Browse By

Politik Pangan di Venezuela (Bagian 1)

Sumber: http://www.berdikarionline.com/inilah-6-kemajuan-penting-revolusi-venezuela-di-bidang-ekosob/


Tulisan ini diterjemahkan oleh Arlandy Ghiffari dari artikel berjudul “The Politics of Food in Venezuela” yang ditulis oleh Ana Felicien, Christina Schiavoni, dan Liccia Romero di Monthly Review, 1 Juni 2018.

Beberapa negara dan berbagai proses politik di dunia menjadi sorotan yang umumnya disalahpahami, seperti yang terjadi pada Venezuela dan Revolusi Bolivariannya.[i] Apalagi hari ini, ketika media internasional mencitrakan kehancuran luar biasa di Venezuela dikarenakan kegagalan kebijakan dan mis-manajemen pemerintah. Di waktu yang sama, tiga pemilihan umum nasional pada 2017 memperlihatkan dukungan kuat bagi keberlanjutan revolusi di bawah kepemimpinan Maduro. Kondisi yang tampak paradoks ini, sebagaimana dikatakan pada kami, hanya dapat dikaitkan dengan kecenderungan pemerintah untuk kooptasi dan klientelisme[ii] seiring dengan tertutupnya ruang demokrasi. Narasi seperti itu telah direproduksi berulang kali, baik di media massa maupun dalam lingkaran intelektual tertentu.[iii] Keuntungan dari sorotan tajam kepada Venezuela ini ialah bahwa narasi yang direproduksi berulang kali ini dapat diidentifikasi.

Figur utama Venezuela adalah Hugo Chávez Frías, seorang pemimpin politik-militer yang memiliki kekuatan ganda: kharisma pribadinya dan harga minyak yang tinggi selama masa kepresidenannya dari 1999 sampai 2012. Ia wafat pada 2013. Tahun-tahun setelah itu harga minyak dunia anjlok. Di tengah kehilangan sosok Chavez, kolapsnya harga minyak, dan kebijakan pemerintah yang keliru, Venezuela jatuh ke dalam disintegrasi politik dan ekonomi dengan meningkatnya kelangkaan kebutuhan pangan pokok dan yang lainnya. Hal ini menimbulkan keresahan sosial sehingga rakyat turun ke jalan. Suksesor Chavez yang kurang sekharismatis dirinya, Nicolás Maduro, berusaha keras mempertahankan kekuasaannya dengan menjadi kian otoriter, di samping tetap menjaga retorika populis Revolusi Bolivariannya Chavez. Namun, narasi ini tidak menggambarkan kompleksitas yang terjadi di Venezuela.

Ada celah yang menganga sehingga menimbulkan pertanyaan penting: siapakah “rakyat” dalam analisis ini? Apa, jika ada, dampak berbeda dari tantangan-tantangan hari ini di berbagai sektor? Bagaimana seharusnya situasi di Venezuela ini dipahami? Di mana dan bagaimana peran kapital? Dengan berfokus pada politik pangan sebagai area kunci Venezuela yang lebih luas—terutama dengan melihat kelangkaan pangan dan antrean makanan yang panjang, sebagaimana digambarkan sebagai “kerusuhan pangan” (food riot)—maka isu-isu yang lebih besar dapat dipahami dengan lebih baik lagi. Masalah yang kerapkali diabaikan seperti ras, kelas, gender, dan geografi memerlukan perhatian khusus.

Kita akan mulai dengan kembali ke masa lalu untuk menempatkan apa yang terjadi hari ini. Dengan meninjau dinamika bahan pangan pokok Venezuela dengan tingkat konsumsi yang tinggi, kita dapat melakukan pembacaan ke dalam konjungtur hari ini, khususnya pada kelangkaan pangan. Beberapa faktor utama kelangkaan itu datang dari kekuatan-kekuatan penentang Revolusi Bolivarian yang kian lama kian berpengaruh di dalam negeri. Kemudian kita akan mengkaji respon-respon pemerintah dan massa rakyat atas kelangkaan ini.

Pola Ekstraksi yang Berlanjut secara Historis

Pemahaman kontekstual atas apa yang terjadi di Venezuela mensyaratkan kita untuk menengok berabad-abad ke belakang sebelum terpilihnya Chavez di tahun 1999, yakni pada periode kolonialisasi, lahirnya pola-pola ekstraksi, dan diferensiasi sosial yang berlanjut sampai hari ini. Ketika banyak yang menulis mengenai “ekstraktivisme”[iv] sebagai ciri utama negara-negara “pink tide[v] Amerika Latin, termasuk Venezuela, maka penting untuk dipahami bahwa pola ekstraksi hari ini adalah bagian dari keberlanjutan historis sejak kolonialisasi Spanyol dari abad ke-16 sampai 19. Selama periode ini, “ekonomi perkebunan tropis melalui perbudakan” memunculkan sebuah rantai agroekspor yang kuat dengan komoditas berupa cokelat dan kopi yang disuplai ke Eropa dan Meksiko.[vi] Ciri utama agroekspor ini adalah sistem ganda perkebunan-conuco, yang di dalamnya budak dan tenaga-kerja upah murah haciendas[vii] kolonial bergantung pada tanah komunal (conucos) dan tanah keluarga untuk subsistensi.

Venezuela adalah salah satu negara awal di Amerika Latin yang meraih kemerdekaannya. Namun di awal abad ke-19, struktur ekonomi dan sosial yang dibangun di bawah sistem kolonialisasi telah sedikit berubah. Perubahan ini meliputi pola konsumsi dari sistem perkebunan-conuco kepada kuliner yang dibawa elit kolonial dari Eropa. Perbedaan makanan ini berhubungan dengan isu identitas dan dominasi untuk mempertahankan superioritas keturunan Eropa atas mayoritas Pribumi, keturunan Afrika, dan mestizo.[viii] Seorang jenderal Spanyol menyatakan bahwa ia dapat “menangani segala persoalan di bumi kecuali kue jagung buruk rupa yang disebut arepas, sebuah makanan yang dibuat hanya untuk perut orang kulit hitam dan burung unta.”[ix] Namun, meski menghina makanan penduduk pribumi, elit-elit Eropa mengandalkan pengetahuan mereka untuk adaptasi tanaman-tanaman Eropa di agroekosistem tropis. Dan pangan yang berasal dari conucos adalah sumber ketahanan pangan elit-elit itu, khususnya selama perang berlangsung. Ekonomi perkebunan dan sistem hacienda bertahan selama berabad kemudian setelah kemerdekaan.

Pada tahun 1929, pasar saham Amerika Serikat ambruk. Jatuhnya harga komoditas agrikultur dan meningkatnya ekspor minyak Venezuela mengakhiri periode agroekspor. Pola-pola baru muncul dengan cepat. Salah satunya adalah perpindahan kapital dari agrikultur ke industri minyak bumi dengan konsesi-konsesi minyak yang dijalankan oleh keluarga-keluarga kaya yang sama yang mendominasi agroekspor.[x] Hal ini berjalan seiring dengan migrasi massal dari wilayah-wilayah pedesaan ke kota melalui proses proletarianisasi dan urbanisasi yang menyebabkan melonjaknya kemiskinan di wilayah urban. Sementara, infrastruktur dan lapangan pekerjaan tidak cukup untuk menyerap kaum urban baru ini. Perkembangan di sektor minyak bumi kemudian mengkonsentrasikan kekayaan di segelintir elit yang, selain memperkuat “surplus populasi” kaum miskin kota, juga memunculkan kelas menengah profesional. Beberapa hal terjadi karena perubahan ini: para pemilik dari rantai agroekspor lama mengambil keuntungan dari infrastruktur mereka yang masih ada, arus dolar di sektor minyak bumi, dan daya beli kelas menengah Venezuela yang bergeser dari pengekspor menjadi pengimpor pangan. Seiring waktu, praktek-praktek ini berkembang menjadi impor agro-pangan yang kuat dan memunculkan kompleks distribusi.[xi]

Minyak bumi juga menghancurkan sistem perkebunan-conuco, pola produksi, dan konsumsi yang lama. Untuk mengisi kekosongan ini, pemerintah Venezuela pada tahun 1936 menginisiasi program modernisasi agrikultur yang didanai dari keuntungan ekspor minyak bumi dan berencana mengganti impor pangan yang tinggi di pusat-pusat urban yang kian meluas. Dorongan modernisasi ini adalah bagian dari Revolusi Hijau yang menyapu hampir seluruh belahan bumi bagian Selatan sebagai strategi antikomunis Amerika Serikat dan sekutunya pada Perang Dingin. Di Venezuela, proses ini dijalankan oleh “kapitalis misionaris” Amerika Serikat  dan godfather Revolusi Hijau, Nelson Rockefeller. Sebagai afiliasi regional Standard Oil yang paling menguntungkan, Venezuela memiliki arti khusus bagi Rockefeller yang menjadikan Venezuela rumahnya, bahkan ia mendirikan haciendanya sendiri.[xii]

Program modernisasi agrikultur Venezuela menyatukan ranah produksi industri dengan supremasi kulit putih yang terwujud dalam upaya blanqueamiento atau “pemutihan” (whitening). Hal ini tergambar, misalnya, dalam Undang-Undang Imigrasi dan Kolonialisasi pada 1936 yang memfasilitasi kulit putih Eropa memasuki Venezuela. Tujuannya adalah, dalam kata-kata Menteri Agrikultur, Alberto Adriani, membantu Venezuela “mendiversifikasi agrikulturnya; membangun industri baru dan menyempurnakan yang lama; dan berkontribusi kepada pengembangan ras dan budayanya.”[xiii] Untuk mencapai tujuan tersebut, Undang-Undang ini mendukung formasi colonias agrícolas (koloni-koloni agrikultur) yang dijalankan imigran Eropa di beberapa wilayah paling produktif. Beberapa di antaranya masih ada sampai hari ini.

Agenda modernisasi ini juga memperkenalkan bentuk lain kolonialisasi, yakni rantai pasar swalayan Venezuela yang pertama, CADA, yang didirikan pada 1948, dipelopori oleh Rockefeller bersama dengan pemerintah Venezuela. Untuk memperkuat hubungan antara konsumsi pangan, identitas, dan status sosial, pasar swalayan memungkinkan kelas menengah yang baru muncul ini untuk menikmati elitisme makanan—secara harfiah maupun kiasan. Ini adalah bagian dari program yang lebih luas untuk pembangunan negara modern yang dirancang untuk mengubah Venezuela menjadi “sekutu Amerika Serikat yang dapat dipercaya…dengan pemilih kelas menengah yang solid.”[xiv] Pada beberapa hal, upaya ini berhasil, dan Venezuela pada akhir abad ke-20 dipandang sebagai “salah satu kisah sukses negara berkembang dengan demokrasi kekayaan minyaknya sebagai model pertumbuhan ekonomi dan stabilitas politik di Amerika Latin.”[xv] Namun, “minyak tidak pernah benar-benar mengubah Venezuela, melainkan justru menciptakan ilusi modernitas dengan tingkat kesenjangan yang tinggi.”[xvi] Narasi-narasi itu gagal melihat bahwa di awal Revolusi Bolivarian, lebih dari separuh populasi hidup dalam kemiskinan, dengan tingkat kelaparan yang lebih tinggi dari hari ini.[xvii]

Sisi Lain Sejarah

Sejarah hari ini menantang penggambaran Venezeuela pra-Chávez sebagai model demokrasi dan benteng stabilitas di benua yang hiruk-pikuk itu. Satu momen khusus terjadi pada 1989 ketika kebijakan penyesuaian struktural (Structural Adjustment Policy/SAP) yang ditentukan oleh IMF membuat massa semakin marah. Caracazo atau “ledakan Caracas” (explosion of Caracas)—di mana ratusan ribu orang dari barrio-barrio di lereng gunung—membanjiri ibukota Venezuela itu yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru negeri.[xviii] Militer diperintahkan untuk menembaki massa. Sebanyak ratusan orang menjadi korban, tapi beberapa percaya korban berjumlah ribuan—namun pemberontakan sosial yang dilancarkan Caracazo ini tidak terhentikan.

Hal ini kemudian membawa kita ke sisi lain dari sejarah: peristiwa yang digambarkan di atas terjadi di tengah ketegangan—kadang dengan konflik terbuka—antara elit dan “yang-lain”, dimana kaum elit coba menundukkan dan mengeksploitasi, meski tidak pernah sepenuhnya berhasil. Seperti dalam beberapa rekam sejarah, penduduk pribumi, keturunan Afrika, dan mestizo yang menjadi mayoritas di Venezuela telah lama melakukan perlawanan, mulai dari pemberontakan langsung sampai perlawanan sembunyi-sembunyi. Perlawanan dari bawah seperti itu amat krusial dalam meruntuhkan kolonialisasi. Seperti dipahami Simon Bolivar[xix] bahwa perlawanan rakyat yang diperbudak dan penduduk pribumi untuk memerdekakan dirinya, kemudian dilanjutkan oleh perlawanan kaum tani pada masa paska-kemerdekaan, dan perlawanan guerilla, pelajar, pekerja, dan perempuan adalah hal penting yang terjadi selama periode demokratisasi. Kemunculan Chávez dan Revolusi Bolivarian dapat dipahami sebagai keberlanjutan dari Caracazo dan perlawanan-perlawanan sebelumnya melalui “massa rakyat…yang merebut kedaulatan politiknya.”[xx] Ketidakadilan dalam hal pangan adalah salah satu penyebab munculnya Caracazo. Rakyat miskin mengantre dalam barisan yang panjang untuk dapat mengakses kebutuhan pokok, sementara pedagang-pedagang kelas menengah menimbun barang-barang ini agar harganya naik ketika terjadi inflasi, dan para elit, sehari-harinya dapat makan dengan tenang tanpa terpengaruh—semua ini paralel dengan situasi yang terjadi hari ini. Tepat sebelum dan setelah terjadinya Caracazo, judul-judul berita seperti “Harga Gula, Sereal, dan Minyak Naik” atau “Rakyat Menderita akibat Kelangkaan Pangan” membanjiri media nasional, sementara New York Times menurunkan berita “kelangkaan kopi, garam, tepung, minyak goreng dan bahan-bahan pokok lain.”[xxi] Ini semua menunjukkan ketegangan yang semakin besar atas akses pangan yang begitu berdampak pada rakyat miskin, dan juga menunjukkan bahwa sistem pangan Venezuela yang “dimodernisasi” melalui impor, industri agrikultur, dan pasar swalayan yang disokong oleh Rockefeller sama sekali tidak berpihak pada mayoritas rakyat. Pada gilirannya, hal ini memicu beban ganda pada awal Revolusi Bolivarian: selagi memberi perhatian segera untuk memenuhi kebutuhan materiil lebih dari setengah populasi yang hidup dalam kemiskinan, juga berupaya mengubah pola historis yang mengakibatkan jurang disparitas di sistem pangan Venezuela.

Pentingnya agrikultur dan pangan digambarkan dalam konstitusi baru Venezuela yang dirancang melalui proses majelis konstituante yang partisipatoris dan lolos melalui referendum rakyat pada 1999. Konstitusi itu menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh warga negara, “melalui agrikultur berkelanjutan sebagai basis strategis untuk perkembangan wilayah pedesaan yang terintegrasi.”[xxii] Sebagai kelanjutannya, berbagai inisiatif yang disponsori negara bersama rakyat telah terbentuk di bawah slogan “kedaulatan pangan.” Reforma agraria adalah yang fundamental dalam proses ini, yakni kombinasi redistribusi tanah dengan berbagai program pengembangan wilayah pedesaan yang meliputi pendidikan, perumahan, kesehatan, media, dan komunikasi. Kaum nelayan mendapat keuntungan dari program serupa, ditambah pelarangan industri pukat di lepas pantai Venezuela.[xxiii] Inisiatif-inisiatif di wilayah pedesaan juga telah dilengkapi dengan program pangan di wilayah urban yang menjangkau area yang luas: sekolah, tempat kerja, dan rumah tangga.[xxiv] Sama pentingnya dengan kedaulatan pangan adalah bentuk-bentuk organisasi rakyat, mulai dari dewan komunal lokal dan comunas regional sampai dewan petani dan nelayan. Semua ini menciptakan partisipasi rakyat yang lebih luas atas sistem pangan.[xxv]

