Browse By

Islamofobia dan Anti-Imigran di Eropa: Bagaimana Kita melawan Fasisme dan Ekstrem Kanan saat ini?

Beberapa potret media sayap kanan Islamofobik an anti-imigran di Eropa

Pelajaran dari masa lalu dengan jelas menunjukkan perlunya membangun gerakan untuk menghentikan kaum fasis sebelum mereka berkuasa.

Meskipun kita belum sampai pada tahap di mana negara-negara fasis berdiri, kita telah menyaksikan politik ditarik secara berbahaya ke kanan pada pertanyaan seputar imigrasi, Islamofobia, dan pengungsi. Ini bukan saatnya untuk berpuas diri atau panik, tetapi penilaian mendesak atas respon yang diperlukan untuk kekuatan-kekuatan ini menjadi urgen.

Jalan yang salah: konsesi dan kompromi

Salah satu faktor dalam polarisasi politik yang telah terjadi sejak krisis keuangan adalah runtuhnya partai-partai sosial demokrat dan tipe-Buruh di seluruh Eropa. Terlepas dari Partai Buruhnya Jeremy Corbyn, fenomena ini adalah salah satu  bentuk penurunan untuk partai kiri-tengah yang mapan di Eropa yang telah mendominasi politik selama 50 tahun atau lebih. Bagian dari penjelasan keruntuhan ini adalah tanggapan dari partai-partai kiri-tengah terhadap meningkatnya rasisme. Hampir setiap partai sosial demokrat bereaksi terhadap peningkatan kekuatan kaum rasis, sayap kanan dan fasis dengan memberikan konsesi pada masalah rasisme, yang sejalan dengan penerapan politik penghematan (austerity) untuk membayar krisis ekonomi.

Penting untuk diingat bahwa partai Buruh sekarang di Inggris berkontribusi pada iklim rasisme dan Islamofobia. Pemerintah Tony Blair memicu Islamofobia untuk membenarkan perang brutalnya di Irak dan Afghanistan. Dia mengakui histeria di tengah kemunculan pencari suaka dan pengungsi, dan Gordon Brown [mantan perdana menteri Inggris dari Partai Buruh 2007-2010] mengadopsi slogan “Pekerjaan Inggris untuk pekerja Inggris” yang menguatkan orang-orang seperti BNP [Partai Nasional Inggris, sebuah partai politik fasis sayap kanan Inggris]. Bahkan Ed Miliband [politisi Inggris dan seorang pemimpin Partai Buruh 2010-2015] membuat konsesi pada argumen dengan janji “kontrol pada imigrasi” selama pemilu 2015.

Logika di balik kompromi ini adalah gagasan bahwa untuk mengatasi dukungan bagi partai populis atau fasis rasis, Anda perlu berbicara dengan bahasa mereka. Argumen ini mengatakan bahwa kaum kiri perlu “memiliki” diskusi seputar imigrasi, dan mendengarkan “keprihatinan yang tulus” tentang problem migran dan pengungsi.

Ungkapan favorit pers dan politisi adalah “kelas pekerja kulit putih” yang digambarkan secara inheren terbuka terhadap ide-ide rasis. Logika yang mengalir dari sini adalah bahwa sayap kiri dan partai-partai sosial demokratis harus berbicara kepada orang-orang ini dengan menggunakan bahasa yang membuat konsesi pada rasisme dan melihat migran dan pengungsi sebagai masalah.

Pendekatan ini salah karena dua alasan. Pertama, tidak ada kelas pekerja kulit putih yang terpisah, juga tidak ada satu “budaya kelas pekerja kulit putih”. Kelas pekerja di Inggris bersifat multikultural. Kami melihat ini di setiap serangan, di setiap aksi protes, setiap parade demonstrasi untuk mempertahankan Layanan Kesehatan Nasional (NHS). Pekerja kulit putih di Inggris tidak memiliki kepentingan terpisah dengan pekerja kulit hitam, Asia atau Muslim. Kita semua menghadapi upah rendah, pemangkasan layanan publik, dan krisis perumahan.

Kedua, pendekatan ini memainkan gagasan reaksioner bahwa pekerja kulit hitam atau pendatang entah bagaimana mendapatkan “bantuan khusus” dari negara. Ini adalah argumen tertua dalam buku pedoman fasis – bahwa pemerintah lebih menyukai “orang asing” daripada “milik kita”. Itu adalah mitos rasis.

Memang benar bahwa banyak pekerja kulit putih menghadapi isu pengangguran atau perumahan yang buruk. Tapi ini karena mereka kelas pekerja, bukan kulit putih. Rasisme berarti bahwa pekerja kulit hitam, Asia dan migran menghadapi masalah yang sama, tetapi biasanya dalam bentuk yang intensif. Daripada berbicara jauh dari hak rasis dan fasis, membuat konsesi hanya melegitimasi argumen rasis dan memberikan kepercayaan pada gagasan bahwa ada masalah dengan migran atau Muslim. Alih-alih mengambil suara dari kanan, strategi ini membuat suara mereka naik, seringkali dengan mengorbankan partai tradisional kiri-tengah.

Skenario ini telah diulangi di sekitar Eropa, di mana partai-partai sosial demokrat telah menyaksikan suara mereka runtuh karena mereka telah membuat konsesi untuk rasisme. Berpidato selama bertahun-tahun, publikasi pers, dan kebijakan pemerintah yang memberi label Muslim, migran, dan pengungsi sebagai“masalah” telah menciptakan kondisi di mana kaum fasis dan rasis merasa percaya diri. Mengkompromikan atau mengadopsi argumen rasis yang lebih lembut tidak akan melakukan apa pun untuk membendung gelombang kenaikan ekstrem kanan.

Uni Eropa menentang rasisme?

Beberapa orang memandang UE sebagai benteng melawan bangkitnya rasisme di Eropa. Alasan ini sering dipandang baik. Internasionalisme dan kerja sama yang seharusnya dilakukan UE dapat dipandang sebagai positif dibandingkan dengan politik nasionalisme sempit yang dianut oleh kanan. Kenyataannya, bagaimanapun, sangat berbeda.

UE bukan lembaga anti-rasis, seperti yang ditunjukkan oleh kebijakannya terhadap pengungsi. Laut Mediterania telah menjadi kuburan, dengan lebih dari 14.000 orang tenggelam mencoba menyeberang laut ke Eropa sejak 2014. Alih-alih membiarkan orang datang ke Eropa, Frontex, badan perbatasan UE, fokus pada bagaimana cara mengunci Eropa dari arus pengungsi atau mengirim mereka kembali.

Menanggapi tekanan dari politisi sayap kanan termasuk Mateo Salvini dari Italia dan Viktor Orban dari Hongaria, KTT Uni Eropa pada Juli 2018 memerintahkan pemotongan atas misi penyelamatan untuk pengungsi. Pemikiran ini jelas dan tidak berperasaan. Mengabaikan pengungsi agar tenggelam akan mencegah lebih banyak orang mengambil rute laut berbahaya ke Eropa. Pada akhir 2018, Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker berjanji akan mengalirkan jutaan euro untuk pasukan perbatasan sebanyak 10.000 unit yang akan dilengkapi dengan senjata untuk berpatroli di perbatasan Eropa.

Apakah mengherankan bahwa ketika Uni Eropa memiliki kebijakan biadab terhadap pengungsi, populis rasis dan partai-partai fasis merasa berani? Pembicaraan mereka tentang “invasi pengungsi” ke Eropa, yang dulunya merupakan ide yang dikonsepkan kaum ekstrem kanan, sekarang diterima sebagai fakta oleh para pemimpin Uni Eropa dan kepala negara dari Merkel hingga Macron. Memang, di dalam Uni Eropalah kekuatan fasis dan rasis menyaksikan suara mereka meningkat dan pembicaraan politik terhenti.

Mengingat penghinaan mereka terhadap migran dan pengungsi dari luar Eropa, kami tidak dapat memandang UE sebagai benteng melawan rasisme.

Serikat buruh, kaum kiri dan perang melawan fasisme

Ada juga argumen yang menunjukkan bahwa cara terbaik untuk memerangi fasisme adalah dengan hanya memerangi politik penghematan (austerity), pemotongan anggaran, dan serangan terhadap standar hidup. Argumennya adalah bahwa jika kita berkampanye untuk pekerjaan dan rumah, kita akan melemahkan tarikan rasis dari sayap kanan.

Di satu sisi ini tentu saja benar. Orang-orang di puncak kelas atas menggunakan rasisme untuk memecah belah rakyat. Mereka mengalihkan kemarahan pada pengangguran, kurangnya perumahan dan upah rendah dari diri mereka sendiri dengan mengarahkan jari pada migran dan “orang asing”. Kaum fasis dan sayap kanan membangun rasisme ini dan mempertajamnya. Karena itu, perjuangan terhadap isu-isu ekonomi merupakan hal yang krusial karena ini mengungkap masalah nyata dalam masyarakat – para majikan yang mengeksploitasi kita semua, di mana pun kita berasal.

Namun adalah salah untuk mengasumsikan bahwa jika kita memperjuangkan masalah ini, masalah rasisme akan hilang begitu saja. Memiliki gerakan serikat pekerja yang kuat, partai sosial demokrat yang besar dan bahkan perjuangan kelas yang kuat tidak berarti bahwa rasisme dan fasisme akan memudar.

Ketika masyarakat memasuki masa krisis, itu akan mengarah pada polarisasi politik. Sementara ini dapat berarti bahwa orang-orang biasa dapat ditarik ke spektrum kiri menuju ide-ide sosialis dan serikat pekerja, pada saat yang sama kekuatan-kekuatan kanan fasis dapat tumbuh. Diperlukan gerakan anti-rasis dan anti-fasis tertentu untuk menghadapi ancaman ini.

Pengalaman Prancis adalah contoh penting. Pada 1980-an, kiri Prancis adalah salah satu yang terkuat di Eropa. Francois Mitterand terpilih dengan manifesto sayap kiri, dan serikat pekerja adalah badan yang kuat yang berhasil melawan serangan terhadap kondisi kerja dan hak untuk mogok. FN [Partai ekstrem kanan Perancis] mulai mewakili ancaman serius, dengan strategi Eurofasis Jean-Marie Le Pen berhasil.

Dalam menghadapi ancaman ini, kaum kiri tidak pernah membangun organisasi atau gerakan anti-rasis yang serius yang akan menghadapi Le Pen atau menyebut FN sebagai fasis. Beberapa menolak untuk mengkonfrontasikan FN atau tidak setuju untuk menolak memberikan panggung bagi kaum fasis karena mereka khawatir melanggar kebebasan berbicara. Mereka berusaha memprioritaskan pertahanan “sekularisme” daripada menghadapi Islamofobia, yang memungkinkan pemerintah konservatif untuk memperkenalkan larangan pada jilbab tanpa ada oposisi.

Sebaliknya, tanggapan mereka adalah dengan mengatakan bahwa cara untuk menghentikan Le Pen adalah dengan membangun gerakan kiri dan memimpin perjuangan melawan kondisi sosial yang mendorong orang-orang kelas pekerja untuk memilih FN. Tetapi ini dirusak oleh fakta bahwa Partai Sosialis menganut neoliberalisme, privatisasi dan pemotongan anggaran dalam pengeluaran sosial. Itu menjadi bagian dari masalah yang mendorong orang-orang biasa condong ke arah FN.

Gerakan-gerakan massa muncul pada akhir 1990-an untuk menantang Le Pen, terutama ketika ia berhasil memasuki putaran kedua pemilihan Presiden pada tahun 2000. Tetapi tidak ada upaya berkelanjutan untuk menghubungkan jutaan serikat buruh dan mahasiswa Perancis yang memperjuangkan pemotongan pemerintah berturut-turut dan jutaan migran Muslim dari Afrika Utara dan di tempat lain yang menentang rasisme polisi Prancis dan negara Prancis, dalam sebuah gerakan yang dapat melawan kaum fasis.

Tragedi Perancis, adalah bahwa ia merupakan negara dengan salah satu populasi Muslim terbesar di Eropa, salah satu gerakan pekerja paling agresif di Eropa, dan hingga saat ini salah satu tradisi sosial demokrasi terkuat di Eropa. Namun, Perancis juga rumah bagi salah satu partai fasis terbesar di Eropa. Tragedi itu menunjukkan bahaya posisi yang mengklaim bahwa jika kita memerangi penghematan dan membangun kiri, rasisme akan hilang.

Ini penting bagi Inggris. Kaum fasis dan populis rasis tidak akan hilang begitu saja karena Corbyn memimpin Partai Buruh. Polarisasi masyarakat berarti bahwa kekuatan kiri dan kanan dapat tumbuh pada masa krisis. Tentu saja kita harus membangun perjuangan melawan penghematan neoliberal. Tetapi kita juga membutuhkan gerakan khusus untuk memerangi rasisme dan ancaman fasis.

Gerakan massa melawan fasisme dan rasisme

Kita tidak dapat mengandalkan partai atau lembaga politik yang ada untuk menantang kebangkitan sayap kanan. Mereka itulah yang telah menciptakan iklim di mana kaum rasis dan fasis merasa percaya diri dan sedang bergerak. Karena itu kita harus melihat strategi yang berbeda untuk melakukannya. Strategi ini tidak dapat didasarkan pada tindakan sejumlah kecil individu melawan kaum fasis. Menghadapi Nazi tidak bisa bergantung pada kelompok konspirasi yang berkeliling secara diam-diam menyerang fasis, tidak peduli seberapa katarsisnya hal ini. Kita tidak bisa menutup pergerakan sehingga hanya tersisa sedikit pejuang jalanan. Tindakan sabotase kecil-kecilan terhadap Nazi tidak pernah menghentikan mereka – hanya mobilisasi sejumlah besar massa lah satu-satunya cara.

Jika kita tidak hanya menghadapi kaum fasis, tetapi juga lingkungan rasis yang memberi mereka kepercayaan diri, maka kita perlu pendekatan yang berbeda. Yang diperlukan adalah gerakan massa yang menantang rasisme, dari mulai preman Nazi di jalanan sampai ke kaum politisi yang memainkan kartu ras. Kita membutuhkan parade demonstrasi, pertunjukan musik, pertemuan massa, protes terhadap serangan rasis. Ini membutuhkan kelompok anti-rasis di setiap kota dan di serikat pekerja.

Kaum fasis menarik kepercayaan mereka dari rasisme yang dipicu oleh pers dan politisi. Kita dapat menarik kepercayaan diri kita dari kekuatan dalam jumlah, ketika kita menunjukkan bahwa kita adalah kelompok mayoritas anti-rasis. Strategi front persatuan, yang bertujuan untuk menarik ribuan dan jutaan orang ke dalam aksi bersama melawan rasisme, dapat melakukan ini.

Tentu di dalam front itu akan ada perbedaan di dalamnya tentang dari mana rasisme berasal dan bagaimana kita akhirnya menyingkirkannya. Banyak anggota dan pendukung Partai Buruh, misalnya, berkomitmen menentang rasisme tetapi memiliki berbagai pandangan tentang kontrol imigrasi, perbatasan terbuka, berapa banyak pengungsi yang harus kita terima dan sebagainya. Ini adalah topik perdebatan terus-menerus di dalam Partai Buruh, sering kali dibingkai dengan pertimbangan apa yang akan memenangkan suara terbanyak. Pada akhirnya, strategi Partai Buruh untuk menangani rasisme terletak pada pemilihan anggota parlemen dan meloloskan atau menghapuskan undang-undang di parlemen, sambil mempertahankan sistem ekonomi kapitalisme saat ini.

Di Partai Pekerja Sosialis, kami berpikir bahwa rasisme datang langsung dari kapitalisme. Selama Anda memiliki minoritas di puncak kelas masyarakat yang mengendalikan semua kekayaan, mereka akan selalu menggunakan pemecah belahan dan penguasaan. Rasisme lahir sebagai ideologi untuk melegalkan perbudakan yang tidak dapat dibenarkan. Ini bermutasi dengan cara-cara baru kemudian sebagai biologi pseudo-ilmiah tentang ras untuk meningkatkan imperialisme dan kedigdayaan. Ini adalah cara untuk memecah-belah kelas pekerja dan membuat mereka bersaing satu sama lain, dan mencipta mitologi soal perbedaan budaya. Karena itu kami berpikir bahwa untuk akhirnya menghancurkan rasisme dan fasisme kita harus menyingkirkan kapitalisme dan menggantinya dengan masyarakat yang dijalankan oleh dan untuk mayoritas populasi, kelas pekerja.

Di sini dan sekarang, kami percaya bahwa semua kontrol imigrasi adalah rasis, bahwa kami harus berjuang untuk perbatasan terbuka dan membela hak-hak orang untuk pindah dan tinggal di mana pun mereka mau. Kami percaya bahwa orang biasa memiliki kekuatan dan potensi untuk membangun masyarakat sosialis yang menempatkan orang di atas keuntungan dan mengikis basis material dari rasisme dan penindasan. Kami menolak semua upaya untuk memecah gerakan kelas pekerja dengan menggunakan rasisme atau segala bentuk prasangka atau diskriminasi lainnya, karena ini bertindak sebagai penghambat orang-orang pekerja yang berjuang bersama untuk mengambil kendali masyarakat.

Tentu saja kesepakatan tentang poin-poin ini tidak dapat dituntut untuk mengambil bagian dalam perjuangan bersama melawan rasisme dan fasisme. Selama kita memiliki persetujuan bahwa kita menentang rasisme, antisemitisme, dan Islamofobia dan siap untuk bekerja sama untuk mengkampanyekannya, kita harus menerima bahwa akan ada pandangan yang berbeda tentang banyak pertanyaan lain dan akan ada perdebatan saat bekerja bersama.

Baru-baru ini ada banyak diskusi tentang perlunya membangun sebuah organisasi saat ini yang dapat meniru keberhasilan Liga Anti Nazi di tahun 1970-an. Kami menyambut debat ini. Namun, kami pikir kami juga perlu melampaui hanya fokus pada Nazi. Tantangan yang kita hadapi saat ini membutuhkan gerakan yang lebih luas yang menjawab pertanyaan rasisme yang lebih luas. Ada dua alasan utama untuk ini.

Pertama, seperti yang telah kita lihat, ciri khas periode sekarang adalah pembentukan organisasi payung di ekstrem kanan. Ini dapat mencakup populis rasis, nasionalis sayap kanan dan Nazi garis keras. Organisasi seperti AfD di Jerman atau Ukip di Inggris menyediakan kumpulan di mana fasis dapat beroperasi dan tumbuh. Organisasi-organisasi ini sendiri bukan fasis, tetapi Nazi beroperasi di dalamnya. Karena itu kami membutuhkan organisasi dan gerakan yang dapat mengambil partai dan formasi ini.

Kedua, warisan yang langgeng dari kehancuran finansial telah menciptakan krisis di pusat dan polarisasi di kiri dan kanan. Mayoritas partai sayap kanan tradisional – dari Konservatif di Inggris hingga CDU Angela Markel di Jerman – telah menanggapi krisis ini dengan mengadopsi kebijakan yang semakin rasis, mengintensifkan Islamofobia dan rasisme terhadap migran dan pengungsi. Peningkatan rasisme dari partai-partai arus utama, yang bersekutu dengan sebagian kelompok pers, telah menciptakan iklim di mana kaum fasis merasa percaya diri. Untuk memerangi kaum fasis dan sayap kanan, kita perlu menghadapi kebangkitan umum dalam rasisme yang datang dari puncak kelas masyarakat yang memungkinkan mereka untuk berkembang.

Stand Up To Racism dapat menjadi gerakan ini di Inggris. Ini menyatukan anggota parlemen Buruh termasuk sekertaris bayangan kabinet Diane Abbott, serikat buruh, kelompok agama dan sosialis. Mereka telah mengadakan demonstrasi nasional, pertemuan massa dan konferensi, berjaga-jaga terhadap serangan rasis, dan telah bekerja dengan UAF untuk menyerukan kontra-protes terhadap Nazi ketika mereka muncul. Ini juga merupakan bagian dari gerakan internasional melawan rasisme dan fasisme yang mencakup Aufstehen gegen Rassismus di Jerman dan KEERFA di Yunani. Tetapi ini perlu diperkuat dan diperdalam jika kita ingin mengkonfrontasikan tantangan yang kita hadapi.

Melampaui anti-rasisme dan anti-fasisme

Gambaran politik di seluruh dunia terkadang tampak suram. Seorang rasis dan seksis menempati Gedung Putih, sementara di seluruh Eropa kaum fasis dan kanan memiliki visi untuk membawa kita kembali ke tahun 1930-an. Kita harus memiliki visi tentang gerakan massa anti-rasis dan anti-fasis yang dapat menghentikan mereka. Itu adalah tugas penting di zaman kita. Tetapi kita juga harus memiliki visi bahwa dunia lain itu mungkin. Siklus sistem ekonomi yang kita jalani berarti kita menghadapi ancaman rasisme dan fanatisme yang berulang. Kapitalisme menciptakan krisis, dan pada masa krisis inilah kaum fasis dapat tumbuh.

Kita harus menghadapi rasisme dan fasisme di sini dan sekarang, tetapi kita juga harus melawan sistem yang menciptakan mereka. Jika kita ingin menyingkirkan masyarakat dari rasisme, kefanatikan dan seksisme, kita membutuhkan visi dunia yang berbeda. Masyarakat sosialis yang mengutamakan manusia ketimbang profit mengartikan kita dapat menghapuskan basis material dari rasisme dan penindasan, dan membuang momok fasisme untuk selamanya. Tetapi untuk sampai ke sana kita perlu kaum sosialis untuk diorganisir.

Partai Sosialis Pekerja telah menjadi bagian inti dari tiap upaya menghentikan para Nazi dan menantang rasisme di inggris selama 50 tahun terakhir. Mari menjadi bagian dari perjuangan melawan rasisme dan fasisme hari ini.

 

Penulis adalah pegiat Socialist Workers Party, Inggris, dan Stand Up To Racism (STUR). Ia bisa dihubungi via alamat surel lewisnielsen5@gmail.com. Beberapa situs organisasi di mana ia terafiliasi adalah http://www.swp.org.uk/http://www.standuptoracism.org.uk/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *