Browse By

Haji Sebagai Laku Revolusioner (Bagian II)

tumblr_nd1fitsw4y1s7e5k5o1_1280

National Geography, Juli 1953.

Dari hal-hal yang disebut di atas, barangkali sudah jelas bahwa haji, selain merupakan ibadah dalam arti sempit, telah mempunyai beberapa fungsi penting lainnya bagi umat Islam Indonesia…Bagaimana situasi sekarang ini? Apakah haji masih mempunyai fungsi yang begitu esensial bagi umat Islam Indonesia?…bagaimana dengan fungsi-fungsi haji lainnya, yang bersifat sosial dan politik? apakah haji masih merupakan saluran komunikasi dengan sesama muslim dari India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Turki, Uni Soviet, negara-negara Arab?” (Martin van Bruinessen)

 

Jika dalam tulisan bagian pertama, kita sudah menyaksikan betapa ibadah haji tak sekadar menjadi ritus, terutama pada era pra-kemerdekaan, maka, apakah saat ini haji juga memainkan peran penting yang dapat memunculkan kesadaran baru dan mendorong transformasi sosial-ekonomi-politik di Indonesia? Untuk itu, mari kita telusuri terlebih dahulu, apakah kondisi di Tanah Haram sendiri, yang menjadi tempat utama pelaksanaan haji, masih potensial untuk membangkitkan kesadaran tadi, sebagaimana pada masa lampau.

Sekitar 5 tahun lalu, Jerome Taylor, seorang kontributor untuk independent.co.uk, menulis sebuah esai berjudul “Mecca for the rich: Islam’s holiest sute ‘turning into vegas’”.[1] Dalam artikelnya, ia menyajikan banyak fakta betapa rezim monarki Ibn Saud membuka pintu selebar-lebarnya bagi kapital, terutama berupa industri perhotelan dan pusat-pusat perbelanjaan mewah, dan tak jarang juga mengorbankan keberadaan situs-situs bersejarah yang punya posisi sakral tersendiri bagi sebagian muslim (terutama tradisionalis). Pemusnahan situs-situs ini semakin mendapat bahan bakarnya dari cara pandang Wahabisme yang menganggap penghormatan terhadap petilasan tertentu sebagai tindak kultus dan pemujaan yang bisa menyebabkan kemusyrikan. Dan, saya kira, semua kita tahu, Wahabisme ini menjadi corak “resmi” Islam yang dianut oleh kerajaan Saudi dan dipaksakan untuk berlaku di wilayah yang dikuasainya.

Tapi, saya tak hendak merasani Wahabi dalam tulisan ini.

Pada intinya, dari tulisan tadi (dan beberapa artikel yang memperkuatnya), kita jadi tahu dan mendapat cukup gambaran bagaimana kondisi Makkah hari ini. Bahwa Makkah, setelah dikuasai oleh Ibn Saud, makin kehilangan kredibilitasnya sebagai pusat keilmuan dunia Islam, dan hari ini, justru benar-benar telah disulap laiknya kota destinasi wisata dunia, macam Paris, Milan, atau New York (tentu dengan segala derajat perbedaannya), dengan segala konsumerismenya.

Hotel-hotel mewah dibangun berdekatan dengan kompleks Masjidil Haram. Disediakan bagi mereka yang berani membayar ratusan hingga ribuan dolar per malamnya. Tak jarang, hotel-hotel ini dimiliki oleh korporasi perhotelan yang tentakelnya sudah menggurita di berbagai kota di dunia. Salah satu yang paling dekat, dan bahkan berhadap-hadapan dengan satu pintu masuk Masjidil Haram, misalnya, adalah milik jaringan perhotelan Intercontinental, meskipun nama depannya diimbuhi oleh frasa yang kelihatannya begitu mulia, “Daar al-Tauhid”. Berbagai “merk-merk” hotel mewah lain bisa disebut. Hilton dan Swissotel, misalnya.[2] Sebuah bukti betapa penetrasi kapitalisme global bahkan bisa menembus tempat-tempat suci sekalipun.

Di sisi lain, para haji kelas medioker, dengan dana yang pas-pasan, hasil menabung selama bertahun-tahun, mesti tinggal di pemondokan-pemondokan yang jarakya bisa berkilometer dari kompleks Masjid. Dengan demikian, ritual haji yang sebenarnya begitu menjunjung tinggi prinsip kesamaan dan kesetaraan, pada kenyataannya, pelaksanaannya tak pernah benar-benar setara. Stratifikasi-stratifikasi macam kelas sosial-ekonomi bukannya hilang, malah justru dipertegas di Kota Suci. Dalam mengomentari hal ini, Eric Tagliacozzo dalam bukunya tentang haji dari Asia Tenggara, menulis:

Global capitalism has ensured that the wealthy of any society can enjoy the same privileges, even on a religious quest such as the Hajj, which tries to level the economic differences between human beings…These differences in experience show that the Hajj, though meant as an egalitarian experience for human beings, no matter what their earthly power or station before God, may not always be so. Spiritually, this may indeed be the case, but there are discernible differences in the material circumstances of pilgrims that are readily available for all to see.”[3]

Dalam konteks Indonesia, kesenjangan-kesenjangan macam ini dilanggengkan terutama dengan adanya haji plus—yang oleh Tagliacozzo disebut luxury hajj package—setidaknya sejak dekade 1970-an atau 1980-an.

Hal-hal macam ini, bersama dengan kecanggihan teknologi mutakhir, modernisasi pelaksanaan haji, pengelolaan sentral melalui pemerintah, dan kemenangan Wahabisme di Makkah (yang mengubah persepsi umat Islam dunia terhadap Makkah sebagai pusat keilmuan Islam) membuat bayangan akan para haji yang tangguh, yang memainkan peran besar dalam transmisi gagasan antara Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas, rasanya hanya menjadi romantisme.

Kesan saya, justru karena kecanggihan teknologi modern, dan karena pengelolaan sentral melalui pemerintah, haji telah kehilangan fungsi sosialnya. Jamaah haji Indonesia diangkut secara massal dengan pesawat udara, dan hanya berada beberapa minggu saja di Tanah Suci. Tempat tinggal untuk mereka—bersama dengan orang Indonesia lainnya—sudah disiapkan sebelumnya, sehingga kontak dan komunikasi mereka dengan umat Islam lainnya minim sekali…Bukan lagi Makkah yang merupakan pusat intelektual dunia Islam yang terpenting… Di Makkah, memang masih…terdapat guru yang dihormati kalangan pesantren [dari Indonesia], tetapi peranannya sangat minim dibandingkan dengan para ulama besar Makkah setengah abad yang lalu. Naik haji sekarang telah dipersempit menjadi ibadah belaka—dan, tentu saja, simbol status sosial.”, tulis Martin van Bruinessen dengan nada pesismis, untuk menutup esai panjangnya. Pada bagian sebelumnya dari artikel itu, ia juga sudah menulis fungsi sosial yang dimainkan oleh haji pada abad-abad sebelumnya.[4]

Jika kita menyadari, dan mengakui bahwa saat ini ritual haji sudah kehilangan fungsi sosialnya, lantas, bagaimana cara pandang kita terhadap ibadah ini? Apakah dengan begitu, kita layak menganggapnya sesuatu yang tak penting lagi, karena hanya memunculkan status sosial yang baru saja, dan tak potensial untuk menumbuhkan kesadaran dan solidaritas baru lagi?

 

***

Syaikh Zainuddin al-Malibari, seorang ulama besar asal Malabar, India, yang sudah mukim di Makkah, menyajikan cerita menarik tentang haji dalam salah satu kitabnya yang populer di kalangan muslim tradisionalis dan banyak dipelajari di pesantren-pesantren, Irsyad al-‘Ibad ila Sabil al-Rasyad. Uniknya, kisah ini justru dimuatnya dalam bab yang membahas tentang konsep hak tetangga (huquq al-jiran). Berikut adalah terjemahan bebas saya atas cerita tersebut.

Pada suatu masa, tersebutlah seorang ulama yang bernama Abdullah ibn Mubarak. Suatu ketika, setelah ia menyelesaikan prosesi haji pada tahun itu, dan sudah memenuhi segala rukun dan kewajiban haji, ia memutuskan beristirahat di Masjidil Haram, lalu tertidur di sana.

Di dalam tidurnya, ia bermimpi. Ia serasa melihat dua orang malaikat yang turun dari langit lalu saling bercakap-cakap. Salah seorang di antara mereka bertanya kepada yang lain, “berapakah keseluruhan jumlah orang yang melaksanakan haji pada tahun ini?”. Yang ditanya menjawab, “sekitar 600.000 orang”. Yang pertama meneruskan pertanyaannya, “lalu, di antara mereka, berapa orang yang hajinya diterima Allah SWT?”. “Tak ada seorangpun saja di antara mereka yang hajinya diterima Allah. Tetapi, ada seorang lelaki pembuat alas kaki dari Damsyiq (Damaskus), namanya Muwaffiq, yang tidak mengerjakan haji, tetapi ditimpali ganjaran haji oleh Allah SWT. Dan atas berkah diterimanya hajinya oleh Allah SWT, maka diterimalah amal ibadah haji 600.000 orang tadi oleh Allah SWT”, jawab malaikat yang lain.

Sampai di situ, Abdullah ibn Mubarak terbangun. Dan dengan segera, karena didorong oleh keingintahuan dan rasa penasaran yang membuncah, ia mengambil keputusan cepat untuk berangkat Damaskus. Demi menemui orang yang disebut-sebut oleh malaikat dalam mimpinya.

Singkat cerita, setelah melalui proses pencarian yang tak mudah, ia bisa menemukan rumah orang yang ditujunya. Beberapa saat sesudah ia mengetuk pintu dan menjumpai sosok tersebut, ia kontan bertanya, “siapakah namamu, wahai Tuan?”. “Muwaffiq”, jawab si empunya rumah. Setelah merasa yakin bahwa orang di hadapannya adalah orang yang memang dimaksud, Abdullah kemudian menceritakan apa yang disaksikannya dalam mimpinya. Selanjutnya, ia pun menanyakan, “wahai Tuan, apakah kebaikan yang telah kau lakukan, sehingga kau meraih derajat yang luhur ini?”.

Muwaffiq, si empunya rumah, dan orang yang namanya disebut-sebut oleh malaikat itu lalu bercerita, “sebelumnya, aku memang sudah merencanakan akan berangkat haji tahun ini. Aku sudah kumpulkan semua yang dibutuhkan, termasuk uang 300 dirham sebagai bekal di perjalanan, hasil pekerjaanku sebagai pembuat sepatu selama bertahun-tahun. Kebetulan, di hari-hari menjelang keberangkatanku itu, istriku memang sedang hamil. Suatu ketika, ia mencium bau masakan yang menggugah seleranya (baca: ngidam, dalam tradisi masyarakat Indonesia). Untuk menyenangkannya, aku datangi rumah tetanggaku itu dengan maksud hendak meminta sebagian masakannya.

Tanpa dinyana, tetanggaku justru menjawab “tuan, ketahuilah bahwa aku dan anak-anakku yang yatim ini sebelumnya belum makan selama 3 hari. Apa yang kumasak ini adalah daging dari bangkai khimar yang sudah mati tanpa disembelih. Sesungguhnya makanan ini halal bagi kami karena darurat (dlarurat dalam nomenklatur ushul fiqh) untuk mempertahankan kehidupan. Sementara ia haram bagi keluargamu yang mampu mendapat makanan halal.”.”.

Aku (Muwaffiq), karena rasa iba yang sangat, setelah menyaksikan kemiskinan tetanggaku, tanpa pikir panjang langsung mengambil 300 dirham tabungan hajiku, untuk kuserahkan pada tetanggaku. Lalu kukatakan pada diriku sendiri, “sesungguhnya hajiku ada di pintu rumahku (rumah tetanggaku), maka kemana lagi aku perlu pergi”. Mungkin berkat wasilah amal itu, amal ibadahku diganjar pahala haji oleh Allah SWT’, ujar Muwaffiq.

***

Apa kira-kira maksud Syaikh Zainuddin menyampaikan cerita tersebut? Sebagai seorang pemegang syariat yang teguh—ia pengarang kitab fiqh yang juga sangat terkenal, Fath al-Mu’in—, saya yakin, ia tak hendak mengatakan bahwa haji itu tak penting, dan karenanya tak perlu dikerjakan.

Tetapi, seorang ahli fiqh sekelas beliau saja mengakui, ada yang tak kalah penting dari “sekadar” pemenuhan rukun & kewajiban guna mencapai sah-nya haji. Hikayat tersebut membuktikan, bahwa haji yang kelihatannya adalah ibadah yang sangat personal, tetap tak bisa dilepaskan dari kasalehan sosial orang yang mengerjakannya. Bahkan, seorang yang tak mengerjakan haji sekalipun, justru bisa mendapat ganjaran haji, berkat pengorbanannya terhadap sesama manusia. Dan apa yang dikorbankannya untuk sesama, bisa sama bernilainya dengan pengorbanan yang dilakukannya untuk mengerjakan ibadah mahdhah (ibadah murni/ritual) kepada Allah SWT. “Tuhan bersemayam dalam gubuk-gubuk si miskin”, ungkap Soekarno suatu ketika.

Satu hadits yang sering sekali dikutip berkenaan dengan haji, menyatakan, “al-hajj al-mabrur, laysa lahu jaza’un illa al-jannah” (Haji yang mabrur, tak ada balasan yang pantas didapatkannya, kecuali surga). Haji mabrur, kita tahu, adalah ungkapan yang kerap digunakan untuk merujuk haji yang “sukses”, diterima, diridhai Allah SWT. Kitab suci dan hadits nabi sering menjelaskan, suatu ibadah bisa disebut paripurna jika ia dikerjakan dengan sepenuh jiwa dan penghayatan, sehingga membawa kesadaran yang akan membuat orang yang mengerjakannya menjadi lebih baik. Jadi, “kesuksesannya” akan tampak justru setelah ibadah itu sendiri selesai.

Shalat, misalnya, dikatakan berhasil jika ia bisa membuat para pelakunya menjauhi dan menghindari perbuatan keji dan munkar (al-fahsya’ wa al-munkar). Pun, puasa yang esensial, tutur Nabi, tidak semata dikerjakan hanya untuk menahan lapar dan dahaga (al-ju’ wa al-‘athasy), tetapi untuk mendapat pelajaran dari kewajiban dan larangan selama puasa itu, guna membentuk manusia-manusia yang bertakwa (la’allakum tattaqun). Demikian pula dengan haji, terutama yang disebut haji mabrur.

Tetapi, manusia macam apakah yang diharapkan bisa terbentuk setelah haji? Dan apakah pelajaran-pelajaran dari ritus ini, yang jika dihayati betul-betul, bisa mengubah orang yang mengerjakannya menjadi lebih baik, terutama dalam konteks sosial, khususnya di tengah-tengah kondisi Indonesia hari ini?

***

Prof. Dr. Quraisy Syihab dalam satu ceramahnya sempat menyatakan, pembuktian apakah seseorang yang berhaji berhasil meraih predikat “haji mabrur” adalah pembuktian sepanjang hayat. Artinya, tindak-tanduk dan perilaku seorang haji, mulai sejak selesai hajinya hingga akhir hidupnya, menjadi tolok ukur, apakah haji yang dikerjakannya telah berhasil mendorong transformasi dan menjadikannya sebagai manusia yang lebih baik, dalam konteks individu maupun sosial.

Sementara itu, Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi, seorang ulama besar dalam bidang tafsir—dengan karya monumentalnya, Tafsir as-Sya’rawi—dan guru besar Al-Azhar di era kontemporer, dalam satu risalah singkatnya tentang haji mabrur, menyajikan uraian menarik tentang I’tibar (hikmah atau pelajaran) yang bisa diambil dan perlu dihayati dari ibadah haji, dan diterapkan sekembalinya para jamaah haji ke tempat asalnya.

hajj

Al-Hajj Al-Mabrur, salah satu risalah tipis Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi

Misalnya saja, selama menjalankan haji, setiap orang dari segala lapisan sosial diperintahkan untuk melepas segala pakaian kebesaran mereka dengan segala pernak-pernik dan perhiasannya, dan menggantinya dengan dua lembar kain yang bahkan tak boleh berjahit (bagi laki-laki). Artinya, haji hendak meneguhkan kesadaran bahwa kekayaan, jabatan, dan status sosial sama sekali tak ada artinya di hadapan Tuhan dan bagi kehidupan yang lebih abadi. Implikasinya, aturan ini juga menjadi pengukuh pesan Allah dalam Al-Qur’an, bahwa perbuatan menumpuk-numpuk kekayaan (at-takatsur) dan akumulasi kapital, terlebih dengan cara yang eksploitatif terhadap nilai lebih (surplus value) para pekerja adalah tindakan sia-sia, dan bahkan mendapat kecaman. Selain karena itu berarti perbuatan zalim terhadap sesama, tindakan itu juga melalaikan manusia dari misi profetiknya di dunia.

Hal ini juga berkait-kelindan dengan semangat egaliter yang begitu dijunjung tinggi dalam haji. Semua manusia, misalnya, diwajibkan untuk berseragam “kain ihram”, tanpa memandang latar belakang status sosialnya. Di mata Allah, semua adalah sama. Harta, kekayaan, jabatan, tak lantas membuat seseorang lebih mulia di sisi Tuhan. Seorang yang menghayati betul-betul pelajaran ini, selepas haji, tentu akan memperlakukan manusia secara setara. Lebih lanjut, mereka juga akan menolak adanya tatanan yang memunculkan kelas penindas dan tertindas, kelompok yang menghisap dan golongan yang terhisap, dst.

Dengan demikian, seorang kaya yang berangkat haji dengan segala fasilitas mewahnya, lalu sekembalinya ia dari haji, masih tetap dengan hasrat kerakusannya akan akumulasi kekayaan, rasanya hampir mustahil bisa dikategorikan dalam haji mabrur.

Pelajaran lain, misalnya, jika selama prosesi haji, seseorang dilarang merusak kehidupan para makhluk yang ada di Tanah Haram, seperti dengan membunuh hewan atau memotong dan mencabut tanaman, selayaknya mereka juga melakukan hal yang sama ketika kembali ke daerah asal. Mereka harusnya menjadi orang-orang yang semakin menghargai semua makhluk Tuhan, tanpa terkecuali. Terlebih sebagai manusia, mereka adalah khalifah Tuhan di muka bumi, yang sudah diberi amanah oleh Tuhan untuk menjaga dan melestarikan alam (QS 33: 72).

Jika manusia pasca-abad pencerahan, dengan rasio instrumental-nya, melulu memandang alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi—seperti dinyatakan Herbert Marcuse dalam One Dimensional Men—,maka Islam, melalui haji, memberi pelajaran bahwa manusia dan alam adalah sama-sama makhluk, dan alam hanya boleh dieksploitasi sepanjang untuk kemaslahatan umat manusia secara umum, tentu tanpa mengabaikan pertimbangan ekologi yang ada. As-Sya’rawi juga mengungkapkan, bahwa ritual dan aturan dalam haji, seperti penghormatan terhadap segala makhluk, baik hidup maupun benda mati, juga berfungsi sebagai kritik terhadap arogansi manusia—utamanya manusia modern—yang menganggap dirinya sebagai pusat kosmologi dunia, yang mengatasi dan berhak menguasai anggota ekosistem alam selainnya.

Perintah untuk menghormati—bahkan anjuran untuk mencium—Hajar Aswad, yang “hanya” seonggok batu, misalnya, adalah sebentuk penyadaran bahwa meskipun manusia sering disebut sebagai puncak penciptaan dan makhluk yang dimuliakan Tuhan (dengan predikat ahsani taqwim, laqad karramna bani adam, khalifah fi al-ard, dan semacamnya), namun keunggulan itu hanyalah pemberian dan amanat Tuhan, dan sama sekali bukan berarti hak untuk menguasai sepenuh-penuhnya. Dengan demikian, selain prosesi-prosesinya, aturan-aturan dalam haji juga mengandung pelajaran cukup komprehensif tentang bagaimana selaiknya manusia berperilaku dan berhadapan dengan segala jenis dan segenap makhluk alam (at-ta’addub ma’a ajnasi al-kawn), menurut as-Sya’rawi.

Dalam konteks Indonesia, di zaman ketika kapitalisme global semakin mengungkung dan penetrasi korporasi makin gila-gilaan ini, sesungguhnya kesadaran yang dimunculkan haji harusnya mendorong para haji untuk bergerak ketika mereka kembali ke tanah air. Kesadaran itu juga harusnya yang membuat mereka tidak puas hanya memainkan peran sampingan, sekadar sebagai pembaca doa dan pemimpin ritual di tengah masyarakatnya. Di masa lalu, di tengah kolonialisme yang vulgar, para haji toh tak segan mengorbankan bukan hanya harta bendanya, tapi juga jiwanya. Karenanya, hari ini, di tengah makin banyaknya konflik agraria dan perlawanan serta penolakan terhadap korporasi ekstraktif ynag merusak alam, seorang haji harusnya tampil di garda terdepan dalam membela kepentingan saudara-saudaranya sesama muslim ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan raksasa.

Di antara para petani di Kendeng dan Urutsewu, para nelayan di Teluk Jakarta dan Wongsorejo, serta para warga yang berhadapan dengan industri tambang di Tumpang Pitu, dan masyarakat yang terancam penggusuran di Kampung Pulo, Bukit Duri, dan daerah-daerah lain, para haji harusnya aktif mengambil bagian dan tak terjebak zona nyaman. Jika beberapa dekade silam, sempat muncul istilah “kyai rakyat”[5], perlu pula dimunculkan “haji rakyat”. Merekalah representasi sesungguhnya dari kaum agamawan pengemban ajaran agama. Kalau kepada mereka saja, masyarakat tertindas sudah tak bisa lagi menumpukan harapannya, maka pertanyaannya: sampai kapan agama dan para agamawan masih akan dipercaya?.

Di titik itulah, sesungguhnya, kita jadi tahu dan menyadari, bahwa Islam tak cukup hanya dengan diam, tetapi juga perlu “bergerak” dan “menggerakkan”, jika ingin tetap “eksis” dan senantiasa relevan. Bukankah adagium Arab klasik sudah menyatakan, “al-Islam shalih li kulli zaman wa makan” (Islam [harus] selalu cocok dan kontektual di setiap masa dan tempat)?

[1] http://www.independent.co.uk/news/world/middle-east/mecca-for-the-rich-islams-holiest-site-turning-into-vegas-2360114.html

[2] Nama lengkap hotel ini adalah Daar al-Tauhid Intercontinental. Gambaran sekilas terkait tata letak di Masjidil Haram ini didapat dari wawancara terhadap beberapa orang yang sudah menjalankan haji, dan pernyataannya sudah di-crosscheck satu sama lain, sehingga akurasi penggambarannya bisa dipertanggungjawabkan.

[3] Eric Tagliacozzo, Longest Journey: Southeast Asians And The Pilgrimage To Mecca (New York: Oxford University Press), hlm 212.

[4] Martin van Bruinessen, “Mencari Ilmu dan Pahala di Tanah Suci: Orang Nusantara Naik Haji”, pertama kali diterbitkan dalam majalah Ulumul Qur’an vol. II No. 5 (1990), kemudian dimuat dalam van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1995),  hlm 350-351.

[5] Martin van Bruinessen dan Farid Wajidi, “Syu’un Ijtima’iyyah and the kiai rakyat: Traditionalist Islam, civil society, and social concerns”, bisa diunduh di let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *