Browse By

Salib dan Kekristenan Progresif

messe-sacrifice-christ

sumber gambar: www.associationdemarie.org

Dari titik mana teologi Kristen yang berkarakter progresif secara strategis bisa dibangun? Tak usah repot-repot mencarinya dalam unsur-unsur tak terjamah dari ritus atau teks suci tradisi Kristiani. Sederhana saja, kita bisa memulainya dari lambang yang paling representatif dari kekristenan: salib. Ya, lambang yang banyak digunakan untuk perhiasan hingga jimat pengusir roh-roh halus tersebut sesungguhnya menyimpan elemen subversif!

Mengapa demikian? Karena dalam kekaisaran Romawi di zaman Yesus, hukuman mati disalib adalah hukuman teramat berat yang umumnya dibebankan pada pemberontak atau musuh kekaisaran. Simak apa kata sejarawan abad pertama, N.T. Wright:

Crucifixion was a powerful symbol throughout the Roman world. It was not just a means of liquidating undesirables; it did so with the maximum degradation and humiliation. It said, loud and clear: we are in charge here; you are our property; we can do what we like with you. It insisted, coldly and brutally, on the absolute sovereignty of Rome, and of Caesar. It told an implicit story, of the uselessness of rebel recalcitrance and the ruthlessness of imperial power. It said, in particular: this is what happens to rebel leaders. Crucifixion was a symbolic act with a clear and frightening meaning.[1]

[Penyaliban adalah sebuah simbol yang kuat di seantero kawasan Romawi. Ia bukan hanya sarana melenyapkan orang-orang yang tidak disukai; ia dilakukan dengan cara mempermalukan dan merendahkan secara maksimal. Ia seakan hendak mengatakan, dengan jelas dan lantang: kami (Romawi) berkuasa di sini; kamu adalah properti kami; kami dapat melakukan apa yang kami mau kepadamu. Ia menekankan, secara dingin dan brutal, tentang kedaulatan mutlak Romawi, dan Kaisar. Ia mengisahkan cerita implisit, tentang tidak bergunanya pemberontakan dan kekejaman kuasa imperial. Ia mengatakan, secara khusus: inilah yang terjadi pada pemimpin-pemimpin pemberontakan. Penyaliban adalah tindakan simbolik dengan makna yang jelas dan mengerikan.]

Sayangnya, tidak mudah bagi kita untuk melacak penyebab pasti penyaliban Yesus. Kita bisa membayangkan bahwa ketika di Yerusalem, abad pertama Yesus dari Nazaret dihukum mati di kayu salib, publik di sana akan segera menghubungkannya dengan deretan nama pemberontak gagal yang menderita hukuman serupa. Tetapi alasan persis mengapa Yesus sampai harus disalib bakal sulit kita temukan. Catatan sejarah umum di abad pertama miskin informasi terkait peristiwa tersebut dan kitab-kitab injil tidak disusun layaknya biografi modern. Tidak heran jika upaya rekonstruksi dalam “pencarian Yesus dalam sejarah” (the quest for historical Jesus) juga jauh dari kata sepakat dalam upaya menjawab pertanyaan ini.

Yang jelas, sekian tahun setelah peristiwa penyaliban tersebut berlalu dan komunitas pengikut Yesus telah bertumbuh di mana-mana, salah satu propagandis utama gerakan ini, rasul Paulus, mengaitkan sebab kematian Yesus dengan konfrontasinya melawan penguasa-penguasa dunia.

Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tidak ada penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan kita yang mulia. (1Kor. 2:6-8)

Hikmat yang diajarkan Paulus, dan kolega-koleganya, disebutnya sebagai hikmat yang beroposisi dengan hikmat dari dunia yang dikuasai oleh penguasa-penguasa dunia ini. Dan karena pertentangan pemahaman ini, Yesus harus disalib.

Pembaca yang akrab dengan ide-ide yang berkembang dalam tradisi Marxis tentu segera menangkap kesejajaran konsep-konsep seperti ideologi dan hegemoni dengan apa yang dinyatakan oleh Paulus di ayat tadi. Hikmat yang berasal dari dunia ini adalah hikmat milik penguasa-penguasa dunia, sebab seperti Marx sebutkan dalam The German Ideology, ide-ide yang berjaya pada suatu masa adalah ide-ide kelas penguasa, yang mendorong produksi ide-ide yang berfungsi untuk melanggengkan kekuasaannya:

The ideas of the ruling class are in every epoch the ruling ideas, i.e. the class which is the ruling material force of society, is at the same time its ruling intellectual force. The class which has the means of material production at its disposal, has control at the same time over the means of mental production, so that thereby, generally speaking, the ideas of those who lack the means of mental production are subject to it. The ruling ideas are nothing more than the ideal expression of the dominant material relationships, the dominant material relationships grasped as ideas; hence of the relationships which make the one class the ruling one, therefore, the ideas of its dominance.[3]

[Ide-ide kelas yang berkuasa dalam setiap fase sejarah adalah ide-ide yang berkuasa. Kelas yang menguasai kekuatan material dalam masyarakat adalah pada saat yang sama penguasa kekuatan intelektualnya. Kelas yang memiliki alat-alat produksi material pada saat yang sama memegang kontrol atas sarana produksi pemikiran, sehingga umumnya ide-ide mereka yang kekurangan sarana produksi pemikiran dikendalikan oleh mereka. Ide-ide yang berkuasa tidak lain adalah ekspresi ideal dari relasi material yang dominan, relasi material dominan yang ditangkap sebagai ide; relasi yang menjadikan salah satu kelas menguasai yang lainnya, atau ide-ide tentang dominasinya.][4]

Sementara ide yang menjadi konten pemberitaan Paulus adalah ide yang berseberangan dengan ide-ide produksi kelas penguasa tersebut. Ide yang demikian disebutnya sebagai “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.[5] Dan lewat pemberitaan hikmat rahasia tersebut, lahir keyakinan bahwa para penguasa dunia akan ditiadakan. Jelas Paulus tiba pada posisi ideologis yang demikian tanpa melalui proses pikir ilmiah materialisme-dialektis-historis. Perangkat pikir dan tahapan sejarah di masanya belum memungkinkan sang rasul untuk tiba di sana. Tapi jika “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia tersebut” dikualifikasikan sebagai hikmat yang beroposisi dengan ide-ide penguasa, maka “Allah” yang disebut Paulus di sini jelas lebih cocok disebut sebagai sekutu alih-alih musuh dari pergerakan-pergerakan sosial progresif yang bernafaskan ketidakpercayaan akan Allah. Komunisme sebagai cita-cita kesetaraan, masyarakat tanpa kelas (tanpa penguasa) yang karakteristiknya sama-rata-sama-rasa, pada dasarnya memiliki semangat yang sama dengan pewartaan Injil dari Paulus dan kawan-kawannya.

Dan seperti halnya pergerakan-pergerakan yang melawan ideologi kelas penguasa (ideological state apparatus-ISA) pada akhirnya harus berhadapan dengan perangkat represifnya (repressive state apparatus-RSA), maka Yesus yang mengusung hikmat Allah yang tersembunyi, yang beroposisi dengan hikmatnya penguasa-penguasa dunia, pada akhirnya harus disalib, menerima hukuman yang disiapkan bagi para pemberontak. Sebagai ekspresi perlawanan terhadap represi penguasa, Paulus (dan umat Kristiani mula-mula) malah menyebut Dia yang tersalib itu dengan sebutan “Tuhan” (kurios), julukan yang pada masa itu disematkan kepada pemimpin tertinggi kerajaan Romawi (Kaisar).

Maka jika hari ini pemaknaan yang dominan atas simbol salib justru mengabaikan aspek subversif ini, kemungkinan besar ia lahir dari pembacaan yang tak berakar pada sejarah fungsi salib dalam kekaisaran Romawi di zaman Yesus. Bagaimana mungkin salib dipajang di gedung-gedung gereja atau lembaga-lembaga Kristiani, namun pada saat yang sama pewartaan yang muncul dari sana terus-menerus mengukuhkan hegemoni para penguasa dunia dan menjadi kanal tambahan ekspresi ideologinya? Bagaimana mungkin artikulasi iman pada Yang Tersalib itu justru seringkali menjadi identik dengan cita-cita the pursuit of happiness, akumulasi properti, dan harmoni dalam masyarakat kelas yang berfondasikan penghisapan manusia atas manusia lain, dengan keberhasilan mencapai cita-cita tersebut dimaknai sebagai berkat dari Yang Tersalib, dan kegagalan sebagai kehendak-Nya yang harus diterima dengan ikhlas dan tabah?

Entah kapan persisnya tradisi pembacaan non-subversif ini bermula. Yang jelas, ketika Kaisar Romawi di abad ke-4, Konstantin, melihat tanda salib di langit dan menyatakannya sebagai tanda kemenangan di medan perang, lalu menjadikan salib sebagai lambang yang dipajang di perlengkapan perang pasukan Romawi, jelas pemaknaannya sudah berbalik 180 derajat. Mengutip Ernst Bloch, di sini kekristenan mulai “inherited the Roman Empire under the mask of the crucified” (mewarisi kekaisaran Romawi di balik topeng Dia Yang Tersalib).[6] Waktunya bagi umat Kristiani untuk melepaskan topeng tersebut dari wajah Kaisar di baliknya, dan membiarkan Yang Tersalib kembali menjadi Tuhan.

Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (1Kor. 2:2)

*Daniel Sihombing adalah mahasiswa doktoral bidang teologi di Protestant Theological University, Belanda.

[1]N.T. Wright, Jesus and the Victory of God (Minneapolis: Fortress, 1996), 543.

[2]Terjemahan penulis.

[3]Karl Marx, The German Ideology, https://www.marxists.org/archive/marx/works/1845/german-ideology/ch01b.htm.

[4]Terjemahan penulis.

[5]Bandingkan dengan “ide kekal komunisme” ala Alain Badiou. Lih: Alain Badiou, “The Idea of Communism,” dalam The Idea of Communism (London: Verso, 2010), 1-14.

[6]Ernst Bloch, Natural Law and Human Dignity (Cambridge: MIT Press, 1986), 278.

Print Friendly

2 thoughts on “Salib dan Kekristenan Progresif”

  1. Gerrit Singgih says:

    Ketika agama Kristen berubah dari agama low class menjadi agama ruling class di era kaisar Konstantin, salib menjadi simbol triumfalisme. Tetapi simbol-simbol lain juga bernasib sama. Bagi rakyat Polandia, Cekoslowakia, Hongaria dan Jerman Timur di tahun 80-90an
    , palu arit adalah simbol penindasan Uni Sovyet atau Rusia Marxis. Waktu itu salib dan tanda salib menjadi simbol subversif.

  2. Pingback: Salib (2) | A Voice in the Wilderness
  3. Trackback: Salib (2) | A Voice in the Wilderness

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *