Browse By

Suriah untuk Pemula

Perang di Suriah melibatkan banyak aktor dengan kepentingan yang saling tumpang tindih. Di wilayah ini, pepatah politik lama bahwa “musuh dari musuhmu adalah kawanmu” tidak berlaku lagi.

Misalnya, dalam perkembangan baru yang melibatkan Turki. Negara ini menyediakan landasan pesawat bagi jet tempur Amerika Serikat, namun di sisi lain juga membombardir kelompok Kurdi yang menyediakan informasi intelejen penting bagi Washington tentang posisi Daulah Islam (ISIS).

actors map

Panah merah dua arah menunjukkan kontak senjata dua pihak sementara garis jingga adalah serangan unilateral. Lingkaran yang bersinggungan merupakan koalisi. Sebagai catatan, FSA (Free Syirian Army) adalah pasukan gerilyawan yang dilatih oleh Amerika Serikat di Yordania.

BAGAIMANA PERANG DIMULAI?

Fondasi perang di sektarian di Suriah yang terjadi saat ini sudah jauh dimulai pada tahun 1971 saat Hafez al-Assad berkuasa. Sejak saat itu, satu keluarga dari kelompok minoritas bernama Alawit menguasai Suriah dengan tangan besi.

Ada beberapa kesamaan antara Hafez dengan Soeharto di Indonesia pada masa Orde Baru. Mereka berdua sama-sama berasal dari militer, sama-sama mengkonsentrasikan kekuasaan dengan kroni-kroni terdekat, sama-sama bergantung pada dukungan tentara (yang didominasi oleh Alawit/anti-komunis), dan sama-sama mengubah negaranya menjadi satu partai secara de facto (Partai Baath/Golkar).

Di tangan Hafez, kelompok mayoritas Sunni terpinggirkan dan hanya diberi tempat untuk urusan administratif di pemerintahan. Perlawanan mulai muncul pada 1976 saat Ikhwanul Muslimin mengangkat senjata meski kemudian kalah.

Saat Hafez meninggal tahun 2000, dia langsung digantikan oleh anaknya Bashar al Assad yang tidak mempunyai pengalaman militer maupun politik sampai tahun 1994 saat usianya sudah menginjak 29 tahun. Dia adalah dokter yangsecara mendadak disiapkan untuk menggantikan ayahnya setelah sang kakak, Bassel al Assad, tewas akibat kecelakaan.

Sebelas tahun setelah Bashar berkuasa, muncullah gelombang demokrasi Arab tahun 2011 yang meluas sampai Suriah. Tetapi berbeda dengan Mesir, Tunisia, Libya, ataupun Indonesia pada akhir kekuasaan Soeharto, kelompok militer di Suriah tetap loyal terhadap Bashar.

Mereka loyal karena 70 persen dari tentara karir di Suriah berasal dari Alawit. Pada masa awal kerusuhan, Bashar sempat bermain api dengan mengirim tentara dari kelompok Kristen dan Druze untuk menangkap aktivis demokrasi yang mayoritas berasal dari Sunni. Bashar melakukan hal tersebut untuk menyatukan dukungan minoritas-minoritas.

Akibatnya, demonstrasi damai berubah menjadi kerusuhan sipil, kemudian berkembang menjadi perang sektarian.

gambar 1

Peta konflik di Suriah sampai dengan awal Juli 2015. Klik gambar untuk menuju sumber.

SIAPA SAJA PIHAK YANG KEMUDIAN TERLIBAT?

Tentara Pemerintah

Sebelum konflik, kekuatan militer Suriah adalah sekitar 300.000 personil. Sampai 2014 lalu jumlah tersebut diperkirakan turun dari 30-50 persen akibat desersi ataupun tewas dalam pertempuran. Namun secara umum, mereka masih loyal terhadap Bashar.

Free Syrian Army (FSA)

FSA adalah sempalan militer yang 90 persen anggotanya berasal dari Muslim Sunni. Kelompok berkekuatan sekitar 60.000-70.000 inilah yang disebut oleh media dan negara Barat sebagai gerilyawan moderat. Dalam kelompok ini, terdapat unit-unit kecil yang mendapat bantuan dari Amerika Serikat berupa pelatihandan pasokan senjata.

Sejak aktor-aktor lain membanjiri Suriah, FSA tidak lagi mempunyai musuh tunggal. Mereka juga harus bertempur melawan kelompok-kelompok lain seperti ISIS, Hizbullah, Jabhat al Nusra, serta Kurdi.

Jabhat Al Nusra

Pada Agustus 2011, ISIS yang saat itu bernama Islamic State of Iraq (ISI) mulai mengirim gerilyawan ke Suriah dari Irak untuk memanfaatkan kekacauan di negara tersebut. Gerilyawan periode awal itulah yang kemudian membentuk satuan bernama Jabhat al Nusra dan memisahkan diri—bahkan bentrok—dengan ISIS hingga sekarang.

Apa kepentingan Al Qaeda ikut perang di Suriah? Kekerasan dengan nuansa sektarian adalah ladang bagi Al Qaeda untuk mendapat pengikut barusekaligus latihan teror dengan target yang lebih besar, yaitu negara-negara Barat. Sampai April lalu, 6.000an warga Uni Eropa membanjiri Suriah untuk bergabung dengan kelompok garis keras. Bayangkan apa yang terjadi jika mereka kembali ke negara masing-masing dengan pengalaman perang dalam kota dan jaringan pendanaan yang mapan.

gambar 2

Arus gerilyawan asing di Suriah. Klik pada gambar untuk menuju sumber.

Daulah Islam (ISIS)

Sebutan ISIS sebenarnya sudah tidak lagi tepat karena, sejak pertengahan tahun lalu, kelompok ini sudah berganti nama menjadi Daulah Islam (Islamic State

Secara keseluruhan di Suriah dan Irak, kelompok ini punya kekuatan sebesar 20.000 sampai 31.500 personil. Kini ISIS membelah Suriah menjadi dua dari perbatasan dengan Irak di selatan sampai pintu gerbang Turki di utara.

Berbeda dengan Al Qaeda/Jabhat al Nusra yang hanya menjadikan Suriah sebagai latihan perang dengan target negara Barat, ISIS ingin menjadikan wilayah ini sebagai awal dari kekhalifahan di seluruh dunia.

Amerika Serikat dan Koalisi Internasonal

Washington pada awalnya enggan terlibat dalam perang di Suriah. Presiden Barack Obama bahkan harus menelan ludah sendiri saat batal menyerang Suriah setelah rezim Bashar melanggar garis merah dengan menggunakan senjata kimia untuk membunuh warganya sendiri pada 2013 lalu.

Pada saat itu, kelompok-kelompok radikal sudah sedemikian kuat di Suriah. Jika Washington membombardir Bashar—sebagaimana di Libya—maka faksi yang akan berkuasa selanjutnya bukan FSA yang mereka dukung, tetapi teroris. Penjelasan yang lebih detail soal dilema Obama saat itu bisa dibaca dalam tulisan saya di sini.

Sikap Obama berubah pada September 2014 saat ISIS mulai merajalela di Suriah dan Irak. Washington mulai membentuk koalisi internasional untuk menyerang ISIS. Sampai saat ini, Amerika Serikat membatasi serangan melalui pesawat tempur dengan koordinasi dan petunjuk intelejen darat dari FSA serta Kurdi. Hingga saat ini pula Obama belum secara langsung menarget pasukan pemerintah Bashar. Harus ditekankan di sini bahwa target Amerika Serikat adalah kelompok-kelompok radikal, bukan Bashar.

Apa kepentingan mereka? Penumpasan terorisme. Radikalisme adalah persoalan yang mendapat perhatian besar di Barat. Amerika Serikat dan Inggris punya pengalaman 9/11dan 7/7. Baru pada 2013 lalu seorang pemuda bernama Dzhokhar Tsarnaev, tanpa pengalaman perang, tanpa jaringan organisasi teror, tiba-tiba meledakkan bom di Boston di tengah keramaian. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh mantan pejuang Suriah? Untuk mengantisipasi potensi ini, beberapa negara seperti Australia berencana mencabut status kewarganegaraan mereka yang diketahui bergabung dengan kelompok garis keras di Suriah dan Irak.

Kurdi

gambar 3

Sebaran etnis Kurdi di Turki, Suriah, Irak, dan Iran. Klik gambar untuk menuju sumber

Sama seperti etnis Melayu yang tersebar di beberapa negara tanpa mempunyai negara, demikian pula Kurdi. Sebagian besar di antara mereka kini tinggal di Turki, Suriah, Irak, dan Iran.

Di Suriah, populasi Kurdi saat ini mencapai 1,3-3 juta jiwa. Mereka tinggal di tiga kantong yang semuanya berbatasan dengan Turki, yaitu Jazire (Cezire), Kobane, dan Afrin. Tiga wilayah inilah yang disebut sebagai Rojava dengan pemerintahan otonom secara de facto dan pasukan sendiri bernama YPG.

Awalnya mereka mulai mengangkat senjata pada 2013 untuk membela diri. Namun dengan dukungan pesawat tempur Amerika Serikat, kini etnis Kurdi di Suriah berhasil menggabungkan dua kantung Cezire dan Kobane. Jika mereka berhasil merebut kota-kota antara Kobane dan Afrin, maka seluruh perbatasan Turki dan Suriah akan berada di bawah kekuasaan pemerintahan Rojava yang relatif merdeka.

gambar 4

Daerah kontrol etnis Kurdi di perbatasan Suriah-Turki. Dua kantung Rojava (Kobane dan Cezire) terhubung. Klik gambar untuk menuju sumber

Turki

Empat tahun setelah negara tetangganya dilanda perang, Turki baru mau turun tangan. Sejak bulan Juni lalu pemerintahan di Ankara kini membuka landasan militernya untuk pesawat tempur Amerika Serikat. Hanya Tuhan dan Presiden Tayyip Erdogan yang tahu kenapa negara ini berubah sikap.

Beberapa peristiwa yang terjadi di sekitar perubahan sikap itu mungkin bisa membantu pemahaman kita.

events leading to war

Beberapa peristiwa menjelang perubahan sikap Turki. Dari berbagai sumber. Ralat, Turki menghentikan perundingan damai dengan PKK pada akhir Juli.

Dalam sistem politik di Turki, pemerintahan dan perdana menteri hanya bisa dibentuk oleh partai yang memenangi kursi parlemen mayoritas. Jika tidak ada mayoritas, maka presiden akan memberi mandat bagi pemenang pemilu untuk membentuk koalisi dengan batas waktu 45 hari. Jika dalam periode tersebut penerima mandat gagal membentuk koalisi, maka pemilu harus diulang.

Dalam pemilu 7 Juni lalu AKP gagal memperoleh kursi mayoritas sementara partai yang dikenal pro-Kurdi HDP mendapatkan perolehan besar dengan 13 persen suara. Padahal Erdogan, saat masih menjabat sebagai perdana menteri, adalah tokoh politik pertama yang bersedia menggelar perundingan dengan pemberontak Kurdi, PKK. Sesuai dengan logika jual beli politik, Erdogan berharap bahwa perundingan itu akan meningkatkan dukungan dari etnis Kurdi terhadap partainya. Tetapi hitungan tersebut salah.

Sebagai respon, pada akhir Juli lalu Edogan menghentikan perundingan damai dengan PKK dan mendesak agar politisi yang berhubungan dengan tokoh PKK untuk dicabut imunitasnya.Sementara itu serangan Turki ke PKK akhir-akhir ini tidak hanya terjadi di dalam negeri melainkan meluas sampai ke Suriah dan Irak.

Di sisi lain, pemerintahan koalisi baru di Turki hingga kini juga belum terbentuk. Kelompok oposisi menuding Erdogan sengaja menghambat proses koalisi agar pemilu diulang sambil menggalang dukungan dari kelompok ultranasionalis anti-Kurdi.

Dengan demikian, dalam kesimpulan saya, Turki setidaknya punya tiga kepentingan dengan perang di Suriah. Yang pertama, mereka ingin menghentikan arus pengungsi yang membebani keungan negara. Kedua, untuk mencegah berdirinya negeri Rojava merdeka. Dan ketiga, untuk menggalang dukungan kelompok ultranasionalis menjelang pemilu ulang.

BERAPA JUMLAH KORBAN TEWAS?

gambar 5

Jumlah korban perang Suriah. Klik gambar untuk menuju sumber

Sampai Maret 2015, sudah 220.000 orang tewas akibat perang di Suriah, setara dengan korban tsunami Aceh tahun 2004 lalu.

BERAPA JUMLAH PENGUNGSI

gambar 6

Secara umum pengungsi terbagi menjadi dua, yaitu internally displaced person (IDP)—yaitu pengungsi yang lari dari rumah sendiri namun masih bertahan di dalam negeri—dan pengungsi lintas-negara.

Jumlah IDP di Suriah saat ini sudah mencapai 7,6 juta orang sementara pengungsi lintas negara sudah mencapai empat juga orang. Jumlah totalnya dengan demikian setara dengan penduduk Jakarta yang setiap pagi memenuhi jalanan.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *