Browse By

Holocaust dan Solidaritas Internasional melawan Zionisme dan Rasisme

Catatan editor:

Jewish Socialist Group adalah gerakan Yahudi sosialis di Inggris yang membela perjuangan melawan penindasan, termasuk sikap tegas mereka dalam mendukung Palestina dan melawan Zionisme. Anti-Zionisme adalah suatu penolakan politik dari ide tentang pengakuan negara Israel yang eksklusif untuk etnis dan agama Yahudi serta sikap mengritik kebijakan Israel. Saat ini, berbagai kelompok penentang Zionis dan negara Israel adalah juga sebagian umat Yahudi. Mereka menegaskan bahwa musuh mereka bukanlah umat Muslim, Kristen, kulit hitam, Asia, atau lainnya, melainkan sistem kapitalisme yang juga mengambil untung dari rasisme dan fasisme. Islam Bergerak mendapat izin khusus dari David Rosenberg untuk menerbitkan tulisannya.

***

Bagaimana kita merespon secara efektif hari ini terhadap Islamofobia, kriminalisasi berbasis rasis (racial profiling), sentimen anti-pengungsi dan upaya negara mencoba mengubah pekerja di sektor kesehatan, guru, penyedia layanan sosial menjadi pengontrol perbatasan? Ini adalah bagian dari tantangan kita.

Ketika Hari Peringatan Holocaust menjadi bagian resmi dari kalender Inggris pada tahun 2001, tanggal yang dipilih adalah 27 Januari. Pada tanggal itu di tahun 1945 Tentara Merah (Red Army) membebaskan Auschwitz – kamp kematian yang terkenal sebagai tempat memberangus kaum Yahudi oleh tentara Nazi.

Selama tiga tahun terakhir saya menjadi salah satu pemimpin tim dari tur studi tahunan Persatuan Melawan Fasisme (Unite Against Fascism) ke Krakow dan Auschwitz. Diantara keberadaan kompleks kamp kematian, Auschwitz berdiri sebagai simbol, terutama karena skala dan penggunaannya. Di Auschwitz-Birkenau di mana sebagian besar kamar gas dan krematorium berada, sekitar satu juta orang Yahudi dan lebih dari 20.000 orang Roma dibunuh dengan gas beracun terutama antara 1942-44. Keahlian para arsitek, insinyur, ilmuwan, dan administrator berkualifikasi tinggi dimanfaatkan untuk membuat pabrik kematian.

Perusahaan-perusahaan kapitalis mendapat keuntungan dengan memasok suku cadang untuk pabrik kematian ini. Eksperimen dalam menggunakan gas beracun untuk pembunuhan massal diuji coba di Kamp Auschwitz 1 untuk para Tahanan Politik Soviet dan kemudian metodenya dipindahkan ke situs Birkenau yang terpisah untuk pembunuhan massal orang Yahudi dan Roma. Kamp Auschwitz 1 ditujukan terutama untuk tahanan politik, anggota serikat pekerja dan kaum gay, yang dipenjara dalam kondisi yang mengerikan karena pembatasan jatah makanan yang membuat kelaparan.

Di area ketiga kompleks kamp, ​​banyak narapidana digunakan sebagai budak pekerja, kemudian dibuang ketika mereka telah menunaikan tugas mereka. Yang kami tekankan dalam perjalanan itu adalah bahwa prosesnya dimulai beberapa tahun sebelum 1942 ketika Partai Nazi mengambil alih kekuasaan di Jerman pada Januari 1933, dengan bantuan dari pasukan konservatif sayap kanan di sana.

Melalui pembicaraan, tur, kunjungan museum dan diskusi, kami mengungkap proses stereotip, pelabelan, marginalisasi, diskriminasi, eksklusi, dehumanisasi, serta de-sensitisasi pelaku yang memungkinkan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan ini berlangsung. Beberapa dari proses itu bahkan sedang terjadi saat ini di berbagai negara di dunia, tetapi mereka dapat diinterupsi dan ditantang jika kita memahaminya dan mengorganisir diri kita.

Secara pribadi saya lebih suka tanggal tahunan yang berbeda untuk Hari Peringatan Holocaust. Saya lebih memilih tanggal 19 April, karena pada hari itu di tahun 1943 terjadi pemberontakan di Ghetto Warsawa dengan menggunakan senjata selundupan dan improvisasi, meskipun mereka mengambil lebih banyak senjata setelah pertemuan kemenangan pertama mereka.

Kala itu ada 220 pejuang – perempuan dan laki-laki – gigih memberontak melalui taktik gerilya selama tiga minggu. Nazi membayar mahal untuk kemenangan finalnya atas pemberontak. Saya membayangkan bahwa banyak dari Anda yang seusia dengan para pejuang itu. Mereka berusia antara 13-40, dan itu bukan hanya ketahanan fisik. Beberapa pejuang itu sudah berada di ghetto selama lebih dari dua setengah tahun dan kemampuan mereka untuk bertahan hidup ada hubungannya dengan bentuk-bentuk perlawanan, budaya, spiritual, perawatan dan dukungan kolektif lainnya.

Bahkan di Auschwitz ada geliat perlawanan. Empat perempuan budak pekerja menyelundupkan bubuk mesiu ke tahanan yang dipaksa bekerja di krematorium. Mereka berhasil meledakkan salah satu krematorium dan memperlambat laju pembunuhan. Hanya beberapa lusin pejuang ghetto Warsawa yang selamat. Mereka melarikan diri melalui selokan. Salah satunya akan diperingati secara khusus di Polandia tahun ini, karena ini adalah tahun ke-100 kelahirannya. Namanya Marek Edelman – anggota Bund – seorang aktivis gerakan pekerja sosialis Yahudi. Dia adalah anggota terakhir dari kelompok komando yang memimpin pemberontakan ghetto. Dia meninggal di Polandia pada tahun 2009. Dia tetap seorang sosialis dan internasionalis sepanjang hidupnya, dan seorang Yahudi sekuler, anti-Zionis. Setelah perang ia menulis, “Kami berjuang untuk martabat dan kebebasan, bukan untuk wilayah, bukan untuk identitas nasional.”

Pesan Edelman kepada orang-orang Yahudi lainnya adalah bahwa orang Yahudi harus selalu bersama yang tertindas, tidak pernah dengan penindas – suatu tradisi bahwa kaum Pekerja Sosialis Yahudi bangga berdiri hingga hari ini. Ia menegaskan bahwa memori Holocaust bukan hanya milik orang Yahudi tetapi untuk semua orang, dan semua orang harus menindakinya.

Saya bertanya-tanya bagaimana Edelman akan diperingati di Polandia pada tahun 2019, di bawah pemerintahan sayap kanan yang populis dengan hubungan yang sangat mulus dengan kelompok-kelompok sayap kanan dan dengan pemerintah Hongaria yang dipimpin Orban. Orban secara terbuka mendorong tema-tema antisemitisme, Islamofobia, anti Roma, anti migran dan sentimen pengungsi. Orban bahkan memiliki hubungan dekat dengan partai Konservatif Inggris, pihak yang berperan sebagai perancang lingkungan yang bermusuhan (hostile environment) yang membawa skandal Windrush di Inggris.

Poin terakhir saya: ada orang-orang yang mempertaruhkan hidup mereka selama Holocaust untuk membantu orang-orang Yahudi yang dianiaya, tetapi mereka kalah jumlah oleh para kolaborator, dan bahkan lebih lagi oleh ‘para penonton’.

Tahun ini akan menjadi ujian bagi gerakan anti-rasis dan anti-fasis disini dan secara internasional. Hari ini kita harus beralih peran dari sekadar penonton menjadi mereka yang berdiri tegas dan berjuang!

 

Penulis adalah Tokoh senior Kelompok Sosialis Yahudi (Jewish Socialist Group), aktivis anti-rasisme, dan penulis buku ‘Rebel Footprints: A Guide to Uncovering London’s Radical History’ (Pluto Press, 2015) 

Tinggalkan Balasan