Membaca Kembali Gagasan Revolusi Seorang Tan Malaka

2.9k
VIEWS

Judul       : Menuju Merdeka Seratus Persen

Penulis    : Tan Malaka

Penerbit  : Narasi

Cetakan  : Kedua, 2018

Ukuran    : xii + 455 halaman

ISBN        : 978-979-168-512-2

 

“Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya”—Tan Malaka

Buku Menuju Merdeka Seratus Persen bukanlah buku tunggal, melainkan gabungan dari tiga buku Tan Malaka yang berisi lima judul, yaitu: Aksi Massa, Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang, dan Gerpolek (Gerilya‒Politik‒Ekonomi). Tan Malaka menulis Aksi Massa dalam pengasingannya di Singapura pada sekitar tahun 1926-an akhir sebagai kritik atas perisitiwa pemberontakan PKI 1926 terhadap pemerintah kolonial Belanda. Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang, versi buku dari tiga brosur yang ditulis pada tanggal 24 November–2 Desember 1945, merupakan luapan bangga dan bahagia Tan Malaka setelah rakyat Indonesia memenangkan Pertempuran Surabaya dan sedang berjuang di Palagan Ambarawa melawan sekutu. Gerpolek boleh dikatakan anti-klimaks dari tulisan-tulisan Tan Malaka yang termaktub dalam buku ini karena ditulis dalam suasana hati frustrasi ketika dipenjara di Madiun pada tahun 1948. Tan Malaka pada saat itu memang berbalik posisi menjadi oposisi Soekarno‒Hatta, khususnya kabinet Sjahrir yang paling sering—melakukan hal yang amat dikutuk Tan Malaka—berdiplomasi dengan negara imperialis.

Aksi Massa berisi ajaran tentang bagaimana cara mengorganisir massa dari segala kalangan dengan baik dan benar, tidak seperti tukang putch yang bertindak anarkis dan gegabah.  Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang berisi dialog naratif antara Si Godam (buruh), Si Pacul (petani), Si Toke (pedagang), Mr. Apal (intelektual), dan Denmas (ningrat), tokoh yang diciptakan Tan Malaka untuk mewakili kelasnya masing-masing dalam mendiskusikan persoalan sosial dalam persepektif materialisme historis. Gerpolek membahas pokok perkara yang kurang lebih sama dengan Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang, namun dalam bentuk yang sedikit berbeda, yakni dalam bentuk tanyajawab, kemudian diakhiri dengan puisi bertajuk Sang Gerilya.

 

Revolusi Bersenjata, Sistem Politik Satu Partai, dan Rencana Ekonomi Sosialis

Dalam Aksi Massa, Tan Malaka mengecam Volksraad atau Dewan Rakyat yang baginya hanyalah lembaga perjuangan sia-sia untuk memperjuangkan kemerdekaaan rakyat Indonesia karena tidak lebih dari panggung sandiwara bentukan Belanda. Ia menawarkan jalur yang lebih pasti demi mencapai Indonesia yang “Merdeka Seratus Persen”, yakni revolusi tanpa kompromi.

Pentingnya revolusi dan perjuangan bersenjata dalam mewujudkan kemerdekaan memang menjadi salah satu perhatian Tan Malaka dalam antologi buku ini. Melalui brosur Muslihat, misalnya, ia mengajarkan rakyat Indonesia pada saat itu perihal taktik bergerilya melawan tentara Inggris-NICA dari mulai pembagian tugas, perebutan senjata, penyergapan sekonyong-konyong (mendadak/tiba-tiba), pengepungan, penawanan, dan cara bersembunyi. Pada saat yang sama Tan Malaka mengkritik diplomasi bertekuk-lutut sebagai jalan mengemis pengakuan kedaulatan Negara Republik Indonesia kepada negeri asing. Menurutnya, untuk mendapatkan pengakuan kedaulatan, kita tidak perlu meminta-minta dan justru harus menunjukkan eksistensi kita sebagai bangsa yang merdeka lahir & batin secara tegas!

Penolakan terhadap diplomasi bertekuk lutut itu pulalah yang membuat Tan Malaka  mengkritik Perserikatan Bangsa-bangsa/PBB (disebutnya UNO dalam buku ini). Menurutnya, UNO itu munafik! Tak selaras antara piagam dengan tindakannya. Ia juga memberikan masukan yang membangun untuk UNO itu agar menjadi badan Internasional yang berpihak pada keadilan. Meskipun demikian, Tan Malaka jelas menyatakan bahwa masa depan kemerdekaan Indonesia tidak ditentukan oleh UNO.

“Ringkasnya, dengan bambu runcing, granat, karabin, mitraliur, mortir, dan botol api berapapun lamanya dan betapapun sukarnya, akhirnya akan sanggup mengakkan kemerdekaan 100% baik dengan UNO ataupun zonder UNO!” [hal 445]

Diplomasi, bagi Tan Malaka, hanya memberikan dampak yang merusak bagi perjuangan rakyat Indonesia. Ia menjelaskan soal ini secara panjang lebar dalam Gerpolek. Bagi Tan Malaka, Indonesia berhasil menuntaskan revolusinya dan mengejawantahkan kemerdekaan seratus persen justru sebelum berunding. Sementara setelah berunding, suasananya merosot menjadi merdeka kurang dari sepuluh persen karena kehilangan banyak aset.

“Inilah hasilnya, setelah lebih dari pada dua tahun berunding! Lenyaplah sudah persatuan rakyat untuk menentang kapitalisme-imperialisme. Lepaslah sebagian besar daerah Indonesia ke bawah kekuasaan musuh. Kembalilah sebagian besar bangsa Indonesia ke bawah pemerasan dan tindasan Belanda. Berdirilah pelbagai negara boneka di dalam Indonesia, yang senantiasa diadudombakan satu dengan lainnya! Kacau-balaulah perekonomian dan keuangan daerah Republik yang tersisa.” [hal 343]

Penting ditekankan bahwa pilihan strategi Tan Malaka atas perang dan perjuangan bersenjata berpijak pada analisis yang mendalam, terutama terkait hubungan perang dan gerakan anti-kolonialisme. Ini terlihat dari bagaimana Tan Malaka mendefinisikan perang baik secara umum maupun khusus. Secara umum, Tan Malaka membagi perang menjadi dua. Pertama, perang yang dilakukan agresor untuk menindas pihak lain, merebut faktor produksi wilayah koloni, menaklukkan pasar lokal, atau menanamkan kapital/modal agar menguasai segala bentuk kegiatan ekonomi (Perang Penindasan), sebagaimana yang dilakukan Belanda terhadap Indonesia. Kedua, perang pembebasan untuk membebaskan diri dari agresor (Perang Kemerdekaan). Perang jenis kedua tersebut, ia bagi lagi menjadi dua, yakni perang kemerdekaan yang dilakukan penduduk yang terjajah untuk memerdekakan diri dari penindasan bangsa asing, seperti Indonesia melawan Belanda, dan “perang saudara” seperti Revolusi Perancis 1789 antara borjuis melawan bangsawan dan agamawan.

Secara khusus, menurut Tan Malaka, perang terbagi menjadi lima jenis,  yakni antara yang punya dengan yang tak punya (seperti Jerman yang tak punya koloni melawan Perancis yang memiliki koloni), antar-negara-imperialis (seperti Inggris yang memihak bangsa Arab melawan Amerika Serikat yang memihak kaum Yahudi dalam sengketa tanah Palestina 1948), antara Soviet (perserikatan negara-negara Sosialis, seperti Rusia, Yugoslavia, dan negara-negara satelitnya melawan gabungan kapitalis seperti persekutuan Amerika Serikat dkk.), antara kaum buruh/proletar melawan kapitalis/borjuis (seperti Revolusi Rusia 1917), dan antara yang terjajah melawan penjajah (seperti Indonesia melawan Jepang, Inggris, dan Belanda).

Baca Juga:

Penjelasan ini diberikan oleh Tan Malaka untuk menekankan bahwa revolusi dan perjuangan bersenjata yang dilakukan bangsa Indonesia dilakukan bukan untuk menindas kelompok atau bangsa lain melainkan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan hak kedaulatan bangsa (hal.361).

Hal lain yang menurut penulis menarik dari antologi buku ini adalah  penjelasan Tan Malaka tentang bagaimana sebuah sistem politik pasca kemerdekaan mesti dibangun.

Tan Malaka, di dalam Aksi Massa, selain mengkritik Volksraad, juga memberikan satu tawaran tentang bagaimana sistem kepartaian dalam negara idealnya dibentuk, yakni melalui sistem one-party state alias negara satu partai. Tawaran tersebut sekaligus disampaikan oleh Tan Malaka lengkap dengan struktur pemerintahan dari mulai pusat sampai daerah beserta lembaga ekonomi nasional, yustisi, polisi, dan tentara. Niat Tan Malaka sebenarnya bagus, yaitu demi kesatuan tujuan, karena menurutnya, kalau kebanyakan perbedaan pendapat ditakutkan bahwa negara justru malah stagnan.

Kepercayaan Tan Malaka pada sistem negara satu partai tentu saja mesti dibaca dengan pemahaman bahwa Tan Malaka belum menemukan dampak buruk dari monopoli kuasa politik yang terjadi di Uni Soviet, terutama di era Stalin (1924–1953), ketika sistem tersebut mengarah kepada kekuasaan otoritarian dengan kultus individu. Meskipun demikian, Tan Malaka bukannya tidak mengantisipasi ekses destruktif dari sistem tersebut dalam praktik politiknya. Secara tegas Tan Malaka menyepakati perlunya menjamin keterbukaan dan hak berpendapat di dalam menjalankan politik negara dengan menjadikan Undang-Undang sebagai kekuasaan tertinggi, dan bukan individu tau partai [hal 70]. Secara deskriptif, Tan Malaka menjelaskan gagasannya mengenai pemerintahan negara Indonesia yang bercorak kerakyatan di antara demokrasi dan kediktatoran di dalam brosur Politik. Dalam brosur tersebut jelas sekali bahwa dukungan Tan Malaka pada negara satu partai tak lain agar keputusan nasional tak terganggu, tapi seluruh rakyat dapat berpartisipasi dalam musyawarah rakyat banyak (MURBA) di lembaga yang ia namai Soviet.

Satu hal yang saya kurang sepakati dari Tan Malaka di dalam kumpulan buku ini yakni pendapatnya tentang perlunya memisahkan agama dari kehidupan sosial (hal. 129 lampiran sosial poin ke-5). Saya cenderung berpendapat bahwa masjid selain sebagai ruang Hablu Min Allah (hubungan antara insan/manusia dengan Allah) haruslah dijadikan juga sebagai wadah Hablu Min An-Nas (hubungan antar sesama insan/manusia). Meskipun demikian, saya melihat pendapat Tan Malaka tersebut terkait kekhawatirannya tentang persatuan tiga kubu besar dalam politik Indonesia waktu ini, yakni kelompok Nasionalis, Agama, dan Komunis.

Di dalam pengantar brosur Rencana Ekonomi Berjuang, sebelum Tan Malaka mengarang kisah antara lima orang tersebut, beliau mewanti-wanti bahwa ada sesosok Tan Malaka palsu yang menyusup ke dalam gerakan revolusioner. Ia (Tan Malaka palsu) ditugaskan sekutu untuk mengacaukan revolusi Indonesia dengan membuat kegaduhan di internal kalangan revolusioner pada umumnya dan kalangan komunis pada khususnya. Oleh karena itu, Tan Malaka menyerukan pentingnya “menadakan persatuan yang teguh-tegap”. Salah satu caranya adalah dengan menemukan “persamaan keperluan” melalui “satu rencana ekonomi yang sosialistis” (hal. 340)

Penjelasan lebih jauh mengenai rencana ekonomi sosialis diberikan Tan Malaka dalam brosur Rencana Ekonomi Berjuang. Di sana, Tan menguraikan ilmu-ilmu pengelolaan keuangan sosialistis, kritik atas segala rupa kapitalisme, dan berbagai masalah ekonomi mulai dari surplus value (nilai lebih), krisis/kesenjangan antara supply and demand (penawaran dan permintaan), kelunturan alat produksi, produksi anarkistis, konservatisme feodal, borjuasi cendekiawan, dan masih banyak lagi berdasarkan perspektif Marxisme—di samping juga memberikan solusi dari para ekonom Marxis.

 

Penutup

Menuju Merdeka Seratus Persen memiliki kesalahan kecil pada penyelarasan ejaan dan tanda baca serta kesalahan ketik di banyak tempat yang, meskipun tidak vital dan sebagian besarnya kemungkinan berasal dari versi asli tulisan Tan Malaka, seharusnya bisa dihindari oleh editor buku ini. Pada kesalahan teknis kecil tersebut, buku ini secara terang membawa penjelasan yang membenarkan dua buah teori Marxisme, bahwa (1) sejarah dunia—tidak terkecuali Indonesia—ialah konflik perjuangan antar-kelas; (2) dan tatanan masyarakat bertransformasi dari masyarakat primitif, berkembang ke masyarakat feodal, beralih ke masyarakat kapitalis (kita sekarang berada di tahap ini), lalu berevolusi menjadi masyarakat sosialis, hingga akhirnya masyarakat komunis.

Buku ini menunjukkan posisi Tan Malaka tidak hanya sebagai penulis, tapi juga seorang ideolog, sosiolog, politisi, ekonom, sejarawan, filsuf, dan gerilyawan, yang revolusioner. Lebih dari itu, ia tidak hanya peduli pada Indonesia, namun dunia!

Akhirul kalam, ide-ide Tan Malaka dalam buku ini bilamana diterapkan pada masa sekarang, memang terkesan kuno—karena ia menulisnya kala kapitalisme di Indonesia masih muda, dan kini kapitalisme sudah semakin meradang. Tapi pada masanya, gagasan-gagasan beliau sangatlah progresif. Darinya, kita belajar untuk memanfaatkan segala sumber daya yang kita miliki; berpikir terencana dari mulai pra-aksi, aksi, sampai pasca-aksi; dan bersiap dengan segala kemungkinan yang tak direncanakan; juga bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan agar tak dijajah untuk yang ke sekian kalinya!

 

Related Posts

Comments 1

  1. Hasan al-Mujtaba says:

    Keren sekali, Bung! Saya jadi ingin membeli bukunya. Ternyata penulisnya masih SMA, salut dengan generasi pemuda sekarang yang melek literasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.