Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung
No Result
View All Result
Islam Bergerak

Risen dan Makna Kebangkitan Tubuh

Daniel Sihombing
4 April 2016
di Artikel, Terbitan
Dibaca dalam 3 menit
A A
Risen dan Makna Kebangkitan Tubuh

Baca Juga

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

22 Desember 2025
Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

9 Desember 2025
Sketsa - Kebangkitan Cita-Cita Kolektivisme Egaliter
Ilustrasi Toni Malakian

Mulanya saya agak skeptis dengan film ‘Risen’. Apalagi waktu mendengar dari seorang teman bahwa resepsinya di kalangan Kristiani amat positif. Maklum, saya agak lelah dengan obsesi membuktikan kebangkitan tubuh Yesus secara ‘logis dan ilmiah’ yang nge-trend di kalangan Kristiani yang saya kenal. Saya kuatir film ini mengusung semangat serupa.

Tapi di kos tempat saya tinggal sudah diputuskan bahwa kami akan bersama-sama menonton penayangan perdana film tersebut di bioskop terdekat. Dan ternyata,aktivitas itu akan didanai dengan menggunakan uang kas yang ada. Segala keraguan saya untuk berpartisipasi pun mendadak sirna.

Entah karena suasana bioskopnya, momentumnya (jelang Paskah), atau memang kualitasnya, ternyata film ‘Risen’ ini sangat berkesan di hati saya. Mengapa? Karena menurut saya, yang ditekankan film ini tentang kebangkitan Yesus adalah sifatnya yang tak terjelaskan. Alih-alih menayangkan adegan spektakuler tentang tergulingnya batu yang menutup kubur Yesus atau kebaruan tubuh Yesus yang berkilauan, peralihan waktu dari Sabtu malam ke Minggu pagi dalam film terasa sangat biasa, dan tubuh Yesus yang baru tidak ada bedanya dengan orang lain, kecuali bahwa ia kadang-kadang menghilang. Bahwa penampakan tubuh kebangkitan itu memang betul-betul fisikal ataupun sekadar delusional juga sepertinya (sengaja?) dibuat mengambang. Sebab Maria Magdalena, ketika dipanggil menghadap Clavius mengklaim bahwa Yesus ada di sana, meski dalam film tubuh-Nya tidak nampak. Tetapi ketika bersama dengan murid-murid-Nya, kehadiran Yesus tampak demikian fisikal. Puncaknya, menurut saya, adalah di bagian akhir film, ketika Clavius duduk berduaan dengan Yesus di malam hari. Bahkan dalam posisi itu pun ia masih menganggapnya tak terjelaskan.

Bagi seorang literalis, ketakterjelasan ini mungkin dirasakan sebagai sesuatu yang mengancam. Tapi apakah iman pada Yesus yang bangkit itu melulu soal kepastian faktual-literal? Paulus tak pernah melihat sendiri tubuh Yesus yang bangkit, tapi dibanding murid-murid lainnya, mungkin dialah yang paling radikal. Alih-alih afirmasi faktual-literal, ternyata yang lebih penting adalah apa yang digerakkan oleh peristiwa tak terjelaskan itu. Dalam film ‘Risen’, pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu membuahkan keberanian dan semangat baru untuk murid-muridnya yang sederhana: nelayan, orang-orang tak terpelajar, (eks) pemberontak, (mantan) pelacur, untuk menghidupi relasi kolektif-egaliter dan tugas bersaksi di tengah ancaman dari penguasa agama dan politik. Bagi Clavius, pejabat militer Romawi, perjumpaan itu membuatnya mempertanyakan ulang ambisi, cita-cita, dan orientasi hidupnya.

Maka tidak heran jika oleh Graham Ward, teolog dan pendeta gereja Anglikan, filsuf-filsuf ateis-Marxis-anarkis seperti Alain Badiou, Slavoj Žižek, dan Giorgio Agamben justru dianggap sebagai pembela-pembela kekristenan yang utama hari ini.[i] Ketiganya sama sekali tidak berusaha membela fakta kebangkitan tubuh Yesus, tetapi secara kreatif mengeksplorasi makna kebangkitan itu dalam konteks kebuntuan cita-cita kolektivisme egaliter hari ini.

Saya sendiri merenungkan Paskah tahun ini dengan bekal teks Yehezkiel 37, tentang kebangkitan tulang-tulang Israel. Dalam pasal ini, Yehezkiel digiring oleh kuasa TUHAN ke lembah penuh tulang-tulang dan di sana ia menyaksikan kuasa TUHAN yang menumbuhkan kembali urat, daging, kulit pada tulang-tulang tersebut dan memberi mereka nafas. Kata TUHAN kepada Yehezkiel: tulang-tulang tersebut adalah Israel.

Siapakah Israel? Jika Norman Gottwald benar, Israel adalah masyarakat kolektif alternatif yang dibentuk oleh sekumpulan petani pasca-pemberontakan atas tuan-tuan tanah di Kanaan antara abad 13-11 SM.[ii]Yehezkiel hidup di abad ke-7 SM, ketika Israel sudah mengalami berbagai bentuk dekadensi, menjadi kerajaan, pecah, dan akhirnya terbuang. Visi kebangkitan tulang-tulang tadi merujuk pada kebangkitan kembali masyarakat kolektif-egaliter ini.

Dalam perjalanannya ke Damaskus, Paulus mendapatkan penglihatan dari sorga. Ia mengaku berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Pengalaman itu amat tak terduga dan jauh dari antisipasinya. Tapi Paulus adalah seorang ahli kitab Yahudi. Ia akrab dengan catatan tentang visi Yehezkiel ini. Tentu ia bertanya-tanya, apa makna peristiwa ini dalam terang nubuat-nubuat Kitab Suci? Amat wajar jika Paulus menghubungkannya dengan kisah Yehezkiel dan lembah penuh tulang tadi. Dalam konteks inilah kita bisa membaca ujarannya di surat Korintus:

Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (1Kor. 15:20)

 

Maka kebangkitan Kristus, bagi yang percaya, adalah penanda dan penjamin kebangkitan tatanan kolektif-egaliter universal. Bukan kepercayaan fatalistik bahwa tatanan itu akan terjadi dengan sendirinya, tetapi kepercayaan yang bermuara pada panggilan: menjadi saksi kebangkitan itu sampai ke ujung dunia.

Penulis adalah mahasiswa doktoral di Protestant Theological University, Netherlands. Beredar di twitterdengan akun @danielsih_

Rujukan:

[i]Brandy Daniels dan Graham Ward, “The Academy, The Polis, and the Resurgence of Religion: An Interview with Graham Ward,” http://theotherjournal.com/2008/11/18/the-academy-the-polis-and-the-resurgence-of-religion-an-interview-with-graham-ward/.

[ii]Roland Boer, “Norman Gottwald: A Pioneering Marxist Biblical Scholar,” http://mrzine.monthlyreview.org/2011/boer290411.html.

Share37TweetSendShare
Daniel Sihombing

Daniel Sihombing

Daniel Sihombing bergiat di Kristen Hijau

Tulisan Terkait

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Tanah, Masyarakat, dan Diri: Refleksi Mengenai Kisruh Rencana Taman Nasional Pegunungan Meratus

Rachmadiar Perdana
22 Desember 2025
0

Rencana pemerintah pusat untuk menjadikan Pegunungan Meratus sebagai Taman Nasional telah memicu perlawanan dari masyarakat setempat. Masyarakat Meratus menganggap bahwa...

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Supremasi Kulit Putih dan Anti-Komunisme Sebagai Strategi Kontra-Insurgensi: Pelajaran dari Imperialisme Inggris di Malaya

Fadiah Nadwa Fikri
9 Desember 2025
0

Pada Juli tahun ini, anggota parlemen Inggris dengan suara 385 berbanding 26 menyetujui penetapan Palestine Action sebagai organisasi teroris menyusul...

Moderatisme, Relasi Kekuasaan, dan Pembentukan Narasi Keberislaman

Moderatisme, Relasi Kekuasaan, dan Pembentukan Narasi Keberislaman

Rusda Khoiruz Zaman
8 Desember 2025
0

Suka cita penerimaan PBNU beberapa waktu lalu atas aturan izin konsesi pertambangan sekaligus tambangnya, terdengar kontradiktif. Setidaknya, bagi warga Nahdliyin...

Problem Eksistensialis Perempuan Indonesia

Problem Eksistensialis Perempuan Indonesia

Damianus B Gene Djo
27 Oktober 2025
0

Dalam perspektif eksistensialis, menjadi perempuan tidak dapat diartikan sekadar sebuah fakta biologis belaka, melainkan sebagai medan perjuangan yang panjang dalam...

Lainnya

Belok Kiri Lagi, PMII!

Generasi Muhammadiyah Progresif

Generasi Muhammadiyah Progresif

Comments 4

  1. wahyujustina says:
    10 tahun ago

    Menarik sebuah kajian dimana masyarakat diIndonesia hanya melihat sudut pandang dg kaca mata kuda…..bukan isa atau Jesus sebagai revolusi sosial y berhasil…..

    Reply
  2. Ping-balik: Risen – Daniel Sihombing
  3. DWI SARASWATI says:
    8 tahun ago

    Apakah film risen ditayangkan di bioskop ?

    Reply
  4. Alfun adam says:
    1 tahun ago

    Secara keseluruhan, artikel ini menawarkan interpretasi yang menarik dan reflektif terhadap film “Risen” dan makna kebangkitan Yesus.

    Good Information
    Regards, Unissula

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Islam Bergerak

Berikhtiar untuk memproduksi, mewadahi dan mendakwahkan diskursus keislaman progresif sekaligus menekankan komitmennya untuk selalu berpihak pada umat yang terzalimi.

© 2026 Islam Bergerak

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Editorial
  • Terbitan
    • Artikel
    • Islam Progresif
    • Wawancara
    • English
  • Program
  • Dukung

© 2026 Islam Bergerak