Browse By

Hukum Idolakan Soeharto

Sumber gambar: https://koranpembebasan.wordpress.com/

Sumber gambar: https://koranpembebasan.wordpress.com/

Tanya:

Hari-hari ini santer berita bahwa Soeharto, Presiden Indonesia dari masa Orde Baru (Orba) yang dijatuhkan oleh gerakan rakyat pada Reformasi 1998, akan resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Tampaknya benar bahwa Orde Reformasi belum membawa perubahan berarti dalam penyikapan kita terhadap pemerintahan sebelumnya yang otoriter-diktator dan terbukti merupakan sebuah rezim penindas yang banyak mengorbankan warganya, dengan pelanggaran-pelanggaran kemanusiaan yang dilakukannya selama 32 tahun. Masih ada sebagian orang yang mengelu-elukan Soeharto, mengelu-elukan rezimnya yang konon “stabil” dan “aman”, dan mengelu-elukan militerisme (kekuasaan militer yang tak terbatas). Mereka melihat pada diri Soeharto sosok pemimpin yang berwibawa dan kharismatik. “Piye, penak zamanku toh?”, tulis di grafiti-grafiti. “Penak gundulmu, Mbah!” Anda tersenyum, tapi di belakang, rakyat didor, nyawa melayang. Anda berwibawa, tapi dengan mengerahkan serdadu dan senapan. Bagaimana kira-kira hukumnya mengelu-elukan orang seperti Soeharto, yang kita tahu “track-record”-nya, namun masih dianggap oleh sebagian orang sebagai pahlawan? Bagaimana hukum mengidolakan Soeharto—sosok dan perilakunya—dalam kehidupan berbangsa sehari-hari? Dan bagaimana solusinya?

Jawab:

Pertama-tama, kita harus pastikan dulu siapa itu Soeharto, benarkah dia telah layak mendapat gelar pahlawan. Untuk itu, kenali dulu sejarahnya sampai detail, sosoknya, latar belakangnya, perilakunya, dan kebijakannya yang terkait dengan bangsa Indonesia. Soeharto adalah sosok yang kontroversial dalam sejarah bangsa kita, dari sejak kemunculannya menggantikan Soekarno melalui peristiwa G30S/1965 sampai jatuhnya oleh demonstrasi gerakan rakyat alias Reformasi 1998. Selama masa kekuasaannya yang panjang, para sejarawan kritis mencatat beberapa dosa Soeharto terhadap bangsa Indonesia.

  1. Dosa kemanusiaan. Berbagai pelanggaran kemanusiaan berat menodai rezim Soeharto, dari kekerasan sistematis terhadap para anggota dan simpatisan PKI pada 1965 sampai penculikan dan pembunuhan mahasiswa pada Reformasi 1998.
  2. Dosa ekonomi. Soeharto membawa bangsa Indonesia ke dalam hutang luar negeri, ketergantungan modal asing, kesenjangan ekonomi, dan berujung dengan krisis moneter, ditambah dengan megakorupsi keluarga dan kroninya.
  3. Dosa alam. Pemerintahan Soeharto membuka Indonesia kepada eksploitasi sumber daya alam yang membawa dampak merusak, dengan dibukanya konsesi-konsesi pertambangan, perkebunan, dan penjarahan hutan yang mengakibatkan terusirnya komunitas-komunitas adat dan rakyat serta kerusakan ekologis.
  4. Dosa hukum. Soeharto melakukan berbagai manipulasi undang-undang dan perangkat hukum untuk mengesahkan kebijakannya yang sewenang-wenang dengan Dwifungsi ABRI, Kopkamtib, UU Antisubversi, kebijakan massa mengambang, NKK/BKK, pembredelan pers, dan lain-lain.

Oleh karena itu, benar kata Gus Dur dalam wawancara, “Pak Harto besar jasanya terhadap Indonesia, tapi dosa-dosanya lebih besar lagi”. Satu-satunya jasa Soeharto adalah stabilitas ekonomi, yang walaupun demikian, dibangun di atas kesenjangan ekonomi, eksploitasi alam, dan teror sipil. Namun stabilitas ini terbukti rapuh karena korup.

Melihat tidak sebandingnya kebaikan Soeharto dibanding kejahatannya, maka Soeharto dapat dikategorikan pemimpin yang lalim. Analogi bagi Soeharto adalah “Fir’aun”. Hanya saja Soeharto tidak sampai mengaku dirinya Tuhan seperti Fir’aun, tetapi dengan segala kesewenang-wenangan, dia pernah sekian lama memperlakukan dirinya bak Tuhan yang tidak boleh ditentang. Setiap kritik terhadap Soeharto dapat berujung pada kematian. Dari perspektif Alquran, pemimpin-pemimpin lalim seperti ini haram hukumnya untuk dijadikan idola, pahlawan, atau, dalam istilah Alquran, awliya’.

وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُوْنِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ

Dan janganlah (hati) kalian cenderung kepada orang yang lalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka, sedangkan kalian tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah sehingga kalian tidak akan diberi pertolongan” (QS. Hud: 113).

Menurut Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya, kata cenderung” (tarkanu) di atas berarti “Menyandarkan diri, mencari pijakan, mencari ketenangan, dan mengungkapkan kerelaan” (al-istinad wa al-i’itimad, wa al-sukun ila al-syay` wa al-ridha bihi) (Abu Abdillah al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, XI: 225). Menurut Qatadah, artinya “Janganlah kamu menyayangi dan menaati mereka”. Ini berarti larangan tertulis atas upaya mencari perlindungan dari si lalim, dengan menjadikan mereka patron, pahlawan, atau idola, dan menoleransi kejahatan-kejahatannya. Walaupun si lalim itu menjanjikan ketenangan atau stabilitas di bawah kepemimpinannya yang sewenang-wenang, Alquran melarang kita mencari ketenangan itu dari kekuasaan si lalim. Sebab, ketenangan itu niscaya semu belaka.

Hal ini berlaku pada situasi kediktatoran atau semi-diktator. Ketika orang mulai menginginkan stabilitas dan ketenangan di bawah rezim diktator yang korup, itu artinya mereka sedang mencari perlindungan dari sang rezim itu. Sementara, “perlindungan” tersebut hakikatnya semu belaka, karena ditegakkan atas intimidasi, koersi, dan hegemoni, bahkan teror. Maka Alquran memerintahkan kita agar tidak terjebak dengan iming-iming “stabilitas” dari para pejabat atau penguasa lalim, dengan menghindarkan kita mencintai atau memuja mereka.

Mencintai dan memuja orang dalam kadar berlebihan, yang berujung pada fanatisme (ta’ashshub), juga dilarang mutlak dalam agama. Terhadap orang yang baik dan salih, pemujaan dan kultus dilarang, lebih-lebih pemujaan dan kultus terhadap orang lalim dan fasiq. Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ سَمِعْتُ الزُّهْرِيَّ يَقُولُ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِسَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Telah bercerita kepada kami al-Humaidiy, telah bercerita kepada kami Sufyan, ia berkata, aku mendengar al-Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah dari Ibnu Abbas r.a. bahwa dia mendengar Umar r.a. berkata di atas mimbar, “Aku mendengar Nabi saw. bersabda: “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku (mengkultuskan) sebagaimana orang Nasrani mengkultuskan Anak Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah ‘abdullah wa rasuluh (hamba Allah dan utusan-Nya”. (Sahih Bukhari: 3189)

Termasuk di antara fanatisme, menurut para ulama, adalah kecintaan yang berlebih terhadap orang lalim yang akan menguntungkan orang lalim tersebut, beserta para pendukungnya, untuk melakukan kelaliman lebih besar lagi di tengah masyarakat. Dalam sebuah hadis:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ الْيُحْمِدِيُّ عَنْ عَبَّادِ بْنِ كَثِيرٍ الشَّامِيِّ عَنْ امْرَأَةٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهَا فُسَيْلَةُ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنَ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ قَالَ لَا وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin al-Rabi’ al-Yuhmidi dari Abbad bin Katsir al-Syami dari seorang wanita yang disebut dengan Fusailah ia berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, “Aku bertanya kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, apakah termasuk dari ashabiyah (fanatik golongan) apabila ada seseorang yang mencintai kaumnya?’ Beliau menjawab: “Bukan, akan tetapi yang termasuk ashabiyah adalah orang yang membantu kaumnya dalam kezaliman” (Sunan Ibn Majah: 3939).

Sekarang, bukankah kecintaan kepada Soeharto akan memberikan dukungan dan legitimasi kepada para pewaris ideologinya yang militeristik untuk semakin merajalela? Dengan begitu, secara tak langsung, hanya bermodal kecintaan buta pada si tokoh, kita ikut membantu membangun kembali rezim Orba di bumi Indonesia. Kita ikut membantu kelaliman tegak kembali.

Mengidolakan seorang tokoh yang punya dosa kemanusiaan dan catatan berdarah seperti Soeharto juga akan menumbuhkan suatu budaya buruk. Pada gilirannya, pelan tapi pasti, kita akan terbiasa menjadi Soeharto-Soeharto “kecil” dan mengikuti jejaknya. Sufi dan ulama besar, Hasan al-Bashri rahimahullah memperingatkan:

اِبْنَ آدَمَ لاَ تَغْتَرّ بقَوْلِ مَنْ يقُولُ : المَرْءُ مَعَ مَنْ أحَبّ ، إنّه مَن أحبّ قومًا اتبعَ أثَارَهُمْ ولَنْ تَلحقَ بالأبرَار حتى تَتّبعَ أثارَهم وتأخذَ بهَدْيِهِمْ وَتَقتدى بسُنّتِهِم وتُصْبحَ وتُمْسيَ وأنتَ علىَ مَنْهَجِهم حريصًا على أن تكُونَ منهم فتَسلكَ سبيلَهم وتأخذَ طريقهم وإن كنتَ مُقصّرا في العَمَل.

Wahai manusia! Janganlah engkau terpedaya oleh perkataan orang bahwa ‘Seseorang akan bersama orang yang dicintainya’. Sesungguhnya orang yang mencintai suatu kaum, akan mengikuti jejak mereka. Dan engkau tak akan menemui orang-orang yang salih (kelak di akhirat) sehingga engkau mengikuti jejak mereka, mengambil petunjuk dari mereka, mengikuti kebiasaan mereka yang baik, dan engkau menghabiskan hari-harimu di jalan mereka dengan sangat antusias. Sehingga engkau benar-benar menempuh jalan mereka dan mengambil jalan mereka, sekalipun engkau minim dalam beramal” (Abu al-Faraj Abd ar-Rahman ibn Rajab, Istinsyaq Nasim al-Uns min al-Nafahat Riyadh al-Quds, 87).

“Orang yang mencintai suatu kaum, akan mengikuti jejak mereka”. Bangsa yang mencintai diktatornya, akan menjadi bangsa yang hidup dengan budaya kediktatoran. Hati-hati dengan cinta. Jangan sembarangan mengidolakan orang tanpa mengetahui rekam jejaknya. Tidak ada jalan lain sebagai solusi dari situasi ini, kecuali melakukan pendidikan politik terus-menerus untuk menyadarkan generasi bangsa tentang siapa itu Soeharto, sehingga mereka mampu belajar dari kesalahan Soeharto dan terhindar dari mentalitas Orba yang korup, serakah, dan fasistik.***

Print Friendly

2 thoughts on “Hukum Idolakan Soeharto”

  1. yoyo says:

    Jawaban di poin 2 dan 3 ini sepertinya yang masih kurang dieksplorasi, termasuk data2nya, dari kaum pergerakan. Untuk poin 1 dan 4 sudah cukup banyak. Apakah kawan2 di islambergerak.com bisa membantu mengulas lebih dalam dosa2 soeharto di poin 2 dan 3, atau minimal membantu saya dan pembaca yang lain referensi (buku, misalnya) untuk memahami ini?

    1. Egi Azwul says:

      Krisis moneter dan freeport bukannya sudah mewakili bung yoyo ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *