Browse By

‘Seperti Buruh yang Menantikan Imbalan’ : Keberadaan Manusia di Kitab Ayub Pasal 7:1-2

Pendahuluan

Di dalam Alkitab Perjanjian Lama, kitab  Ayub pasal 7 merupakan bagian dari jawaban Ayub (di pasal 6-7) terhadap nasihat salah satu dari ketiga sahabatnya yaitu Elifas, yang (di pasal 4-5) mengomentari kutukan Ayub terhadap hari lahirnya di kitab Ayub pasal 3. Nasihat Elifas tersebut pada intinya adalah bahwa apa yang dilakukan Ayub itu salah. Kejahatan tidak datang dari Yang Ilahi, melainkan manusia sendirilah yang menjadi sumbernya (5:6-7). Tuhan itu adil dan manusia seharusnya berbahagia apabila ditegur oleh Yang Maha Kuasa, sebab Ia menyakiti namun mengobati, Ia memukuli namun memulihkan kembali (5:17-18). Elifas memberi nasihat-nasihat  ortodoks yang bertolak dari teodise : Yang Ilahi selalu benar, manusia yang fana selalu salah.  Tidak mengherankan bahwa pembaca yang ortodoks akan berada di pihak sahabat-sahabat Ayub dan ikut-ikutan menyalahkan Ayub. Di sini dicoba sebuah pendekatan yang berbeda, yang memperhatikan dengan serius sanggahan-sanggahan  Ayub. Minimal yang diusahakan adalah mencari sebab-sebab mengapa Ayub berbicara seperti itu.

Sanggahan Ayub terhadap Elifas

Sanggahan-sanggahan Ayub terdapat di pasal 6-7. Ayub merasa bahwa teman-temannya tidak serius mendengarkan  dia. “Ah, hendaklah kiranya kekesalan hatiku ditimbang …” (Ayub 6:2, TB-LAI). Bukan tanpa dasar ia mengungkapkan kekesalannya. “Meringkikkah keledai liar di  tempat rumput muda, atau melenguhkah lembu dekat makanannya?” (Ayub 6:5, TB-LAI).  Apa yang dikemukakannya di pasal 3 adalah ungkapan hati yang jujur (Ayub 6:25) dan andaikata hal itu adalah ungkapan orang yang putus asa, ya jangan dianggap angin (Ayub 6:26). Seperti diketahui, di kitab Ayub pasal 1-2, Ayub adalah orang saleh yang tidak pernah berbuat dosa, tetapi malah mendadak mengalami musibah beruntun: semua harta miliknya ludes, anak-anaknya meninggal dan dia sendiri kena peyakit borok yang parah dan menyebabkan dia dianggap najis.  Setelah itu Ayub meneruskan perenungannya di pasal 7 dengan menyoroti keberadaan  manusia:

          Manusia adalah mahluk fana yang bekerja paksa di bumi,

          hidupnya berat seperti hidup seorang upahan,

          seperti budak yang merindukan bayangan rindang,

          seperti buruh yang menantikan imbalan!

(Ayub 7:1-2, terjemahan dari saya, yang agak dipengaruhi oleh TB-BIS)

Menurut Habel, baris pertama dari ayat 1 di atas memberi kesan sebuah kutipan yang diambil dari sumber-sumber tradisi hikmat (Habel, 1985, 157). Di mite Atrahasis dari Babylonia, yang motif-motifnya tersebar di seluruh Asia Barat Daya kuno dan menjadi rujukan kebijaksanaan umum, manusia diciptakan supaya bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat, yang tadinya dilakukan oleh para dewa. Habel mengutip W.G. Lambert-A.R. Millard yang telah menerjemahkan mite ini, Atra-hasis: The Babylonian Story of the Flood (Oxford: Oxford University Press, 1969). Ceritanya Dewi Nintu ditugaskan oleh Enlil, dewa penguasa Pantheon Babel untuk menciptakan manusia:

          Ciptakanlah manusia sehingga ia dapat memikul kuk,

          biarlah dia memikul kuk yang diberikan oleh Enlil,

          biarlah manusia memikul jerih-payah para dewa. (Baris 195-197)

Setelah Nintu selesai melaksanakan pekerjaan menciptakan manusia, dia menginformasikannya kepada Enlil:

          Aku telah memindahkan beban beratmu,

          Aku telah menempatkan jerih-payahmu pada manusia. (Baris 240-241)

Meskipun umat Israel adalah monoteis, dan mempercayai bahwa Yang Ilahi menciptakan manusia sebagai penguasa (khalifah) atas mahluk-mahluk yang lain seperti dapat dilihat di kitab Kejadian pasal 1,  pengaruh dari kebijaksanaan umum ini masih amat kuat. Pandangan terhadap manusia sebagai mahluk fana yang harus bekerja keras, bahkan sepertinya ditakdirkan bekerja paksa selama hidupnya di dunia menjadi pengalaman orang sehari-hari di Israel kuno. Istilah untuk “kerja paksa” adalah tsaba. Di I Raja 9:15-22 dan II Taw 26:11, salah satu butir negatif dari sistem kerajaan yang didambakan oleh umat Israel pada waktu itu adalah tsaba, kerja paksa atau kerja rodi dari waktu ke waktu dan terutama terjadi pada waktu peperangan.  Sama seperti di Tiongkok kuno, kalau raja berperang melawan raja lain, tentara-tentara masuk ke desa-desa dan mengambil pemuda-pemuda yang sedang bekerja di ladang untuk mempertahankan hidup keluarga, untuk masuk wajib militer dan berperang menyabung nyawa bagi sang raja.  Akhirnya nasib keluarga menjadi  tidak menentu, karena yang tinggal di ladang hanya orang tua saja. Kerja rodi juga bisa berupa kerja paksa membuat fasilitas-fasilitas bagi raja misalnya istana atau benteng. Tsaba telah identik dengan pemaksaan menjadi hamba dan kesusahan yang menjadi akibatnya, sehingga di Yesaya 40:2 istilah tersebut bermakna  “perhambaan”, sedangkan di Daniel 10:1, “kesusahan besar” (tsaba gadol).

Istilah Ibrani untuk “orang upahan” atau “buruh” adalah sakir. Berbeda dengan budak, sakir adalah orang bebas, entah orang Israel atau non-Israel (buruh migran). Upahnya dua kali lipat dibandingkan dengan budak (Ulangan 15:18), tetapi masih tergolong miskin, dibandingkan dengan pemilik tanah (Ulangan 24:14). Menurut Hukum Taurat, orang upahan harus dibayar pada senja hari (jadi mendapat upah harian) (Imamat 19:13; Ulangan 24:15; band. Matius 20:8), tetapi hukum ini sering diselewengkan oleh para majikan (band. Yeremia 22:13; Maleakhi3:3; Kebijaksanaan 34:22; Yakobus 5:4) (Clines, 1989, 184). Meskipun bebas, kedudukan ekonomi dari sakir tidak terlalu berbeda dari mereka yang terkena kerja paksa. Karena miskin, mereka tidak berdaya dan tergantung dari kemurahan hati orang-orang yang mempekerjakan mereka. Kalau boleh dibandingkan dengan konteks kita di Indonesia sekarang ini, saya terbayang pada bapak-bapak petani-petani yang jatuh miskin, karena sawah tidak lagi memberi keuntungan sehingga bisa mempertahankan hidup.  Pada waktu-waktu tertentu mereka terpaksa pergi ke kota dan di sana setiap pagi berkumpul menawarkan diri di sudut-sudut jalan, menunggu truk-truk yang bersedia memakai tenaga mereka dengan upah seadanya, dan ibu-ibu setengah umur, yang menjadi buruh beban, mengangkat beban-beban berat di pasar-pasar (bisa lihat di pasar Beringharjo Yogyakarta) untuk para pedagang, juga  dengan upah seadanya.

Golongan yang ketiga adalah budak (ebed, ebadim). Meskipun narasi utama dari Israel kuno adalah pembebasan dari perbudakan di Mesir, ternyata dalam struktur ekonomi Israel kuno perbudakan tetap ada (dan sampai di Perjanjian Baru pun tetap ada, lihat surat Filemon). Di dalam Hukum Taurat, ada hak-hak bagi budak Ibrani, misalnya pada tahun ketujuh, si budak diizinkan keluar sebagai orang merdeka. Bisa jadi bahwa si budak senang kepada tuannya dan mau mengabdi seumur hidup kepada tuannya. Maka tuannya harus membawa budak itu ke hadapan Allah, kemudian telinganya ditindik sebagai tanda kesetiaan seumur hidup. Budak perempuan yang tidak disukai lagi oleh tuannya harus bisa ditebus; tuannya tidak berhak menjualnya kepada bangsa asing. Jika ada yang memukul budak laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga budak itu mati, maka pastilah budak itu dibalaskan (Keluaran  21: 1-11, 20; lihat juga Ulangan 15:12-18). Dalam kenyataan, hak-hak budak tidak selalu diperhatikan, bahkan lebih sering  diabaikan. Karena itu Ayub bisa menyebutkan mengenai sakir dan ebed dalam satu nafas, kemudian  keberadaan mereka dijadikan metafor untuk hidup itu sendiri. Hidup manusia adalah bagaikan kerja paksa.  Harapan (qawah) budak dan buruh hanya satu, yaitu “bayangan rindang” dan “imbalan” atau upahnya.

Jika hidup bagaikan kerja paksa ini bisa dilihat sebagai hakikat atau takdir manusia, maka harapan dari budak, yaitu “bayangan rindang” dan buruh, yaitu “imbalan” atau “upah” tidak harus dimaknai secara biasa saja, tetapi juga bisa diperluas menjadi makna yang bersifat metaforis.  Budak yang bekerja seharian di panas terik, tentu mengharapkan pada waktu sela atau “break”, bisa beristirahat di bawah bayangan  pohon  atau atap yang rindang. Tetapi “bayangan” bisa juga menunjuk kepada kefanaan hidup (Ayub 8:9; 14;2, Pengkhotbah 6:12). Dari situ tidak sulit untuk membayangkan bayangan sebagai “bayang-bayang maut”. Demikian juga “upah” di sini bukan hanya sekadar imbalan yang diterima setelah hari senja, melainkan kematian. Ketika kebanyakan orang berharap kepada “upah” sebagai pahala yang akan diterima sesudah mati, Ayub berharap kepada kematian sebagai upahnya (Habel, 1985, 158). Bagi mereka yang hidupnya bagaikan kerja paksa, tidak ada yang diharapkan selain mati. Sebagaimana di kitab Ayub pasal 3 ada “death-wish”, juga di kitab Ayub pasal 7 ada “death-wish” (Clines,  1989, 183).

Di pihak lain,kitab  Ayub pasal 7 juga memperlihatkan bahwa takdir berupa hidup bagaikan kerja paksa itu dipertanyakan secara teologis. Ayub memang menyanggah nasihat Elifas, namun sanggahan ini nampaknya dibuat sedemikian rupa sehingga bisa terdengar juga kepada Yang Maha Kuasa. Maka ia mengatakan, “Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas” (Ayub 7:7). Bisa saja ungkapan ini dianggap sebagai imbauan biasa saja, tetapi menurut saya konteksnya merupakan sebuah protes halus: kalau memang manusia itu diciptakan sebagai mahluk fana, mengapa ia diberikan kehidupan yang berat bagaikan kerja paksa? Di Ayub 7:8 dan 19 ada rujukan ke pandangan Ilahi. Tuhan dipahami sebagai Tuhan yang memandang atau melihat. Sampai hari ini ada pemahaman mengenai Mata Ilahi yang melihat segala sesuatu. Bagi Ayub mestinya Mata Ilahi ini melihat dan mencegah, mana kala umat Tuhan yang saleh terancam bahaya, atau menolong, mana kala umat Tuhan yang saleh terkena bahaya.

Tetapi justru itu yang tidak terjadi. Mata Ilahi seakan-akan berubah menjadi mata pengawas rodi yang tidak pernah tertutup dalam mengawasi atau menjaga para pekerja rodi alias manusia yang  fana itu (Lih. Ayub 7:20, Yang Ilahi disebut sebagai “Penjaga Manusia”), sehingga akhirnya Mata Ilahi bukannya menghibur melainkan menyiksa.  Maka Ayub berharap: “Bilakah Engkau mengalihkan pandanganMu daripadaku dan membiarkan aku, sehingga aku sempat menelan ludahku?” (Ayub 7:19, TB-LAI). Padahal biasanya umat Israel panik apabila Tuhan memalingkan wajahNya (memang bukan mata Tuhan, tetapi apa artinya wajah kalau tidak ada matanya?).  Ada banyak doa di kitab Mazmur yang berisi permohonan agar Tuhan berkenan kepada umatNya dan memandang dengan ramah, dan ajakan kepada umat agar mencari wajah Tuhan.  Ayub tidak menentang teologi Mata Ilahi, namun kenyataan hidupnya yang ia generalisasikan menjadi kenyataan hidup ini, membuat dia mempertanyakan efektivitas dari teologi Mata Ilahi.

Bukan itu saja. Ayub juga mempertanyakan keyakinan bahwa manusia adalah penguasa atau khalifah bumi ini, seperti yang dapat dilihat di koleksi nyanyian umat Israel kuno, yaitu di kitab Mazmur pasal 8:5 . Saya harus mengutip ayat ini, agar kita bisa memahami apa yang dikatakan Ayub.

          Apakah manusia (enosy), sehingga Engkau mengingatnya?

          Apakah anak manusia (ben adham), sehingga Engkau mengindahkannya?

(Mazmur 8:5, TB-LAI)

Konteksnya yaitu Mazmur 8:2-9 memperlihatkan bahwa manusia yang amat kecil dibandingkan dengan langit , bulan dan bintang-bintang, ternyata diciptakan hampir sama seperti Allah dan menjadi penguasa bumi.  Di atas manusia hanya ada Tuhan.  Ayub 7:17 merupakan semacam sindiran terhadap Mazmur 8:5, “Apakah gerangan manusia, sehingga Kau anggap agung dan Kau perhatikan?” (Sindiran yang sama terdapat juga di Mazmur 144:3, yang seirama dengan Mazmur 8:5, tetapi menyusulkan di ayat berikutnya, yaitu Mazmur 144:4, bahwa manusia hanya seperti angin atau bayangan saja, persis seperti yang mau dikatakan oleh Ayub!). Bukannya dianggap sebagai manusia yang agung, malah Ayub merasa seakan-akan dia dianggap sebagai “laut” (yom) atau “naga” (tannin) yang memerlukan penjaga (Ayub 7:12). Laut atau naga adalah wakil khaos yang ditundukkan oleh Yang Ilahi ketika Ia menciptakan dunia. Laut yang tadinya bagian dari khaos sudah ditetapkan tempatnya (ya di laut!) dan Tuhan menjaga agar laut atau air tidak lagi memasuki bumi (Mazmur 104:9). Metafornya bertambah, bukan hanya buruh dan budak, tetapi juga naga khaos!

Kita bisa menyimpulkan pasal ini:  berdasarkan pengalaman konkretnya sebagai orang saleh yang tiba-tiba tertimpa kemalangan tanpa merasa telah berbuat dosa atau kesalahan,  Ayub menggambarkan keberadaan manusia sebagai sesuatu yang tanpa makna. Hidup ini bagaikan sebuah kerja paksa atau kerja rodi, sehingga kematian yang di dalam konteks orang lain menjadi sesuatu yang ditakuti, di dalam kehidupan Ayub malah menjadi sesuatu yang diharapkan.  Kesadaran ini muncul dari kemalangan yang telah menimpa Ayub: segala sesuatu yang ada padanya hilang lenyap bahkan dirinya pun terkena penyakit kulit yang dahsyat. Manusia ternyata mahluk yang rapuh (vulnerable). Sebenarnya kesadaran mengenai kerapuhan manusia ini ada di kalangan umat Israel, tetapi keyakinan bahwa ketaatan kepada Yang Ilahi dan hidup saleh nampaknya telah berkembang sedemikian rupa sehingga hidup saleh itu seakan-akan menjamin kekuatan manusia. Orang saleh tidak akan rapuh, hanya orang tidak saleh, orang berdosa yang rapuh. Keyakinan mengenai hal ini diwakilkan kepada sahabat-sahabat Ayub. Mereka yakin bahwa Ayub dengan salah satu dan lain cara telah berdosa dan mereka berusaha menyadarkan Ayub agar mengakui hal ini.

Ternyata Ayub tidak mau melakukan hal ini. Dia tiba pada kesadaran bahwa kerapuhan (vulnerability) manusia adalah bagian dari hakikat manusia dan bukan akibat dosa-dosanya. Tetapi sekaligus dia mempertanyakan apakah adil kalau manusia yang sudah rapuh itu tetap tertimpa pelbagai macam kemalangan? Dalam kisah Ayub, tokoh Ayub adalah orang yang kaya raya dan termasuk lapisan atas. Dalam pemahaman umum orang kaya pasti tidak akan mengalami kemalangan oleh karena dia mempunyai daya untuk menghindari atau mengatasi kemalangan. Tetapi kisah ini membantah pemahaman umum tersebut. Orang kaya, bahkan orang alim yang kaya bisa terkena kemalangan tanpa bisa dijelaskan. Orang kaya dan alim pun tetap rapuh juga! Pertanyaan Ayub sebenarnya sama dengan pertanyaan orang miskin yang  adalah kelas bawah. Di dalam penderitaannya,  Ayub menjadi sama dengan orang miskin, memohon keadilan dari Allah dan bukannya menerima nasib itu sebagai hukuman. Memang, seperti kita lihat di atas, ungkapan “orang upahan, buruh” dan “budak” di dalam perbendaharaan kata-kata Ayub telah menjadi metafor untuk melukiskan keberadaan manusia (abstrak), bukan keberadaan orang miskin (konkret). Tetapi pembaca kitab Ayub bisa mengembalikan lagi metafor itu ke konteksnya yang konkret. Hidup buruh dan budak adalah bagaikan kerja paksa, tetapi ingatlah ya Tuhan kepada mereka dan ubahkanlah  hidup mereka sehingga di dalam kerapuhan mereka, mereka masih bisa menikmati hidup ini dan berbahagia.

Penutup

Kita memulai uraian ini dengan memperlihatkan pemahaman  mengenai teodise: dalam merenungkan kemalangannya, manusia  harus yakin bahwa  Yang Ilahi selalu benar dan bahwa manusia yang fana selalu salah. Jadi dalam pelbagai percakapan pendampingan terhadap mereka yang mengalami kemalangan, manusia selalu dikorbankan demi tercapainya teodise ini. Tetapi kisah Ayub yang kita baca di dalam pasal ini memperlihatkan bahwa manusia tidak perlu dikorbankan dalam rangka mencari makna hidup ini. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa sekarang Yang Ilahi yang harus dikorbankan. Yang perlu diusahakan adalah sebuah diskursus yang tidak mengorbankan Yang Ilahi maupun manusia. Titik tolaknya adalah hakikat manusia sebagai rapuh adanya.  Atau dengan kata lain, yang diperlukan adalah keseimbangan wacana di antara teodise dan antropodise. Keduanya harus dipercakapkan dengan seimbang, tidak boleh yang satu tanpa yang lain.

Wisma “Labuang Baji”, Yogyakarta, 24 Januari 2015.

Daftar Pustaka

Clines, David.J.A., Job 1-20, World Biblical Commentary, Dallas: Word Books, 1989.

Habel, Norman C., The Book of Job, The Old Testament Library, Philadelphia: The Westminster Press, 1985.

 

Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D., Gurubesar di
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
dan The Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)
Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

One thought on “‘Seperti Buruh yang Menantikan Imbalan’ : Keberadaan Manusia di Kitab Ayub Pasal 7:1-2”

  1. roy charly says:

    Keren prof. Menggugat ketidakadilan!

Tinggalkan Balasan