Browse By

Menapaki Jejak Kekerasan di Pulau Kemaro

“Cepat…! Cepat…! Ayo, cepat naik!” Terdengar suara panggilan menggegas di siang hari di pelabuhan depan Benteng Kuto Besak, kota Palembang, 9 Januari 2015. Kapten kapal yang berpakaian serba hitam berdiri di tepi kapal sembari meneriakkan perintah. Wajahnya kelihatan tak sabar. Para penumpang kapal, termasuk saya,

Mei Hwa

Catatan ini tentang seorang perempuan perkasa. Mei Hwa namanya. Tanpa nama marga. Kenapa? “Aku tak ingin dikenali siapa pun. Aku tak ingin dikenang siapa pun. Aku sudah mati bagi keluargaku,” ujar dia. Kenapa? “Aku menghilang, melenyapkan diri dari sejarah keluarga.” Mei Hwa – yang saya

Islam Memandang Rekonsiliasi 1965

Palu dan celurit. Hingga kini dalam pikiran masyarakat awam, kedua gambar menyilang itu telah cukup menggambarkan betapa kejamnya Partai Komunis Indonesia (PKI). Seolah-olah palu untuk memartil kepala para jenderal dan celurit untuk memburaikan isi perut mereka. Bukan hanya orang-orang awam yang tidak mengenyam pendidikan sama