Browse By

Goenawan Mohamad: Yang Berumah Dalam Kekaburan

Ilustrasi Arut S Batan

Ilustrasi Arut S Batan

Sejujurnya, membicarakan Goenawan Mohamad, bagi saya, merupakan suatu kesia-siaan, dan kemubadziran. Rupanya di sini kita tengah membicarakan ketidakjelasan. Meski demikian, hari ini kita harus membicarakannya, bukan dengan sendirinya ia menjadi lebih penting untuk dibicarakan ketimbang lainnya. Melainkan untuk mendiagnosa kengawuran berpikirnya untuk membuat kita tidak ikut-ikut ngawur. Setidaknya ada dua hal yang bisa dihindari dan tak patut diikuti darinya:

Pertama, kegemarannya mencacah-cacah teori seturut kepentingannya. Bila diperhatikan dengan jeli, dalam sepanjang karir kepenulisannya ia hanya mampu mendemonstrasikan banyak nama-nama pemikir besar dengan mengacak-acak posisi teoritis maupun politis semua pemikir yang dikutipnya. Kegemarannya mengutip pemikir besar ini, tampak lebih mirip dengan ABG yang gemar menempeli tubuhnya dengan aksesori—hanya sekedar untuk gaya— untuk menambal ke-kurang-percaya-an dirinya, ketimbang  untuk mengokohkan posisi gagasannya. Maka tak heran jika banyak kita dapati tulisannya berbelit-belit, rancu, lebih banyak ilusi dan kekaburan ketimbang kejernihan.

Bisa dibayangkan, pemikir-pemikir yang mempunyai posisi teoritis dan politis yang berseberangan dan berhadap-hadapan bisa dengan mudah dikaburkan oleh Goenawan, seolah-olah tidak pernah ada perdebatan sengit diantara mereka. Di suatu waktu ia bisa memakai Habermas, di waktu yang lain bisa memakai Derrida atau Marx, atau Negri, atau Badiou, sekehendak hatinya. Ini mengingatkan saya pada pelajar filsafat pemula yang menganggap semua pikiran filsuf benar semua tanpa mampu mengambil jarak dan posisi filosofis yang tegas bagi dirinya sendiri.

Kedua, ketidak jelasan posisi teoritis dan politisnya yang disebabkan oleh kegemarannya mengutip banyak nama pemikir besar. Situasi ini berimplikasi pada kerancuan atau inkonsistensinya dalam melihat banyak peristiwa. Termasuk sikapnya pada peristiwa pembantaian 65-66, perjuangan buruh memperjuangkan hak-haknya, perjuangan korban penggusuran dari perampasan tanah dan kelestarian lingkungan dll. Jadi, dengan ketidak jelasan posisinya inilah, sebenarnya ia lebih tepat kalau dijuluki sebagai ‘ia yang berumah dalam kekaburan’. Dari sinilah, muncul problem lain yang paling brutal: agar ia bisa mengelak dari tanggungjawab. Ketika semua lawan debatnya menggugat posisi teoritis dan politisnya, ia akan dengan mudah berkelit, bahwa dirinya hanya tengah menafsir para pemikir saja (tentu saja dengan semau-maunya).

Baiklah, jika kedua hal dimuka benar, maka penting untuk kita pakai mengoreksi olok-oloknya atas korban penggusuran di Jakarta, serta pandangannya terhadap perjuangan korban peristiwa 65-66 untuk mendapatkan keadilan yang selama puluhan tahun kehilangan hak-hak politiknya sebagai warga negara.

Kita ingat, untuk mengolok-olok perjuangan warga yang digusur oleh pembangunan, Goenawan menuduh mereka sebagai subaltern yang kesadaran perjuangannya tidak terbit secara murni dari dalam kesadaran diri mereka sendiri, melainkan dari para aktivis. Sedemikian, kita pun wajib bertanya balik padanya: Can’t Goenawan speak? Tidak bisakah Goenawan bicara bagi dirinya sendiri tanpa nama-nama pemikir besar yang dikutipnya?  Tidak bisakah kesadaran dirinya terbit dari kedalaman dirinya sendiri, secara murni dan terisolasi, tanpa adanya gagasan yang diimposisikan dari luar dirinya? Jika tak bisa, mengapa ia melucuti aspek teoritis, politis dan historis Spivak? Ini tak lain karena kegemarannya memperlakukan gagasan semau-maunya, sebagaimana sudah kita ulas dimuka. Ini juga merupakan keahliannya yang paling memukau: mengobrak-abrik hampir sebagian besar pemikir untuk memperturutkan kesenangan dirinya (taba’us syahawat).

Disinilah ke-ngawur-an Goenawan tampak nyata. Ia menuding para korban penggusuran sebagai pihak yang tak pernah bisa bicara bagi dirinya sendiri atau selalu menemukan dirinya telah direpresentaskani oleh yang lain yang mengintimidasinya, yang menemukan dirinya sejauh dirinya tak ada.

Dengan sewenang-wenang, ia menempatkan intelektual kiri yang berdiri bersama korban gusuran sebagai kategori di luar subaltern. Seolah-olah terdapat relasi penindas dan yang ditindas antara intelektual kiri dan korban penggusuran. Padahal perjuangan rakyat menuntut keadilan dan berjuang menyelamatkan lingkungan sebagaimana kita saksikan hari ini, terbit dari kesadaran mereka sendiri. Solidaritas yang menggumpal dan menjadi bara api perlawanan itu tidak dipantik dari luar kesadaran korban penggusuran, melainkan lahir dari kondisi dan situasi yang mereka gumuli sendiri tiap hari. Mendapati kenyataan ini, para intelektual blantik atau makelar sejenis Goenawan dan yang bersepakat dengannya, pasti mencak-mencak (marah) dan tidak terima. Ia dan mungkin juga JIL (Jaringan Islam Liberal) yang menjadi hamba pasar bebas, —yang selama ini mengandaikan bahwa gagasan pembaruan ala liberal atau filsafat individualisme akan membebaskan—terbukti ambruk semuanya dihadapan kenyataan gelombang perjuangan rakyat. Maka wajar jika mereka meradang, setelah menemukan diri mereka sebagai seonggok perkakas yang lapuk disudut sejarah perjuangan rakyat (buruh, petani, dan rakyat miskin) mengusir neo-imperialisme di Indonesia. Dengan ini, bahkan menjadi sekedar buih dari gelombang besar perjuangan rakyat saja Goenawan tak pantas.

Namun, dari semua yang sudah kita ulas, ada satu hal yang tak boleh diabaikan dari nama yang tengah kita bicarakan ini. Bahwa dalam sepanjang hidupnya ia telah dibimbing oleh kata ‘misalkan’yang negatif dan pasif, berjarak dan elitis. Kata inilah yang menerangi hampir sebagian besar persepsinya atas banyak hal yang dilihatnya. Melalui kata ‘misalkan’ inilah ia melecehkan perjuangan rakyat, karena ia tak benar-benar pernah menghargainya, ataupun menjadi bagian dari perjuangan tersebut.

Baiklah, kita akan urai terlebih dahulu diferensiasi ‘misalkan’ yang sesungguhnya politis, positif dan aktif, dengan ‘misalkan’ nya kaum nostalgis semacam Goenawan yang negatif, pasif, berjarak dan elitis. Kata ‘misalkan’ ini hakikatnya adalah suatu ungkapan ke-tidak-mampu-an/ke-tidak-ber-daya-an seseorang menanggung secara total segala peristiwa yang dilihatnya, karena tidak secara langsung terlibat di dalamnya. Baik sebagai subjek maupun objek peristiwa tersebut. Melainkan sebatas pihak yang berdiri di tepian peristiwa yang disaksikannya. Melalui kata ini, implisit, seseorang tengah berusaha menunjukkan simpatinya yang teramat dalam pada korban sebuah peristiwa. Dengan kata ini, seolah-olah kita hendak mengatakan, ‘akupun pun turut menanggung kepedihan yang sama denganmu’.

Namun anehnya, makna positif ‘misalkan’ ini tak berlaku bagi Goenawan. Ketika ia menulis sajak ‘Misalkan Kita di Sarajevo’ kita menduga bahwa Goenawan hendak melayarkan solidaritas nun jauh disana. Tentu saja tak ada yang keliru pada solidaritas, seabsurd apapun itu, namun ada yang inkonsisten dari Goenawan. Ia tak mempunyai solidaritas setitikpun pada ratusan ribu, atau bahkan jutaan rakyat yang dibantai di tahun 65-66 yang ada di depan matanya. Ia tidak berbicara sebiji kata pun atas pembantaian ratusan ribu, bahkan jutaan manusia Indonesia yang berpartai PKI dan pengikut setia Soekarno tersebut. Jika benar Humanisme Universal itu hendak memanusiakan manusia, mengapa ia bungkam atas pembantaian yang terjadi? Atau mengapa dalam kumpulan sajaknya tak ada satu baitpun yang  menyebut korban gusuran, atau tetangganya di Batang yang dirampas tanahnya dan dimiskinkan oleh kebijakan pembangunan rezim orde baru? Kita tak perlu membandingkannya dengan penyair besar Palestina Mahmoud Darwish, yang sepanjang umurnya telah menjadi saksi yang adil (syuhada’a bi al-qisthi) atas perjalanan bangsanya. Karena membandingkan Goenawan dengan Mahmoud Darwish tidaklah adil. Bukankah tiap orang mempunyai pengalamannya masing-masing yang unik, dan tak pernah sama? Iya benar. Bukankah tiap sajak lahir dari zaman yang digumulinya dan menjadi penanda bagi zamannya? Iya benar. Kemudian sajak Goenawan lahir dari zaman apakah? Menjadi tanda bagi apakah? Mahmoud Darwish besar tak hanya karena diksi dari sajaknya yang indah dan memukau, tapi juga menjadi identitas perlawanan rakyat Palestina. Sajaknya menjadi tanda, menjadi suara yang paling lantang melawan kebatilan. Sajaknya menjadi ruh dan milik rakyat yang ditulis ditiap sudut hati mereka.

Bagi penyair seperti Goenawan, terhadap berbagai peristiwa penghancuran kemanusiaan yang timbul tenggelam di depan matanya, ia tak perlu terlibat, cukup hanya dengan membikin puisi ‘misalkan’. Persis seperti seorang borjuis dunia pertama melihat dunia ketiga, ia menggubah sajak ‘Seumpama aku lapar’ faktanya ia tak pernah lapar. ‘Seumpama keluargaku yang dibantai’ faktanya ia bagian dari pembantai dll. Orang semacam ini tak pernah selesai dengan dirinya sendiri, bukan karena ia tak tahu banyak hal, melainkan posisinya yang menghalanginya untuk terlibat dan bergumul, dan mengalami sendiri momen-momen yang hampir sama dengan apa yang dialami rakyat kebanyakan, para buruh dan petani.

Dengan demikian, semua narasi kudus yang dibangunnya kata demi kata, frase demi frase, kalimat demi kalimat, esai demi esai, hanyalah seolah-olah. Seolah-olah peduli, padahal tidak. Seolah-olah manusiawi, padahal tidak. Seolah-olah pro rakyat, padahal tidak. Baiklah, kalaupun pernah ada sebutir simpati darinya pada korban, itupun sejauh korban bisa ditempatkannya sebatas pengisi kekosongan imajinasi borjuisnya tentang sajak dan barisan kata-kata yang hendak dirangkainya agar tampak bijak.

Tak ada manusia pun di planet ini yang bisa menempatkan ‘misalkan’ ala Goenawan, sebagai ‘misalkan’ yang positif dan simpatik terhadap yang lain, kecuali kalau kita sembuyikan terlebih dahulu kejujuran kita dibawah kolong sejarah. Itu tak lain karena Goenawan sendiri tak pernah percaya dengan hancurnya kemanusiaan perempuan yang dicabuli Sitok Srengenge, terjadinya pemerkosaan para perempuan Tionghoa pada peristiwa berdarah di tahun 1998, dan pembantaian rakyat di tahun 65-66.

Bagaimana posisi politiknya?

Dalam salah satu Catatan Pinggirnya di Tempo, 25 September 1971, yang  berjudul “Dari Kisah The Berkeley Mafia” yang dimaksudkan oleh Goenawan sebagai tanggapannya atas terbitnya ‘The Mafia Berkeley and the Indonesian Massacre’ karya David Ransom yang dimuat di majalah Rampart bulan Oktober 1970, dengan terang-terangan ia membela kepentingan kapitalisme global di Indonesia. Ia meradang dan mengejek analisa dan data-data yang dipaparkan Ransom. Disana ia mengatakan:

Namun banjaknja data tidak dengan sendirinja mendjamin sebuah artikel jang setia kepada kebenaran. Staf redaksi Rampart dan djuga Ransom sendiri sebenarnja telah mengambil sikap – dan sikap itu adalah sikap mengganjang – djauh sebelum wawantjara dilakukan dan data dihimpun. Hasil interview dan bahan-bahan lainnja dengan djelas sengadja diatur kearah penelandjangan jang sudah direntjanakan. Musuhnja sudah tentu lembaga-lembaga Establishment di Amerika: Ford Foundation, Pentagon, CIA, kaum “reaksioner” dikalangan akademi dan bulan-bulanan lain jang digemari kaum Kiri Baru. Dan Indonesia sudah tentu masuk kedalam garis musuh itu: negeri ini menerima bantuan dari Rockefeller dan Ford Foundation untuk mendidik sardjana-sardjananja lewat universitas Berkeley, Cornell, Harvard, Kentucky dan MIT.

Dalam esai yang ditulisnya, siapapun akan segera tahu dimana kaki Goewanan dipijakkan. Ia menempatkan dirinya sebagai pembela terdepan para komprador yang menjadi kaki dan tangan kapitalisme global di Indonesia. Mati-matian ia membela para teknokrat dan rezim bejat orde baru dengan menuduh Ransom sebagai seorang reaksioner. Tanpa pernah disadari olehnya sendiri, sesungguhnya ia tengah mempertontonkan dengan telanjang siapakah sebenarnya dirinya. Bahkan yang paling menggelikan, ia menuduh Ransom, seorang revolusioner sebagai reaksioner, hanya karena Ransom mengatakan dengan jujur berdasarkan fakta dan data penghancuran Indonesia yang disetir Amerika.

Saking murkanya pada temuan Ransom ia menganggap semua yang dikatakan Ransom sebagai takhayul seorang kiri baru. Bayangkan saja seorang yang dijuluki Hamid Basyaib sebagai ‘Orang Barat yang lahir di Batang’ ini ternyata tak bisa mempercayai data. Apakah temuan Ransom benar sebagai Takhayul, wahai yang mulia penyair Goenawan Mohamad? Ia tak akan mampu menjawabnya. Kelak, Wijaya Herlambang, membuktikan bahwa apa yang dikatakan oleh Ransom 46 tahun yang lalu terbukti benar adanya. Bahkan Goenawan sendiri yang terbukti menjadi agen CIA nya.

Sementara mengenai problem maaf yang tengah dikaburkan olehnya, kita tak akan heran kalau menilik ke belakang bagimana si juru bicara liberalisme ini, menyudutkan Pram dan mencoba membenturkan Gus Dur dengan Pram, ketika Pram mengatakan, ‘omong kosong saja rekonsiliasi’ dalam sebuah wawancara redaksi Forum Keadilan, dengannya pada 26 Maret 2000 untuk menanggapi rencana Gus Dur membuka kabut peristiwa 65. Selengkapnya Pram mengatakan demikian,

Memang, masalah itu harus diselesaikan secara hukum. Gus Dur sendiri sowan kepada Soeharto. Itu mengecewakan. Rekonsiliasi bagaimana yang diinginkan? Kok, sepertinya gampang amat. Orang yang dipukul merasakan terus rasa sakitnya, sementara orang yang memukul sudah lupa. Omong kosong saja rekonsiliasi. Lihat saja, pelarangan buku-buku saya. Itu saja mereka tidak mampu membatalkan. Belum lagi naskah-naskah yang dirampas dari saya. Kapan dikembalikan? Naskah saya ada delapan yang dibakar Angkatan Darat. Memangnya negara bisa membuat naskah saya? Lantas, menaruh konsep rekonsiliasi dalam bentuk salaman begitu saja. Gampang amat!

Melalui surat terbukanya pada Pram di Majalah Tempo 3-9 April 2000, Goenawan membandingkan Pram dengan Nelson Mandela yang mengulurkan tangan perdamaian pada sang penindas sesaat setelah Mandela menang. Apa yang dilupakan Goenawan? Ia lupa bahwa Mandela menang sementara korban 65-66 hingga sekarang masih hendak ditikam dan dibumi hanguskan. Mereka masih terus dicurigai, tiap kegiatannya diintai, dianggap pengkhianat dan musuh negara. Sementara situasi Mandela hampir sama dengan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menang dan menaklukkan kota Makkah, ia memberi ampunan bagi siapapun yang pernah menganiayanya. Di kota yang telah mengusirnya Nabi Muhammad mengulurkan persaudaraan dan melupakan segala masa lalu yang kelam. Nabi tidak melampiaskan dendamnya pada Muawiyah bin abi Sofyan dan istrinya yang telah membelah dada dan meminum darah Hamzah, pamannya. Nabi tak membalas kekejian dengan kekejian yang sama. Mandela pun demikian. Namun ini berbeda dengan yang dialami oleh Pram dan semua korban 65-66. Bahkan ketika mereka sudah bebas dari penjara, represi tak pernah benar-benar hilang dari hidupnya. Pendeknya, Mandela pernah menang, sementara Pram tak pernah menang, situasi inilah yang memungkinkan jalannya rekonsiliasi pun berbeda. Lebih-lebih kita tahu hari ini negara masih dicengkeram kaum fasis orde baru. Dan apakah Pram dan seluruh korban 65 yang menuntut keadilan hendak melampiaskan dendam dan membalas kekejian dengan kekejian? Hati nurani Goenawan pasti bisa menjawabnya.

Jangan lupa, mudah sekali bagi siapapun yang menang untuk mengulurkan tangan persaudaraan, yang itu mustahil dilakukan oleh pihak yang kalah. Dan picik sekali Goenawan ketika melihat tuntutan keadilan yang ingin ditegakkan sebagai rencana jahat membalikkan posisi objek menjadi subjek—dari  pihak yang pernah ditindas berbalik posisi sebagai penindas. Sementara kita tahu, Pram hingga ajal menjemputnya ia masih menjadi objek kekerasan dan korban ketidakadilan, dan tak pernah ingin menjadi subjek yang keji dan menindas. Ia hanya ingin yang salah diputuskan sebagai bersalah. Itu saja.

Disini keadilan mestinya dipahami sebagai melampaui pembalikan objek yang ditindas menjadi subjek yang menindas, atau jalan menumpahkan dendam. Keadilan tidaklah demikian. Keadilan lebih tinggi dari itu semua. Keadilan tak menuntut segala yang hilang untuk dikembalikan. Tapi berani jujur mengatakan bahwa pembantaian keji itu pernah terjadi. Nah, karena pelaku sudah banyak yang tiada, maka tanggung jawab negara untuk mengungkap dan memutuskannya.

Bagi saya, menganggap Pram kerdil, sebagaimana disangka Goenawan, tanpa pernah bisa memahami kepedihan dan penderitaan yang dialami Pram dan semua korban peristiwa 65-66, sebenarnya yang menyangka jauh lebih kerdil. Memang mudah bicara menuding seseorang sebagai kerdil atau bermental pendendam. Karena ia tak pernah mengalaminya sendiri. Tuduhan Goenawan pada Pram ini persis sama dengan olok-oloknya terhadap perjuangan korban penggusuran karena ia sendiri tak pernah menjadi korban penggusuran. Goenawan menganggap apa yang dituntut Pram dan korban 65 sebagai suatu yang berlebihan dan dengan biadabnya ia menganjurkan pada semua korban 65 untuk meresikokan keadilan yang tengah diperjuangkannya, sebagai prasyarat menjadi manusia besar sejati sebagaimana diangankannya. Bisa dibayangkan, wajah dunia macam apakah yang hendak diwujudkan ketika seseorang mengangankan perdamaian tanpa keadilan. Benar, keadilan tak pernah bisa paripurna dan menebus segala derita,—anak yang ditebas lehernya, istri yang diperkosa, ayah yang dimutilasi tubuhnya, dan semua kekejian lainnya—secuilpun tak akan mengembalikan itu semua. Tapi jika yang salah tak pernah diputuskan bersalah, siapakah yang akan menjadi saksi bagi kebenaran? Dan masih mungkinkah kebenaran dan kemanusiaan dibicarakan?

Perjuangan keadilan korban 65-66, bagi saya tak sepenuhnya membutuhkan permintaan maaf negara. Itu tak penting, sama sekali tak penting. Ini bukan berarti mengecilkan permintaan maaf Gus Dur. Sama sekali tidak. Karena permintaan maaf Gus Dur lah yang menjadikan pembicaraan dan perjuangan menuntut keadilan hari ini menjadi mungkin. Permintaan maaf negara haruslah ditempatkan sebagai prolegomena—jika ada—menuju keadilan sejati yang bermartabat. Sehingga tak sekedar menjadi ‘basa basi’ sebagaimana dikatakan Pram. Yang jauh lebih penting adalah diputuskannya aktor pembantaian sebagai penjahat kemanusiaan dan musuh seluruh rakyat Indonesia serta membersihkan nama semua korban kejahatan kemanusiaan dalam rentang pembantaian 65-66. Menghapuskan segala bentuk perundangan dan peraturan di bawahnya yang selama ini melegitimasi perlakuan diskriminatif terhadap para korban dan menjustifikasi tindak kekerasan aparat negara dan kelompok-kelompok sipil lainnya.

Fatal sekali kalau kita menuruti kekaburan pikiran Goenawan dengan menganggap korban 65-66 yang menuntut keadilan sebagai suatu yang berlebihan. Kecuali kita menginginkan berdamai dengan fasisme dan melumrahkan kejahatan, sebagaimana kebungkaman Goenawan atas tiapkekejian yang dilakukan rezim orde baru. Inilah yang sejak semula ditolak oleh Pram dan dikaburkan Goenawan, dengan menuduh Pram sebagai pendendam. Atas tuduhan itu Pram menjawab,

Goenawan mungkin mengira saya pendendam dan mengalami sakit hati yang mendalam. Tidak. Saya justru sangat kasihan dengan penguasa yang sangat rendah budayanya, termasuk merampas semua yang dimiliki bangsanya sendiri.

Mengenai pengampunan saya akan mengutip firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 134, dan menahan diri untuk tak mengutip Derrida. Allah mengatakan,

Alladzina yunfiquna fis sarra-i wadhdharra-i wal kadhiminal ghaidha wal ‘afina ‘anin nas, Wallahu yuhibbul muhsinin/Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dalam ayat tersebut Allah menunjukkan rasa cintanya pada siapapun yang berani berbuat kebajikan (Innallaha yubbul muhsinin), yaitu mereka yang mampu mengampuni mereka yang tak layak untuk diampuni. Yang berarti bahwa pemaafan dianggap sebagai pemaafaan sejauh memaafkan yang tak layak untuk dimaafkan. Ini benar. Nabi Muhammad ketika dilempari kotoran onta tidak berbalik melempari kotoran pada mereka yang melempari kotoran. Namun apakah dengan demikian keadilan menjadi absurd? Tentu tidak, karena keadilan bukanlah mata balas dengan mata, kaki balas dengan kaki, kuping balas dengan kuping, melainkan ikrar penyesalan dan tiadanya lagi pengulangan kejahatan. Agar terang antara yang Haq dan yang Bathil. Itu saja. Karena kita tidak hidup di dunia angan-angan, melainkan di dunia nyata, yang membutuhkan komitmen bersama untuk tidak melukai satu sama lain. Komitmen ini diperlukan karena kekejian masih selalu mengintai dan tak pernah ada jaminan yang pasti bahwa kekejian tak akan terulang kembali.

Kalau kita pakai parameter ayat diatas, korban 65-66 sesungguhnya telah masuk kategori mereka yang dicintai oleh Allah, karena telah mengorbankan segala yang dimilikinya. Sebagaimana Pram yang mengatakan,

Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini. Sekarang saya tidak bisa menulis-baca lagi. Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung. Basa-basi tak lagi bisa menghibur saya.

Pram, dan semua korban 65-66 telah memberikan segalanya, bukan berarti mereka tanpa cacat sebelumnya, namun kebisuan kita pada fasisme dan ketidakadilan menunjukkan bahwa kita tak berani berkorban apa-apa bahkan untuk mengatakan salah bagi yang bersalah. Jadi, ketika mereka menuntut diputuskannya aktor kejahatan kemanusiaan 65-66, itu semata-mata agar peristiwa keji serupa tak terulang kembali.

Terakhir, penting bagi Goenawan atau siapapun yang bersepakat dengannya agar tak kabur, perlu kiranya untuk berani melampaui imajinasi basa-basi ‘misalkan’ dengan terlibat langsung dalam perjuangan rakyat. Dan agar kelak tak dicatat sebagai ampas kebudayaan Indonesia.

 

 

Print Friendly, PDF & Email

3 thoughts on “Goenawan Mohamad: Yang Berumah Dalam Kekaburan”

  1. Harjo says:

    Bagaimana suatu tragedi menjadi tanggung jawab seorang Goenawan untuk diekspresikan dalam karyanya? Apa dasar kewajiban tersebut? Sekedar konsistensi kah?

  2. d. arief maulany says:

    Tulisan tentang Goenawan Mohamad ini amat menarik. Saya pikir, pertanyaan besar adalah apakah akan datang aman di mana semua peristiwa sejarah pra-kemerdekaan dan pasca-kemerdakaan akan mendapat tempat setara dalam panggung sejarah. Dasar pikiran ini adalah asumsi bahwa setiap orang masa-masa itu sejatinya adalah kontributor yang sejatinya menghendaki sesuatu yang baik bagi bangsa dan negara ini. Mengenai persitiwa 65-66 yang lalu, harus diakui itu adalah duka yang hebat. Namun kini belum semua terungkap dengan benar. Contoh kasus terkait Supersemar yang tidak jelas itu, yang sayangnya mereka yang langsung terlibat pun (Amir Machmud, Basuki Rachmat, M. Yusuf, dsb) bungkam sampai mereka meninggal. Namun dari perspekstif Hukum Qisas pun kiranya dapat diakui bahwa terhadap aksi PKI itu terlah terjadi pembalsan yang melampaui batas. Saya mendukunng apabila pemerintahan Jokowi membuka lebih transparan peradilan atau apapu namanya agar kita dapat mendudukkan tiap hal pada tempat yang layak, sehingga konstruksi dan akna eristiwa menjadi jelas.

  3. fazalni says:

    Menyebut GM sebagai “ia yang berumah dalam kekaburan” tidaklah tepat, seolah-olah antara GM dan kekaburan bisa dipisahkan. GM itu ya kekaburan itu sendiri (in itself). GM itu kalau direduksi dalam kamus, berbunyi “kekaburan”; sedangkan istilah kekaburan dalam kamus kalau diwujudkan dalam bentuk manusia, jadilah ia GM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *