Browse By

Piala bukan Berhala (Kritik atas ‘Pengultusan Prestasi’)

Tulisan ini adalah refleksi yang hinggap setelah perhelatan besar Pilkada Serentak lalu. Penulis sempat menyaksikan bagaimana setiap pasangan kandidat bermanuver dalam menjuarai pasangan-pasangan lainnya. Jargon-jargon yang dilengkapi dengan daftar ‘prestasi’ setiap calon hampir seperti Curriculum Vitae pelamar kerja dalam mengunggulkan personalitasnya. Memori penulis pun ikut berputar kembali ke sekitar satu dekade silam. Ingatan-ingatan yang ada justru menjurus kepada koreksi-koreksi terhadap tatanan berpikir yang selama ini mapan. Itulah alasan mengapa di atas dijabarkan sebuah fundamentalisasi mengenai ekspektasi pencapaian prestasi yang sejatinya sudah ditanamkan pada setiap anak sejak mereka berada dalam lingkaran paling primer: keluarga. Refleksi ini mungkin hanya berasal dari “pinggiran”, yakni dari penulis (secara pribadi) yang sempat menyaksikan sebuah fenomena secara langsung. Tulisan ini tidak dibuat untuk menyerang si A sebagai pemenang lomba / olimpiade “X”, tapi lebih kepada menanggapi serta mengulas cara pandang kebanyakan orang dalam bentuk refleksi.

Di Tanah Para Juara: Andi Latip dkk.

Meski dilahirkan di ibukota seperempat abad silam, penulis telah mengenyam pendidikan di Madura sejak kelas tiga sekolah dasar. Rasa memiliki terhadap pulau ini jauh lebih kuat dibandingkan dengan tanah kelahiran penulis sendiri, apalagi ayahanda adalah seorang beretnis Madura. Sejak masa itu, penulis mengetahui bahwa anak-anak Madura memang memiliki semangat belajar yang tinggi. Melanjutkan SMP di sebuah sekolah negeri di kecamatan Pademawu, penulis mengingat bahwa suasana jiwa warga sekolah masih dipenuhi oleh perasaan duka akibat bencana Tsunami Aceh (akhir 2004) di tahun pertama masa pendidikan. Isu-isu lain yang marak diperbincangkan antara lain tentang dampak teknologi utamanya ponsel yang telah memiliki fitur multimedia seperti contoh buruknya adalah penyebaran video mesum oknum anggota parlemen dengan penyanyi dangdut, terlebih saat ada sebuah kanal TV yang memberi tayangan khusus dewasa pada sekitar jam tengah malam. Spirit membentengi relijiusitas tak pelak lagi ikut hadir sebagai usaha preventif mencegah dampak buruk dari perkembangan itu, apalagi sesudah terjadinya tragedi Tsunami Aceh banyak pula tontonan berupa serial religi bernuansa keislaman dengan mengangkat kisah-kisah “ajaib”.

Pada waktu kenaikan kelas VIII ke VIII SMP, publik Madura gempar. Pada tanggal 18 Juli 2006 masyarakat Madura, terutama warga Pamekasan layak berterima kasih kepada Andy Octavian Latief. Di tengah gencarnya berita carok massal, siswa SMA Negeri 1 Pamekasan ini menorehkan prestasi hebat di arena olimpiade Fisika Internasional ke-37 di Singapura.[1] Sekitar seminggu sebelumnya (12/7), kabupaten yang bersemboyan Maddu Ganda Mangesti Tunggal merasa terpukul akibat peristiwa carok (pertarungan memakai senjata tajam) di desa Bujur Tengah Kecamatan Batu Marmar yang dipicu oleh sengketa tanah tukar guling antara kades dengan mantan kades setempat. Setidaknya 8 orang tewas dalam insiden ini, termasuk kepala si kepala desa.[2] Kemenangan ‘Andi Latip’, sebagaimana pengucapan kebanyakan warga Pamekasan untuk nama Andy Octavian Latief, bukan sekadar sebagai “obat” bagi kepedihan mereka terhadap insiden carok di Bujur, tetapi pemberitaan tersebut sanggup membendung kemungkinan adanya anggapan buruk dari luar terhadap masyarakat Madura. SMPN 1 Pademawu, institusi pendidikan tempat penulis menuntut ilmu kala itu memiliki kebanggaan sendiri. Bapak Amir Soekarno Arif selaku kepala sekolah kami merupakan tenaga pendidik yang dekat dengan sosok Andi Latip semasa masih bertugas di SMPN 2 Pamekasan. Menurut cerita yang beredar, banyak sekali motivasi yang diberikan oleh Pak Amir kepada Andi sehingga ia berhasil mencapai banyak prestasi sebelum kemudian diterima di SMAN 1 Pamekasan.

Didengungkannya nama “Andy Octavian Latief” masih terus terjadi hingga kemudian penulis meneruskan pendidikan ke SMAN 1 Pamekasan, almamater dari sang juara olimpiade Fisika. Ada sedikit perbedaan yang penulis temui ketika bersekolah di sana. Kebanyakan para siswa-siswi menyebut Andy Octavian Latief dengan panggilan penuh rasa persaudaraan, “Mas Andy”, meskipun ia sendiri telah lulus dari sekolah tersebut. Siswa-siswi yang diterima pasca kemenangan Andy Octavian segera belajar bahwa mereka mesti segera merealisasikan ide yang ada untuk menjadi penerus “Mas Andy” mereka. Hasil dari semangat realisasi tersebut ialah munculnya nama Moh. Shohibul Maromi, siswa SMAN 1 Pamekasan asal Desa Branta Pesisir yang tak lain adalah kakak kelas satu tahun di atas kami. Bersama dengan temannya yang bernama Ali Ichsanul Qauli, Moh. Shohibul Maromi berhasil meraih medali perunggu dalam ajang Asian Physic Olympiad (APhO) di Taiwan pada bulan Mei 2009.[4] Romi – panggilan akrab Shohibul Maromi – sangat terobsesi oleh keberhasilan Andy Octavian Latief. Menginjak bangku SMA, setiap malam Romi rajin belajar bersama keponakannya, mulai pukul 21.00 WIB – 02.00 WIB. Mereka berdua tekun menimba ilmu dari Purwedi, guru Fisika yang juga kepala SMAN 1 Waru, Pamekasan. Untuk itu mereka harus menempuh perjalanan sejauh delapan km, berangkat dari rumah pukul 20.30 WIB dan pulang menjelang subuh.[5] Prestasi Romi kian menanjak, ia akhirnya berjaya dan memperoleh medali emas dalam ajang International Physic Olympiad di Zagreb, Kroasia (17-25 Juli 2010).[6] Kebanggaan masih terus berlangsung hingga ke tahun berikutnya. Alyssa Diva Mustika, siswi SMAN 1 Pamekasan yang ketika itu masih kelas X berhasil meraih medali emas dalam ajang International Mathematical Contest The Clock Tower School 14th Edition.[7] Ratusan siswa SMAN 1 Pamekasan berkesempatan menyambut datangnya Mas Romi pasca kemenangannya. Penulis masih ingat bahwa kami menanti sekitar setengah jam lebih di Desa Branta untuk kemudian mengarak sang juara ke kota Pamekasan.

Salah Respon pada Prestasi

Kisah tentang Andi ikut menyebarkan popularitas tentang SMAN 1 Pamekasan hingga ke berbagai institusi pendidikan, termasuk ke SMP kami. Sebagai contoh ialah mengenai dua nama pengajarnya yang populer seperti nama seorang guru Fisika, Pak Purwedi (kelak menjadi kepala SMAN 1 Waru) serta Ibu Uswatun Hasanah atau Ibu Ana. Meski kebanyakan siswa-siswi di SMP kami belum pernah berjumpa dengan keduanya, nama mereka diceritakan dengan penuh antusias, contohnya ialah mengenai Pak Purwedi yang “mempunyai cara khusus” – sampai sekarang penulis belum memperoleh kejelasan tentang “cara” yang dimaksud – dalam memecahkan soal Fisika sesulit apapun atau tentang Ibu Ana yang sangat tegas dan disiplin kepada siswa. Entah benar atau salah, mengingat saat itu penulis dan teman-teman lain masih bersekolah di tingkat SMP, tapi cerita itu begitu dipercayai. Pada dasarnya, kedua pengajar itu diingat sebagai figur penting bagi keberhasilan Andi Latip hingga tingkat internasional.

Para guru dari bidang studi apapun turut berusaha membawa namanya dalam kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Begitu banyak kisah tentang Andi Latip yang kami dengar sebagai siswa, entah itu benar ataupun sekadar “epos” yang bisa dipakai dalam berbagai tendensi para pengajar. Pembukaan dari setiap ceritera mengenai Andy bisa berbagai macam seperti, “Andi Latip itu…”, “Kalau kalian tau sama Andi Latip….”, “Si Andi Latip bisa menang olimpiade mancanegara karena…” dll. Substansi success story juga sangat banyak setelah pembukaan diberikan oleh para guru. Kisah mula-mula yang penulis dengar adalah “Si Andi Latip itu suka bacaan yang cocok untuk para doktor (S3)”, meskipun faktanya hingga sekarang belum ada kejelasan mengenai judul buku kesukaan Andi tersebut. Masih belum beranjak dari KBM di dalam kelas, ada satu bentuk “kemabukan” yang segera merubah motivasi positif menjadi ambisi tak terkendali. Sebagai contoh adalah saat kata “olimpiade” disandingkan segera dengan mata pelajaran Fisika dan Matematika, para guru semakin intens memberikan soal-soal yang diklaim oleh mereka sebagai “Soal Olimpiade Fisika Tahun….” atau “Soal Olimpiade Matematika Tahun….”

Di sini kita dapat melihat, betapa cita-cita agung dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa” sudah sedemikian mengerucut hingga kepada ranah sedemikian sempit yakni “menciptakan juara olimpiade.” Ada lagi pencatutan nama Andi Latip dkk. yang berujung kepada pengabaian kondisi perekonomian siswa yakni di saat beberapa oknum guru berkata “Si Andi Latip bisa menang olimpiade mancanegara karena rajin beli buku dan ikut les privat. Kalau ada uang itu beli buku, ikut les juga!”

Tidak seluruh siswa memiliki keluarga yang mampu mensupport kegiatan belajar sang anak sebagaimana orang tua Andi Latip, Shohibul Maromi, atau Alyssa Diva, entah secara finansial maupun dalam hal mindset. Realitas tidak akan pernah bisa dipungkiri. Keempatnya (Andy Octavian, Shohibul Maromi, Ali Ichsanul Qauli, dan Alyssa Diva Mustika) tetap saja lebih sedikit dibandingkan dengan banyaknya jumlah siswa-siswi seluruh Kabupaten Pamekasan. Selama bertahun-tahun (antara 2006-2011) tema kemenangan Andi Latip dkk. ikut diserukan melalui mimbar-mimbar masjid, dibahas bapak-bapak dengan sangat serius saat menyeruput kopi sambil merokok di emperan rumah, digosipkan oleh ibu-ibu yang ngerumpi selepas Ashar, dan bahkan waktu para petani melepas lelah di pematang sawah. Walaupun terkesan positif, tak sedikit pula mudharat yang diciptakan – bukan oleh Andi Latip dkk. – oleh kesalahan respon masyarakat luas dalam memakai pemikiran tentang hakikat “juara” yang sebenarnya. Bukti nyata dari kekeliruan berpikir itu jauh lebih tidak terkontrol di tataran akar rumput. Contoh ialah seorang ibu yang berkata, “Aduuh bangganya kalo punya anak kayak Andi Latip ya? Semua orang memuji. Pasti bangga jadi orang tuanya,” kita bisa menangkap betapa pencapaian akademis Andy Octavian Latief yang tidak sepele itu toh cuma diartikan sebagai momentum mencari prestise. Ada saja respon ibu-ibu lain yang (sesungguhnya) “menyesalkan” kegagalannya (sendiri) dalam mendidik anak, “Huh… Kalau anak saya ini apa? Main terus kerjaannya, jajan, suruh ngaji males, belajar apa lagi…” Sepintas memang tidak terlihat adanya masalah berarti dari beberapa contoh yang telah diutarakan, tapi justru hal-hal yang dianggap sepele bisa mengindikasikan distorsi-distorsi apa yang berlaku di tengah masyarakat.

Tulisan ini tidak sedikit pun berisi tendensi negatif, terkhusus kepada para juara tersebut yang telah mengharumkan nama Pamekasan, nama Madura, dan juga dunia pendidikan Indonesia. Namun, perlu diketengahkan adalah suatu pengaruh nyata yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang apabila sudah berbicara tentang masalah “kebanggaan”, “kehebatan”, “keunggulan”, atau apapun yang berkaitan mengenai sesuatu “yang lebih” mengenai “kepemilikan”. Sederhananya, “kepemilikian” atas kecerdasan “yang lebih” bagi kebanyakan orang harus diganjar dengan apresiasi dengan ditinggikannya seseorang itu. Sama seperti ketika ada orang “yang lebih” dalam masalah “kepemilikan” harta benda, maka ia (seolah) wajib ditinggikan pula. Tidak ada yang dapat melarang apresiasi massal pada sebuah keberhasilan yang positif. Namun secara mutlak tidak dapat pula dibenarkan jika “yang lebih” milik segelintir orang malah membuahkan marginalisasi pada matter yang lebih banyak.

Agama Menolak Kultus

Urgensi meninjau masalah pengkultusan dari sisi keagamaan bukanlah sebentuk pandangan “asing” apabila yang dikaji ialah kabupaten Pamekasan. Identitas Madura telah lama diakui sangat integral dengan keislaman, begitu pula dengan kabupaten Pamekasan sendiri. Jangan lupa, kabupaten Pamekasan adalah daerah tingkat II yang menerapkan GERBANG SALAM (Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami). Gerakan itu dimulai dengan keluarnya Keputusan Bupati Pamekasan No. 188/126/441.012/2002 yakni melalui pembentukan Lembaga Pengkajian dan Penerapan Syariat Islam (LP2SI). Dalam sejarahnya pernah terjadi penolakan yang tertuang dalam sikap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Madura yang berbunyi, “Pemberlakuan Perda Syariat Islam, bisa menimbulkan perpecahan dan disintegrasi bangsa. Penerapan syariat Islam tidak harus dituangkan berupa aturan formal seperti peraturan daerah (perda) atau undang-undang, tapi cukup dengan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.”[8] Penulis tidak bermaksud untuk menempatkan diri sebagai yang pro atau kontra atas pemberlakuan GERBANG SALAM, dan tulisan ini juga tidak mengarah ke sana. Namun isi penolakan itu ada benarnya apabila dengan menekankan kepada redaksi “…perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.”

Nilai keislaman jelas menolak kultus atas manusia, kebendaan, maupun pada egoisme pemikiran. Cak Nur sudah menyebutkan inti dari kultus yakni “ketaatan dan ketergantungan para pengikut kepadanya, dan akibatnya perampasan kemerdekaan dan kebebasan pribadi.”[9] Dalam kajian atas peristiwa yang sudah penulis utarakan, kultus yang terjadi bukanlah atas permintaan dari Andy Octavian Latief (Andi Latip), Shohibul Maromi, dkk. Kultus yang tercipta itu adalah karena para ‘penonton’ (masyarakat awam) yang bersikap berlebih-lebihan. Munculnya kecenderungan ke arah kultus tak lain adalah karena berlakunya israf yakni sifat yang dilarang sebagaimana dalam Al-Quran: “Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (Q.S. Al-A’raaf [7]:31). Lafadz “wa laa tusrifuu” (Artinya: dan janganlah berlebih-lebihan) dilanjutkan pada akhir ayat itu dengan “Innahu laa yuhibbul musrifiin” (Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan). Firman-Nya menolak sikap berlebihan yang general, bahkan Allah mengulangi larangan-Nya sebanyak dua kali. Tidak bermaksud untuk menyama-nyamakan, nilai agar tidak berlebih-lebihan dalam hidup juga disebutkan dalam skriptur suci agama lain. Dalam 1 Timotius 5:6 disebutkan bahwa, “Tetapi seorang janda yang hidup mewah dan berlebih-lebihan, ia sudah mati selagi hidup.”[10] Begitu pula dalam Dao De Jing yang tak lain adalah kitab suci agama Tao yang berasal dari daratan Cina, pembawanya disebut “Nabi” Lao Zi (lahir sekitar 571 SM). Bab 5 Dao De Jing berisi tentang Tian Di Bu Ren (Alam Semesta yang Adil), nukilan isinya berbunyi, “Orang Suci yang adil menganggap semua umat manusia sama rata bagaikan boneka anjing yang terbuat dari merang.”[11] Inti secara universal dari kalam-kalam itu ialah ajaran untuk tidak berlebih-lebihan dan keharusan bersikap adil. Tidak ada batasan kultural maupun religi yang berkenan menyanggah nilai universal tersebut.

Mengapa israf itu dilarang? Islam mempunyai asas dasar yang juga akan berdampak dalam kehidupan sosial sehari-hari. Asas dasar tersebut tentulah Tauhid seperti yang selalu kita sebutkan dalam Syahadat sebagai kaum Muslimin. Karena tulisan ini lebih bertemakan pendidikan dan masalah anak sebagai peserta didik juga merupakan isu yang sentral, kita perlu melihat terlebih dahulu tentang esensi Tauhid sebagai konsepsi teologis, yakni konsepsi tentang prinsip-prinsip atau nilai-nilai luhur yang menjaga kehidupan manusia di muka bumi ini yakni kebenaran, kejujuran, kasih sayang, ketulusan, kebaikan, kesetaraan, dan persaudaraan manusia. Munir Che Anam mengutipkan pendapat itu dari karya Ziaul Haque Wahyu dan Revolusi. Che Anam melengkapinya sembari mengutipkan dua hadits yakni, “Orang mukmin dengan mukmin yang lain adalah seperti bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya” (HR. Bukhari) dan “Camkanlah! Tidaklah ada yang terbaik di antara kamu yang berkulit merah atau yang berkulit hitam kecuali dengan yang terbaik takwanya” (HR. Imam Ahmad bin Hanbal).[12] Hadits mengenai keharusan saling menguatkan sesama Muslim serta pernyataan tegas bahwa warna kulit sebagai suatu hal yang terberi sejak lahir tidak bisa dijadikan patokan kebaikan (melainkan hanya ketakwaan) ikut memperjelas bahwa kemampuan intelektual pun juga tak boleh semata-mata menjadi standar keparipurnaan. Apalagi kecerdasan masih bisa diperoleh melalui giatnya seorang insan belajar, sebagaimana di atas kita membaca mengenai perjuangan Moh. Shohibul Maromi.

Setelah mengetahui bagaimana hakikat Tauhid dalam kehidupan sosial, tentu masalah anak yang berada dalam lingkungan keluarga patut pula kita kaji dalam tinjauan Islam. Allah berfirman, “Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih” (QS. Ash-Shaffat : 100). Ayat lain dalam Al-Quran dapat memperjelas firman tersebut yakni, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahfi : 46). Kecenderungan manusia akan kesenangan serta prestise duniawi tentu telah diketahui Allah, namun Islam tidak hanya memandang sebatas hal-hal jasadiah saja, untuk itu “keshalihan” anak dapat menjadi amal yang tidak terputus bagi orang tua saat ruhnya terpisah dari raga.

Meski mengharapkan kesuksesan anak dalam hal-hal duniawi merupakan sesuatu yang manusiawi, menginginkannya menjadi pemenang olimpiade juga sah-sah saja, tapi ada baiknya jika kita tidak acuh pada nilai yang lebih tinggi. Ada kecerdasan anak yang tak boleh lalai untuk dibangun oleh orang tua. Elly Risman berpendapat, “Jika orang tua hanya fokus mengurusi “kepintaran” anak di bidang akademik, misalnya menuntut nilai yang tinggi di sekolah, namun tidak melatih kecerdasan emosinya, besar resiko anak tidak cerdas emosi. Padahal, menurut penelitian, 90% orang-orang sukses di dunia adalah orang yang cerdas emosi.”[13] Ketersambungan antara nilai Tauhid, idealisme sosial, serta hakikat seorang anak dalam pandangan Islam ini semakin menegaskan bahwa kaum Muslimin wajib hukumnya dalam menolak kultus. Kultus sebagaimana dijelaskan dalam pendapat Cak Nur nantinya hanya akan merampas kemerdekaan dan kebebasan pribadi seseorang.

Pengkultusan seseorang yang menjadi juara apapun, apalagi nantinya mengurangi rasa syukur kita atas keunikan anak yang dikaruniakan kepada kita, titik akhirnya hanyalah merampas kemerdekaan sang anak.

Kita kemudian sibuk dengan prestasi anak orang lain, iri kepada prestise yang diperoleh orang tua lainnya, untung-untung jika hal itu tidak menjurus kepada apa yang disebut oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baaz dkk. dalam karya yang berjudul Benteng Tauhid sebagai beberapa hal yang merusak Tauhid, salah satunya ialah “…memberi rasa cinta atau takut yang mutlak kepada makhluk.”[14]

Tujuan Pendidikan yang Sejati : Refleksi Sejarah dan Pemikiran

Dalam pidato penerimaannya sebagai ketua Perhimpoenan Indonesia (PI) pada tahun 1926, Hatta tidak melihat kemerdekaan sebagai “kemegahan bangsa”, melainkan untuk kemanusiaan dan peradaban.[15] Dampak dari pemikiran Hatta tersebut diperjelas dalam pidato pembelaan setelah ia ditangkap oleh pemerintah kolonial akibat aktivitas dan tulisan-tulisannya. Pidato itu ditulisnya sendiri di penjara dan kemudian diberi judul Indonesie Vrij ! (Indonesia Merdeka!) yang disampaikan pada hakim pengadilan Den Haag tanggal 9 Maret 1928:

“…Haruslah ia menyebarkan pemikiran, bahwa rakyat Indonesia diberi pemandangan yang luas dengan pendidikan massa yang populer, dengan mengajarkan sejarah, politik, dan lain-lain, sesuai dengan yang dilakukan Denmark pada “Sekolah-Sekolah Tinggi Rakyat” yang dirintis oleh ahli ilmu pendidikan terkenal, Grundtvig. Ini bukanlah suatu pendangkalan dari pada ilmu pengetahuan, tetapi sekolah tinggi rakyat adalah suatu usaha untuk memberi pengertian kepada jiwa-jiwa sederhana agar memahami gerakan-gerakan besar rohaniah dan spiritual dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia, dahulu dan sekarang, dalam perjuangannya untuk memenangkan cita-cita yang mulia itu, yakni keadilan dan kebenaran. “Sekolah Tinggi Rakyat” tidak mau memupuk budak-budak, tidak mau mengenakan seragam pada jiwa-jiwa, ia ingin mendidik orang-orang agar menjadi anggota masyarakat yang bersikap dewasa.”[16] Betapa jauhnya pandangan Bung Hatta ke depan dalam melihat apa yang diperlukan secara tepat dalam rangka peningkatan kecerdasan rakyat. Tujuan akhirnya ternyata adalah agar “orang-orang menjadi anggota masyarakat yang bersikap dewasa”. Bung Hatta tidak ingin pendidikan hanya “memupuk para budak” dan menolak corak pedagogi yang memaksakan keseragaman (“tidak mau mengenakan seragam pada jiwa-jiwa”).

Pemikiran yang cenderung sama mengenai pendidikan juga dikemukakan oleh Tan Malaka dalam karyanya yang berjudul Aksi Massa (1926), dua tahun sebelum Hatta berdiri dengan gagasan cemerlangnya di hadapan pengadilan Den Haag. Pada bagian pengantar bukunya itu, Tan Malaka menegaskan apa yang harus ada dalam pemikiran kaum terpelajar mengenai perjuangan kemerdekaan bangsanya: “Selama kaum terpelajar kita melihat bahwa perjuangan kemerdekaan sebagai masalah akademi saja, selama itulah perbuatan-perbuatan yang diharapkan itu kosong belaka. Biarlah mereka melangkah ke luar dari kamar belajar menceburkan diri ke dalam politik revolusioner yang aktif.”[17]

Landasan pijak tulisan Tan Malaka tersebut dituangkan lebih awal dalam bukunya yakni Naar de Republik Indonesia (Menuju Republik Indonesia), ia menekankan bahwa pendidikan harus mampu menunjukkan kewajiban para murid mengenai kewajiban mereka terhadap berjuta-juta Kaum Kromo (rakyat kecil), dengan langkah dasarnya ialah memberi senjata yang cukup buat mencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, membaca, babad (sejarah), ilmu bumi, bahasa Jawa, Melayu, Belanda, dan sebagainya), artinya tidak bisa hanya dengan keilmuan eksak saja. Tan Malaka bahkan juga meyakini perlunya menguak kearifan lama dengan arah yang positif:

“…Tiap-tiap kita yang keluar dari sekolah sudah tau, apa artinya pengajaran sekolah hari-hari. Cuma kita dengan pengajaran sekolah itu juga mesti bangunkan hati merdeka, sebagai manusia dengan bermacam-macam jalan. Lagi pula kita mesti bangunkan sifat-sifat kuno, yang terbilang baik. Nyanyi-nyanyi Jawa dan wayang-wayang, begitu juga menggambarkan wayang-wayang yang begitu sukar kita hargai tinggi…”[18]

Agar tidak salah dalam mengartikan pemikiran Tan Malaka itu, kita mesti melengkapinya dengan gagasan dari karya lainnya. Tan Malaka pernah menyerukan kepada sesama aktivis Sosialis di bagian akhir buku Semangat Moeda bahwa mereka mempunyai kewajiban mendidik “…Rakyat kita, yang beribu tahun diajar jongkok, yang belum pernah mempunyai hak sebagai manusia itu, tak mudah dididik.”[19] Artinya “kearifan lama” yang patut diajarkan kepada peserta didik bukanlah yang bersifat kultus. Itulah mengapa Tan Malaka mencontohkan dengan mengajarkan kesenian seperti wayang, karena di dalamnya bisa diperoleh ajaran tentang keberanian, kesetiaan, dan keadilan. Penolakan Tan Malaka kepada “sifat-sifat kuno” yang bercorak pengkultusan di era raja-raja kuno diungkapkan dalam tulisan berjudul Parlemen Atau Soviet:

“Apabila tuanku yang maha tinggi itu, yang bersemayam di istana saja. Bertanyakan perihal negeri, kepada mamanda pemangku bumi atau yang mulia perdana menteri atau lain-lain pembesar kerajaan, maka jawabnya “bumi senang padi menjadi”. Jawab itu selalu hendaknya menyenangkan hati dan telinga yang dipertuan.”[20]

Sebagai orang Kiri, Tan Malaka dalam pergulatan pemikirannya berusaha merumuskan pendidikan sebagai penghasil insan-insan yang integral serta berguna bagi masyarakat sekitarnya. Hal itu dengan berkesinambungan menciptakan anggota masyarakat yang bersikap dewasa seperti dalam idealisme Bung Hatta. Tidak ada arah epistemologi untuk hanya menciptakan “manusia super” ataupun manusia yang suka menggembar-gemborkan sosok-sosok juara yang berakibat pengkultusan. Ekspektasi dan idealisme mereka sangat sesuai dengan keunikan manusia, sebagaimana teoretisi Kiri seperti Ernest Mandel mendeskripsikannya yakni ketidakmampuan menjamin keberlangsungan hidupnya tanpa kerja sosial, yang menyebabkan terjadinya hubungan sosial antara manusia.[21]

Esensi maupun tujuan pendidikan ‘sosialis’ tersebut bukanlah untuk saling meniadakan antar sesama manusia. Pendidikan mestinya ditujukan untuk humanisasi diri dan sesama, melalui tindkaan sadar untuk mengubah dunia sebagaimana dalam pemikiran Paulo Freire.[22] Jikalau pendidikan hanya menyebabkan ‘dehumanisasi’ bagi sesamanya (manusia), kemanakah kita akan membawa arah zaman selanjutnya ? Dehumanisasi itu akan semakin nyata terwujud di saat kekeliruan berpikir terhadap pencapaian manusia berubah menjadi pengkultusan.

Penutup : Langkah ke Depan

Setiap kegembiraan akan usai, maka pasti harus datang kesadaran kita dalam memberi kilas balik. Hal ini tidak berarti bahwa kita mesti mengabaikan segala usaha dan pencapaian Andy Octavian Latief dkk. Penulis ingin menekankan bahwa masyarakat serta pemerintah mesti penuh mengapresiasi prestasi mereka, memberi mereka penghargaan yang tepat, serta jaminan yang baik di masa mendatang. Meski begitu, apresiasi jangan berbuah kultus, karena pengkultusan hanya akan mengabaikan realitas manusia lainnya, menafikan keunikan setiap individu, mencerabuti kebebasan dan kemerdekaan, menghambat kemajuan berpikir di masa mendatang, mencederai spiritualitas masyarakat, dan justru melencengkan esensi pendidikan itu sendiri. Sebagai akhir, penulis mengusulkan beberapa langkah ke depan yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak sebagai cara yang baik dalam merespon prestasi:

a. Prestasi bukan pengalihan isu

Hal ini penting dicermati oleh pemerintah, kemenangan siswa-siswi dalam olimpiade maupun perlombaan akademis ataupun non-akademis, tidaklah boleh dijadikan isu sentral untuk menutupi bermacam PR penting negeri ini. Masalah pemerataan fasilitas pendidikan, memajukan teknologi bagi pendidikan, biaya pendidikan yang terjangkau oleh berbagai kalangan, atau menciptakan institusi pendidikan yang ramah anak dll. tetap harus menjadi kepedulian utama yang tak boleh dilalaikan.

b. Prestasi bukan untuk ‘memukul’

Para pengajar boleh saja mengulas prestasi siswa-siswi tertentu dengan tujuan memberi motivasi. Jangan hanya menceritakan apa yang sudah mereka capai, namun para pengajar mesti menyesuaikan materi motivasi dengan kondisi para siswa di dalam kelas. Jangan sekali-kali berusaha menjadikan prestasi siswa lain sebagai “pentungan”, sebagai alat menghakimi. Contohnya dengan berkata, “Andi Latip itu pinter dan sopan. Bukan kayak kamu, goblok, nakal lagi!” Atau mungkin dengan melontarkan kalimat bernada meremehkan, “Prestasi kamu apa ?” Kalau pengajar sampai memakai cara itu, hanya akan ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, siswa-siswi bukannya tertarik namun mereka akan memusuhi kegiatan pembinaan prestasi. Para siswa-siswi yang telah dihakimi dengan cara seperti itu justru cenderung akan mencari “panggung” lain guna mendapatkan apresiasi, bukan tidak mungkin mereka akan menyenangi dunia malam, berkelahi, ataupun balapan liar. Kedua, “penghakiman” seperti itu akan mematikan potensi dalam diri siswa-siswi yang mungkin saja masih belum tereksplorasi dengan baik. Dampak lebih jauh lagi akan muncul perasaan bahwa diri mereka tidak berarti, tidak berguna, serta menjadi sampah dalam dunia pendidikan. Bukan tidak mungkin mereka akan memilih untuk bunuh diri.

c. Merangsang kemajuan berbagai bidang

Pemerintah, pengajar, maupun institusi pendidikan jangan melihat kemenangan para peserta didik Indonesia di kancah olimpiade internasional sekadar untuk memajukan bidang tertentu. Seumpama telah kita lihat di atas mengenai para juara di bidang ilmu pasti, maka di sini pemerintah jangan hanya memajukan bidang itu. Banyak sekali bidang studi yang berguna bagi kehidupan bangsa, entah itu dari cabang ilmu sosial, bahasa, olahraga, maupun kesenian.

d. Juara sejati bukan cuma ‘angkat piala’

Seluruh manusia harus menanam serta menumbuhkan kesadaran bahwa juara yang sejati tidak hanya dalam berbagai ajang perlombaan. Kita harus berdedikasi secara total, utamanya dalam berbagai lapangan pengabdian di tengah masyarakat, kita perlu untuk bersama-sama menjadi insan yang mampu “Mengangkat harkat martabat” sesamanya (manusia), bukan cuma jago angkat piala.

*Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis sepenuhnya, apabila ada kritik dan saran, silahkan mengirimkan surat elektronik ke ggsejarah@gmail.com

Catatan akhir

[1] Mawardi, Adi, “Pamekasan Tak Hanya Carok, Ada Juga Juara Olimpiade Fisika Internasional”, diakses dari https://nasional.tempo.co ,tanggal 12 Juli 2018 pukul 13.04 WIB.

[2] “Carok Massal Tewaskan 8 Orang, Termasuk Kades”, diakses dari https://m.detik.com , tanggal 12 Juli 2018 pukul 14.01 WIB.

3] Malaka, Tan, MADILOG, Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 166.

[4] Rinaldi, Aris, “Daftar ITB, Peraih Emas Olimpiade Fisika Tunda Pulang Kampung”, diakses dari www.arishms.com , tanggal 13 Juli 2018 pukul 09.04 WIB.

[5] MUksin, “Terobsesi Kakak Kelas, Belajar sampai Jelang Subuh”, diakses dari www.surya.co.id , tanggal 13 Juli 2018 pukul 09.04 WIB.

[6] Op.Cit.

[7] “Alyssa Diva Mustika Raih Emas di International Mathematical Contest The Clock Tower School, Rumania”, diakses dari www.indonesiaproud.wordpress.com , tanggal 13 Juli 2018 pukul 09.12 WIB.

[8] Hariyanto, Erie, “GERBANG SALAM : Telaah Atas Pelaksanaannya di Kabupaten Pamekasan”, dalam Karsa Vol. XV No. 1 April 2009 : 78.

[9] Madjid, Nurcholish, Islam Agama Peradaban : Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah , Jakarta : Paramadina, 2000. Hlm. 115.

[10] Alkitab Cetakan Tahun 2013 hlm. 251.

[11] Zi, Lao, I.D. Lika (Tafsir), Dao De Jing, Jakarta : PT. Elex Media Computindo, 2012. Hlm. 12.

[12] Anam, Munir Che, Muhammad Saw & Karl Marx : Tentang Masyarakat Tanpa Kelas , Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2007. Hlm. 164-165.

[13] Risman, Elly, “Cara Mencerdaskan Emosi Anak”, dalam Majalah Yatim Mandiri Edisi September 2015. Hlm. 23.

[14] Baaz, Syaikh Abdul Aziz bin, dkk., Benteng Tauhid, Riyadh : Dar Alqassem, t.t. Hlm. 12.

[15] Noer, Deliar, Mohammad Hatta : Hati Nurani Bangsa , Jakarta : Penerbit Buku Kompas, 2015. Hlm. 23.

[16] Tono, Suwidi, Mahakarya Soekarno-Hatta, Jakarta : Vison03, 2008. Hlm. 120-121.

[17] Malaka, Tan, Aksi Massa , Yogyakarta : Narasi, 2013. Hlm. 11.

[18] Malaka, Tan, Naar de Republik Indonesia , Bandung : Sega Arsy, 2014. Hlm. 114.

[19] Malaka, Tan, Semangat Muda, Bandung : Sega Arsy, 2015. Hlm. 122.

[20] Malaka, Tan, Parlemen Atau Soviet, Bandung : Sega Arsy, 2014. Hlm. 23.

[21] Mandel, Ernest, Tesis-Tesis Pokok Marxisme , Yogyakarta : Resist Book, 2006. Hlm. 17.

[22] Santoso, Listiyono, dkk., Epistemologi Kiri , Yogyakarta : Ar-Ruzz Media, 2015. Hlm. 130.

[23] Ebenstein, William, Isme-Isme yang Mengguncang Dunia , Yogyakarta : Narasi, 2014. Hlm. 133.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *