Browse By

Generasi Muhammadiyah Progresif

Ilustrasi Arut. S. Batan

Ilustrasi Arut. S. Batan

Seringkali muncul tuduhan bahwa kubu liberal di dalam Muhammadiyah diwakili oleh Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Istilah liberal yang disematkan bagi mereka sebenarnya tidak tepat. Pasalnya, JIMM mengafirmasi mazhab pemikiran liberasi sosial yang emansipatoris ketimbang liberalisasi pemikiran keagamaan.

Lahirnya JIMM tidak terlepas dari pemikiran liberasi sosial yang berkembang di dalam induknya sendiri: Muhammadiyah. Sedikit banyak, memang JIMM mengambil manfaat dari pemikiran kritis Muhammadiyah, terutama teologi al-Ma’un dan manifestasinya melalui lembaga Penolong Kesengsaraan Omoem (PKO) sejak 1912 silam.

Kini, tatkala dihadapkan dengan kenyataan merebaknya penyakit neo-liberalisme dan globalisasi, banyak di antara pemikir Muhammadiyah mulai menimbang-ulang gagasan yang pernah dibangun oleh KH Ahmad Dahlan, yakni teologi al-Ma’un dan PKO. Kedua hal tersebut dianggap sebagai dasar pijak teologis yang begitu penting, karena mampu mempertahankan idealisme Islam yang berkhidmat dalam rangka menolong siapapun yang sengsara.

Refleksi Historis

Pemikiran pembebasan KH Ahmad Dahlan bukanlah sekedar refleksi keagamaan. Meskipun pemikiran keagamaan sedikit banyak mempengaruhi paradigma berpikirnya, Dahlan adalah seorang aktivis. Dahlan terlibat dalam dunia politik nasional melalui gerakan Budi Oetomo dan Sarikat Islam.[i] Dahlan sangat akrab dengan HOS Tjokroaminoto. Islam dalam benak Dahlan adalah Islam yang bergerak. Karena Islam yang bergerak adalah Islam berkemajuan.

Saat itu, terdapat tiga kekuatan yang menjadi musuh utama Islam. Yakni, kolonialisme dan imperialisme Belanda, feodalisme tradisi keraton Jawa, dan fatalisme akut sebagai ideologi popular yang menjangkiti masyarakat Yogyakarta. Dahlan tentu menerjemahkan doktrin agama sesuai dengan kondisi sosial masyarakat setempat. Karena itu, surat dalam al-Qur’an yang paling relevan untuk dielaborasi, dijadikan inspirasi gerakan dan diimplementasikan adalah al-Ma’un. Merujuk kepada al-Ma’un, Islam harus memberikan kontribusi yang nyata bagi kemanusiaan.

Seiring dengan spirit Islam yang bergerak tersebut, Dahlan mengampanyekan kredo “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah.” Hal itu melampaui sekedar seruan untuk mengamini skripturalisme keagamaan. Menurut Dahlan, al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah hanya strategi yang memberantas segala unsur kultural yang membelenggu (baca. Feodalisme Jawa). Dengan demikian, hal tersebut berimplikasi pula terhadap problem penjajahan struktural yang ada.

Ketika beredar wacana Islam alternatif yang mendorong kepada pemberantasan Takhayul, Bid’ah dan Churafat (TBC), itu merupakan bentuk pertarungan wacana melawan ideologi dominan yang beredar di tengah masyarakat. Dorongan untuk memberantas TBC merupakan aksi liberasi sosial. Pada saat itu, memang ideologi keagamaan tradisional, yang syarat dengan TBC – justru membelenggu kemerdekaan umat. Terutama mereka yang miskin dan tiada berpunya. Demikianlah, yang digugat oleh Muhammadiyah bukan sekedar ajaran yang salah dan sesat, tetapi juga perilaku pemilik otoritas keagamaan dan struktur kuasa yang menindas.[ii]

Ketika hendak menolong kesengsaraan umum, Dahlan secara terbuka dan tanpa kekhawatiran sedikitpun, melibatkan orang-orang Belanda. Mereka berprofesi sebagai dokter, maupun para dermawan yang bersedia menjadi donatur Persyarikatan. Melalui tuturan Abdul Munir Mulkhan dijelaskan bahwa, “…terdapat anggota istimewa Muhammadiyah, yang diterima sebagai bagian dari Muhammadiyah, walaupun non-Muslim dan non-Pribumi.”[iii] Dalam konteks ini, kendatipun Muhammadiyah sering disebut puritan dan konservatif, sebenarnya Muhammadiyah bersifat liberatif dan kosmopolitan.

