Browse By

Bergerak yang Mentakwakan

Ilustrasi oleh Arut S. Batan

Ilustrasi oleh Arut S. Batan

Orang yang hidup di Indonesia kemudian tidak melakukan perjuangan, dia telah berbuat maksiat. Orang yang hanya memikirkan masalah ekonominya sendiri saja dan pendidikannya sendiri, maka orang itu telah berbuat maksiat. Kita semua harus memikirkan perjuangan rakyat banyak.

— KH. Zaini Mun’im, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton Probolinggo

Menyaksikan kisah para ulama terdahulu, mewariskan secercah angin segar untuk terus meneruskan perjuanganya. Pengorbanan dan pergerakan dalam setiap langkah mereka melahirkan inspirasi bagi kaum penerus peradaban hingga saat ini. Kiprah para orang terdahulu patut diapresiasi kemudian dijadikan pijakan dalam setiap langkah pergerakan yang merindangi generasi hari ini.

Berkisah dari teladan para nabi, Nabi Muhammmad saw. misalnya, dalam perjuangannya mendakwahkan Islam, sedari tertutup, hingga secara terang-terangan dan dapat diterima oleh semua umat pada saat itu. Jika dihadapkan dengan zaman yang kita hadapi sekarang pasti berbeda. Akan tetapi, tersirat panutan yang harus kita yakini untuk diadopsi dengan pergerakan kita hari ini yang notabene masih sangat relevan dengan nilai-nilai yang dijadikan dasar dalam perjuangannya. Maka tidak salah jika generasi hari ini dalam setiap gerakannya meneladani kisah dan gerakan para pendahulunya.

Hari ini, begitu banyak permasalahan yang kita hadapi. Ekonomi yang merosot tajam, kemiskinan, politik yang makin suram, lembaga pendidikan hanya menjadi lahan untuk meraup uang sebanyak-banyaknya, dan tak sedikit perguruan tinggi yang hanya memanfaatkan ketenaranya, serta masih banyak lagi. Kita semua butuh solusi, tidak sekedar adu teori. Kaum terpinggirkan dan umat yang terlemahkan butuh bantuan, bukan hanya belas kasihan. Mungkin sedikit gambaran ini yang mendasari adanya pergerakan karena menginginkan perubahan. Atau, perubahan terjadi karena ada gerakan.

Pertanyaannya kemudian, “Pergerakan yang bagaimana yang hendak kita lakukan bersama-sama masyarakat?”. Atau, “Mengapa gerakan hari ini belum mampu menjawab  permasalahan-permasalahan tersebut?”. Penulis tidak akan menjawab itu, melainkan mencoba untuk meraba diri sebagai hamba yang mempunyai Tuhan dan mengimani-Nya serta sadar bahwa semua makhluk di dunia ini diciptakan untuk kemudian kembali kepada-Nya.

Manusia pada dasarnya diciptakan adalah untuk bermasyarakat. Inilah yang sering kita sebut dengan manusia sebagai makhluk sosial. Adanya sesama manusia itu di dalam suasana kesadaran individu mempengaruhi pikiran, perasaan beserta perbuatannya. Manusia dengan manusia yang menetap dalam suatu daerah dan mempunyai tujuan bersama dapat disebut masyarakat. Terlebih sudah menjadi sifat pembawaanya manusia hanya dapat hidup dalam masyarakat. Manusia adalah zoon politikon atau makhluk sosial. Manusia dan masyarakat merupakan pengertian komplementer.[1]

Gerakan, yang kemudian penulis sebut tindakan atau aksi, mengandung empat unsur: pengetahuan, motivasi, kehendak dan kemampuan. Bila salah satu unsur ini hilang, maka kita tidak bisa menyebutnya tindakan yang disengaja. Tindakan tanpa pengetahuan pasti bergerak secara instingtif –seperti orang yang mengigau–. Tindakan tanpa motivasi pasti tak bertujuan –seperti orang yang berjalan tak tentu arah–. Tindakan tanpa kehendak pasti terpaksa –seperti dipaksa minum oleh orang lain dengan kondisi fisik tak berdaya–. Tindakan tanpa kemampuan pasti khayalan –misalnya ingin terbang ke bulan tanpa alat–[2].

Gerakan lahir dari sebuah ide, gagasan, teori, konsep yang sudah disepakati minimal dari individu-individu ataupun kelompok untuk mencapai sebuah tujuan. Disadari ataupun tidak, dari kita bangun tidur hinggga tidur lagi adalah upaya kita bergerak melakukan sesuatu.

Ketika individu sudah mencapai kesadaran untuk bergerak, bertindak, apakah sudah mampu menyelesaikan persoalan? Mungkin terselesaikan sebatas untuk urusan dirinya, namun belum untuk persoalan bersama. Ketika menyapu halaman yang kotor dengan satu lidi, dapat dipastikan akan memerlukan waktu yang lebih lama untuk membersihkannya, lain halnya jika lidi-lidi itu disatukan. Begitupun masyarakat. Jika individu-individu ini mempunyai tujuan bersama, maka mereka akan bergerak bersama demi terjadinya perubahan sosial.

Lalu, apa yang membuat kesadaran individu ini menguat sehingga menyatu dan bertindak untuk sebuah perubahan? Disinilah kekuatan ideologi. Dengan ideologilah lidi-lidi ini menyatu dan membentuk sapu untuk membersihkan halaman yang kotor. Individu-individu ini menyatu untuk menjawab persoalan bangsa ini.

Ideologi mempunyai tiga struktur: gagasan, sikap, dan tindakan. Gagasan muncul setelah indera menyingkap suatu realitas yang kita sebut sebagai pengetahuan. Kita menolak pengetahuan yang meragukan karena hanya akan membuat gagasan yang tumpul. Tentu saja tingkat verifikasi tiap orang bergantung kepada nalarnya masing-masing. Perolehan atas suatu gagasan bergantung pada sejauh mana kesadaran kita, yaitu respon terhadap rangsangan dari lingkungan. Hewan mampu menyingkap suatu realitas dengan inderanya dengan penuh kesadaran instingtif, namun ia tidak mampu melahirkan sebuah gagasan, baik konseptual maupun aksional. Ayam memahami kebutuhannya akan makan, tapi ia tidak bisa mengkonsep soal menyimpan gabah.[3]

Acapkali kita abai dalam setiap pergerakan kita. Apa yang kita perbuat seakan sudah paling benar, sehingga terkadang lupa diri bahwa ada yang lebih besar daripada seorang mahluk Tuhan. Prematur dan amburadul serta tidak mengerti apa sejatinya yang menggerakkan kita.

Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan asalkan itu baik menurut sebagian besar orang dalam masyarakat, maka gerakan itu lahir dari sang pencipta. Akan tetapi jika sebuah tindakan kita itu adalah tindakan yang tercela maka itu adalah dari dalam diri kita sendiri. Sebegitu jernih ulama terdahulu menyebut bahwa manusia adalah tidak ada apa-apanya dari yang menciptakan.[4]

Bagi umat muslim seluruh dunia, setiap minggunya pasti melaksanakan salat Jumat. Dalam khutbah Jumat pasti mendengar seruan untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. Ini bukan tanpa sebab, kenapa setiap minggu menjadi syarat wajib dalam khutbahnya. Mengapa takwa begitu sakral sehingga tiap minggunya disampaikan untuk mengingatkan para umat islam.

Takwa adalah kesadaran penuh akan kehadiran Allah swt. dan berusaha keras menyesuaikan diri dengan tata nilai rabbaniyah (ketuhanan). Kata “kesadaran” terasa lebih merasuk. Ia mengandaikan adanya gerak batin, penjiwaan, dan keinsafan bahwa Allah meliputi dirinya. Puncak kesadaran tersebut bisa dicapai di antaranya dengan merenungkan dari mana kita berasal dan akan kemana kita kelak dalam kehidupan ini. Allah diimani sebagai sebab keberadaan segala sesuatu, Dia pula terminal paling akhir dari segala maksud yang kita jalani dalam kehidupan ini.[5]

Bagaimana aku seharusnya bergerak? Mengapa dalam gerakanku masih belum menemukan perubahan, minimal bagi diriku ataupun bagi kelompokku? Sampai yang paling bodoh, bagaimana dalam gerakanku aku mendapat keuntungan secara pribadi? Itu adalah serentetan pertanyaan yang terkadang hadir di benak (sebagian) pekerja sosial. Sebagian diantaranya mungkin sudah lupa oleh zamannya, bahwa ia adalah seorang hamba, dimanapun, kapanpun, tanpa mengecualikan saat ia sedang bergerak untuk perubahan.

Sama halnya ketika kita menjadi panutan masyarakat sekitar, atau katankanlah sebagai seorang peggerak masyarakat, kiai kampung, misalnya. Ia begitu sabar dan berhati-hati dalam ngemong masyarakatnya. Bentuk kehati-hatian inilah yang kemudian sebagian orang menyebutnya lamban dan tidak berarti apapun, namun di sinilah letak proses yang sebenarnya. Tiap hari bersinggungan dengan masyarakat sekitar, dengan persoalan konkret di masyarakat. Ia tidak tergesa-gesa dan “tidak terlalu merisaukan” idealitas yang seringkali berseberangan dengan realitas. Memang benar bahwa  “Tergesa-gesa adalah termasuk perbuatan setan”.[6] Namun hal demikian tidak berarti bersikap apatis atau tidak melakukan apa-apa, namun semua hal ada caranya dengan alurnya masing-masing.

Sebagai contoh, dalam membangun sebuah istana yang besar, tinggi dan indah, bermula dari perencanaan yang sistematis, proses menggambar, perhitungan yang matang hingga strategi untuk mewujudkan itu. Akan tetapi di tengah-tegah perjalanan, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi secara tiba-tiba. Maka di sinilah waktu di mana kita harus meraba diri. Bahwa dalam membangun sebuah istana atau gerakan untuk perubahan ada sela yang terlewatkan, ada kekhilafan.

Barangkali kita melewatkan atau lupa meng-istighfar-kan langkah gerak kita sehinggga tujuan kita terhambat atau proses kita menuai banyak persoalan. Dalam bergerak kita abai dengan pola hidup masyarakat sekitar, kita lupa bahwa ada etika dan moral yang sudah terbangun dalam masyarakat.

Kendati demikian, takwa adalah perkara yang tidak dapat diukur, karena merupakan wewenang Tuhan. Maka, kita tidak boleh mengambil wewenang Tuhan, sebab menilai takwa orang lain itu bukan wewenang kita[7]. Sehingga kita tak patut bertanya apakah dalam pergerakan dalam prosesnya sudah menubuh dengan ketakwaan kita, dan apakah bentuk ketakwaan seseorang dapat diukur sedemikian rupa sehingga kita bisa menilai apa yang kurang dengan diri kita?

Bergerak yang mentakwakan adalah sebuah proses perjuangan, perjuangan menuju perubahan yang hakiki dengan tidak abai akan hakikat diri. Bergerak yang mampu meningkatkan kebaikan dan kesadaran yang komprehensif dalam beragama, berbangsa dan bernegara, baik ketika menjalani kehidupan sehari-hari secara individu maupun kelompok. Semoga pergerakan kita selalu diridai oleh Sang Maha Pencipta dan mendapat syafaat nabi kita. Amin

[1] Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, (Yogyakarta: Liberty, 2005), hlm. 3.

[2] Andito Suwignyo, Buruh Bergerak: Membangun Kesadaran Kelas, (Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung, 2012), hlm. 31.

[3] Ibid

[4] Pengajian oleh Gus Sofiyudin, di Pondok Pesantren Almunawwir Tobratan, Wirokerten, Bantul, Jumat, 03 Juni 2016.

[5] http://www.nu.or.id/post/read/66937/mencari-bekas-takwa-dalam-perilaku diakses tanggal 3 Juni 2016

[6] H.R. Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi: 1935.

[7] Budhy Munawar-Rachman, Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, edisi digital, III, (Jakarta: Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi, 2012), hlm. 2016.

 

Referensi:

Imam Tirmidzi, Sunan Tirmidzi

Mertokusumo, Sudikno, Mengenal Hukum: Suatu Pengantar, Yogyakarta: Liberty, 2005.

Munawar-Rachman, Budhy, Ensiklopedi Nurcholish Madjid: Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, edisi digital, III, Jakarta: Democracy Project Yayasan Abad Demokrasi, 2012.

Suwignyo, Andito, Buruh Bergerak: Membangun Kesadaran Kelas, Jakarta: Friedrich Ebert Stiftung, 2012.

Pengajian oleh Gus Sofiyudin, di Pondok Pesantren Almunawwir Tobratan, Wirokerten, Bantul, Jumat, 03 Juni 2016.

http://www.nu.or.id/post/read/66937/mencari-bekas-takwa-dalam-perilaku diakses tanggal 3 Juni 2016.

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *