Browse By

Lima Pelajaran dari Sudan dan Aljazair

Keterangan video: Para demonstran menyerukan "damai dan keadilan untuk Sudan!" dalam aksi protes mingguan di Trafalgar Square, 9 Februari 2019. Kredit: Islam Bergerak.

 

 

Gelombang baru mobilisasi massa telah meningkat selama beberapa minggu terakhir di Aljazair, dan sepanjang lebih dari tiga bulan di Sudan. Kenyataan ini membuktikan bahwa permasalahan politik dan ekonomi struktural yang telah menggerogoti rezim-rezim di kedua negara – mulai dari otoritarianisme politik hingga liberalisme ekonomi yang ekstrem, yang juga terhubung dengan korupsi – akan terus memantik perlawanan massa dari bawah, bahkan sampai pada titik di mana ia menjadi satu revolusi, apabila konjungtur relasi  kelas dan keadaan politik dalam kondisi yang tepat. Perlawanan rakyat di Sudan dan Aljazair memberi pelajaran penting, di mana di bawah ini mungkin beberapa yang terpenting:

 

Pelajaran Pertama: Revolusi Rakyat tidaklah berakhir

Selama beberapa tahun, kediktatoran dan kekuatan kontra-revolusioner telah berusaha keras untuk tidak hanya menindas Arab Spring yang terjadi sepanjang 2011-2013 secara fisik; tapi juga untuk mengkonsolidasikan ideologi yang menggambarkan revolusi sebagai pilihan politik yang suram, dan mempresentasikan serta membingkai revolusi sebagai hanya pembawa petaka dan kesengsaraan pada rakyat, yang tak bisa menghindari kekalahannya.

Tetapi, kembalinya lagi massa dalam layar politik di Sudan dan Aljazair telah membuktikan bahwa revolusi akan tetap menjadi pilihan politik rakyat. Faktanya, revolusi hanyalah satu-satunya solusi yang memungkinkan penyelesaian atas berbagai prsoalan yang menggerogoti rezim-rezim yang sudah tak bisa direformasi ini. Di Aljazair, Bouteflika adalah wajah dari jaringan korup para jenderal dan pebisnis besar, sementara di Sudan, El Bashir mengepalai satu rezim yang berlumuran darah, yang melaksanakan kebijakan pengetatan anggaran sesuai permintaan International Monetary Fund (IMF).

Di saat yang sama ketika rakyat Sudan dan Aljazair bangkit melawan, satu gerakan protes yang kencang juga sedang berkembang di Maroko, dengan keikutsertaan para pofesional dan anggota serikat pekerja. Tunisia juga menyaksikan pemogokan-pemogokan besar dari para buruh, dan di Libanon, telah terjadi beberapa kali protes rakyat terhadap kenyataan semakin memburuknya kondisi hidup. Bahkan di Yordania, pada Juni lalu, gerakan rakyat telah memaksa raja untuk mengubah total keputusan ekonomi pemerintah. Sebelumnya, kita juga menyaksikan “Great Return March” di Palestina. Sementara itu, kemarahan  rakyat yang semakin berkembang di Mesir dan negara-negara lain masih menunggu satu pantikan untuk menjadikannya api.

Terlepas dari kekalahan yang diderita, ingatan tentang revolusi di wilayah tersebut (baca: Timur Tengah, pen) masih tetap menginspirasi dan memberi pelajaran serta pengalaman. Hantu revolusi masih bergentayangan kepada setiap tiran di sana. Apabila perlawanan di Sudan dan Aljazair memperolah satu kemenangan yang signifikan dalam waktu dekat, gelombang harapan dan kepercayaan diri akan tersebar ke penjuru wilayah.

 

Pelajaran Kedua: Dari Politik ke Ekonomi, Kembali ke Politik

Berlawanan dengan bagaimana kedua peristiwa ini dikemas dan ditayangkan di Arab, bahkan di media-media internasional, perlawanan di Sudan dan Aljazair meletus dengan alasan-alasan yang jauh lebih besar dibanding slogan-slogan yang telah direduksi oleh media.

Di Sudan, sumbu perlawanan dinyalakan ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga roti hingga tiga kali lipat. Tetapi, tidak berhenti di situ, setelah perlawanan dimulai pada 19 Desember, kemarahan publik telah berkembang menjadi tuntutan turunnya rezim. Rakyat di sana mendeklarasikan bahwa tak ada lagi ruang untuk kompromi atau bernegoisasi dengan rezim El Bashir yang berlumuran darah, yang telah memelaratkan mereka selama tiga dekade. “Pergi sekarang”, tuntut mereka.

Di Aljazair, slogan dan tuntutan dengan sangat cepat meluas, dari penolakan terhadap pencalonan kembali Bouteflika menjadi presiden untuk kelima kalinya, menjadi tuntutan sosial, termasuk tuntutan untuk menghentikan krisis pengangguran (19 persen penduduk di bawah usia 30 tahun adalah pengangguran), dan protes terhadap tingginya harga-harga dan penyebaran kemiskinan di satu sisi, serta korupsi di sisi lain (seperempat dari populasi hidup di bawah garis kemiskinan). Gerakan perlawanan terusmenaikkan tuntutan untuk “menurunkan rezim” dan bukan sekadar melawan pencalonan presiden yang sebenarnya sudah absen dari publik sejak 2013 karena penyakitnya itu.

Dengan kata lain, perluasan gerakan rakyat di kedua negara telah menunjukkan adanya pergeseran dari isu ekonomi ke politik (dari isu harga roti menjadi pemakzulan rezim di Sudan), dan dari politik ke ekonomi (dari penolakan pencalonan pesiden ke tuntutan sosial di Aljazair). Luasnya gerakan telah mengarah menuju perang terbuka dari fron politik, demikian juga dengan fron ekonomi dan sosial. Hal inilah yang paling menakutkan bagi kediktatoran. Salah satu tugas paling penting dari dua perlawanan di atas adalah untuk mengintegrasikan perjuangan pada atas politik dan ekonomi secara penuh, untuk menghajar sistem (baca: kapitalisme, pen) secara keseluruhan.

Aksi protes oleh aktivis, mahasiswa, dan masyarakat Aljazair di Trafalgar Square, London, 16 Maret 2019. Plakat demo tersebut bertuliskan, ‘Dear USA, there is no oil left so STAY AWAY unless you want olive oil‘. Kredit foto: Islam Bergerak.

 

Pelajaran Ketiga: Lawan manuver yang dilakukan oleh rezim!

Perlawanan di Sudan dan Aljazair mengalami eskalasi, meskipun dihadapi dengan kombinasi represi langsung, ancaman, dan konsesi yang penuh tipuan. Sejak munculnya perlawanan, El Bashir telah menuduh “pihak asing” sebagai aktor di balik gerakan ini dan mengarang  cerita konspirasi, serta mengancam adanya kemungkinan sanksi ekonomi yang bisa dijatuhkan kepada Sudan, untuk menakut-nakuti kelompok revolusioner. Dia sendiri juga berupaya melakukan satu konsesi yang penuh tipuan, seperti  dengan meminta parlemen untuk melakukan amandemen konstitusi (yang mirip dengan kasus Mesir, di mana amandemen konstitusi ini justru memperpanjang masa kekuasaan diktator), dan di saat yang sama, menetapkan menerapkan kebijakan bahwa negara dalam status “darurat”. Di malam yang sama, Jumat, 22 Februari, ribuan orang segera merespon dengan pawai di lebih dari 80 titik di berbagai kota di Sudan. Demonstrasi dan pemogokan terus berlanjut setiap harinya di sepanjang negeri. Perlawanan di Sudan ini telah mematahkan mitos ketakutan yang sudah ditanamkan oleh rezim sellama lebih dari 30 tahun.

Rezim di Aljazair juga melakukan manuver, di mana Boteflika berikrar akan bertahan pada jabatannya selama satu tahun dan mengadakan pemilu lebih awal, serta mempersiapkan konstitusi baru dan reformasi yang luas di berbagai sektor, dengan cara yang serupa seperti yang dilakukan oleh Mubarak di Mesir pada 2011, bahwa ia “tidak lagi berminat untuk mencalonkan diri  dalam pemilu berikutnya”.

Perlawanan di Aljazair juga telah menghancurkan mitos tentang “Dekade Hitam” (1992-2002). Rezim telah membungkam rakyat selama tahun-tahun yang panjang dengan ancaman bahwa mereka akan mengulangi horor yang sama seperti di periode itu, terhadap siapapun yang menentang keberlanjutan kekuasaan mereka. Sepanjang dekade, pemerintah di Aljazair telah melangsungkan perang yang keji melawan faksi-faksi yang diasosiasikan dengan Front Penyelamat Islam (Islamic Salvation Front/Front Islamique du Salut) setelah militer membatalkan hasil pemilihan parlemen pada 1991, menyusul kemenangan yang terang dari Front tersebut.

Dua perlawanan di atas telah mencapai tahap di mana mengikuti manuver-manuver ini dan terjebak dalam ancaman-ancaman rezim hanya akan membuat rezim semakin melancarkan balas dendam politik dengan kampanye yang keji, melawan semua penentangnya.

 

Pelajaran Keempat: Bangun Gerakan untuk Jangka Panjang!

Perlawanan rakyat yang dahsyat tidak tidak pernah lahir dalam ruang hampa. Alih-alih, ia adalah buah dari perjuangan yang keras tanpa lelah selama bertahun-tahun melawan rezim yang berkuasa. Di Sudan, rakyat tak pernah menyerah pada El Bashir dan rezimnya. Puluhan ribu orang bangkit pada (juni dan Juli) 2012 melawan kebijakan ekonomi rezim, dan pada September 2013, protes menyebar di banyak kota di Sudan, yang dihadapi dengan kekerasan brutal dan pembunuhan lebih dari 200 demonstran. Demonstrasi dan pemogokan terus belanjut menghadirkan tantangan serius selama beberapa tahun, sebelum ia meledak menjadi perlawanan baru-baru ini.

Seperti juga di Aljazair, sejarah pemogokan para pekerja telah dibangun selama bertahun-tahun, di mana yang paling penting di antaranya adalah satu pemogokan yang melibatkan puluha ribu pekerja di sektor kesehatan dan pendidikan, dalam merespon isu kebijakan upah tahun lalu. Tanpa awan-awan perlawanan yang terkumpul di horizon selama beberapa tahun silam, badai perlawanan massa yang terjadi di Aljazai dan Sudan mustahil mempunyai kekuatan yang kita saksikan hari ini. Sekali lagi, hal ini mengonfirmasi bahwa perlawanan rakyat membutuhkan akumulasi perjuangan-perjuangan di banyak medan laga selama periode yang panjang, tak peduli betapa terbatasnya dan sulitnya satu hasil diraih ketika perjuangan dimulai. Inilah yang perlu kita saksika di Mesir hari ini.

 

Pelajaran Kelima: Peran Kelas Pekerja

Tepat di jantung heroisme dan dan ketahanan para demonstran di Sudan, terdapat “Asosiasi Pekerja Profesional Sudan” yang terdiri dari delapan organisasi serikat pekerja, yang memimpin aksi protes dan pemogokan setiap harinya melawan rezim El Bashir. Sementara itu, di Aljazair, beberapa serikat pekerja sudah mulai menjadi ancaman bagi rezim dengan mengajukan penolakan pencalonan Bouteflika untuk periode kelimanya dalam pemilihan nanti.

Tak ada keraguan bahwa pawai rakyat yang masif di kedua negara memainkan peran penting dalam mengeskalasi tantangan terhadap rezim. Tetapi, tentu saja tantangan ini masih dalam tahap yang bisa ditolerir oleh rezim, meski juga ada bahaya bahwa rezim juga akan menindas pawai dan demonstrasi dalam dan selama jangka waktu yang panjang. Inilah yang menjelaskan kenapa perlawanan di dua negara membutuhkan intervensi yang menentukan dari sebagian besar kelas pekerja, dengan cara menghentikan jalannya roda produksi (atau, dengan kata lain: jalannya roda eksploitasi), melalui pemogokan-pemogokan, dengan tujuan untuk semakin melebarkan keretakan-keretakan yang ada pada dua rezim. Keajegan pawai-pawai massa yang terus bereskalasi memang telah membuat rezim menahan kepalannya. Tetapi, tetap terdapat kebutuhan urgen untuk satu pukulan yang lebih menentukan, melalui aksi yang terkoordinasi dari kelas pekerja, yang beraksi sebagai satu kelas di tempat kerja, untuk membuat rezim lumpuh tak berdaya dan bertekuk lutut.

***

Artikel ini diterjemahkan dari situs http://global.revsoc.me/2019/03/five-lessons-from-sudan-and-algeria/  

Tinggalkan Balasan