Seorang cendekiawan Muslim terkemuka, Ahmad Syafii Maarif, mengisahkan bahwa lembaga PKO merupakan representasi dari kosmopolitanisme Muhammadiyah. PKO, mengafirmasi sosialisme-humanistik Islam. Dalam gerak pembebasan PKO, yang ditolong bukan hanya umat Islam, tetapi “Kesengsaraan Omoem”.[iv] Demikianlah pemikiran Islam bergerak yang menjadi penerang jiwa para intelektual muda Muhammadiyah. Sifat kosmopolitanistik Muhammadiyah masih relevan hingga sekarang.

Generasi Progresif

Sekarang, umat tidak lagi berhadapan dengan penjajahan, feodalisme dan fatalisme ala klasik, seperti yang dialami oleh Dahlan. Umat Islam berhadapan dengan penindasan gaya baru. Karena menguatnya arus neo-liberalisme dan globalisasi, misalnya, maka negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia menjadi sasaran ekspansi pasar dan korban dari kapitalisme global. Pada akhirnya, wabah konsumerisme dan kebudayaan popular merebak luas ke berbagai negara miskin dan negara berkembang.

Moda produksi, investasi dan ekonomi, menjadi kekuatan pengendali yang tak terkalahkan. Hal itu memberikan dampak yang hebat pada kehidupan seluruh umat manusia. Kekuatan struktural ekonomi yang berjalanan beriringan dengan kompleksitas sosio-kultural dan politik, menumbuh-suburkan krisis kemanusiaan yang luar biasa.

Di tengah gempuran model penindasan baru tersebut, Muhammadiyah berusaha keras menjawab tantangan zaman. Termasuk di antaranya, mempersiapkan generasi yang mampu menghadang segala jenis kemunkaran kontemporer. Seorang intelektual progresif di lingkungan Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, memikirkan betapa pentingnya program kaderisasi tersebut. Ia berharap generasi muda tidak gagal paham tatkala menghadapi irama permainan neo-imperialisme dan neo-kolonialisme dewasa ini.

Akhirnya, didirikanlah JIMM. JIMM adalah wadah perkumpulan kultural para intelektual muda Muhammadiyah. Menurut Moeslim, anak-anak muda yang tersebar di pelbagai perguruan tinggi di Indonesia, harus didorong untuk menggenapkan studi akademiknya, terutama ke berbagai universitas terkemuka di dunia. Tujuannya adalah, agar mereka memiliki kecakapan intelektual yang unggul, namun tetap di bawah naungan ideologi Muhammadiyah.

Moeslim menegaskan, “Muhammadiyah lima atau sepuluh tahun yang akan datang akan sangat berbeda dengan Muhammadiyah yang sekarang ini. Anak-anak muda ini adalah satu generasi yang memiliki dinamikanya sendiri tatkala mereka bersentuhan dengan gelombang globalisasi, gelombang pemikiran dan sejenisnya. Oleh karena itu, di tangan anak-anak muda inilah Muhammadiyah akan benar-benar menjadi imajinasi intelektual.”[v]

Tidak dapat dipungkiri bahwa sesungguhnya Muhammadiyah juga sedikit banyak terdampak oleh neo-liberalisme dan globalisasi. Penetrasi penjajahan di pelbagai bidang di negara-negara dunia ketiga, termasuk beberapa negara di Timur Tengah selama bertahun-tahun lamanya, menyisakan residu ingatan traumatik pasca kolonialisme.

Menurut Fazlur Rahman, tidak heran apabila kemudian atas sebab sosio-politik dan kompleksitas kultural melahirkan revivalisme, fundamentalisme dan konservatisme keagamaan (2009). Dari berbagai hal tersebut mengarah kepada ekstremisme, radikalisme dan terorisme. Semacam terdapat pengerasan sikap keberagamaan yang tidak bisa terbendung lagi.

Muhammadiyah sendiri harus bekerja ekstra dalam melindungi ideologi umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah. Para anggota dan simpatisan, bahkan para kader Persyarikatan yang tidak cukup militan dalam ber-Muhammadiyah, justru lebih tertarik dan terlibat dalam aktivitas gerakan Islam yang radikal atau bahkan terorisme.

Lanjut Moeslim, dengan adanya JIMM juga dimaksudkan untuk memproduksi para petarung intelektual yang siap memenangkan wacana Islam yang liberatif di ruang publik yang selama ini didominasi oleh wacana konservatisme dan radikalisme. Dengan kata lain, JIMM merupakan ikhtiar intelektual yang hendak mengembalikan kekuatan intelektual para kader Muhammadiyah menuju khittah pemikiran KH Ahmad Dahlan yang sangat progresif. 

Kesinambungan Pemikiran

Ada kesinambungan antara pemikiran Muhammadiyah awal dengan JIMM. Hanya saja, berbagai gagasan di lingkaran komunitas intelektual anak-anak muda Muhammadiyah ini, merupakan hasil dari reformulasi pemikiran kritis-transformatif Muhammadiyah. Perlu ditemukan kunci hermeneutik, dalam pemikiran dan filsafat, yang relevan dengan tantangan zaman.[vi] Meski nilai-nilai etis Islam bersifat universal, konteks sosio-historis yang ada begitu berbeda. JIMM menyadari pentingnya upaya kontekstualisasi ajaran Islam.

Sebagai contoh, terma “Islam berkemajuan” yang pernah dipopularkan oleh Dahlan, telah direvitalisasi menjadi “Islam progresif”. Demikian juga dengan istilah “akal dan hati suci” sebagai fondasi Islam berkemajuan, diterjemahkan menjadi kualitas operasional rasio sebagai pemikiran liberatif-emansipatoris. Sementara itu, konsep lainnya seperti teologi al-Ma’un dianggap sebagai teologi pembebasan atau teologi transformatif ala Islam-Muhammadiyah. Istilah “orang-orang miskin, kaum papa dan terpinggirkan (mustadl’afin)” diterjemahkan sebagai kelompok “neo-mustadl’afin”.

Sejumlah perubahan istilah ini bukan tanpa makna. Justru berbagai kunci hermeneutik tersebut, sebenarnya merupakan hasil dari kerja keras para intelektual dalam mengupayakan kontekstualisasi. Dengan demikian, sebenarnya mazhab pemikiran keagamaan JIMM dan Muhammadiyah adalah mengafirmasi kontekstualisasi etico-moralis Islam yang begitu luhur, sesuai dengan struktur dan sistem sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, psikologi sosial dan seterusnya.

Logika kontekstualisasi ini ditemukan padanannya dalam pemikiran Tariq Ramadan, seorang Profesor Studi Islam Kontemporer dari Universitas Oxford, Inggris.[vii] Menurutnya, masyarakat memiliki kewajiban untuk mengikuti segala tuntunan agama. Hanya saja, tatkala hendak memahami nilai-nilai etis di balik segala tuntunan agama, terdapat jarak dan kompleksitas pelbagai bidang kehidupan, sehingga tidak jarang menjadikan hal ini sebagai tantangan utama yang harus dipecahkan pertama kali.

Jarak itu adalah makna, interpretasi, kebahasaan, tradisi, adat, kebiasaan, kebudayaan, sosial, politik, geografi dan yang terjauh adalah sejarah. Antara Muslim di zaman sekarang dengan praktik dan kehidupan keagamaan Nabi Muhammad, terentang berbagai jarak tersebut, sehingga setiap Muslim harus bekerja ekstra tanpa kenal lelah untuk menemukan kebenaran hakiki dan kebajikan universal dalam setiap ajaran agama Islam.

Lanjutnya, setidaknya terdapat konteks, ketika wahyu diturunkan. Wahyu ini turun dalam rangka menjawab berbagai persoalan saat itu, melalui perantara malaikat Jibril kepada Rasulullah Saw. Dengan demikian, dalam suatu bagian dari rangkaian episode pewahyuan Islam, terdapat hubungan dialektis antara teks (kitab suci al-Qur’an, dan juga al-Sunnah) dengan konteks kehidupan sosial kemanusiaan pada saat itu. Di balik dialektika antara teks dan konteks tersebut, senantiasa terdapat tujuan ilahiah (maqâshid). Di balik setiap tujuan, mengandung nilai moral, serta kebajikan dan hikmah dari setiap persoalan kehidupan. Inilah yang dimaksud dengan pesan global Islam.

Sangat sukar kiranya, setiap Muslim yang mencoba memahami dengan sungguh-sungguh pesan global Islam tanpa menelusuri kompleksitas dialektika teks dan konteks dalam setiap rangkaian episode pewahyuan Islam. Karena itu, pemahaman terhadap sejarah Islam awal mutlak diperlukan. Tidak hanya itu, kompleksitas pelbagai jarak yang disinggung sebelumnya juga mestinya dikuasai dengan baik untuk memahami seluruh muatan material dalam lembaran sejarah Islam awal.

Kompleksitas ini benar-benar harus diarungi, karena akan membawa kepada pemahaman yang lebih komprehensif, ketimbang hanya menduga-duga makna kitab suci melalui sudut pandang filsafat kebahasaan semata. Memaksakan diri untuk menggunakan kecakapan kebahasaan semata akan menjerumuskan ke dalam jurang skripturalisme yang menganga lebar. Buah yang tumbuh dari pohon represi intelektual hanyalah ketidaktahuan, ketidakpahaman, kedangkalan-pengertian dan stagnasi, serta kegemaran untuk cenderung berpikir taklid secara membabi-buta tanpa alasan yang jelas. Tidak selesai dengan ikhtiar penemuan nilai, tujuan dan pesan global,  setiap Muslim harus memahami situasi sosial kemanusiaan kekinian yang juga tidak kalah kompleksnya. Setidaknya, berbagai dimensi sosio-politik dan kebudayaan harus dipahami secara lebih sempurna, dalam rangka mengimplementasikan nilai, tujuan dan pesan global yang telah diraih.

Tanpa mereduksi sedikitpun – terlebih korupsi makna – terhadap segala dimensi nilai etis al-Qur’an dan al-Sunnah, proses kontekstualisasi dilakukan dengan cara-cara yang benar dan tidak menimbulkan efek tertentu yang justru bersifat destruktif. Dengan demikian, terdapat tiga langkah penting dalam rangka kontekstualisasi etico-moralis Islam sebagai spirit ber-Muhammadiyah, yakni dialektika teks dan konteks historis, penemuan pesan global dan implementasi/kontekstualisasi.

Di dalam buku yang bertajuk “Kembali ke al-Qur’an, Menafsir Makna Zaman,” Moeslim Abdurrahman mengajukan strategi kontekstualisasi yang begitu penting bagi JIMM. Strategi ini ia sebut sebagai “Tiga Pilar JIMM”, yakni antara lain: hermeneutika, ilmu sosial kritis dan gerakan sosial baru.

Pertama, melalui hermenutika sebagai alat analisis, diharapkan akan terjadi reproduksi makna atas wahyu ilahi yang termanifestasikan dalam al-Qur’an, “…sehingga makna-makna zaman baru kemudian bisa dikontrol dengan refleksi-refleksi Qur’ani.”[viii]

Kedua, melalui ilmu sosial kritis sebagai alat analisis, diharapkan akan mampu mendiagnosa adanya hegemoni kekuasaan yang menindas yang terdiseminasi ke pelbagai bidang, dan membangun kekuatan counter-hegemony, “…yang menekankan pada penyadaran kaum tertindas dan pentingnya membangun perspektif teologi pembebasan.”[ix]

Sementara itu yang ketiga, gerakan sosial baru merupakan cara berteologi yang berbeda dengan model teologi formal. Teologi dalam konteks ini adalah “…sebuah gerakan, sehingga teologi merupakan kerja pedagogis kemanusiaan yang bisa berwatak pembebasan.” Di samping itu, agar lebih sempurna, teologi ini juga harus ditunjang empat hal penting yang “…dapat mengubah tingkat kesadaran intelektual… yaitu: capital on the move, media on the move, people on the move, dan gagasan-gagasan revolusioner,” dalam rangka mengarungi gelombang besar globalisasi dewasa ini.[x]

Sekali lagi, inilah yang mungkin akan membedakan corak pemikiran “Islam Liberal” secara umum dengan JIMM. Yakni, adanya tendensi liberasi sosial yang tidak dimiliki oleh kelompok Islam Liberal. Pradana Boy ZTF mengonfirmasi perbedaan ini dengan mengajukan klaim bahwa, “JIMM berorientasi pada pembangunan intelektualisme di lingkungan anak-anak muda Muhammadiyah yang memihak keadilan sosial dan kemanusiaan, terutama bagi mereka kaum mustadl’afin.”[xi] Sebagai contoh, pada tahun 2005 di mana saat kenaikan BBM menyentuh harga Rp4.500 dari Rp1.500, kelompok Islam liberal malah mendukung segala kebijakan pemilik kekuasaan yang tidak pro-rakyat tersebut. Tentu saja dukungan ini menunjukkan bahwa betapa liberalisme berbeda dengan liberalisme yang berorientasi liberasi sosial (liberative action).

Menurut paradigma berpikir JIMM, Islam bukan sekedar memberikan ruang bagi kemerdekaan berpikir, tetapi juga bertindak liberatif di hadapan kehidupan sosial kemanusiaan yang membelenggu. Dalam konteks mendiagnosa masalah perekonomian umat misalnya, yang pada zaman dahulu diselesaikan melalui mekanisme zakat, maka saat ini terdapat strategi yang berbeda, walau dengan nilai yang sama: keadilan. Apabila zakat merupakan sistem penarikan pajak yang sederhana (fiskal), yang kemudian didistribusikan secara adil kepada seluruh rakyat, maka di hadapan kehidupan sosial yang lebih kompleks di era negara bangsa dan globalisasi ini, hal itu tidak bisa digunakan lagi.

Tutur Moeslim, “Betapapun kita kaya raya dan hendak menzakatkan seluruh kekayaan kita, maka sekali-kali tidak akan mungkin mengentaskan kemiskinan di negeri ini yang laju perkembangannya jauh lebih pesat dari sistem zakat kita.”[xii] Pada intinya, zakat merupakan tindakan empati dan welas asih dari para si empunya kekayaan finansial, terhadap mereka yang miskin dan tiada berpunya. Maksudnya jelas, bukan hanya agar orang-orang miskin memiliki sejumlah kekuatan finansial, tetapi juga kemampuan untuk membangun sustainabilitas dan kesejahteraan mereka pula. Karena itu secara etis, kitab suci menyinggung “…agar supaya kapital itu tidak hanya dikuasai, dihegemoni dan didominasi oleh para kaum kapitalis belaka (kayla yakûna dullatan baina al-aghniyâ’i minkum).

Selaras dengan alur pemikiran di atas, sebenarnya terdapat penjelasan yang jernih bahwa bukanlah sistem zakat yang operasionil yang mesti dikedepankan. Karena hal itu hanya akan menjadi institusi yang berderajat sama dengan perusahaan pendulang profit dan akumulasi kapital lainnya yang abai terhadap kesengsaraan umum umat manusia dewasa ini. Artinya, nilai-nilai keadilan dalam zakat harus dikontekstualisasikan dalam perilaku ekonomi yang lebih luas dan menyeluruh– baik yang berlaku dalam tataran bisnis mikro maupun makro. Advokasi sosial, ekonomi dan politik harus menjadi semacam jihad fi sabilillah yang utama, demi mengupayakan keadilan bagi kelompok termarginalkan dalam kontes kehidupan global yang dikendalikan oleh sistem ekonomi yang neoliberalistik.

Karena itu, misalnya, istilah musafir dalam al-Qur’an yang menjadi sosok sasaran zakat tidak boleh dipahami sebagai orang-orang yang bepergian menurut kategori kitab-kitab fiqih atau tafsir masa lalu, tetapi mereka yang benar-benar menderita oleh karena globalisasi dan neoliberalisme. Musafir sebagai bagian dari neo-mustadl’afin, misalnya, adalah mereka para buruh migran (Tenaga Kerja Wanita atau Tenaga Kerja Indonesia) yang membanting tulang ke negeri-negeri seberang demi mempertahankan hidup, sementara hak-hak asasi mereka rentan untuk dilanggar. Baginya, bukan hanya raga yang jauh dari keluarga dan sanak saudara, tetapi juga keamanan, harkat dan martabat, serta bahkan kehidupan mereka sendiri (nyawa) yang sedikit sekali mendapatkan perlindungan oleh karena sistem perbudakan kontemporer.

Demikianlah kiranya, yang dimaksud dengan JIMM mengafirmasi pentingnya pemikiran liberasi sosial yang emansipatoris terutama yang digali dari nilai-nilai Islam (teologi al-Ma’un). Akhirnya, JIMM barangkali lebih bersepakat dengan pemikiran Islam yang transformatif, ketimbang Islam yang liberal. Pada akhirnya, sekali lagi, JIMM merupakan manifestasi dari ideologi Islam yang bergerak: Islam progresif.***

Catatan Akhir:

[i] Alfian, Islamic Modernism in Indonesian Politics: The Muhammadijah Movement during the Dutch Colonial Period (1912-1942) (Ph.D. Thesis, The University of Wisconsin-Madison, 1969).

[ii] Kuntowijoyo, “Pengantar: Jalan Baru Muhammadiyah,” dlm. Abdul Munir Mulkhan, Islam Murni dalam Masyarakat Petani (Yogyakarta: Bentang, 2000).

[iii] Personal interview dengan Abdul Munir Mulkhan, 7 Juni 2015 di Malang.

[iv] Ahmad Syafii Maarif dalam Kuliah Umum yang bertajuk “Gagasan Islah dan Tajdid Muhammadiyah,” yang diselenggarakan oleh Islamic Renaissance Front (IRF) Malaysia, di Graha Pemuda Sri Hartamas, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 21 Juni 2014.

[v] Moeslim Abdurrahman, “Epilog,” Islam sebagai Kritik Sosial (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 168-205. Lihat juga Moeslim Abdurrahman, “Munculnya Kesadaran Kritis Ber-Muhammadiyah: Sebuah Pengantar,” dlm. Pradana Boy ZTF dan M. Hilmi Faiq (eds.), Kembali ke al-Qur’an Menafsir Makna Zaman: Suara-suara Kaum Muda Muhammadiyah (Malang: UMM Press, 2004), h. vii-xviii.

[vi] Moeslim Abdurrahman, “Tafsir atas Wahyu: Mengedepankan Transformasi, Bukan Reformasi,” Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan (Yogyakarta: Kanisius, 2009), h. 168-184.

[vii] Tariq Ramadan, Western Muslims and the Future of Islam (New York: Oxford University Press, 2004); Tariq Ramadan, Islam, the West and the Challenges of Modernity (Leicester, UK: The Islamic Foundation, 2001).

[viii] Moeslim Abdurrahman, “Munculnya Kesadaran Kritis Ber-Muhammadiyah: Sebuah Pengantar,” h. x.

[ix] Moeslim Abdurrahman, “Munculnya Kesadaran Kritis Ber-Muhammadiyah,” h. xi.

[x] Moeslim Abdurrahman, h. xii.

[xi] Personal interview dengan Pradana Boy ZTF pada Kamis, 3 September 2015. Bandingkan dengan pernyataannya mengenai hal ini dalam tulisan yang bertajuk “JIMM: Sebuah ‘Teks’ Multitafsir,” Era Baru Gerakan Muhammadiyah (Malang: UMM Press dan al-Ma’un Institute Jakarta, 2008), h. 47-51.

[xii] Moeslim Abdurrahman dalam Kuliah Umum di Padepokan HW Malang pada 13 Maret 2010. Lihat transkrip kuliahnya dalam https://kataitukata.wordpress.com/2012/07/06/ kuliah-dr-moeslim-abdurrahman/ (diakses pada 7 Juni 2015).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *