Browse By

Politik Pangan di Venezuela (Bagian 2-Habis)

Sumber: https://medium.com/lingkaran-solidaritas/sosialisme-abad-21-relasi-gagasan-trisakti-indonesia-dan-bolivarian-venezuela-sosialisme-abad-21-18f89a3d5938

Antrean Makanan dan Garis Depan

Seperti yang telah kita lihat, sistem pangan Venezuela telah dibentuk melalui tarik-ulur kapital, masyarakat, dan negara dengan ketegangan yang tinggi, ikatan yang kuat, dan konsekuensi-konsekuensi yang dijalani sehari-hari. Kerapuhan keseimbangan kekuatan ini telah nampak pada tahun-tahun belakangan, khususnya sejak 2013, ketika terjadi antrian panjang makanan yang mana gambaran ini terus-menerus direproduksi media internasional. Gambaran selanjutnya yang menjadi sorotan adalah—pertama pada 2014 dan semakin intens pada 2017—“rakyat” yang turun ke jalan. Diceritakan bahwa spontanitas “kerusuhan pangan” bersama dengan protes-protes “pro-demokrasi” adalah bagian dari perlawanan rakyat global melawan rezim autoritarian. Kerusuhan itu, berdasarkan narasi umum, dipicu oleh antrian-antrian panjang akibat kelangkaan pangan karena harga minyak yang jatuh, ditambah faktor mismanajemen pemerintah. Kombinasi ini telah dipandang secara luas sebagai krisis sistem pangan Venezuela, sebagai bagian dari kegentingan ekonomi dan politik negara. Meski demikian, pengamatan yang lebih dekat pada situasi hari ini harus dilakukan agar pemahaman kita lebih lengkap dan kontekstual.

Pertama, penting untuk melihat secara hati-hati antrean makanan: komposisinya, lokasinya, dan produk-produk apa yang dicari. Mayoritas rakyat yang berada di antrean itu adalah perempuan kelas pekerja—Sama seperti organisasi rakyat saat Revolusi Bolivarian di mana perempuan memainkan peran kunci. Antrean itu sebagian besar berada di luar pasar swalayan, di mana konsumen menunggu untuk mendapatkan barang-barang tertentu yang sebagian besar hilang dari rak. Barang-barang itu berupa produk olahan industri yang paling banyak dikonsumsi, terutama tepung jagung matang. Barang-barang tertentu yang hilang di peredaran—barang-barang yang paling penting bagi rakyat—cenderung tidak diangkat menjadi headline, dan persis di titik inilah terjadi jurang yang lebih besar di narasi-narasi media. Ketika tepung jagung matang tak ada, bubur jagung masih tersedia; atau ketika susu bubuk tidak ada di rak-rak pasar swayalan, produk susu segar seperti keju masih ada; dan seterusnya.

Beberapa faktor penting lain menunjukkan keganjilan dalam narasi dominan mengenai kelangkaan ini. Pertama, beberapa barang yang menghilang di peredaran tetap ditemukan di restoran-restoran. Kedua, melalui perhitungannya sendiri, perusahaan-perusahaan makanan swasta, termasuk Polar, produksinya tetap stabil setidaknya selama tahun 2015.[39] Kenyataannya, dalam sebuah wawancara di tahun 2016, perwakilan dari Polar berbicara mengenai tambahan produk-produk baru seperti teh dan gelatin untuk antrean makanan.[40] Ketiga, bahkan sebelum pemerintah merespon kelangkaan (seperti akan dijelaskan nanti), tingkat konsumsi tepung jagung, baik pada masyarakat berpendapatan tinggi atau rendah, tetap stabil dari 2012 sampai 2015.[41] Maka, ketika kelangkaan menimbulkan kecemasan dan ketidakamanan yang tinggi, dan ketika mengakses beberapa barang menjadi lebih menyita waktu dan sulit, rakyat Venezuela telah menemukan cara untuk mendapatkannya.[42] Untuk mempertahankan antrean makanan ini, diciptakan saluran bawah tanah, yang mana melaluinya produk seperti tepung jagung dijual dengan harga yang sangat tinggi. Kaum-kaum oportunis memanfaatkan praktek bawah tanah ini menjadi bisnis, dan perusahaan-perusahaan swasta juga memanfaatkannya dengan menimbun produk-produk tadi untuk tujuan spekulatif dan menyelundupkannya melalui perbatasan Kolombia. Temuan lebih lanjut memperlihatkan bahwa produk-produk ini memang sudah diniatkan untuk diambil dari pasar-pasar swalayan dan digelapkan. [43]

Ada paralelitas antara Venezuela hari ini dengan Cile tahun 1970-an di bawah Salvador Allende, di mana saat itu strategi Amerika Serikat adalah untuk, dalam kata-kata Richard Nixon, “membuat ekonomi menjerit.”[44] Amerika Serikat menjalankan metode-metode yang sama untuk destabilisasi, termasuk blokade finansial dan dukungan untuk kaum kontrarevolusi sayap kanan yang semuanya diwujudkan dalam kelangkaan pangan, antrean makanan, protes jalanan, dan bentuk-bentuk disrupsi lain. Turunnya harga sumber daya utama di Cile seperti kurs mata uang asing dan tembaga berpengaruh terhadap jatuhnya harga minyak di Venezuela. Jika keterlibatan Amerika Serikat dalam kontrarevolusi di Cile tidak diketahui sampai beberapa tahun kemudian dengan dideklasifikasinya dokumen-dokumen kunci, keterlibatan Amerika Serikat di Venezuela sudah terlihat jelas dengan sanksi-sanksi ekonomi yang diberikan Obama dan Trump, seperti blokade ekonomi sepenuh-penuhnya yang membuat pemerintah Venezuela sangat sulit membayar impor pangan dan hutangnya.[45] Seperti dinyatakan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat:

“Kampanye untuk menekan (Venezuela) sedang berjalan. Sanksi-sanksi finansial yang kami berikan pada pemerintah Venezuela memaksa mereka menuju kegagalan, baik dalam kedaulatan maupun PDVSA—hutang perusahaan minyaknya. Dan apa yang kita lihat sekarang, yakni pilihan-pilihan buruk rezim Maduro adalah kebangkrutan total ekonomi Venezuela. Demikianlah, kebijakan dan strategi kami sedang berjalan, dan kami akan mempertahankannya demi rakyat Venezuela.”[46]

Intervensi Amerika Serikat di Venezuela hari ini, seperti yang terjadi di Cile pada 1970-an, mengandalkan kaum kontrarevolusioner dengan elit-elitnya yang memperalat potensi revolusioner massa untuk menakut-nakuti kelas menengah.[47] Hal ini membawa kita pada ciri penting lainnya dari konjungtur hari ini: dinamika kelas pada protes-protes jalanan yang digambarkan sebagai “kerusuhan pangan” dalam narasi dominan, khususnya pada 2017. Ketika antrean makanan mulai muncul pada 2013 dan semakin meluas dari waktu ke waktu, antrean ini menjadi faktor kunci beralihnya kendali dari Majelis Nasional chavistas kepada mayoritas oposisi di bawah Democratic Unity Roundtable (MUD) di akhir 2015. Salah satu strategi kampanye MUD adalah iklan “La Ultima Cola” (Barisan Terakhir) yang menggambarkan rakyat yang tidak puas sedang berdiri di “barisan terakhir” antrean-antrean makanan dan memberikan suaranya untuk MUD, yang akhirnya nanti ketika MUD sudah menggenggam kekuasaan antrean itu akan hilang selamanya.[48] Yang patut digarisbawahi dalam kampanye itu adalah kelas pekerja dijadikan bahan komersil. Komposisi demografis di dalam antrean menggambarkan mayoritas populasi, namun justru bertolakbelakang dengan orang-orang kaya berkulit putih di MUD. Namun, tidak butuh waktu lama bagi MUD untuk kembali ke basisnya, meskipun, dengan peningkatan suara MUD, Wakil II Presiden Majelis Nasional, Freddy Guevara, menyerukan kepada “rakyat”—yakni pendukung MUD—secara terbuka untuk turun ke jalan, “sampai satu-satunya opsi yang tersisa dari kediktatoran adalah diterimanya solusi yang tidak traumatis.”[49]

Serangkaian demonstrasi pun terjadi, mulai dari perlawanan damai sampai tindakan kekerasan. Meskipun digambarkan di media sebagai aksi yang berlangsung secara nasional, namun sebenarnya aksi ini sangat terbatas pada area-area terkaya di beberapa kota saja, dan dengan bentuk yang bervariasi, mulai dari barikade jalanan, vandalisme, piknik, barbekyu, aksi lilin, serangan fisik, sampai pelemparan “poopootovs” (kotoran manusia).[50] Taktik-taktik tersebut nampaknya tidak saling berhubungan, namun sesungguhnya demonstran menyasar area tertentu, yakni pelayanan publik: pembakaran bis-bis yang disubsidi negara dan vandalisme di fasilitas-fasilitas kesehatan publik.[51] Serangan paling parah adalah terhadap lembaga agrikultur: Lembaga Gizi Nasional (National Institute of Nutrition) yang dibakar massa, laboratorium-laboratorium untuk produksi pertanian ekologis yang dijadikan sasaran vandalisme, suplai pangan pemerintah yang dibakar—termasuk kendaraan-kendaraan yang membawa suplainya.[52] Juga, di antara sasaran-sasaran itu, tragisnya, adalah orang-orang yang terlihat seperti chavistas—yakni orang miskin dan berkulit coklat. Serangan kepada Orlando Figuera merupakan contoh paling nyata. Ia adalah seorang Afro-Venezuela yang bekerja di pasar swalayan. Ia dibakar hidup-hidup, sedangkan orang-orang di sekelilingnya, seperti terekam dalam video, tidak melakukan apapun untuk menolongnya.[53] Ketika Figuera tidak dapat tertolong lagi, korban lain dengan latarbelakang yang mirip dengannya, Carlos Ramirez, beruntung masih selamat meski menderita luka bakar parah di sekujur tubuhnya. Ketika massa mengeroyok dan mulai membakarnya hidup-hidup, Ramirez berteriak memohon-mohon, “Jangan bunuh saya! Saya bukan chavista! Tolong, jangan bunuh saya!”[54]

Serangan bermotif rasial yang bertalian dengan protes jalanan dengan kekerasan—yang disebut sebagai guarimbas—ini merupakan “gabungan kelas/ras” dengan “akar yang dalam di sejarah Venezuela.”[55] Para demonstran sebagian besar adalah generasi kedua dari kelas menengah yang muncul di periode modernisasi dan “pemutihan”, yang mana, bersama elit negara, membentuk aliansi elit kelas menengah atau sifrinaje. Media internasional sangat mengabaikan fakta ini, namun sebuah pengecualian terjadi pada 2017 dalam sebuah artikel di Bloomberg Businessweek mengenai kehidupan malam para demonstran muda yang terlihat berkumpul di bar-bar shisha kelas atas. Ketika diwawancarai, seorang demonstran muda berkata “Kau berdemonstrasi di pagi hari, tapi bukan berarti kau berhenti menikmati hidup.”[56] Selain tentang demonstran yang tidak homogen, apa yang ditulis dalam artikel itu menentang narasi mengenai demonstran yang ditindas, selain juga menyoroti dampak-dampak dari demonstrasi, seperti bagaimana di antara mereka bisa menjalani kehidupan sehari-hari dengan nyaman, sementara yang lain harus berjuang untuk dapat bertahan hidup. Demonstrasi dengan kekerasan sangat berdampak pada sektor-sektor rakyat termiskin, yang mana mereka tidak bisa bolos kerja, dan yang kehidupan sehari-harinya adalah perjuangan bagi mereka. Mereka terjebak karena transportasi umum tidak beroperasi dan takut akan datang serangan fisik. Yang juga dirugikan adalah pekerja jasa dan domestik yang setiap harinya harus bepergian dari dan ke area-area terkaya di mana guarimbas terpusat. Area itu juga merupakan lokasi sebagian pasar swalayan berada, yang mana telah menghambat akses makanan bagi kelas pekerja dan rakyat miskin, padahal kelas pekerja dan rakyat miskin sudah dihambat oleh kelangkaan dan antrean panjang.

Citra yang ditampilkan media internasional adalah “rakyat” bergerak karena “krisis kemanusiaan” yang dibawa oleh “rezim otoritarian.” Padahal, kenyataannya, kombinasi perlawanan dengan cara damai dan tindak kekerasan dari guarimba hanya ditujukan untuk mengisolir rakyat dari oposisi. Sekilas nampak bahwa headline dan gambaran ini menunjukkan kontradiksi yang mencolok—khususnya mengenai guarimbas sebagai “kerusuhan pangan”—mengingat komposisi kelas dan ras dari massa yang hambre (kelaparan) seperti dijelaskan di atas. Menariknya, di sosial media, postingan dari Freddy Guevara dan yang lain menghilangkan ilusi apapun bahwa massa bergerak secara spontan. Pada akhirnya, baik target maupun taktik guarimbas—termasuk membakar makanan alih-alih mendistribusikannya (benar bahwa makanan didesain untuk rakyat miskin), bersamaan dengan serangan terhadap rakyat miskin dan orang kulit hitam—adalah kebohongan mengenai guarimbas sebagai “kerusuhan pangan” yang dilakukan orang-orang yang kelaparan.

Satu peristiwa yang lebih jauh lagi menggambarkan “kerusuhan pangan” atau “pemberontakan pangan” adalah Caracazo tahun 1989 yang telah disebutkan sebelumnya. Ketika itu laporan-laporan dari New York Times dan media massa lain mengkritik pemerintahan President Andrés Pérez, namun juga menampilkan berita adanya kuburan-kuburan massal, antrean orang di kamar mayat yang mencari sanak-familinya, pemberlakuan jam malam, pembatasan kebebasan sipil dan pers, dan kematian lebih dari 600 orang—dengan mengutip perkataan seorang dokter, “tidak ada negara yang mempersiapkan seperti apa yang kita hadapi minggu-minggu ini.”[57] Hari ini, secara berkebalikan, ketika represi pemerintah selalu diberitakan Times dan yang lain, 14 kematian yang berkaitan dengan guarimbas tahun 2017 langsung diarahkan kepada aparat pemerintahan, sementara 23 kematian lain diarahkan kepada oposisi.[58] Saat kekerasan apapun yang didukung oleh pemerintahan pantas mendapat perhatian dan investigasi, namun mengapa teriakan dunia internasional lebih besar dibanding ketika terjadi Caracazo, dan, mengapa, seperti sebuah media pemantau (watchdog) katakan, “kondisi demokrasi yang tidak sempurna di Venezuela” menjadi perhatian istimewa, padahal banyak kekejaman yang terjadi di dunia hari ini tidak dilaporkan.[59]

Hal ini membawa kita kembali ke persoalan minyak. Minyak bumi adalah pusat narasi dominan yang menyatakan bahwa pemerintahan Chavez memenangkan dukungan rakyat karena kuatnya harga minyak dan kharisma personalnya, sementara ketidakpopuleran Maduro disebabkan harga minyak yang terjun bebas dan tindakan politiknya yang gegabah. Sekali lagi, cerita yang familiar ini mendistorsi fakta-fakta kunci. Pertama, seperti ditunjukkan ekonom Luis Salas, meski harga minyak memang naik ketika masa kepemimpinan Chavez, namun puncak harganya yakni sekitar $100 per barel adalah penyimpangan yang terjadi di masa-masa akhir kepemimpinannya—antara 2010-2012—di mana harga rata-rata menyentuh $55 per barel[60] (Ini terjadi persis ketika tulisan ini dibuat). Kedua, kelangkaan yang menjadi perhatian internasional adalah bagian dari hal yang lebih luas ketika Revolusi Bolivarian, yakni ketika periode naik-turunnya harga minyak, dan khususnya ketika momen-momen ketegangan politik menuju pemilihan umum.[61] Lebih jauh lagi, kelangkaan yang terjadi baru-baru ini tidak dimulai pada 2014 ketika harga minyak jatuh, melainkan pada 2013 ketika harga minyak masih tinggi. Semuanya ini menambah kompleks narasi simplistik yang terjadi hari ini di Venezuela. Tapi mungkin celah paling kentara dalam analisis-analisis yang cenderung berpusat di pemerintahan dan negara semacam itu adalah peran kunci kapital dan relasinya dengan negara. Patut diingat dialektika revolusi-konterrevolusi: krusial untuk melihat peran elit yang kekuatannya meluas melalui sistem agri-pangan, eksploitasi “krisis” hari ini untuk konsolidasi kekuatan mereka lebih lanjut, dan pencarian celah untuk merusak kebijakan redistribusi agri-pangan. Kekuatan elit ini telah melancarkan serangan material yang berdampak pada kelas pekerja dan rakyat miskin, sementara di sisi lain memprovokasi kelas menengah yang sedang frustrasi. Mereka juga menyerang legitimasi pemerintah, baik secara internal maupun eksternal, terutama mendiskreditkan reputasi Venezuela dalam capaian-capaiannya melawan kelaparan dan kedaulatan pangan.

Perlawanan: ‘En Guerra Hay Que Comer’

Sebagaimana salah satu aktivis kedaulatan pangan Venezuela berkomentar mengenai situasi hari ini: “Dalam perang, seseorang harus makan.” Respon-respon atas tantangan ini mengambil banyak bentuk, dan ketika kajiannya melampaui artikel ini, kami akan memberikan tinjauan yang luas. Pertama, jika kehidupan sehari-hari adalah medan perang utamanya, ia juga adalah garis depan perlawanan. Ketika kelangkaan pangan dimulai, salah satu garis pertahanan yang harus diaktifkan adalah sebentuk ekonomi solidaritas yang melibatkan pembagian dan barter pangan. Dan yang juga penting di lingkungan masyarakat adalah reaktivasi teknik-teknik bertahan hidup dari masa lalu. Semua ini termasuk reklaim teknik-teknik penyiapan makanan tradisional—semisal hilangnya makanan dari rak-rak pasar swalayan digantikan dengan makanan lokal yang masih tersedia berkat upaya kedaulatan pangan: pisang, singkong, kentang manis untuk pati olahan, tebu untuk gula halus, dan lain-lain. Mungkin hal paling simbolik di hari-hari awal kelangkaan pangan adalah penggantian jagung tanah untuk tepung jagung (matang) olahan dalam mempersiapkan arepas. Bersamaan dengan ini, peningkatan jumlah kaum urban yang belum pernah terjadi sebelumnya mulai melakukan apa yang mereka bisa, seperti mengerjakan kusen jendela, beranda rumah, dan berkumpul di ruang-ruang publik untuk meramaikan gerakan urban yang baru lahir.

Di daerah pedesaan, kelangkaan pangan yang diiringi dengan dikuranginya akses kepada produk-produk industri memaksa para petani untuk bergeser dari varietas tanaman komersial kepada tanaman pokok, dan dari praktek-praktek agrikimia kepada agroekologi. Ini berbarengan dengan “periode khusus” Kuba. Rakyat pedesaan yang tidak memiliki keterlibatan secara langsung dalam proses agrikultur telah kembali ke produksi pangan dan kian banyak yang bergabung dengan kawan-kawan mereka di kota. Lonjakan alternatif pangan dan tinjauan ulang mengenai pedesaan telah membuka jalan bagi gerakan sosial yang menuju transformasi, membantu memperkuat hubungan akar rumput dan upaya-upaya kedaulatan pangan di bawah Revolusi Bolivarian. Dikatakan oleh seorang aktivis dan pejabat pemerintahan: “Kami memiliki visi, banyak hal yang telah berjalan sesuai visi itu, namun kami kekurangan urgensi… Sekarang kami memiliki urgensi itu, kami tahu apa yang harus dilakukan, dan kami memiliki apa yang harus dilakukan itu.”[62] Satu contohnya adalah comuna pedesaan antara negara bagian barat daya El Maízal di Lara, yakni proses reforma agraria dan pembangunan comunas. Ketika terjadi kelangkaan pangan, anggota El Maízal telah bekerja keras untuk kedaulatan pangan sejak 2009, khususnya dalam produksi jagung dan makanan ternak. Mereka juga mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi lebih dari 15.000 keluarga di komunitas-komunitas sekitarnya.[63] Upaya akar rumput lainnya adalah Rencana Pueblo a Pueblo (Rencana dari Orang ke Orang) yang dibangun di atas organisasi comunas yang telah ada sebelumnya untuk memperkuat hubungan langsung antara produsen di pedesaan dan penduduk kota. Dibentuk pada 2015, Rencana Pueblo a Pueblo mencapai lebih dari 60.000 keluarga kelas pekerja di kota dengan distribusi pangan segar secara berkala. Inisiatif-inisiatif lainnya adalah Feria Conuquera (Conuco Fair), pasar alternatif bulanan di Caracas yang menyediakan produk-produk pangan segar agroekologi dari produk-produk yang menghilang di rak-rak pasar swalayan, Mano a Mano Intercambio Agroecologico (Pertukaran Agroekologi dari Tangan ke Tangan) yang menjembatani pembagian desa-kota di Andes, dan Plan Popular de Semillas (Rencana Bibit dari Rakyat) yakni sebuah bagian dari Undang-Undang Pembibitan nasional yang baru melalui proses pengambilan kebijakan dari bawah (bottom-up) pada 2015.[64]

Ada juga respon-respon pemerintah terhadap kelangkaan pangan ini. Di antarnya adalah reorganisasi manajemen publik untuk memprioritaskan kedaulatan pangan, termasuk pembentukan tiga kementerian yang terpisah dari Kementerian Agrikultur dan Tanah pada awal 2016, yakni Kementerian Agrikultur Perkotaan (dipercaya menjadi yang pertama di dunia); Kementerian Perikanan dan Aquakultur; dan Kementerian Produksi Agrikultur. Hal ini diikuti dengan pembentukan Great Sovereign Supply Mission, sebuah badan payung yang fokusnya mengamankan rantai pangan nasional, obat-obatan, dan barang-barang kebutuhan dasar lain. Pemerintah juga terhubung dengan organisasi rakyat, seperti Comités Locales de Abastecimiento y Producción (Penyedia Lokal dan Komite Produksi), atau disebut CLAPs. CLAPs begitu gencar berjalan di tahun 2016 dengan pertama-tama menyasar seperlima termiskin populasi, sementara sekarang telah mencapai lebih dari separuhnya. Melalui CLAPs, pemerintah membeli pangan langsung dari penyedia, baik swasta maupun publik, dan berkoordinasi dengan organisasi-organisasi masyarakat untuk mendistribusikan paket pangan campuran untuk rumah tangga-rumah tangga. Masyarakat bertanggungjawab dalam mengorganisir dirinya sendiri ke dalam CLAPs, yakni dengan melakukan sensus-sensus dan menjalankan distribusi pangan, yang mana pangan itu dijual pada harga subsidi per 12 sampai 15 kilogram. Melalui koordinasi masif yang dilancarkan dari atas dan bawah, CLAPs mencapai hampir 2 juta keluarga dalam tahun pertamanya. Kini telah ada lebih dari 3000 CLAPs di seluruh negara dengan tujuan mencapai 6 juta keluarga—hampir tiga perempat populasi—dengan distribusi berkala sampai akhir 2018.[65] CLAPs telah disambut oleh aktivis-aktivis kedaulatan pangan yang bergantung pada pangan yang terindustrialisasi, dengan separuhnya datang dari blok impor. Di saat bersamaan, CLAPs berperan penting dalam memitigasi dampak terburuk kelangkaan pangan dan menjadi kendaraan penting bagi masyarakat dalam mengorganisir pangan—50 persen CLAPs juga terlibat langsung dalam produksi pangan. Aktivis kedaulatan pangan (termasuk mereka di Pueblo a Pueblo dan El Maízal) semakin banyak yang memilih bekerjasama dengan CLAPs dan berupaya mendorong CLAPs agar lebih transformatif sebagai bagian dari visi jangka panjang agricultura cero divisas (“agrikultur nol dolar”).

Kesimpulan

Situasi Venezuela hari ini jauh lebih kompleks dari yang digambarkan dalam narasi dominan, karenanya ia menuntut analisis lebih komprehensif. Melalui kacamata pangan dan fokus pada persoalan kekuasaan yang berkaitan dengan kelas, gender, dan geografi, elemen-elemen yang baru muncul adalah kunci untuk memahami konjungtur hari ini yang meliputi: (1) pangan sebagai kendaraan bagi diferensiasi sosial dari waktu ke waktu, terutama dalam menciptakan dan memelihara elit, kelas menengah yang beraliansi dengan elit, dan kelas “yang lain”; (2) konsentrasi dan konsolidasi kekuasaan dalam sistem agri-pangan yang dipelihara melalui aliansi elit, baik di dalam maupun di luar struktur negara, dan baik melalui kekuasaan yang terang-terangan maupun tersembunyi; (3) meningkatnya homogenisasi, keseragaman, dan pengendalian sistem agri-pangan, mulai dari produksi, importasi, sampai konsumsi melalui gagasan sains dan modernitas yang sangat rasis; (4) strategi pemasaran yang menguatkan hubungan  di antara masyarakat sehingga pangan olahan industri yang sangat spesifik merembes ke kehidupan sehari-hari; (5) ketergantungan pada kanal suplai yang dimonopolisasi dan ketergantungan pada pasar swalayan untuk akses produk-produk pangan; (6) menghilangnya produk-produk pangan memengaruhi kehidupan sehari-hari “yang lain”, khususnya perempuan; (7) dampak besar bagi negara dalam menghilangnya produk-produk pangan, sementara peran kapital swasta tetap tersembunyi; (8) upaya konsolidasi kekuasaan oleh elit melalui rancangan-rancangan restorasi produk-produk yang menghilang (dan rancangan “keteraturan”), bertentangan dengan kebijakan-kebijakan maupun program-program negara yang berdampak pada kelas pekerja; (9) bersatunya kelas menengah atas nama “rakyat” melawan pemerintah yang beraliansi dengan “yang lain” melalui kooptasi gambaran keadilan sosial, sementara kelas menengah ini melakukan tindakan kekerasan yang rasis; dan (10) penguatan lebih lanjut relasi negara-kapital dengan membentuk konsentrasi dan konsolidasi kekuasaan dalam sistem agri-pangan.

Meski jauh dari komprehensif, namun elemen-elemen ini mencerminkan apa yang terjadi di Venezuela hari ini yang mencoba membendung aliansi elit dalam perjalanan jangka panjangnya. Salah satu catatan pentingnya adalah mekanisme kontrol yang tak nampak—atau karena terjadi di mana-mana jadi seolah tak nampak—dalam kehidupan sehari-hari yang mendominasi populasi, khususnya kelas pekerja. Hal ini sangat nyata adanya dalam perkara makanan. Melalui proses panjang kolonialisasi, modernisasi, dan globalisasi, struktur sistem pangan industri modern—yang menawarkan makanan kepada masyarakat (di mana rasanya dikondisikan sewaktu-waktu), namun sangat dikontrol—telah siap menjadi alat kontrol dan dominasi, seperti di Venezuela hari ini. Namun demikian, seperti telah kita lihat, pangan juga bisa digunakan sebagai alat perlawanan. Narasi dominan cenderung mengaburkan, tidak hanya faktor utama krisis, tapi juga respon-respon yang datang dari akar rumput. Fenomena ini dihubungkan dengan gambaran umum mengenai kelas pekerja Venezuela sebagai korban pasif alih-alih agen aktif. Stereotip yang sama dan “pe-liyan-an” yang mengarahkan persepsi umum bahwa kebanyakan rakyat Venezuela taklid buta pada Chávez—dengan petrodollar dan kharismanya—membuat media internasional mengabaikan kemajuan rakyat yang belum pernah ada sebelumnya mengenai kedaulatan pangan. Stereotip rakyat miskin seperti itu sangat meresap sehingga beberapa pertanyaan mesti diajukan ketika media-media seperti New York Times memberitakan kelaparan di Venezuela dengan memajang gambar orang-orang sedang memakan salah satu makanan terpopuler di Venezuela, atau ketika Guardian menurunkan berita berjudul “Kelaparan Menggerogoti Jiwa Rakyat Venezuela Sehingga Rakyat Harus Berjuang untuk Bertahan Hidup” yang melaporkan bahwa di kampung nelayan di Chuao, “menu makanannya kembali ke pola-pola lama yang lebih familiar dengan generasi orang tua dan kakek-nenek mereka: ikan, tumbuh-tumbuhan akar, dan pisang”—menu makanan yang kebanyakan pecinta kuliner akan membayar mahal.[66]

Saat kontradiksi ini mungkin terlihat begitu menyakitkan, bahkan mencolok bagi rakyat Venezuela, namun justru menguatkan narasi dominan dan opini internasional. Dan saat kita begitu berharap pada media arus utama Barat, pertanyaannya adalah mengapa narasi yang sama terus direproduksi sehingga tidak ada kritik dalam lingkaran intelektual dan akademis, termasuk dari kalangan Kiri? Bisakah hal itu terjadi ketika kita tidak meninggalkan bias-bias kita? Inilah titik penting refleksivitas—seperti kerjasama antara intelektual dan gerakan akar rumput—yaitu untuk memastikan bahwa pengalaman-pengalaman yang tidak langsung kita hadapi, baik dari kekuasaan maupun hak istimewa kita, tidak menjadi tak nampak (invisible), dan agar kita selalu mempertanyakan narasi-narasi yang terlalu nyaman ada dalam realitas kita. Seperti halnya intelektual dan aktivis, kita dihadapkan pada sebuah pilihan yang setiap harinya membawa bentuk-bentuk baru agresi melawan pemerintah, rakyat, dan berbagai proses di Venezuela. Tentunya bentuk-bentuk agresi ini diciptakan oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Kita dapat menunggu saja dan mengajukan analisis post-mortem atas apa yang bisa terjadi, atau kita dapat bergabung dengan gerakan akar rumput Venezuela—namun bukannya tidak kritis, karena kritik yang konstruktif diperlukan sekarang lebih dari sebelumnya, namun tetap bersetia dalam solidaritas kita terhadap perjuangan. Kita dapat membuat pernyataan tentang “akhir siklus” bangkitnya kaum Kiri di Amerika Selatan, atau kita dapat berdiri bersama mereka yang tidak melihat di mana mereka berada pada “akhir siklus”: yakni mereka yang sejarahnya masih terus ditulis, dan mereka yang berkata bahwa menyerah bukanlah pilihan.

Catatan:

[1] Artikel ini diambil dari makalah yang dipresentasikan di konferensi internasional Inisiatif Politik Pedesaan Emansipatoris (ERPI) yang dilangsungkan di Institut Internasional Ilmu Sosial The Hague pada 17-18 Maret 2018. Penulis mengucapkan terimakasih kepada tim ERPI, kepada Fred Magdoff, William Camacaro, dan lainnya, terutama kepada gerakan akar rumput Venezuela yang telah berkontribusi banyak bagi tulisan ini.

[2] Klientelisme merujuk pada jaringan di antara orang-orang yang memiliki ikatan sosial, ekonomi, dan politik yang di dalamnya mengandung relasi kuasa antara patron dan klien yang bersifat hierarkis dan resiprokal.

[3] Misalnya pada debat-debat terbatas di lingkaran akademis Venezuela, lihat “see “Debates: On Venezuela”, LASA Forum, musim semi 2017.

[4] Proses ekstraksi dan pengolahan sumber daya alam yang diambil dari perut bumi.

[5] Frase analisis politik abad ke-21  yang digunakan oleh media dalam menggambarkan pemerintahan sayap-kiri di Amerika Latin.

[6] George Reid Andrews, “Spanish American Independence: A Structural Analysis,” Latin American Perspectives  12, no. 1 (1985): 105–32.

[7] Tanah berukuran besar yang dimiliki oleh kolonial Spanyol yang digunakan untuk perkebunan, pertambangan, atau pabrik.

[8] Keturunan campuran (pada zaman kolonial Hindia-Belanda disebut orang Indo) antara orang Spanyol dan Pribumi Indian-Amerika.

[9] Gonzalo M. Quintero Saravia, Soldado de Tierra y Mar: Pablo Morillo, el Pacificador (Madrid: Editorial EDAF, 2017).

[10] Brian Stuart McBeth, Juan Vicente Gómez and the Oil Companies in Venezuela, 1908–1935 (Cambridge: Cambridge University Press, 2002).

[11] Josefina Rios de Hernandez and Nelson Prato, Las Transformaciones de la Agricultura Venezolana: De la Agroexportación a la Agroindustria (Caracas: Fondo Editorial Tropykos, 1990).

[12] Darlene Rivas, Missionary Capitalist: Nelson Rockefeller in Venezuela (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 2002).

[13] Froilán Ramos Rodríguez, “La Inmigración en la Administración de Pérez Jiménez (1952–1958),” CONHISREMI: Revista Universitaria Arbitrada de Investigación y Diálogo Académico 6, no. 3 (2010): 29–43.

[14] Shane Hamilton, “From Bodega to Supermercado: Nelson A. Rockefeller’s Agro-Industrial Counterrevolution in Venezuela, 1947–1969,” makalah dipresentasikan di Seminar Studi Agraria di Yale pada 4 November 2011.

[15] John Lee Anderson, “Accelerating Revolution,” New Yorker, December 11, 2017.

[16] Miguel Tinker Salas, “Life in a Venezuelan Oil Camp,” ReVista 15, no. 1 (2015): 46–50.

[17] Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Agrikultur PBB (FAO), rata-rata 4,9 juta jiwa di Venezuela menderita kekurangan fizi setiap tahunnya dari tahun 1998-2000 (angka ini mewakili seperlima dari populasi tahun 2000 yang berjumlah 24,5 juta jiwa). Dan rata-rata 4,1 juta jiwa di Venezuela menderita kekurangan gizi dari tahun 2014-2016 saat terjadi kelangkaan pangan (13 persen dari total populasi yang berjumlah 31,5 juta jiwa tahun 2016). “El Estado de la Inseguridad Alimentaria en el Mundo 2002,” FAO, 2017, http://fao.org; 2017 Panorama de la Seguridad Alimentaria y Nutricional en América Latina y el Caribe (Santiago: FAO and OPS, 2017).

[18] Lihat Miguel Angel Nuñez Nuñez, El Reto al Hambre (Merida: Universidad de Los Andes, 1990); Margarita López Maya, “The Venezuelan ‘Caracazo’ of 1989: Popular Protest and Institutional Weakness,” Journal of Latin American Studies 35, no. 1 (2003): 117–37; Charles Hardy, Cowboy in Caracas: A North American’s Memoir of Venezuela’s Democratic Revolution (Willimantic, CT: Curbstone, 2007); and George Ciccariello-Maher, We Created Chávez: A People’s History of the Venezuelan Revolution (Durham: Duke University Press, 2013).

[19] Simon Bolivar disebut juga “Sang Pembebas” yang lahir di Caracas, Venezuela pada Juli 1783. Disebut demikian karena ia membebaskan Amerika Latin dari cengkeraman penjajah.

[20] Mario Sanoja Obediente and Iraida Vargas Arenas, Razones para una Revolución (Caracas: Fundación Editorial el Perro y la Rana, 2017).

[21] Oscar Battaglini, El 27 F para Siempre en la Memoria de Nuestro Pueblo (Caracas: Defensoría de Pueblo, 2011); “Dozens of Venezuelans Killed in Riots over Price Increases,” New York Times, March 1, 1989.

[22] Konstitusi Republik Bolivarian Venezuela, bisa dilihat di https://venezuelanalysis.com/constitution.

[23] Chandrika Sharma, “Securing Economic, Social and Cultural Rights of Small-Scale and Artisanal Fisherworkers and Fishing Communities,” MAST 10, no. 2 (2011): 41–61; Christina Schiavoni dan William Camacaro, “The Venezuelan Effort to Build a New Food and Agriculture System,” Monthly Review 61, no. 3 (2009): 129–41.

[24] Maria Mercedes Alayón López, “Evaluación de las Políticas Alimentarias y Nutricionales en la República Bolivariana de Venezuela Periodo 1980–2012” (master’s thesis, Universidad Simon Bolivar, 2016).

[25] Ben McKay, Ryan Nehring, and Marygold Walsh-Dilley, “The ‘State’ of Food Sovereignty in Latin America: Political Projects and Alternative Pathways in Venezuela, Ecuador and Bolivia,” Journal of Peasant Studies 41, no. 6 (2014): 1175–200; Christina M. Schiavoni, “The Contested Terrain of Food Sovereignty Construction: Toward a Historical, Relational and Interactive Approach,” Journal of Peasant Studies 44, no. 1 (2018): 1–32.

[26] “38 Countries Meet Anti-Hunger Target for 2015,” FAO, June 12, 2013; FAO, “Venezuela and FAO Create SANA, a New Cooperation Programme to Eliminate Hunger,” FAO, April 16, 2015.

[27] 2017 Panorama de la Seguridad Alimentaria y Nutricional en América Latina y el Caribe.

[28] Luis Enrique Gavazut Bianco, “Dólares de Maletín, Empresas Extranjeras y Modelo Económico Socialista,” Aporrea, March 2014, http://aporrea.org.

[29] Emanuele Amodio, “Alteridades Alimentarias: Dietas Indígenas y Españolas al Comienzo de la Conquista de Tierra Firme,” in Emanuele Amodio and Luis Molina, eds., Saberes y Sabores: Antropología de la Alimentación en la Venezuela Colonial (Caracas: Fundación Centro Nacional de Estudios Históricos, 2017), 15–62.

[30] Juan Pablo Peña-Rosas et al., “Technical Considerations for Maize Flour and Corn Meal Fortification in Public Health,” Annals of the New York Academy of Sciences 1312, no. 1 (2014): 1–7.

[31] Edgar Abreu Olivo and Elvira Ablan de Flórez, “¿Qué Ha Cambiado en Venezuela desde 1970 en cuanto a la Disponibilidad de Alimentos para el Consumo Humano?” Agroalimentaria 9, no. 19 (2004): 13–33.

[32] B. S. McBeth, Juan Vicente Gómez and the Oil Companies in Venezuela; Orlando Araujo, Venezuela Violenta (Caracas: Banco Central de Venezuela, 2013).

[33] Andres Schipani, “Empresas Polar: A Symbol of Resistance amid Venezuela Crisis,” Financial Times, March 17, 2017; Pasqualina Curcio, “Concentración de la Producción en Pocos Afecta el Abastecimiento: Apenas 20 Empresas Controlan la Oferta de Alimentos y Medicinas en el País,” Correo del Orinoco, June 20, 2016.

[34] Alberto Chassaigne-Ricciulli, Venancio Barrientos-Acosta, dan Alexander Hernández-Jiménez, “Obtención de una Población de Maíz para Tolerancia a Factores Adversos en Tres Estados de Venezuela,” Bioagro 24, no. 3 (2012): 221–26; Alberto Chassaigne, “Evaluación de Híbridos Experimentales de Maíz en Fincas de Agricultores,” Gestión y Gerencia 4, no. 3 (2010): 4–19; “Programa Maíz,” Fundación Danac, http://danac.org; “Fundación Danac: El Semillero de Venezuela,” Diario Qué Pasa, September 29, 2014, http://quepasa.com.ve.

[35] Schipani, “Empresas Polar.”

[36] Carlos Torelli, Globalization, Culture, and Branding (New York: Palgrave Macmillan, 2013).

[37] Diambil dari bahasa Latin: latus (luas) dan fundus (pertanahan) yang merujuk pada areal tanah luas milik pribadi di masa Romawi untuk kepentingan ekspor agrikultur.

[38] Gavazut, “Dólares de Maletín.”

[39] Pasqualina Curcio Curcio, The Visible Hand of the Market: Economic Warfare in Venezuela (Caracas: Ediciones MinCi, 2017).

[40] “Declaraciones del Director de Empresas Polar I,” YouTube, 25 Mei, 2016.

[41] Wawancara dengan Pasqualina Curcio, Juni 2016.

[42] Wawancara dengan Curcio.

[43] Frederick B. Mills and William Camacaro, “Venezuela Takes Control of its Border as Bogotá and Caracas Bring their Cases to UNASUR,” Council on Hemispheric Affairs, 17 September, 2015, http://coha.org.

[44] Francisco Domínguez, “Las Complejidades de la Seguridad y la Soberanía Alimentaria en Venezuela,” Revista de Políticas Públicas 20 (2016): 157–68.

[45] Mark Weisbrot, “Trump’s Tough New Sanctions Will Harm the People of Venezuela,” The Hill, August 28, 2017, http://thehill.com; Roger Harris, “Lamenting Venezuela’s ‘Humanitarian Crisis’ While Blocking Its Resolution,” Counterpunch, December 29, 2017; Misión Verdad, “Four Effects of the Blockade Against Venezuela,” Venezuela Analysis, December 4, 2017, http://venezuelanalysis.com.

[46] Departemen Luar Negeri AS, “Senior State Department Officials on the Secretary’s Travel to Austin, Texas; Mexico City, Mexico; San Carlos Bariloche, Argentina; Buenos Aires, Argentina; Lima, Peru; Bogota, Colombia; and Kingston, Jamaica,” January 29, 2018, http://state.gov.

[47] Walden Bello, “Counterrevolution, the Countryside and the Middle Classes: Lessons from Five Countries,” Journal of Peasant Studies 45, no. 1 (2017): 21–58.

[48] “La Última Cola,” YouTube, November 20, 2015.

[49] “Guevara: Toda Venezuela a la Desobediencia Civil Masiva,” El Nacional, May 19, 2017.

[50] Girish Gupta and Christian Veron, “Venezuelans Prepare Fecal Cocktails to Throw at Security Forces,” Reuters, May 10, 2017

[51] “Queman Más de 50 Unidades de TransBolívar,” Primicia, May 22, 2017, http://primicia.com.ve.

[52] “Opositores Atacan Edificio CVAL de Barquisimeto e Incendian Clínica Móvil de Misión Nevado (+Fotos),” Alba Ciudad, April 10, 2017, http://albaciudad.org; David Blanco, “Fotos y Videos: Guarimberos Quemaron Sede del INN,” Ultimas Noticias, April 12, 2017, http:// ultimasnoticias.com.ve; Lucas Koerner, “Opposition ‘National Sit-In’ Unleashes Fresh Wave of Violence, 4 Dead,” Venezuela Analysis, April 25, 2017; “Venezuela Protesters  Set 40 Tons of Subsidized Food on Fire,” Telesur, June 30, 2017, https://telesurtv.net.

[53] Greg Grandin, “Burning Man in Venezuela,” Nation, May 26, 2017.

[54] “Crimes of Hate: Venezuelan Opposition Burns People Alive in Their Protests,” The Prisma, July 24, 2017, http://theprisma.co.uk.

[55] Barry Cannon, “Class/Race Polarisation in Venezuela and the Electoral Success of Hugo Chávez: A Break with the Past or the Song Remains the Same?” Third World Quarterly 29, no. 4 (2008): 731–48.

[56] Andrew Rosati, “The Manhattan of Venezuela Parties Against a Backdrop of Crisis,” Bloomberg Businessweek, July 19, 2017

[57] “Dozens of Venezuelans Killed in Riots over Price Increases”; “Price Riots Erupt in Venezuela,” New York Times, 28 February , 1989; Marc A. Uhlig, “Lines Form at Caracas Morgue to Identify Kin,” New York Times, 5 Maret, 1989.

[58] “In Detail: The Deaths So Far,” Venezuela Analysis, 31 Juli, 2017.

[59] “Preferred Conclusions: The BBC, Syria, and Venezuela,” Venezuela Analysis, 19 September, 2017.

[60] Luis Salas Rodríguez, “El Mito de Chávez y el Petróleo a 100,” Question, 15 Juni, 2016.

[61] Curcio, The Visible Hand of the Market.

[62] Wawancara dengan Ulises Daal, 15 January, 2018.

[63] “Comuna El Maizal Garantizó Abastecimiento de Carne para 15 Mil Familias,” Alba, 14 Januari, 2018, http://albatv.org.

[64] William Camacaro, Frederick B. Mills, dan Christina M. Schiavoni, “Venezuela Passes Law Banning GMOs, by Popular Demand,” Counterpunch, 1 Januari, 2016.

[65] “Memoria y Cuenta 2017: Los CLAP Tienen la Meta Permanente de Llegar a 6 millones de Hogares en 2018,” Correo del Orinoco, 15 Januari, 2018.

[66] Meridith Kohut and Isayen Herrera, “As Venezuela Collapses, Children Are Dying of Hunger,” New York Times, 17 Desember, 2017; Emma Graham-Harrison, “Hunger Eats Away at Venezuela’s Soul as Its People Struggle to Survive,” Guardian, 27 Agustus, 2017.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *