Browse By

Risen dan Makna Kebangkitan Tubuh

Sketsa - Kebangkitan Cita-Cita Kolektivisme Egaliter

Ilustrasi Toni Malakian

Mulanya saya agak skeptis dengan film ‘Risen’. Apalagi waktu mendengar dari seorang teman bahwa resepsinya di kalangan Kristiani amat positif. Maklum, saya agak lelah dengan obsesi membuktikan kebangkitan tubuh Yesus secara ‘logis dan ilmiah’ yang nge-trend di kalangan Kristiani yang saya kenal. Saya kuatir film ini mengusung semangat serupa.

Tapi di kos tempat saya tinggal sudah diputuskan bahwa kami akan bersama-sama menonton penayangan perdana film tersebut di bioskop terdekat. Dan ternyata,aktivitas itu akan didanai dengan menggunakan uang kas yang ada. Segala keraguan saya untuk berpartisipasi pun mendadak sirna.

Entah karena suasana bioskopnya, momentumnya (jelang Paskah), atau memang kualitasnya, ternyata film ‘Risen’ ini sangat berkesan di hati saya. Mengapa? Karena menurut saya, yang ditekankan film ini tentang kebangkitan Yesus adalah sifatnya yang tak terjelaskan. Alih-alih menayangkan adegan spektakuler tentang tergulingnya batu yang menutup kubur Yesus atau kebaruan tubuh Yesus yang berkilauan, peralihan waktu dari Sabtu malam ke Minggu pagi dalam film terasa sangat biasa, dan tubuh Yesus yang baru tidak ada bedanya dengan orang lain, kecuali bahwa ia kadang-kadang menghilang. Bahwa penampakan tubuh kebangkitan itu memang betul-betul fisikal ataupun sekadar delusional juga sepertinya (sengaja?) dibuat mengambang. Sebab Maria Magdalena, ketika dipanggil menghadap Clavius mengklaim bahwa Yesus ada di sana, meski dalam film tubuh-Nya tidak nampak. Tetapi ketika bersama dengan murid-murid-Nya, kehadiran Yesus tampak demikian fisikal. Puncaknya, menurut saya, adalah di bagian akhir film, ketika Clavius duduk berduaan dengan Yesus di malam hari. Bahkan dalam posisi itu pun ia masih menganggapnya tak terjelaskan.

Bagi seorang literalis, ketakterjelasan ini mungkin dirasakan sebagai sesuatu yang mengancam. Tapi apakah iman pada Yesus yang bangkit itu melulu soal kepastian faktual-literal? Paulus tak pernah melihat sendiri tubuh Yesus yang bangkit, tapi dibanding murid-murid lainnya, mungkin dialah yang paling radikal. Alih-alih afirmasi faktual-literal, ternyata yang lebih penting adalah apa yang digerakkan oleh peristiwa tak terjelaskan itu. Dalam film ‘Risen’, pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu membuahkan keberanian dan semangat baru untuk murid-muridnya yang sederhana: nelayan, orang-orang tak terpelajar, (eks) pemberontak, (mantan) pelacur, untuk menghidupi relasi kolektif-egaliter dan tugas bersaksi di tengah ancaman dari penguasa agama dan politik. Bagi Clavius, pejabat militer Romawi, perjumpaan itu membuatnya mempertanyakan ulang ambisi, cita-cita, dan orientasi hidupnya.

Maka tidak heran jika oleh Graham Ward, teolog dan pendeta gereja Anglikan, filsuf-filsuf ateis-Marxis-anarkis seperti Alain Badiou, Slavoj Žižek, dan Giorgio Agamben justru dianggap sebagai pembela-pembela kekristenan yang utama hari ini.[i] Ketiganya sama sekali tidak berusaha membela fakta kebangkitan tubuh Yesus, tetapi secara kreatif mengeksplorasi makna kebangkitan itu dalam konteks kebuntuan cita-cita kolektivisme egaliter hari ini.

Saya sendiri merenungkan Paskah tahun ini dengan bekal teks Yehezkiel 37, tentang kebangkitan tulang-tulang Israel. Dalam pasal ini, Yehezkiel digiring oleh kuasa TUHAN ke lembah penuh tulang-tulang dan di sana ia menyaksikan kuasa TUHAN yang menumbuhkan kembali urat, daging, kulit pada tulang-tulang tersebut dan memberi mereka nafas. Kata TUHAN kepada Yehezkiel: tulang-tulang tersebut adalah Israel.

Siapakah Israel? Jika Norman Gottwald benar, Israel adalah masyarakat kolektif alternatif yang dibentuk oleh sekumpulan petani pasca-pemberontakan atas tuan-tuan tanah di Kanaan antara abad 13-11 SM.[ii]Yehezkiel hidup di abad ke-7 SM, ketika Israel sudah mengalami berbagai bentuk dekadensi, menjadi kerajaan, pecah, dan akhirnya terbuang. Visi kebangkitan tulang-tulang tadi merujuk pada kebangkitan kembali masyarakat kolektif-egaliter ini.

Dalam perjalanannya ke Damaskus, Paulus mendapatkan penglihatan dari sorga. Ia mengaku berjumpa dengan Yesus yang bangkit. Pengalaman itu amat tak terduga dan jauh dari antisipasinya. Tapi Paulus adalah seorang ahli kitab Yahudi. Ia akrab dengan catatan tentang visi Yehezkiel ini. Tentu ia bertanya-tanya, apa makna peristiwa ini dalam terang nubuat-nubuat Kitab Suci? Amat wajar jika Paulus menghubungkannya dengan kisah Yehezkiel dan lembah penuh tulang tadi. Dalam konteks inilah kita bisa membaca ujarannya di surat Korintus:

Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (1Kor. 15:20)

 

Maka kebangkitan Kristus, bagi yang percaya, adalah penanda dan penjamin kebangkitan tatanan kolektif-egaliter universal. Bukan kepercayaan fatalistik bahwa tatanan itu akan terjadi dengan sendirinya, tetapi kepercayaan yang bermuara pada panggilan: menjadi saksi kebangkitan itu sampai ke ujung dunia.

Penulis adalah mahasiswa doktoral di Protestant Theological University, Netherlands. Beredar di twitterdengan akun @danielsih_

Rujukan:

[i]Brandy Daniels dan Graham Ward, “The Academy, The Polis, and the Resurgence of Religion: An Interview with Graham Ward,” http://theotherjournal.com/2008/11/18/the-academy-the-polis-and-the-resurgence-of-religion-an-interview-with-graham-ward/.

[ii]Roland Boer, “Norman Gottwald: A Pioneering Marxist Biblical Scholar,” http://mrzine.monthlyreview.org/2011/boer290411.html.

Print Friendly

One thought on “Risen dan Makna Kebangkitan Tubuh”

  1. wahyujustina says:

    Menarik sebuah kajian dimana masyarakat diIndonesia hanya melihat sudut pandang dg kaca mata kuda…..bukan isa atau Jesus sebagai revolusi sosial y berhasil…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *