Browse By

Seri Kuliah ‘Kronik Anti-Kapitalis’ bersama David Harvey: Nilai dari Semua Hal (Bagian 1, Episode 2)

Catatan editor:

Mulai bulan Maret 2019 ini, Islam Bergerak bekerja sama dengan Democracy at Work, organisasi yang secara resmi merekam dan mempublikasikan serial kuliah David Harvey terbaru dalam bentuk podcast dan video di davidharvey.org. Untuk pertama kalinya, audiens di tanah air dapat membaca transkrip dalam dwibahasa (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) dan menonton video dengan subtitle Bahasa Indonesia untuk seri kuliah ini melalui Islam Bergerak (silakan klik di menu setting dalam video, lalu klik subtitles dan pilih Bahasa Indonesia). Tujuan dari kerja sama ini adalah sebagai bagian dari upaya menyebarluaskan kajian dalam membedah kapitalisme secara konseptual dan riil dengan penjelasan yang sederhana disertai dengan diskusi alternatifnya oleh salah satu intelektual progresif yang paling mumpuni saat ini.

David Harvey (lahir 1935) adalah profesor antropologi dan geografi di City University of New York (CUNY). Ia mendapat gelar PhD dari Universitas Cambridge di Inggris dan selama lebih dari 40 tahun mengajar Das Kapital. Ia merupakan salah satu akademisi yang aktif menulis dan mendorong berbagai aktivisme melawan kapitalisme melalui studinya dalam isu geografi, perkotaan, watak kapitalisme, dan neoliberalisme. Diantara karya-karyanya yang paling terkenal diantaranya adalah Social Justice and the City, The Limits to Capital, A Brief History of Neoliberalism, The New Imperialism, dan  A Companion to Marx’s Capital.

Ke depan, kami juga berencana akan mempublikasikan rangkaian video khutbah Islam progresif dari dua redaktur Islam Bergerak, Muhammad al-Fayyadl dan Roy Murtadho.

 

Pengantar editor:

Materi kuliah kali ini akan membantu kita untuk memahami salah satu problem praktis terbesar masyarakat masa kini, termasuk di kalangan generasi milenial, yaitu harga rumah yang selangit dan nyaris tak terjangkau. Berapa banyak dari kita yang hidup dengan masih menumpang orangtua, mengontrak rumah tahunan atau bulanan, atau bekerja setengah mati demi membayar cicilan rumah lewat bank untuk belasan tahun ke depan? Kecuali dapat warisan atau berasal dari kalangan berada, bagi mayoritas pasangan yang ingin atau baru menikah, misalnya, memiliki hunian sendiri semakin sulit. Ini membuat kita berpikir, “apa benar rumah semahal itu?”

Problem riil lainnya yang dihadapi rakyat juga soal harga obat-obatan yang di dunia saat ini dimonopoli oleh segelintir industri farmasi. Tak perlu disinggung disini soal kualitas obat generik atau beredar luasnya antibiotik di Indonesia seperti gorengan, atau pertanyaan soal apakah obat-obatan murah itu benar-benar mengobati sakit kita, ketimbang misalnya istirahat cukup dan perbaikan kualitas makanan dalam skala massal. Pada kenyataannya, layanan rumah sakit dan obat-obatan tetap bisnis yang menyedot banyak kocek dan nyawa rakyat karena harga dan akses yang sulit dijangkau. Lantas kita turut berpikir, “apa benar harga untuk nyawa orang harus dipasang semahal itu oleh perusahaan farmasi dan industri kesehatan?”

Nilai dan harga. Inilah bahasan utama David Harvey kali ini. Dengan menggunakan dua contoh – rumah dan obat – ia mengajak kita mengupas problem riil umat dengan kritis dan jernih. Selamat membaca!

Berikut adalah transkrip kuliahnya:

 

***

Ini adalah David Harvey dan Anda sedang mendengarkan Kronik Anti-Kapitalis, seri podcast yang melihat kapitalisme melalui lensa Marxisme. Podcast ini diproduksi oleh Democracy at Work.

Sangat mudah ketika kita mulai berpikir tentang situasi ekonomi untuk menjadi sangat pesimistis dan merasa kewalahan dengan gagasan akan tiadanya alternatif. Ungkapan Margaret Thatcher [mantan Perdana Menteri Inggris tahun 1979-1990] yang terkenal, TINA (“there is no alternative”) masih bercokol di dalam ingatan kita sampai saat ini. Saya ingin mulai membuka jalan ke arah diskusi soal alternatif, dan tidak oleh saya sendiri yang mengusulkan sesuatu yang radikal sebagai titik berangkat, melainkan dengan mengambil beberapa pertanyaan yang saat ini diajukan di dalam ranah teori ekonomi dan di masyarakat secara umum.

Titik mulainya disini: mari kita berbicara sedikit tentang watak dari ‘nilai’ dan tentang apa ‘nilai’ itu, serta bagaimana kita memahami istilah seperti ‘nilai’. Di masa kini muncul kembali minat terhadap pertanyaan semacam itu dan ada satu buku oleh Mariana Mazzucato berjudul The Value of Everything (‘Nilai dari Semua’). Ini adalah upaya untuk memperkenalkan pertanyaan ‘bagaimana kita menilai sesuatu?’ ke dalam ranah teori ekonomi. Pertanyaan tentang nilai dalam teori ekonomi sebenarnya sudah sangat lama diajukan. Diantara para ekonom klasik seperti Adam Smith dan Ricardo dan lainnya ini adalah topik yang sangat panas. Pada waktu itu ada kecenderungan umum ke arah apa yang disebut sebagai ‘teori nilai kerja’ yang mengatakan bahwa nilai komoditas ditentukan oleh kerja yang dilekatkan padanya, oleh karena itu ada satu teori nilai yang mendasari penentuan harga. Jadi gagasan ini cukup kuat pada masa periode klasik.

Namun, ini menimbulkan dilema moral tertentu karena menjadi jelas bahwa jika kerja adalah asal muasal nilai, maka ada masalah karena para pekerja yang menciptakan nilai hanya menerima sangat sedikit. Ini tampak salah secara moral – jika bukan agak absurd – bahwa mereka yang mencipta nilai justru mendapat sangat sedikit, dan mereka yang tidak mencipta nilai mengambil semuanya. Ini mengarah pada suatu kepentingan tertentu, dengan mengatakan: “Harusnya ada satu mekanisme yang dirancang agar para pekerja bisa menerima bagian layak dari nilai yang mereka ciptakan sendiri.”

Tentu saja ini adalah bagian dari semacam filsafat yang menjadi fondasi beberapa upaya utopis di era awal abad ke-19. Robert Owen misalnya, yang mengambil pandangan bahwa “ya, para pekerja layak meraih kembali nilai yang mereka produksi sendiri” dan upaya Robert Owen untuk merancang bentuk organisasi yang memampukannya untuk terjadi, dan itu signifikan. Para ekonom lain di masa itu – sosialis Ricardian misalnya – dan orang seperti John Stuart Mill, mengambil pandangan bahwa “mungkin kalian tidak bisa mengelola ulang produksi, tapi mungkin kalian bisa membentuk mekanisme redistribusi dimana beberapa nilai yang diproduksi, dan yang disirkulasikan di masyarakat, bisa diarahkan ulang – mungkin dengan intervensi negara dan semacamnya – sehingga teori nilai pada waktu itu terdiri dari satu set utuh dari dilema teknis, dan di saat yang sama juga satu set utuh dilema moral.

Oleh karena itu, timbullah debat serius tentang teori nilai kerja dan signifikansi dari teori nilai kerja. Perdebatan ini tampak mulai hilang sejak pertengahan abad ke-19, oleh kecenderungan umum untuk menghindari komitmen pada teori nilai kerja, dan mengatakan bahwa nilai sebenarnya diciptakan – atau nilai diukur – melalui mekanisme dan cara yang sangat berbeda. Nilai dianggap ditetukan oleh pilihan orang, oleh hasrat, keinginan dan kebutuhan orang, sehingga nilai ditentukan di pasar.

Jadi ada semacam pengabaian atas gagasan bahwa nilai menjadi dasar penentuan harga, menuju ke gagasan bahwa sebenarnya harga yang menentukan nilai; sehingga jika sesuatu memiliki harga tinggi maka dianggap jelas bernilai tinggi. Debat soal siapa-harus-mendapat-apa lantas menghilang karena pasar yang akan mengurusi masalah itu.

Sekarang, itu menimbulkan pertanyaan hari ini, dan Mariana Mazzucato di dalam bukunya mengatakan begini, saya bacakan kepada Anda: “Jika para banker, agen perumahan, dan pembuat buku mengklaim telah menciptakan nilai ketimbang mengekstraknya, ekonom arus utama tidak menawarkan dasar untuk menantang mereka, meski publik mungkin akan menganggap klaim mereka dengan skeptis. Siapa yang bisa membantah Llyod Blankfein ketika dia mendeklarasikan bahwa para pegawai Goldman Sachs adalah salah satu dari yang paling produktif di dunia? Atau ketika perusahaan farmasi berargumen bahwa harga yang selangit dari sebagian obat-obatan mereka adalah karena nilai yang mereka produksi? Pejabat pemerintah bisa diyakinkan (atau ‘ditawan’) dengan cerita tentang penciptaan kekayaan, sebagaimana bukti baru-baru ini oleh persetujuan Amerika Serikat untuk obat Leukimia seharga 500 juta USD, persis dengan menggunakan model ‘harga berbasis-nilai’ yang digemakan oleh industri farmasi – bahkan ketika para pembayar pajak berkontribusi sebesar 200 juta USD untuk penemuannya.”

Analisis atas nilai, menurut Mazzucato, memiliki berbagai implikasi. Adam Smith melihat para bankir seolah mereka tidak produktif. Secara esensial dia mengatakan mereka adalah semacam parasite yang hidup dari nilai yang dicipta oranglain. Maksud saya – jika Anda punya teori nilai kerja – sulit untuk melihat bagaimana para bankir bisa mencipta nilai. Sebenarnya, Mazzucato memberi tahu hal yang tidak saya ketahui sebelumnya: sebelum tahun 1970an, layanan finansial tidak termasuk di dalam perhitungan Produk Domestik Bruto/Gross Domestic Product (GDP). Dengan kata lain, mereka dianggap tidak menambah apapun ke total nilai produk domestik bruto. Hanya setelah 1970 baru layanan finansial dimasukkan dan sekarang tentu dianggap sebagai produsen nilai yang besar.

Jadi, apakah para praktisi finansial memproduksi nilai? Ini mulai menjadi pertanyaan yang sangat penting. Sekarang di Inggris, misalnya, ini menjadi pertanyaan besar karena sejak 1960an Inggris telah melekatkan ekonominya, dalam banyak hal, ke aktivitas Kota London. Kota London tidak memproduksi nilai dalam artian yang klasik. Pertumbuhan dari layanan finansial di London menopang posisi ekonomi Inggris sepenuhnya. Amat jelas bahwa sejak 1960an hingga kini, kebijakan publik di Inggris juga ditujukan untuk melindungi layanan finansial sebagai pusat dan inti produktif ekonomi Inggris dari bentuk aktivitas lainnya.

Misalnya, sejauh tahun 1960an ketika dihadapi oleh masalah nilai atas pound sterling, satu-satunya yang bisa dilakukan pemerintah adalah menaikkan suku bunga. Jika Anda menaikkan suku bunga, apa yang dilakukannya adalah meningkatkan nilai dari pound sterling dan melindungi pound sterling terhadap spekulasi di pasar internasional. Namun, dalam melindungi pound sterling dengan menaikkan suku bunga, Anda meletakkan beban pada industri Inggris. Dengan kata lain, industri Inggris menderita dua kali lipat. Pertama karena pembayaran hutangnya menjadi lebih tinggi, kedua juga karena pound yang kuat membuat ekspor semakin sulit untuk tersedia, karena nilai pound tinggi sehingga nilai dari barang-barang Inggris tidak mampu bersaing di pasar internasional.

Kebijakan publik terhadap suku bunga diarahkan untuk melindungi Kota London dan bukan untuk melindungi industri Inggris, sehingga industri inggris cenderung mengalami fase dan gelombang penurunan sejak 1960an dan seterusnya karena Kota London diutamakan. Sekarang kita menghadapi situasi dimana Inggris memutuskan melalui referendum untuk keluar dari Uni Eropa. Ini lantas memunculkan pertanyaan: jika Inggris keluar dari Uni Eropa, apa yang akan terjadi dengan Kota London? Apakah Kota London akan dilindungi, atau semua layanan finansial akan pindah ke Frankfurt, atau Paris, atau Amsterdam, atau tempat lain? Bahkan tampaknya sudah mulai ada gejala layanan finansial ini akan hilang dari Inggris. Jika ini yang terjadi, apa yang pernah menjadi inti dari ekonomi Inggris akan kena pukulan cukup keras dari Brexit, dan di saat yang sama ekonomi Inggris tidak berjalan baik terkait dengan perlindungan basis manufakturnya.

Jadi apa yang akan terjadi pada ekonomi Inggris di era Brexit jika sektornya yang dianggap paling produktif menjadi hilang? Ini tergantung pada asumsi bahwa Kota London melakukan hal-hal yang produktif dan karenanya yang dilakukannya memiliki nilai produktif, setidaknya menurut Llyod Blankfein. Namun, apa yang terjadi jika Anda semacam mengatakan, “sebenarnya layanan finansial itu parasit. Mereka parasit dari ekonomi riil. Bukankah kita seharusnya merekonstruksi ekonomi riil di Inggris?”

Anda bisa lihat kemana arah perdebatan ini akan mengarah, dan bagaimana ini akan menjadi sulit. Ini adalah pertanyaan besar: apakah layanan finansial merupakan nilai produktif? Dan jika mereka produktif secara nilai, bagaimana mereka bisa dilihat sebagai produktif, dan dengan cara apakah kebijakan publik kita bisa menyuburkan layanan finansial ketika ia justru mengabaikan layanan publik yang relatif terhadap apa yang kita sebut dengan ekonomi riil? Dengan kata lain, apa hubungan antara Wall Street dan Main Street antara Kota London dan jalanan di sepanjang Manchaster dan Liverpool?

Ini adalah dilema yang hadir saat ini. Di tengah situasi ini, kita sedang berdebat tentang bagaimana memberi nilai bagi semua hal secara umum. Menurut istilah ekonomi, misalnya, mari kita melihat merger dan akuisisi. Perusahaan A memutuskan untuk mengambil alih Perusahaan B. Bagaimana menilai Perusahaan B? maka digunakanlah semua asetnya, kewajiban hukumnya, dan perhitungan teknis semacamnya. Namun, ujung-ujungnya kita juga akan menambahkan apa yang disebut dengan ‘niat baik’ (good will). Lantas, apa sebenarnya niat baik itu? Niat baik artinya adalah reputasi spesifik yang memberi makna pada merk dari perusahaan yang hendak diambil alih.

Mari kita asumsikan Anda hendak mengakuisisi merk seperti Nike, misalnya. Merk Nike punya signifikansi yang amat besar. Mari kita asumsikan Anda hendak mengakuisisi nama seperti Yves Saint Laurent yang juga punya signifikansi karena memiliki bobot tertentu. Jadi ada satu titik dimana nilai dari suatu perusahaan merupakan aset yang nyata melalui aset materialnya, tapi sekaligus juga hal yang imaterial. Dan imaterial ini sulit untuk dinilai.

Berapa nilai itu diukur di pasar? Berapa nilainya bagi Anda untuk mengambil alih suatu perusahaan dengan nama merk seperti Nike atau Yves Saint Laurent? Dan ini menjadi amat sulit. Namun, hal ini sebenarnya tidak menghalangi siapapun, karena ada para akuntan – para ‘akuntan’ tersohor yang harusnya ahli dalam hal semacam ini – dan mereka lah yang memberi angka. Mereka akan bilang ‘ini berharga X juta dollar atau X’, begitu, tapi tidak ada seorangpun tahu persis dari mana angka itu muncul karena mereka akuntan yang punya reputasi dan semua orang. Lantas merger dilakukan, dan niat baik dibeli untuk berapapun jumlahnya, tapi apa yang terjadi kemudian ketika Anda mengetahui bahwa sebenarnya disana tidak ada niat ‘sebaik’ yang Anda pikir sebelumnya.

Kita telah menyaksikan beberapa merger dan akuisisi yang berujung sangat buruk sepanjang beberapa tahun terakhir karena niat baik tidak benar-benar ada disana, dan niat baik itu ternyata tidak bernilai sebesar yang dipikir orang. Di titik tertentu, kita akan mengatakan, “kau tahu, niat baik itu sesuatu yang seharusnya ditentukan di pasar.” Belakangan ini saya sering mendengar [ungkapan itu] ketika kilas balik dan mengamati nilai rumah.

Nilai rumah tidak terlalu menarik. Anda bisa mengamatinya dan berkata, “berapa banyak yang dibutuhkan untuk membangun rumah ini?” dan Anda bisa menambahkan hal-hal yang membuat harga naik, lantas menambah keuntungan dari situ dan semacamnya, dan berkata, “rumah ini seharga 20,000 dolar” atau sebutlah “200,000 dolar”. Namun, ternyata kemudian rumah itu berada di lokasi utama dan nilai tanahnya cukup tinggi, jadi Anda bilang, “sebenarnya nilainya 300,000 dolar karena harga tanahnya 100,000 dolar” dan punya nama seperti ‘Chelsea’ atau semacam ‘Upper West Side’ atau ‘Upper East Side’ atau punya nomor telepon yang dianggap nomor bergengsi, jadi Anda tambah lagi 100,000 USD ke dalam harga rumah. Jadi hal yang sebenarnya berbiaya, katakanlah 200,000 USD untuk membangun, berakhir dengan harga 500,000 USD karena Anda memiliki semua hal-hal ekstra yang ditambahkan terkait reputasinya. Sebenarnya pasar perumahan bekerja dengan cara seperti ini.

Apa yang kita saksikan di San Francisco, New York, dan tempat-tempat lain, adalah banyak nilai perumahan diberikan berdasarkan nilai reputasinya. Dengan nilai dari nama merknya. Ada pertanyaan yang menarik, terjadi di tahun 2007-2008 ketika pasar perumahan membeku. Di titik itu, Anda tidak bisa menjual apapun dan nilai jual aktual dari rumah menjadi nol karena tidak ada seorangpun yang mau membelinya dengan harga berapapun. Jadi apa yang terjadi di bawah kondisi seperti itu, ketika Anda pergi dan bertanya: berapa nilai dari semua hipotek ini? mana yang ditimbun untuk lembaga finansial atau telah dioper ke orang untuk kewajiban jaminan hutang? Ketika sebenarnya tidak ada pasar untuk perumahan disana? Saya pergi, mengamati dan bertanya apa yang terjadi pada semua perumahan yang dikuasai oleh Lehman Brother atau di Bear Stearns, dan orang-orang akan sembarangan saja memberi nilai untuk itu. Mereka semacam bilang, “jika pasar bangkit lagi, maka rumah-rumah itu akan berharga – jika ada pasar – sekian, dan sekian banyak.”

Banyak orang memberi nilai uang pada suatu rumah yang sebenarnya tidak ada karena tidak ada pasar untuk itu di momen tertentu. Kini, pasar sudah bangkit sejak [krisis] itu, dan kita telah kembali, dan banyak hal telah terjadi setelah itu. Namun pada saat itu sesungguhnya nilai perumahan dan nilai dari hipotek nyaris jatuh ke nol.

Ini menunjukkan bahwa harga dan nilai bukanlah hal yang sama. Oleh karena itu, kita membutuhkan cara yang lebih baik untuk berbicara soal nilai.

Ada cara untuk mendiskusikan soal nilai yang dimulai dengan argumen bahwa nilai dalam relasi nilai-harga adalah relasi yang rumit, dan kita harus membangkitkan serangkaian pertanyaan tentang itu. Karena sebenarnya di pasar saat ini, di banyak merger dan akuisisi, dan penilaian atas nilai perumahan dan lainnya, kita melihat komponen-komponen yang semena-mena. Komponen imaterial yang membawa komoditas itu sendiri karena ada sesuatu yang disebut ‘nilai merk’ (branding value). Berapa nilai dari nama merk? Dan jika Anda bisa mendirikan nama merk dan menjadikannya merk tertentu, maka Anda bisa memberikan harga monopoli terhadapnya.

Jadi ada banyak hal yang terjadi di pasar saat ini yang berkaitan dengan nilai imaterial yang memiliki tautan dengan watak harga. Ini merupakan cara yang bahkan ekonomi kontemporer sedang bekerja di ranah dimana ekspektasi nilai menjadi basis material dari suatu materi yaitu proses pertukaran pasar, dan karenanya Anda tidak bisa benar-benar menghitung harga semudah berdasarkan biaya untuk memproduksi satu sepatu Nike.

Berapa banyak nilai dari satu sepatu Nike yang sebenarnya diberikan di pasar? berapa banyak dari [nilai] itu diberikan berdasarkan jumlah kerja yang terlibat di dalam produksinya? Dan semua biaya produksi yang bisa ditambahkan? Ini merupakan teka-teki besar yang harus diamati oleh ekonomi kontemporer dan membuka pertanyaan tentang apa dan bagaimana nilai dikonstruksikan?

Marx tentu punya banyak hal yang dikatakan tentang teori nilai – dan saya tidak akan membahasnya disini – tapi apa yang ingin saya lakukan adalah dengan mengatakan, secara sangat masuk akal, bahwa orang-orang bertanya: bagaimana hal-hal semcam ini memiliki nilai tertentu? Bagaimana bisa nilai dari satu obat – semisal pertanyaan Mazzucato – secara semena-mena diberikan dalam rangka nilai untuk menyelamatkan nyawa? Bagaimana Anda menilai kehidupan, dan menyelamatkan nyawa? Bagaimana Anda mengatakan, bahwa obat ini seharusnya berharga 1 juta dolar untuk sebutir pil karena obat ini menyelamatkan satu nyawa orang? Itukah nilai nyawa manusia?

Kita memiliki serangkaian pertanyaan ini yang muncul secara internal dari dinamika kapitalisme kontemporer. Saya ingin berargumen bahwa perbincangan yang beredar, dan mulai membuka diskusi soal bagaimana kita menilai hal-hal dengan cara seperti yang kita lakukan, yang telah membuka arena perdebatan luas yang tampak bagi saya harus tiba sebagai suatu alternatif dari skema penilaian kapitalis.

Sudah muncul perdebatan soal ‘nama merk’, ‘niat baik’ dalam merger dan akuisisi, serta apa yang terjadi saat krisis dan di ranah seperti perumahan. Ketika valuasi dari sesuatu muncul dari proses yang sangat partikular seperti itu dan ada prosedur standar dimana nilai perumahan ditentukan – namun dengan komponen yang semena-mena – kita bisa melihat bahwa valuasi yang diberikan pada satu rumah di tahun 2006 misalnya, sungguh berbeda dari valuasi yang akan diberikan di tahun 2009. Ketika nilai jatuh, maka harga akan terdampak. Artinya, jika seseorang yang memiliki hipotek dengan harga tertentu – dan harganya tidak berlaku – maka ia akan mengalami krisis besar valuasi.

Saya ingin berargumen bahwa ada krisis valuasi yang meluas di masyarakat kita saat ini dan hendak kembali pada pertanyaan moral yang sering ditanyakan para sosialis Ricardian, bahwa jika nilai diproduksi dengan cara tertentu, lantas kenapa produsen langsung dari nilai tidak dihargai? Kenapa, jika nilai tidak diproduksi oleh layanan finansial atau tipu muslihat marketing, periklanan dan semacamnya, jika semua itu adalah aktivitas parasitik, lantas kenapa kita tidak memberi nilai pada orang-orang yang sesungguhnya menciptakan hal-hal riil yang kita butuhkan untuk bertahan hidup secara layak di berbagai tahapan kehidupan dalam era masa kini?

Dengan kata lain, pertanyaan ini muncul dan tampak sejalan dengan akal sehat karena orang mengatakan, “saya bekerja sangat keras untuk memproduksi X, dan saya hanya dapat sedikit darinya, dan saya menyaksikan suatu keadaan dimana orang tertentu mengambil keuntungan seperti bandit.”

Dunia Llyon Blankfein bertindak serupa bandit atas dasar ekonomi dimana mereka sesungguhnya adalah parasit ketimbang memproduksi nilai. Apa yang dikatakan Mazzucato adalah: “dengar, kita punya masalah!” dan saya akan membacakan pada Anda kutipan terkenal dari ‘Big Bill’ Haywood, pendiri serikat pekerja industri pertama di Amerika Serikat. Dia bilang begini, “Para baron-baron emas yang barbar – mereka tidak menemukan emas, bukanlah mereka yang menambang emas itu, bukanlah mereka yang menggiling emas itu, tapi melalui semacam proses kimiawi aneh maka semua emas menjadi milik mereka.”

Itu menurut saya adalah masalahnya. Mazzucato bukanlah pengoceh radikal. Ia berupaya untuk mengembalikan perdebatan tentang teori nilai, dan saya pikir perdebatan ini membuka kemungkinan bagi banyak orang di kalangan kiri untuk mengungkapkan apa yang bernilai di dalam masyarakat kita. Apa yang kita nilai? Dan bagaimana kita bisa benar-benar yakin bahwa nilai ini berada pada mereka yang sungguh menciptakannya, dan bukan pada mereka yang hanya mengklaim telah menciptakannya ketika apa yang sesungguhnya mereka lakukan justru sangat parasitik. Kita akan kembali lagi pada [bahasan] itu, dan bagaimana Marx melihat pertanyaan itu di sesi berikutnya.

Terima kasih telah bergabung dengan saya hari ini. Anda telah mendengarkan Kronik Anti-Kapitalisme David Harvey yang diproduksi oleh Democracy at Work. Terima kasih banyak untuk komunitas Patreon atas dukungannya bagi proyek ini.

Tinggalkan Balasan