Meski demikian, program-program itu, di samping memiliki keuntungan, juga memiliki batasan. Venezuela berhasil melewati Millenium Development Goal (MDG) pertama, yakni memangkas tingkat kelaparan sampai separuh populasi pada tahun 2015, sebagaimana diakui United Nations Food and Agriculture Organization.[xxvi] Dari 2008 sampai 2011 pengurangan tingkat kelaparan berpengaruh sampai rata-rata 3,1 persen populasi.[xxvii] Meski demikian, kemajuan yang disponsori oleh pendapatan dari industri minyak yang telah dinasionalisasi itu sebagian besar datang dari penguatan rantai agroimpor, bukan dari sistem alternatif. Ditambah, reforma agraria juga menerima investasi yang signifikan, meski tetap terpisah dari program ketahanan pangan. Ketika beberapa terobosan penting dibuat untuk menghubungkan dua inisiatif ini, Chávez melihat tidak ada keretakan (rupture) yang abadi dalam garis historis mengenai siapa yang mengontrol sistem pangan agrikultur. Maka, lebih banyak program pangan untuk rakyat miskin berarti lebih banyak lagi impor pangan yang akhirnya mengonsolidasikan rantai impor melalui mekanisme-mekanisme negara. Di antara mekanisme ini adalah memberi dana hibah yang didapat dari pendapatan minyak kepada perusahaan swasta, dengan subsidi yang tinggi, untuk mengimpor makanan dan barang-barang lain yang dianggap penting. Ini berarti, selama Revolusi Bolivarian, dana negara, selain dipakai untuk banyak program sosial, juga mengalir kepada perusahaan swasta, dengan subsidi yang besar pada perusahaan-perusahaan terbesar.[xxviii] Penerima keuntungan secara langsung maupun tak langsung dari sistem ini hanya memiliki sedikit insentif untuk mengubahnya.

Sistem Pangan: Komposisi Maíz-Harina-Arepa

Proses akumulasi dan diferensiasi sistem pangan agrikultur Venezuela dapat dilihat dengan jelas dalam hal makanan yang paling banyak dikonsumsi, yakni arepa—bakwan jagung. Dengan melihat apa yang kita sebut sebagai komposisi maíz-harina-arepa (jagung-tepung-arepa), kita dapat melacak sejarah politik pangan di Venezuela. Komposisi ini dapat dilacak ke zaman pra-kolonial, ketika jagung, yang tak terpisahkan dari conuco, memainkan peran penting dalam tradisi penduduk pribumi, baik dalam kosmologi maupun sebagai makanan. Dengan datangnya kolonial Spanyol yang membawa gandum, jagung dan singkong yang menjadi makanan pokok, penduduk pribumi membantu menopang terbentuknya Perdagangan Segitiga (Triangle Trade).[xxix]

Pola produksi, pengolahan, dan konsumsi jagung tetap tidak berubah setelah kemerdekaan. Namun ketika diperkenalkan tepung jagung matang pada 1960-an, sistem pangan agrikultur mulai berubah. Pada ujung produksi, panen jagung dipindah dari conuco ke industri produksi monokultur, tergantung varietas benih komersilnya. Yang lebih dramatis adalah perubahan pengolahan jagung menjadi tepung jagung matang (precooked corn flour), yang mana bijinya sudah “dibuang kulitnya, dibuang benihnya, kering, dipotong tipis, dan digiling.”[xxx] Dalam proses pengolahannya, lapisan luar yang bergizi dibuang, sehingga kandungan vitamin dan mineralnya menjadi berkurang dan tidak memenuhi standar gizi. Makanan ini dengan cepat menjadi makanan pokok kelas pekerja Venezuela, dan dalam empat dekade tepung jagung matang merepresentasikan 88 persen konsumsi jagung di seluruh negeri.[xxxi]

Sejak pertama kali tepung jagung matang dikomersialisaskan, satu merk bernama Harina PAN menjadi serupa/sinonim dengan produknya—nama itu juga digunakan secara bergantian dengan istilah harina precocida, yakni Productos Alimenticios Nacionales (Produk Pangan Nasional), dan PAN sendiri homonim dengan pan, roti. Terlepas dari awal kemunculannya yang digambarkan marketing perusahaan, pemiliknya, keluarga Mendoza Fleury, datang dari garis keturunan elit kolonial yang memiliki pos-pos kunci di pemerintahan dan bisnis.[xxxii] Hari ini keluarga itu adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Venezuela yang dikenal sebagai pemilik Empresas Polar, konglomerat yang menyuplai makanan dan minuman yang paling banyak dikonsumsi, terutama arepas dan bir. Polar, anak perusahaan PepsiCo, adalah perusahaan terbesar di Venezuela dengan produk-produknya yang menjangkau pasar global dan mengendalikan 50 sampai 60 persen suplai tepung jagung matang di Venezuela.[xxxiii] Besarnya kendali itu hanya bisa dimungkinkan melalui kombinasi antara integrasi vertikal, konsentrasi, hubungan strategis dengan negara, dan pemasaran yang jor-joran di ruang publik dan privat, termasuk ruang paling intim di kehidupan sehari-hari. Di sisi produksi, produk Fundación Danac, yang hak paten atas varietas jagungnya mencapai lebih dari 600, memiliki kendali atas sertifikasi benih jagung dan riset.[xxxiv] Di sisi distribusi, Polar adaah pemegang saham kunci dari CADA, yang pada 1992 bekerjasama dengan perusahaan asal Belanda, SHV, untuk meluncurkan hypermarket  terbesar di Venezuela, Makro.

Keterlibatan Polar dalam sektor ritel telah mengamankan jalur-jalur distribusi penting, namun tujuan utamanya adalah mengamankan pasar. Di antara strategi pemasaran paling awalnya adalah menyasar ibu rumah tangga di Venezuela, termasuk pelatihan ribuan perempuan untuk menyebar ke lingkungannya dan mengajari ibu-ibu rumah tangga bagaimana membuat arepas dari Harina PAN. Dari situlah Polar dapat mencapai banyak segmen masyarakat, mulai dari papan reklame, televisi, media cetak, menjadi sponsor acara-acara kebudayaan, mengadakan riset dan publikasi (melalui Fundación Polar), membentuk badan penghargaan bergengsi bagi saintis (Premio Polar), dan membentuk “tanggung jawab sosial perusahaan” (CSR) untuk meraih perhatian internasional.[xxxv] Melalui semua itu, Polar menempatkan Harina PAN sebagai “merknya semua orang Venezuela.”[xxxvi] Karena produknya memang ada di mana-mana, maka klaim itu tidak begitu mengherankan. Mungkin mengapa Polar bisa mempenetrasi ke dalam kehidupan sehari-hari adalah kesamaan produknya, kebanyakan produk Harina PAN, dengan makanan itu sendiri—seperti ungkapan bahwa tanpa Polar, maka tak ada makanan. Polar mampu menjaga produk-produknya tetap tersedia.

Sejak kemunculannya pada 1999, Revolusi Bolivarian memiliki hubungan kompleks yang kadangkala menegang dengan Polar, termasuk ketika membentuk sebuah alternatif komposisi maíz-harina-arepa, terutama melalui hubungan antara institusi negara dan komunitas pertanian. Proyek ini menjadi rencana yang terpusat dengan koordinasi antara produksi jagung, belanja negara, dan terutama melibatkan bekas tanah latifundio[xxxvii] yang dipulihkan melalui reforma agraria. Upaya reformasi juga termasuk pengolahan produk jagung, meski belum mencapai produksi dengan skala signifikan. Polar kemudian menjaga hegemoni relatifnya atas produksi tepung jagung. Dan di luar kendali fisiknya, perusahaan menggunakan kekuatan kultural dan simbolis sebagai pemasarannya. Meski hubungan antara Polar dan pemerintah berjalan dengan tidak mulus selama Revolusi Bolivarian, namun keduanya tidak sepenuhnya oposisional karena terikat dengan komposisi maíz-harina-arepa. Juga termasuk yang sebelumnya disebutkan, yakni ketentuan dana impor pangan dengan subsidi yang tinggi, di mana Polar adalah salah satu penerimanya.[xxxviii] Hari ini, hubungan itu lebih tersolidifikasikan lagi.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *