-apa jika ditahan dan disandra. Namun ternyata, di luar pabrik ada suami-suami buruh yang telah dikoordinir untuk menyerang. Jadi memang diadu gitu. Saya berpikir untuk tidak mau mengambil resiko aksinya jadi rusuh. Saat itu, sudah ada yang membawa bom molotov juga. Saya pikir ini pasti jadi tidak simpati dan akan banyak korban yang jatuh. Bukannya tuntutan yang akan naik, tapi malah berita pembakaran pabrik yang akan naik. Ditambah, sudah banyak korban yang sudah masuk rumah sakit dan pabrik pada saat itu juga sudah hancur. Maka saya memutuskan untuk mengeluarkan mereka. Di situlah, mereka berpikir bahwa saya mata-mata pabrik. Serikat dari yang tadinya ada 1300 anggota, tersisa menjadi 700 anggota. Dalam waktu seminggu, ada sekitar 500-600 anggota yang mundur. Aksi itulah, yang membuat saya kehilangan kepercayaan dari teman-teman anggota. Saya juga sempat diteror oleh suami anggota serikat, karena curiga. Mereka berpikir saya orang manajemen. Akhirnya saya jelaskan mengapa pada waktu itu saya mengambil keputusan itu. Imbas dari aksi ini juga membuat kepengurusan serikat pecah.

Mereka memang inginnya buruh yang di dalam pabrik tidak boleh dikeluarkan. Sementara pertimbangan saya mengeluarkan mereka adalah agar tidak banyak lagi korban. Keadaan pabrik saat itu juga sudah hancur dan posisi kawan-kawan saat itu juga terjepit. Saya memutuskan untuk mundur saja, karena nanti orang tidak akan simpati dengan perjuangan kita. Itulah yang menjadi pertimbangan saya. Selain itu, nanti konsentrasi kita juga akan terpecah karena harus mengurus orang di penjara dan rumah sakit. Akhirnya 600an orang mundur dan hanya mendapatkan uang tali asih sebesar Rp750 ribu.

Mengapa Mbak Kokom ikut serikat, padahal di perusahaan kan karirnya bagus?

Tidak sengaja sebenarnya. Waktu itu, orang-orang memelesetkan Panarub sebagai penampungan buta huruf karena di sana banyak yang tidak sekolah. Sebelum pulang ke kosan, saya suka nongkrong. Saat itu, saya melihat ibu-ibu ini sakunya basah. Kemudian saya iseng bertanya, “Teteh, itu basah kenapa ?”, dia jawab habis cuti melahirkan dan anaknya ingin menetek. Kemudian saya bilang bahwa hal itu bisa menyebabkan kanker. Namun, ternyata dia tidak mengerti tentang itu, mereka tidak paham dengan kesehatan reproduksinya. Pada saat itu, saya diajak untuk bergabung dengan SPN dengan menempati bidang perempuan. Di sana saya banyak melakukan training tentang reproduksi, dan orang hamil. Kondisinya, mereka baca saja tidak mengerti, karena kebanyakan tinggal di pelosok. Di mana untuk buang hajat saja masih di kebun. Saat masih di SPN, saya belum terlalu paham bagaimana perjuangan serikat buruh dan juga belum berbicara mengenai hak-hak buruh perempuan. Sebelum membentuk SGBTS yang berfiliasi ke GSBI, sebenarnya saya sudah sering diajak diskusi dan sering turun ke kampung-kampung. Saya mengajarkan undang-undang ketenagakerjaan setiap hari sabtu atau minggu. Masih normatif waktu itu.

Setelah saya lepas dari serikat, saya sempat ngobrol dengan kawan-kawan GSBI dan membaca selebaran yang mereka terbitkan. Saya tersadar, selama ini saya berada di organisasi yang kurang tepat. Karena mereka mengaggap bahwa perjuangan buruh tidak ada campur tangan pemerintah. Itu urusan buruh dengan korporasi. Sehingga, dulu kita tidak pernah melakukan aksi, hanya rembukan saja dengan pengusaha. Setelah sering ngobrol dengan kawan-kawan GSBI, akhirnya kami memutuskan untuk membuat GSBI. Tanggal 23 kami deklarasi, tanggal 24-nya kami di-PHK dengan alasan efisiensi. Tapi kalo saya bilang, itu bukan urusan efisiensi, karena sebelum deklarasi saya sempat dipanggil oleh General Manager HRD di Panarub Industri yang juga hakim ad hoc MA untuk tidak mendeklarasikan SGBTS dan sempat menawarkan jabatan. Posisi saya waktu itu CI, masuk golongan B. Akhirnya, saya tetap untuk mendeklarasikan serikat dan besok harinya langsung dipecat. Ada 9 dari 11 orang yang di PHK. 2 orang tersebut adalah asli orang setempat. Perusahaan tidak mungkin akan macam-macam dengan warga setempat. Akhirnya, dari Februari hingga Maret dari 9 orang yang di PHK, tinggal berdua, saya dan sekertaris. Yang lain mengambil uang tawaran, nilainya ada yang Rp 60 juta sampai Rp 80 juta. Ternyata, pada saat kami masih proses di PHI, ternyata sekertaris juga mundur dan ikut mengambil uang, nilainya lumayan bisa melunasi rumah dan membeli mobil Honda Jazz. Waktu itu posisinya belum aksi, karena baru deklarasi dan masih aman.

Masalah apa yang pernah dialami Mbak Kokom saat ikut terlibat dalam serikat?

Setahun saya sempat tidak ditanya sama keluarga. Saya juga tidak jadi nikah gara-gara serikat. Pada bulan September 2012 itu, saya merencanakan pernikahan. Waktu itu pacar saya tinggal di Bandung dan seharusnya saya juga ikut tinggal di sana. Pacar saya memiliki usaha pembuatan teralis dan tangga. Pada bulan Juli hingga September, kondisi sedang parah-parahnya, karena sedang mempersiapkan aksi besar pada bulan Oktober 2012. Dia bilang untuk meninggalkan itu dan diharuskan untuk memilih. Akhirnya, ya sudahlah, kalo jodoh juga nanti akan bertemu. Saya tidak pernah menyesal dengan keputusan ini, habisnya mau apa. Dari sana keluarga saya marah dan tidak berbicara selama setahun. Waktu itu posisinya, saya dan pacar saya sudah tahun ke-4. Dia adalah mantan saya saat SMP kelas 2, kami dipertemukan lagi dan memutuskan untuk menikah. Eh, ternyata memang tidak jadi. Memang bukan jodoh, mau dipaksa juga tidak bisa.

Apakah relasi suami, istri, atau pacar seringkali mempengaruhi anggota, baik itu menghambat atau mendorong?

Sangat. Sekertaris saya mundur salah satunya karena diancam oleh istrinya, “mundur dari serikat atau dicerai.” Kalau sudah begini saya juga tidak bisa menyalahkan dia. Ada anggota saya juga 8 orang diceraikan karena terlibat dalam serikat. Ada yang karena suaminya marah karena istrinya ikut demo. Namun, ada juga yang berhasil melakukan propaganda kepada suaminya. Hingga akhirnya suaminya ikut menderikan serikat dan menjadi aktivis di GSBI. Ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Saya adalah yang gagal. Kebanyakan anggota jua sebenarnya masih ingin di serikat, hanya saja tidak diijinkan oleh suaminya.

Berapa orang yang aktif di SGBT saat ini?

Sekitar 284 orang dan masih terkontrol sampai sekarang. Setiap bulan di hari sabtu atau minggu, kami selalu mengadakan pertemuan. Dari 284 orang, 110 orang bekerja secara formal, sementara sisanya bekerja di pabrik-pabrik kecil. Ada yang kerjanya kontrak, harian lepas, bekerja di  home industry, buruh cuci, dan mengasuk anak. Semuanya pindah dari Panarub, karena kami tidak lagi leluasa untuk diterima di pabrik-pabrik. Kita ini sudah diblacklist dari pabrik-pabrik di Tangerang. Kalo saya, saat ini full time di GSBI. Saya menjabat sebagai ketua di SGBTS, sementara di GSBI di bidang perempuan dan buruh anak.

Bagaimana kondisi SGBT sekarang?

Saat ini anggota kami sebanyak 65 ribu, dimana 80%-nya adalah perempuan. Dari dulu, laki-lakinya memang tidak aktif di serikat. Dari jaman kami aksi. Jadi memang yang menghancurkan pabrik pada saat itu adalah emak-emak PDK.[1] Jangan salah, polisi itu takut dengan emak-emak PDK. Sampai humas Polri pada waktu itu kami aksi bilang kepada saya, apa yang diajarkan kepada emak-emak ini. Dia bilang bahwa anggotanya takut dengan anggota PDK, bahkan meminta untuk dipindah saja. Saat aksi, emak-emak ini punya jurus betot [2], saya pun tidak mengetahui mereka tahu dari mana senjata itu.

Saat aksi juga mereka membawa anak-anaknya untuk ikut. Sampai ada salah satu cerita, anak-anak ini sering melakukan permainan aksi bersama teman-temannya dengan menggunakan gayung sebagai toa, mereka melakukan itu sambil bernyanyi. Itu saking seringnya mereka ikut aksi, bahkan ada anak yang berpikir bahwa polisi itu jahat. Saat aksi, kami memang menyediakan 2 orang untuk mengasuh anak-anak ini dengan membawa buku cerita, buku gambar, dan makan snack. Habis mau bagaimana lagi, jika tidak diajak, siapa yang akan mengasuh mereka.

Apa teror yang pernah dialami Mbak Kokom?

Teror terjadi saat awal-awal aksi. Pernah pintu dan tembok kontrakan saya di tulisi kata-kata yang tidak enak. Terus pernah dikasih kucing mati dan diletakan di depan kamar. Ada juga yang meletakan beras kuning dengan gambar salib. Malam hari, kontrakan saya juga pernah dilempari batu. Itu terjadi pada tahun 2012. Kalo untuk WA dan SMS sudah tidak terhitung. Pernah juga waktu itu abang saya didatangi oleh ABRI. Dia sempat bilang ke abang saya untuk menghentikan kegiatan serikat saya. Tapi abang saya waktu itu bilang, adik saya sudah besar dan itu urusan dia. Sekarang sudah tidak ada teror, gencarnya pada tahun 2012 dan terakhir yang kasus penamparan Perwal itu. Gerbang perumahan saya sempat dijaga intel dan mendatangi pemilik rumah yang kami jadikan sekre untuk mengusir kami. Terkahir saya mendapatkan ancaman pada tahun 2017.

Apakah aksi 212 berpengaruh terhadap serikat?

Tidak. Di GSBI tidak ada yang ke arah sana. Walaupun ada beberapa basis yang datang dan mendukung 212. Tapi itu bersifat pibadi bukan secara organisasi. Secara organisasi kita tidak menginstruksikan untuk terlibat disana, tapi ada yang terlibat secara pribadi.

Apakah pemilu 2019 membawa pengaruh ke SGBTS?

SGBTS tidak. Kita tidak mendukung salah satu calon, karena garis GSBI jelas. Tapi memang ada basis yang memiliki fanatisme kepada salah satu calon. Tapi, selama dia tidak menggunakan nama organisasi, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Secara organisasi kami tidak mendukung salah satu calon ataupun 212 dan GSBI memang tidak terpengaruh dengan itu.

Apakah Mbak Kokom melihat bahwa seiring konsolidasi Islam Politik dalam beberapa tahun terkahir, para anggota serikat buruh ini semakin relijius?

Ada basis yang pendekatannya dengan agama. Perjuangannya dengan yasinan, mereka kalo mau negosiasi yasinan terlebih dahulu. Terus ada juga yang fanatik dengan Habib Riziek ataupun Bahar Bin Smith. Ada juga anggota yang bergabung dengan PKS, namun jumlahnya kecil dan tidak berpengaruh terhadap organisasi.

Apakah selama di serikat pernah melakukan lobi ke elit agama?

Waktu aksi PDK, kami pernah mendekati pemuka agama, kyai, di lingkungan pabrik. Karena memang sebelum aksi, kami mendekati preman, karang taruna, dan sesepuh di sekitar pabrik. Awalnya mereka mendukung, namun lama kelamaan jadi berbalik. Malah kami dibentrokan dengan warga. Dana perusahaan itu sangat kencang sekali untuk diberikan kepada warga. Selain menggunakan orang pabrik, mereka juga menggunakan RT, RW, debt collector, dan ustadz. Tugas mereka adalah membujuk teman-teman PDK untuk mengambil uang tali asih. Kalo mereka berhasil, maka akan dibayar sebesar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu.

Bagaimana dengan inisiatif tokoh agama untuk mendukung aksi-aksi? Apakah selama ini mereka memiliki peranan?

Perananya mengorganisir dan membujuk anggota untuk mengambil tali asih. Para tokoh agama ini banyak yang mendukung, tetapi yang rumahnya jauh dari pabrik.

Bagaimana dengan pilpres 2019? Kebanyakan anggota SGBTS mendukung paslon?

Memilih dua-duanya. Mayoritas golput, apalagi sekarang. Bagaimanapun juga, mereka masih mengabdi kepada asing. Kecuali, kalo salah satu calon berani bilang untuk keluar dari keanggotaan IMF dan WTO. Tapi, sekarang dua duanya tidak ada yang berani bilang itu. Selama mereka masih mengabdi dengan modal asing, tidak akan kami pilih. Selain itu juga kami melihat, tidak akan ada perbaikan untuk buruh dan rakyat secara keseluruhan.

Apa isu perempuan yang saat ini sedang mengemuka di GSBI?

Kepengurusan di DPP GSBI kebanyakan perempuan dibanding laki-laki. Pemimpin aksi juga kebanyakan perempuan. Perosalan yang dihadapi di level anggota. Misalnya, pada saat PDK aksi, banyak masyarakat yang mencibir bahwa kami tidak ada kerjaan. Mereka bilang untuk apa demo, seharusnya pagi-pagi masak saja di dapur. Masyarakat masih memandang seperti itu, termasuk suaminya. Tapi memang, saya menyadari bahwa isu perempuan ini tidak terlalu laku di serikat. Karena kurangnya pengurus perempuan. Isu perempuan dianggap tidak bergengsi. Serikat masih concern pada isu-isu besar, seperti pengupahan dan PHK. Kecuali di hari perempuan.

Atau karena isu kesetaran gaji di pabrik BTS itu tidak ada, tidak ada kerena lebih banyak perempuan dibanding laki-lakinya?

Sekarang ini, diskriminasi upah antara laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Tapi mungkin yang menjadi persoalan adalah masih abainya hak-hak buruh perempuan seperti, hak hamil, cuti menstruasi. Sekalipun mereka mendapatkan cuti menstruasi, harus melalui pemeriksaan dan pengecekan terlebih dahulu. Sebenarnya hal itu ada di PKB (Perjanjian Kerja Bersama), namun kami abai untuk mensosialisasikan itu ke anggota. Sehingga, banyak anggota yang tidak mengambil jatah tersebut. Selain itu, banyak faktor yang membuat mereka tidak megambil hak tersebut pertama risih, walaupun yang memeriksa adalah perempuan. Caranya adalah dengan dikasih lihat atau dengan menggunakan kapas. Kedua, jangankan untuk ambil cuti haid selama 2 hari, untuk cuti anak sakit saja sulit untuk didapat. Ketiga, mereka tidak mengambil cuti tersebut karena haidnya tidak sakit.

Bagaimana dengan isu-isu kecil di pabrik? Apakah diangkat juga di serikat?

PDK, misalnya, memiliki 75 kamar mandi, dengan total buruh sebanyak 2560. Walaupun kamar mandi banyak, tapi yang layak pakai hanya beberapa. Belum lagi masalah airnya. Ketika jam istirahat, air yang dipakai bisa dikeluarkan sedikit. Makanya, mereka sering kesulitan ke kamar mandi. Sampai sekarang sepertinya tidak ada pabrik yang sesuai dengan aturan. Itu kan isu kecil yang tidak diadvokasi oleh serikat, padahal itu isu penting. Ini otokritik sebenarnya, kebanyakan pemimpin serikat sudah nyaman di sekretariat. Sehingga membuat mereka jarang ke dalam produksi. Itu isu-isu kecil yang jarang sekali terlihat.

Jadi problem itu tidak naik salah satunya karena tidak diangkat oleh serikat ya?

Iya. Pertama, terlalu nyaman. Kedua, di pikirannya masih terkait dengan isu-isu besar seperti PHK, upah, dan PKB. Jarang yang berpikir tentang toilet untuk ibu hamil atau ruang menyusui. Di pabrik besar memang disediakan, tapi pertanyaanya digunakan atau tidak. Apakah ketersedian ruang tersebut hanya sekedar melengkapi persyaratan saja? Ruang tersebut mungkin saja digunakan untuk para pekerja di office, kalo di produksi mana bisa menggunakan itu. Apalagi ditambah dengan sistem produksi yang ketat. Di Panarub, dari ruang produksi ke sana membutuhkan waktu 20 menit. Rata-rata ruang tersebut diletakan di depan, sementara ruang produksi di belakang. Untuk mencapai kesana dibutuhkan waktu 15-20 menit. Akhirnya, ruang tersebut tidak efektif, karena hanya tuntutan brand saja.

Bagaimana dengan tempat ibadah?

Kalau pabriknya besar disediakan masjid kecil. Tapi kebanyakan tempatnya jauh, sementara waktu istiahat hanya 1 jam. 1 jam tidak cukup, belum antri di kamar mandinya. Biasanya mereka solat di emperan yang juga dijadikan tempat makan. Pabrik menyediakan waktu untuk solat dzuhur, namun untuk ashar bisanya tidak. Dulu di PDK tidak boleh. Solatnya nanti saja setelah pulang kerja, kalau pulangnya pukul 4 keburu, tapi kan seringnya kami overtime. Makanya, banyak yang lewat solat asharnya. Ada kasus yang setelah solat ashar diomelin, karena tidak digantikan oleh orang lain.

Apakah kawankawan serikat mulai mengatisipasi naiknya populisme politik? Sepertinya elit agama saling berbagi tempat 1 dan 2, apakah kelompok agama ini akan memainkan peran yang cukup signikfikan?

Tidak ada.

Apa yang saat ini sedang dilakukan GSBI?

Saat ini kawan-kawan sedang melakukan perjuangan melalui kampanye dan propaganda di media sosial. Saya mengajarkan emak-emak PDK untuk menggunakan Twitter, Instagram, dan Facebook. Ternyata pengaruh Twitter sangat kencang sekali. Kalau tidak salah, nilai saham Adidas sempat turun karena diserang terus. Selain membuat status, kami juga membuat komentar-komentar sampah di setiap postingan Adidas. Kami melakukan kampanye dari jam 16.00 sampai jam 19.00. Jam tersebut dipilih, karena pada jam tersebut banyak orang menggunakan media sosial.

Berarti di SBGTS setiap basis itu pendekatannya melalui pengajian, Mbak?

Ada beberapa yang seperti itu. Di SBGTS tidak ada pengajian, itu hanya inisiatif mereka saja. Menuju pilpres kecenderungannya seperti itu, mereka jadi lebih rajin. Untuk aksi SBGTS ke Jakarta mereka tidak mau, tapi aksi 212 dari Sukabumi ada yang datang.

Kalau secara pribadi, Mbak Kokom pernah kepikiran gak sih, karena mereka kan antusias dalam beragama, membuat wadah di serikat yang ada nuansa agamanya, tapi muatannya lebih politis, dalam artian memihak buruh?

Kalau (menurut) saya sih harus ada. Mungkin ini adalah salah juga taktiknya. Kami bersama salah satu LSM perburuhan pernah mengadakan pengajian untuk membedah sisi perempuan. Karena anggota GSBI, kalau mau keluar rumah harus dengan ijin suami dulu, kalo tidak dengan ijin suami akan masuk neraka. Contoh lain, saat suaminya pulang pukul 12, perempuan harus menyediakan makan. Jika tidak begitu dibilang tidak melayani suami. Makanya, kami buatkan pengajian itu untuk membuka mata mereka bahwa agama Islam tidak seperti itu.

Bagaimana respon kawan-kawan waktu itu?

Bagus. Mereka banyak yang bertanya kenapa berbeda dengan ustadz-ustadz pada umumnya. Namun, sayangnya kita tidak ada tenaga untuk mengurusi itu. Menurut saya, yang terpenting dari pengajian untuk buruh adalah pemakaian bahasa. Kita harus menggunakan bahasa buruh. Buruh bukan mahasiswa, gak bias resmi dan kaku. Kalau kita mengadakan pendidikan, tidak bisa kita memaksakan waktu dan program ke mereka. Agar mereka mau datang lagi. Kalau sistemnya ceramah dengan bahasa-bahasa istilah yang berat seperti, imperialisme, kapitalisme, besok-besok mereka tidak mau datang lagi.

Apa latar belakang pendidikan mereka? Apakah pendidikan itu berpengaruh terhadap hal-hal yang dianggap baru?

Rata-rata mereka lulusan SD, SMP, SMA. Sekarang, setelah saya banyak bergaul dengan mereka, pendidikan itu tidak berpengaruh. Ini adalah masalah kesadaran. Kalau pendidikan rendah, tapi kesadarannya tinggi, mereka akan cepat belajar dan bahkan banyak ingin tahu.

LIPS kalau memberikan bacaan, dibaca gak?

Enggak, saya masih mikirin bagaimana caranya mereka mau baca. Pimpinannya juga jarang baca, minat bacanya rendah.

Jadi, media sosial seperti Instagram penting sekali, ya?

Ya. Makanya saya mengajarkan kawan-kawan kampanye media sosial. Saya suka bagikan artikel, misalnya dari majalah Sedane. Akhirnya, sedikit demi sedikit minat bacanya tumbuh. Tapi jangan panjang-panjang, nanti lieur. Yang paling efektif sih meme, pamflet,  dan infografis. Mereka sudah ada kemajuan dibanding dulu sebelum bergabung dengan medis sosial. Kemajuan lain adalah sudah mulai terbukanya solidaritas di antara organisasi buruh. Sulit membangun solidaritas itu sebenarnya. Sekarang mereka kalau lihat Facebook, ada masalah yang terkait dengan serikat buruh lain, mereka mau membagikan. Itu hal positif semenjak ada media sosial. Kebiasaan elit-elit itu, fanatik dengan warna bendera. Ditambah dengan jejak rekam yang tidak bagus dulunya. Saya, Akbar, dan kawan-kawan di periode 2013 sepakat bahwa ini tidak benar. Ketika ada kasus, misalnya, kita kampanyekan bersama. Saat ini yang bisa kita bantu adalah melalui media sosial, karena PDK memiliki pasukan media sosial. Pernah di Sukabumi, kita bom WA dan SMS sampai dia akhirnya turun untuk menemui buruh.

Itu kemajuan besar, toh?

Iya, karena kita sudah tidak memandang bendera serikat. Sayang sekali jika kita punya handphone smart, tapi tidak dimanfaatkan. Itu bisa-bisa jadi senjata dan ini terbukti sampai Adidas sahamnya turun. Di Twitter, tagarnya #PDKPayOurRights, dan #JusticeForPDKWomenWorkers. Jika dikelola dengan baik akan berpengaruh sangat luar biasa. Cuma sayang buruh itu jarang yang tertarik menggunakan Twitter. Saya maksa anggotaku untuk unduh dan menggunakan Twitter. Tapi jujur, saya pusing. Mending aksi dari pada harus mengajarkan mereka menggunakan Twitter.

Kalau tantangan gerakan buruh secara umum menurut Mbak Kokom apa?

Solidaritas. Masalah klasik yang belum terpecahkan sampai sekarang. Saya melihat, buruh Freeport sudah 8 bulan di sini. Ada tidak solidaritas dari kawan-kawan buruh lain? Ada, tapi sedikit. Ada Dadak, FSPMI, 1300 buruh perempuan sudah berbulan-bulan aksi di Purwakarta. Ada PDK yang sudah 7 tahun, kan itu yang penting bendera. Masih sangat fanatik. Makanya, akhirnya kita ngobrol-ngobrol apa masalah sebenarnya. Ternyata dulu, GSBI pecahan dari KASBI, KASBI pecah jadi SGBN dan KSN, kan itu jadi ada ketidaksukaan, ada sakit hati, ada story yang gak enak di elitnya. Kan berpengaruh. Ayo kita gebrak itulah!

Kalau untuk SGBT sendiri, tantangannya apa sekarang?

Kalau saya tantangan terbesarnya PP 78/2015. Saya merasa semenjak ada itu, sulit banget. Buruh sekarang jadi doyan lembur, kalau gak doyan lembur, mereka setelah kerja nge-grab , mereka konsen nyari tambahan, dan saya paham itu. Ya karena upahnya kecil. PP 78/2015 berhasil. Biasanya bulan Juni, Juli itu, kita sudah mulai ada pendiskusian, ada gerakan, sekarang gak ada.

MAYDAY juga makin sepi ya, Mbak?

Iya. Makanya PP 78/2015 berhasil banget itu mukul gerakan buruh.  Biasa kita aksi jadi gak ada, biasa ada diskusi jadi gak ada, minimal-minimalnya bikin tandingan, survey pasar sendiri, jadi kita tahu kebutuhan buruh itu berapa, ketika pemerintah atau LKS (Lembaga Kerja Sama) ngomong apa, kita bisa bilang, “Oh, kita punya data sendiri. Karena kita survey sendiri.” Nah sekarang gak lagi. Habis buat apa, orang sudah ditentukan kok sama PP 78/2015, jadi anteng-anteng aja.  Ampuh bener!

Tapi konsolidasi antar serikat itu untuk merobohkan PP 78/2015 ini ada gak?

Sudah gak ada. Sudah mikirin isu sendiri-sendiri. Sulit menyatukan semua.  Konsolidasi udah gak ada, dulu minimal setahun sekalilah kita konsolidasi untuk upah dan sektoral, sekarang udah enggak. Dari mulai 3 tahun ini, 2016-2018.

Kalau soal partai politik alternatif muncul gak di GSBI?

GSBI belum muncul sampai sekarang, karena kita kalau yang pertama, belum melihat ada keseriusan.

Menurut Mbak Kokom, di kalangan buruh sendiri ada gak kemungkinan ke arah sana?

Enggak. Kita lihat saat sekarang, mau bangun, tapi jalan di tempat. Gak serius sih sebenarnya. Entah karena konsentrasi terpecah karena persoalan masing-masing. Baru pikiranku aja, walaupun baru dibangun, gak ada orang yang konsen ngurusin itu. Karena dari yang sekarang ada, semua masih disibukkan sama isu masing-masing.

Sulit tidak?

Sulit sih. Walaupun katanya sebentar lagi akan ada deklarasi. Bukan yang sebelumnya, yang baru. Tapi masih dalam tahap awal, lagi ngumpulin orang.

Kalau konsolidasi kelas pekerja dengan sektor lain?

Ada, kan, GEBRAK. Tapi GSBI gak masuk GEBRAK. Dulu GEDOR. Terus pisah GEBRAK. Sudah berapa kali pecah.

Kalau misalnya, ada partai Islam, tapi mereka progresif, atau partai yang mengusung keberagamaan, tapi juga menampung aspirasi kawan-kawan buruh, itu gimana?

Itu malah akan menarik, akan lebih bisa masuk. Kan sekarang permasalahannya adalah partai yang bernuansa agama, itu mereka tidak konsen sama isu rakyat.

Itu makanya yang membut GSBI dan yang lain juga, posisinya tidak tertarik pada isu agama, karena tidak ada aspirasi kawan buruh di situ?

Iya. Coba deh, kayak pemimpinnya 212 Itu ngomongin kenaikan BBM. Gak usah buruh deh, kan orang pasti orang akan respek. Kan di isu rakyat, ada banyak, ada isu perampasan tanah, tapi mereka gak konsen ke sana. Mereka hanya konsen isu penistaan tuhan. Tuhan gak minta di bela kok, kita yang minta tolong teriak-teriak, malah gak dibela. Coba masuk kesana deh, kan isu agama itu lebih mudah kan ya?

Kenapa lebih mudah?

Ya kultur, karena kalau masuk ke sana, mungkin akan lebih tertarik.

Malah lebih mungkin dari pada partai pekerja?

Iya. FPI saja misalnya, ikut turun, pas ada yang di-PHK, kawan-kawan pasti akan simpati.

Tapi ngeri gak kalau FPI turun?

Yaiyalah (sambil tertawa). Bahaya sih. Jangan. Coba sekarang buruh itu mereka mau loh, ngeluarin uang sendiri untuk datang ke Jakarta, tapi bersolidaritas sama temennya itu gak mau. Atau coba, aksi ke Jakarta, panas, jauh buat mereka gak persoalan.

Mbak Kokom melihatnya sebagai problem? Sekaligus peluang juga?

Iya peluang, kalau setidaknya mereka bicara soal buruh.  Saya pernah pas pendidikan, saya tanya “Pulang kerja capek? Tapi kenapa datang kesana? Padahal kan kalian datang kesana juga bukan karena maun gaji, bisa jadi karena ada gamis baru , nah kok mau?”  Ya karena sudah jadi kebiasaan.  Coba kalian  datang ke serikat, pasti bilangnya capek sudah kerja, coba ubah deh pemikirannya, kan kita berjuang di sini. Gak ada bedanya sama kita ngaji. Mereka mengiyakan juga sih, cuma ya baru sebatas ngobrol iseng.  Kayaknya memang perlu, partai Islam. Jangan salah loh, di pabrik-pabrik itu, kalau kurban, bukan pabrik yang bayar, mereka yang bayar. Pabrik bawa Abdul Somad, itu bukan pabrik yang bayar, itu buruh.

Pernah Abdul Somad ke Panarub?

Bukan Abdul Somad, Arifin Ilham.

Itu ngomongin nasib buruh gak?

Ya enggaklah. Rugi mereka. Bayar berapa puluh juta.

Terus dia gak ngomong nasib buruh sama sekali?

Ya enggaklah, dia cuma ngomong soal lain.

Temen-temen buruh gak kecewa?

Enggaklah, mereka malah seneng. Kan ada Arifin Ilham. “Oh, bisa minta selfie.”

Selalu rame yang datang?

Iya, bawa keluarganya segala. Nah ini kan bentar lagi isra mi’raj, biasanya mereka akan merayakan. Dulu aku pikir, kurban itu kan pabrik, eh ternyata mereka yang nanggung. Mereka maintain 20 ribu per orang. Coba minta duit untuk solidaritas, aduh susahnya minta ampun. Paling cuma dua ribu.

Mbak sekarang di serikat ngurusin perempuan dan anakya? Highlightnya apa yang dibawa?

Kalau saya sekarang fokusnya bagaimana caranya membuat mereka tertarik berserikat. Itu aja dulu. Jangan yang jauh-jauh dulu.

Apa karena makin sulit sekarang buruh itu berserikat?

Iya. Sistem kontrak, misalnya, itu kan menyulitkan mereka. Ada lagi problem waktu, upah. Nah upah juga tidak terlalu bisa diperjuangkan lagi, kan udah ketahuan, “Yah naiknya paling antara 6 sampai 11 %”, kan sudah ketebak, kalau dulu mereka kan ada antusias. Bahkan serikat bisa cari nama loh dengan menekan upah, sekarang enggak. Jadi seolah-olah PP 78/2015 itu serikat gak ada fungsinya. Serikat bagi mereka cuma kayak pemadam kebakaran, kalau saya di-PHK, baru saya datang ke serikat.

Kalau menurut Mbak, fungsi serikat itu sendiri seperti apa?

Memayungi, memberikan pendidikan, advokasi, memperjuangkan kesejarhteraan buruh. Banyak sekali fungsi serikat sebenarnya, tapi kan persoalannya anggota sekarang lebih ke ‘Ya saya udah bayar iurannya selesai’, kayaknya problem itu hari ini dihadapi oleh seluruh serikat. Beberapa kali saya datang ke serikat non GSBI, diskusi soal perempuan, yang dateng 3 atau 5. Saya ngobrol sama kawan-kawan FSBKU Tangerang. “Ya beginilah Mbak, nasibnya.” Jadi sekarang semua serikat menghadapi persoalan yang sama. Makin berat.


Catatan:

[1] Emak-emak PDK (Panarub Dwi Karya) adalah sebutan popular bagi anggota serikat buruh SGBTS untuk kawan-kawan satu serikat mereka yang memang mayoritas adalah perempuan.

[2] Betot, di sini adalah menyerang polisi yang mayoritas lelaki dengan cara (maaf) meremas biji pelir.

One thought on “Kokom Komalawati: Dari Serikat Buruh, Isu Perempuan, Media Islam, sampai Wacana Islam Progresif”

  1. Hasyim says:

    Bagus…kalau bisa sebanyak mungkin para pahlawan pejuang yg konsisten di pergerakan baik buruh, petani dll diwawancarai supaya bisa menjadi tokoh2 baru dan dikenal. Trims ceritanya sangat menginspirasi dan lebih hebat dari avengers

Tinggalkan Balasan