Browse By

Sodom dan Ketidakadilan Sosial

john_martin_-_sodom_and_gomorrah

Lukisan “The Destruction of Sodom and Gomorah” karya John Martin. Menggambarkan azab Allah berupa penumpasan & penjungkirbalikan kota tersebut. Sumber: Wikipedia.org

Dalam salah satu bagian bukunya yang membela kesejalanan praktik cinta-kasih-sejenis-berkomitmen dengan pengakuan atas otoritas Alkitab, Matthew Vines menceritakan keterkejutannya ketika mempelajari teks-teks tentang Sodom dan Gomora dalam Alkitab. Ia mendapati bahwa telah puluhan tahun lamanya para pakar tafsir Kitab Suci, baik yang pro-LGBT maupun yang anti, mengakui bahwa homoseksualitas bukanlah dosa Sodom.[1] Padahal, selama berabad-abad umat Kristiani dan khalayak umum telah diindoktrinasi dengan asosiasi sebab-akibat antara praktik hubungan seksual sejenis dengan hukuman keras atas kota Sodom dan Gomora. Asumsi ini masih terasa kuat pengaruhnya di tengah kehidupan umat, sampai hari ini. Masih segar mungkin dalam ingatan kita, bagaimana reaksi beberapa kelompok terhadap keputusan Mahkamah Agung di Amerika Serikat soal pernikahan sejenis pada tahun yang lalu. Tidak sedikit yang mencela atau mengutuk perkembangan tersebut dengan bermodalkan legenda Sodom dan Gomora. Di manapun praktik hubungan sesama jenis dilegalkan, kehancuran serupa diyakini bakal jadi konsekuensi.

Pembacaan kisah Sodom dan Gomora dengan lensa homofobik sendiri, sebenarnya baru berkembang dalam sejarah kekristenan sekitar abad ke-4 M. Dan kelahiran istilah ‘sodomi’ dengan pemaknaan yang kita kenal hari ini baru muncul di abad ke-11 M. Demikian menurut pengamatan Michael Carden dalam bukunya yang berjudul Sodomy: The History of a Christian Biblical Myth.[2] Jadi, asosiasi kata ‘sodom’ dan ‘sodomi’ dengan kecaman terhadap praktik homoseks bukanlah sesuatu yang telah melekat sejak teks Kejadian 19–tentang kehancuran Sodom dan Gomora–mulai dibaca dengan lensa iman Kristiani.

Jika  tradisi Kristen Carden mendapati bahwa pembacaan yang mengkaitkan nama Sodom dengan kecaman terhadap praktik homoseks baru muncul di abad ke-4, maka dalam tradisi Yudaisme, Vines menemukan bahwa asosiasi ini juga baru muncul belakangan, yaitu dalam literatur Yahudi di abad pertama. Padahal secara tradisional kitab Kejadian dianggap ditulis sekitar tahun 1400 SM.[3] Artinya, selama sekitar empat belas abad, bukti literer bahwa teks Kejadian 19 itu telah dibaca secara homofobik tidaklah ada.

Lalu, jika selama sekian abad pembacaan homofobik terhadap teks tersebut tidak diterapkan, bagaimana pada masa itu, umat menafsirkan kisah tentang dosa manusia dan hukuman Allah tersebut? Ternyata, jika kita menilik resepsi terhadap kisah Sodom dan Gomora dalam Perjanjian Lama sendiri, narasi tersebut justru lebih diidentikkan dengan kejahatan-kejahatan lain yang bukan berkenaan dengan praktik homoseks. Vines mencatat bahwa kedua kota tersebut disebutkan sebanyak tiga belas kali dalam Perjanjian Lama setelah Kejadian 19, dengan kejahatan dan ketidakadilan (evil and injustice) sebagai isu yang umumnya diangkat seiring dengan penyebutan keduanya.[4]

Misalnya, di awal kitab Yesaya, Sodom dan Gomora disebut-sebut dan disejajarkan dengan bangsa Yehuda dan penduduk Yerusalem yang dikecam nabi Yesaya:

Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai manusia Gomora! (Yes. 1:10)

Apa kesalahan mereka, sampai-sampai nabi Yesaya menyetarakan mereka dengan penduduk Sodom dan Gomora? Pasal yang sama mendeskripsikan kenyataan yang ada di sana sebagai berikut:

Tadinya penuh keadilan dan di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh…. Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka mengejar suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka. (Yes. 1:21,23)

Ada beberapa hal yang bisa kita temukan di sana: absennya keadilan dan kebenaran, para pemimpin yang bersekongkol dengan penjahat-penjahat berduit dan tidak membela hak-hak anak yatim dan janda-janda, yang notabene adalah representasi kelompok yang lemah di masa itu.

Meski tidak selalu menjadi satu-satunya isu yang diangkat, masalah ketidakadilan sosial seperti dalam teks Yesaya ini juga dominan dalam rujukan-rujukan lainnya tentang Sodom dan Gomora. Yeremia 23:14, misalnya, memang mengaitkan narasi Sodom dengan masalah perzinahan (secara umum, tanpa menyebut sama sekali soal hubungan sejenis), dan Zefanya 2:8-11 dengan kecongkakan, tetapi teks-teks lain seperti Amos 4:1-11 dan Yehezkiel 16: 49-50 merujuk lagi pada problem sosial-ekonomi. Di Kitab Amos, yang disebutkan adalah pemerasan terhadap orang lemah dan praktik menginjak-injak orang miskin, sementara Yehezkiel menyebut ketimpangan yang tajam antara si kaya dengan si miskin dan keengganan yang satu untuk menolong yang lain.

Dengarlah firman ini, hai lembu-lembu Basan, yang ada di gunung Samaria, yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada tuan-tuanmu: bawalah ke mari, supaya kita minum-minum! …. “Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora.” (Am. 4:1,11)

Lihat, inilah kesalahan Sodom, kakakmu yang termuda itu: kecongkakan, makanan yang berlimpah-limpah dan kesenangan hidup ada padanya dan pada anak-anaknya perempuan, tetapi ia tidak menolong orang-orang sengsara dan miskin. (Yeh. 16:49)

Kita bisa melihat di sini bahwa alih-alih ditujukan kepada relasi sesama jenis, citra Sodom dan Gomora dalam Perjanjian Lama lebih identik dengan kecongkakan, perzinahan (dalam artian umum), dan terutama masalah ketidakadilan dan ketimpangan sosial.

Di Indonesia, homofobia secara umum masih amat kuat. Di kalangan Kristiani sendiri, reaksi yang timbul pasca beredarnya surat PGI tentang LGBT pada pertengahan tahun ini menunjukkan bahwa pembacaan Alkitab yang berlensakan homofobia masih dominan. Tetapi jika dosa Sodom pada dasarnya lebih mengarah kepada fakta ketidakadilan sosial daripada praktik homoseksualitas, maka Indonesia, meski cukup represif soal homoseksualitas, berpotensi pula untuk disejajarkan dengan nama tersebut. Absennya keadilan dan kebenaran, pembelaan para pemimpinnya pada mereka yang berkantong tebal, lemahnya pembelaan terhadap hak-hak mereka yang lemah, praktik menginjak-injak orang miskin, tidakkah ini yang kita saksikan terus hari demi hari dalam kasus-kasus penggusuran, reklamasi, perampasan tanah, represi aparat, hingga proyek-proyek pembangunan yang abai soal kelestarian lingkungan dan kehidupan penduduk lokal? Nama-nama seperti Kampung Pulo, Bukit Duri, Teluk Jakarta, Sukamulya, Langkat, Papua, serta Kendeng barangkali adalah penanda bahwa sama seperti bangsa Yehuda dan penduduk Yerusalem di kitab Yesaya, kita juga hidup di tengah-tengah negeri yang layak disejajarkan dengan Sodom dan Gomora.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Menanti kehancuran atau murka Allah menimpa kita?

Dalam kisah di kitab Kejadian, Sodom dan Gomora memang tidak diberi kesempatan untuk bertobat. Mungkin kejahatannya sudah terlalu parah. Tetapi di kitab Yesaya, kecaman pada kondisi kehidupan bangsa Yehuda dan penduduk Yerusalem yang disejajarkan dengan Sodom dan Gomora itu diiringi juga dengan seruan yang menuntut pertobatan. Yang menarik, pertobatan yang disarankan nabi Yesaya di sini sama sekali bukan pertobatan yang sifatnya ritualistik belaka. Justru yang demikian itu dicelanya habis-habisan:

“Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?” firman TUHAN; “Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah.” (Yes. 1:11-15)

Kita bisa melihat di sini, nyaris semua aksi keagamaan ritualistik yang biasa dilakukan umat menjadi sasaran: persembahan (korban), kehadiran dalam ibadah di rumah Tuhan, perayaan hari-hari besar keagamaan, pertemuan-pertemuan keagamaan yang sifatnya rutin, hingga kegiatan doa. Lalu jika bukan itu semua yang dikehendaki Allah, apa yang dilihat-Nya sebagai ekspresi pertobatan yang sejati? Seruan nabi Yesaya menunjukkan bahwa kehendak Allah adalah supaya umat-Nya meninggalkan kejahatan-kejahatan mereka dan balik membela perkara-perkara mereka yang lemah dan tertindas.

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda! (Yes. 1: 16-17)

Inilah tanda pertobatan yang sejati menurut nabi Yesaya. Bukan pencucian nurani (conscience laundrying) atas fakta ketimpangan sosial yang tajam lewat partisipasi dalam kebaktian-kebaktian Minggu. Bukan penyelenggaraan perayaan Natal dengan biaya milyaran rupiah supaya terasa megah dan berkesan. Bukan keberhasilan mengisi ribuan kursi di ruang ibadah dalam acara-acara malam doa dan pujian. Tetapi pertobatan dari kejahatan atas manusia yang lain, dan sebagai gantinya, perjuangan membela hak-hak mereka yang diperlakukan secara tidak adil.

Tentu saja kegiatan yang sifatnya ritualistik tidak harus selalu dipersalahkan. Ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama. Masalahnya adalah, apakah ia diorientasikan untuk membangun dan mendorong daya gerak umat demi apa yang dikategorikan Nabi Yesaya sebagai ekspresi pertobatan yang sejati tadi, atau justru sebaliknya. Mengacu kembali pada nama-nama yang tersebutkan di atas: Kampung Pulo, Bukit Duri, Teluk Jakarta, Sukamulya, Langkat, Papua, Kendeng, serta nama lain yang merepresentasikan kasus serupa, sikap dan praktik macam apa yang didorong aktualisasinya dalam ruang-ruang ibadah kita hari ini? Kesadaran membela yang lemah, kemarahan melihat ketidakadilan, ketekunan melakukan analisis objektif, atau malah sebaliknya, pelarian dari kenyataan material, distribusi ‘obat penenang’, suntikan motivasi untuk mengejar kesuksesan, hingga fanatisme ketokohan dan identitas. Jika empat hal terakhir ini yang terus berkembang, jangan-jangan nasib Sodom dan Gomora sedang menanti kita semua. Mungkin bukan berupa hujan belerang dan api seperti halnya dalam cerita Alkitab, tapi lewat berbagai bentuk kerusakan lingkungan serta ekstremisme yang mencelakakan.[5]

*Daniel Sihombing adalah alumnus Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang.

[1]Matthew Vines, God and the Gay Christian: The Biblical Case in Support of Same-Sex Relationships(New York: Convergent, 2014), kindle edition,location 923.

[2]Michael Carden, Sodomy: The History of a Christian Biblical Myth (London: Routledge, 2004), 116.

[3]Vines, God, loc. 3240.

[4]Tiga belas bagian di mana penyebutan itu terjadi adalah: Ulangan 29:23; 32:32; Yesaya 1:9-10; 3:9; 13:19; Yeremia 20:16; 23:14; 49:18; 50:40; Ratapan 4:6; Yehezkiel 16:46-56; Amos 4:1-11; dan Zefanya 2:8-11 (Vines, God, loc. 3240).

[5]Lihat analisis Ian Wilson, “Making Enemies Out of Friends,” http://www.newmandala.org/making-enemies-friends/ tentang kontribusi pengabaian masalah ketidakadilan sosial bagi peningkatan bentuk-bentuk ekstremisme.

Print Friendly

One thought on “Sodom dan Ketidakadilan Sosial”

  1. Jevin Sengge says:

    Tajam dan kritis! Thanks ko DS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *