Mari kita lihat apa yang terjadi di Iran. Kami sedang dibom. Mereka membunuh kami. Mereka membunuh anak-anak laki-laki kami, putri-putri kami, saudara laki-laki, saudara perempuan, ayah, dan ibu kami. Mereka membunuh rakyat kami yang tidak bersalah. Mereka membunuh para pemimpin kami, komandan kami—putra dan putri terbaik bangsa ini.
Mengapa mereka melakukan ini? Lihatlah apa yang terjadi hari ini dan kemarin. Mereka membunuh puluhan warga sipil di rumah mereka sendiri, di rumah sakit, dan di sekolah-sekolah. Inilah yang terjadi di Iran. Kami melawan. Kami membalas mereka.
Mereka menggunakan seluruh kekuatan, segala kemungkinan, dan tentara terkuat dalam sejarah manusia untuk menghukum kami karena mempertahankan kedaulatan kami. Hanya karena fakta sederhana bahwa kami ingin memutuskan sendiri apa yang ingin kami lakukan dan apa yang tidak. Sesederhana itu. Itulah kenyataan hidup di Iran.
Ini berakar pada sejarah kami. Pada tahun 1953, mereka melakukan kudeta dan menggulingkan Perdana Menteri terpilih kami, Mossadegh. Mereka memaksakan dominasi demi menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam kami, mengambil kekayaan kami, dan menggunakan tenaga kerja murah dari negara kami. Itulah yang mereka lakukan, tidak hanya di Iran, tapi di seluruh negara-negara Selatan, mayoritas dunia. Inilah yang disebut imperialisme. Jadi, ini bukan sekadar perang antara Iran dan negara lain.
Ini adalah perang antara bangsa yang berjuang demi kemerdekaannya melawan kekuatan rakus yang hanya mengejar kekayaan dan akumulasi uang dari bangsa lain—minyak Iran, minyak Venezuela, sumber daya alam di seluruh negara Selatan. Namun, ada yang baru di Iran: kekuatan imperialis ini menghadapi bangsa yang begitu bertekad, dengan kemauan yang sangat kuat untuk membela diri.
Beberapa minggu lalu, saat perang ini dimulai pada 28 Februari, mereka meneror dan membunuh secara kejam Pemimpin Tertinggi, komandan tinggi angkatan darat, dan para ilmuwan kami di hari yang sama. Tujuannya agar kami mundur dan menyerah memperjuangkan kedaulatan. Kenyataannya mereka gagal melakukan “perubahan rezim” dan gagal mengganti Republik Islam Iran yang merdeka dengan boneka seperti anak Shah Iran yang dulu mereka pasang pada 1953.
Dunia menyaksikan bahwa narasi sejarah manusia sedang berubah. Mereka tidak bisa lagi datang, memukul, lalu lari begitu saja. Ketika mereka membunuh Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, yang terjadi justru lahirnya kembali jutaan “Khamenei” baru. Mereka membunuhnya dengan harapan penggantinya akan berkompromi dengan imperialis, tapi yang terjadi justru sebaliknya: sekarang Khamenei yang lebih muda berkuasa dengan dedikasi dan kekuatan yang sama untuk mempertahankan hak kedaulatan bangsa kami.

Jika Anda ingin menulis sejarah modern manusia, intinya adalah soal kedaulatan. Mayoritas bangsa di dunia berjuang demi kedaulatan mereka, namun menghadapi agresi, perang, dan puluhan kudeta militer yang tujuannya hanya satu: menghalangi kedaulatan nasional rakyat yang tertindas di seluruh dunia. Tapi dunia sedang berubah.
Ini bukan sekadar retorika. Meski ada pembunuhan dan genosida brutal—mereka bahkan membunuh cucu-cucu perempuan saya di sekolah dasar—dunia tetap berubah. Tidak hanya di Iran. Lihatlah Venezuela; mereka mengklaim telah menang setelah membunuh presiden di sana, tapi perjuangan pembebasan rakyat Venezuela terus berlanjut hingga saat ini. Mereka juga bermimpi menghabisi Revolusi Kuba, tapi mereka akan berhadapan dengan putra-putri José Martí, Fidel Castro, dan Presiden Díaz-Canel, bangsa heroik yang bertahan dari sanksi brutal selama puluhan tahun tanpa pernah menyerah.
Saya bangga menjadi putra bangsa Iran yang memberikan contoh pengorbanan. Pemimpin Tertinggi kami, tanpa banyak bicara, mempertaruhkan nyawanya dan menegaskan bahwa ia tidak akan berkompromi dengan orang seperti Trump. Ia berdiri di sisi rakyatnya, dan rakyatnya tidak akan menyerah.
Sejarah mencatat lebih dari 17.000, bahkan mendekati 18.000 orang kami telah menjadi korban teror di rumah mereka sendiri, termasuk presiden, wakil menteri, ilmuwan, dan komandan kami. Namun kami tetap di sini. Setiap malam sejak 28 Februari, rakyat Iran turun ke jalan-jalan dan alun-alun untuk menyatakan bahwa kami tidak akan menyerah.
Berkat para komandan yang telah gugur, kami telah membangun kemampuan militer yang tak terbayangkan untuk membela diri. Ini adalah keajaiban bagi kemanusiaan bahwa Iran tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Meskipun propaganda Barat dan Trump mencoba membohongi dunia dengan mengatakan Iran sudah tamat atau sedang mengemis, itu bohong besar. Faktanya, kami menyerang Tel Aviv setiap hari dengan kuat. Siapa pun yang memihak musuh kami, termasuk negara tetangga yang melakukan kesalahan besar dengan memihak musuh, harus menanggung akibatnya.
Iran tidak akan menjadi pecundang dalam perjuangan ini. Kami membayar harga yang mahal dengan nyawa rakyat kami, tapi ini adalah bagian dari sejarah kami yang terinspirasi dari Imam Hussein yang mengorbankan nyawanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa budaya ini tidak akan mentoleransi penindasan.
Kami merasakan solidaritas dari mayoritas dunia, dari negara-negara Selatan, serta dukungan dari negara kuat seperti Rusia dan Cina—meskipun kami mengharapkan dukungan yang lebih eksplisit lagi. Sesuai tema “Kedaulatan dan Solidaritas”, saya mendesak siapa pun yang mendengarkan ini: turunlah ke jalan! Terutama Anda yang tinggal di kota-kota besar seperti London, Paris, atau New York.
Ini bukan hanya perjuangan untuk kepentingan Iran, tapi perjuangan satu front untuk seluruh kemanusiaan, untuk hak-hak kaum kulit hitam dan kelas pekerja. Ini bukan perang melawan rakyat Amerika, melainkan perang melawan para penghasut perang, pemilik kompleks industri militer, perusahaan minyak, dan bank-bank di Amerika Serikat. Mereka hanya segelintir orang dibandingkan kita yang berjumlah miliaran.
Mari kita bersatu—di Filipina, Malaysia, Indonesia, Afrika Selatan, hingga Amerika Latin. Kita adalah satu rakyat dengan kepentingan yang sama melawan brutalitas imperialisme yang bergandengan tangan dengan Zionisme. Zionisme hanyalah alat penindasan imperialis di wilayah kami, Asia Barat.
Tapi kekaisaran ini sedang menuju akhirnya. Berkat perlawanan heroik rakyat Palestina, Iran, Filipina, Kuba, dan Venezuela, kita sedang memberikan mereka pelajaran. Kita sedang menuju era baru: multipolarisme. Saya bangga menjadi warga negara dari negara yang memainkan peran dalam dunia baru ini.
* Catatan: tulisan ini diterjemahkan dan disarikan dari presentasi Abdolhamid Shahrabi di webinar Sovereignty and Solidarity: Iran’s Righteous Defiance against Imperialism yang diorganisir oleh Bandung 2.0 Working Group.






