Browse By

Petualangan Jiwa Merdeka di Belantara Mediasi Konflik

Sumber foto: dokumentasi Rizki Affiat

 

Wawancara dengan Shadia Marhaban

Sebuah mobil besar memasuki pekarangan yang luas dan berhenti di pojok. Saya dan Shadia Marhaban bangkit dari kursi tempat kami menunggu di depan sebuah café. Seorang pria paruh baya turun dari mobil. Sosok mungilnya terlihat kalem. Ia berjalan ke arah kami namun disela oleh dua orang lain yang segera menyalaminya. Kesan bahwa ia orang penting langsung terasa, dan Shadia, dengan bakat dan kemampuan mediasinya yang terlatih selama bertahun-tahun, langsung menghampiri dan menyapanya. Ia menyambut kami dengan ramah. Seketika kami berempat melaju ke markas besar Moro Islamic Liberation Front (MILF) di luar kota Cotabato.

Pemandangan kota Cotabato yang ramai dan penuh bangunan tembok perlahan berubah begitu kami memasuki daerah kekuasaan MILF. Rumah-rumah kayu dan seng yang kumuh terlihat berjejalan di tepi sungai dengan deretan bangunan sederhana. Jalanan aspal yang mulus mulai berubah kasar seiring dengan semakin jauhnya kami masuk mendekati pegunungan melewati beberapa pos MILF menuju lokasi.

Di mobil, Shadia dan sang pria mengobrol selayaknya kawan baik yang sudah lama tidak berjumpa. Tawa dan obrolan renyah bertebaran. Kami lantas terlibat dalam berbagai pembicaraan serius yang dikemas santai sedari kami naik ke mobil hingga usainya pertemuan tertutup kami dengan panglima MILF di markas mereka. Shadia memperkenalkan dan memperlakukan saya tidak seperti seorang senior yang memandang teman sebagai bawahannya. Ia tidak mendominasi pembicaraan maupun memamerkan pengalamannya yang luas. Dengan penuh senyum dan semangat, ia memberi kesempatan saya untuk bertanya, berkomentar, dan ikut berdiskusi.

Sebagai seorang mediator, ia memiliki kapasitas yang ironisnya kini tidak mendapat pengakuan layak di tanah asal usulnya, Aceh, yang telah ia bela sepenuh hati di dalam proses bersejarah perjanjian damai dengan pemerintah Indonesia. Shadia Marhaban adalah salah satu presidium SIRA (Sentra Informasi Referendum Aceh) yang dibentuk tahun 1999 untuk menuntut referendum. Ia kemudian menjadi satu-satunya perempuan di tim Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam negosiasi dengan Pemerintah Indonesia pada tahun 2005 di Finlandia. Proses ini kemudian menghasilkan kesepakatan MoU Helsinki yang mengakhiri 30 tahun konflik (1976-2005). Kakeknya adalah salah seorang ulama besar Aceh dan ayahnya pernah menjabat sebagai menteri di zaman Presiden Soekarno. Namun, pilihan hidupnya yang berani membuat sosoknya unik sekaligus kontroversial.

Ia terlibat dalam beragam upaya penguatan masyarakat pascakonflik di Aceh, termasuk sebagai salah satu pendiri LINA (Liga Inong Acheh) – organisasi massa untuk memberdayakan perempuan mantan kombatan (inong balee)–di mana saya pernah lama berada di dalamnya. Setelah bergelut bertahun-tahun mengisi proses demokratisasi Aceh, ia menyingkir dari arena politik karena persaingan pelik dengan partai lokal yang berkuasa untuk menjalani hidup yang ia percaya: memediasi pihak yang bertikai di berbagai negara. Di tahun 2012 ia rehat sejenak untuk mengikuti sebuah program fellowship di Universitas Harvard. Di tahun yang sama, ia berpidato di forum masyarakat sipil Dewan Keamanan PBB terkait Resolusi PBB 1325 tentang pentingnya partisipasi perempuan dalam meja perdamaian. Namun, semua privilise itu tidak membuatnya larut dalam kenyamanan akademik atau aktivisme elitis kaum NGO. Sampai hari ini, ia tidak berhenti memfasilitasi dan memediasi kombatan, pemuka agama, aktivis, hingga politisi. Kini ia aktif di Mediators Beyond Borders dan telah bekerja wilayah dengan kantong pemberontakan di Myanmar, Afganistan, Nepal, Thailand, Turki, Kolombia, dan Filipina. Ia juga telah berbicara di banyak forum di berbagai negara mengenai resolusi konflik. Jangan terkecoh oleh pesonanya: ia adalah seorang revolusioner sejak dalam pikiran.

Selama bertahun-tahun mengenal dan bekerja sama dengannya di Aceh, baru kali ini saya ikut dalam salah satu rangkaian aktivitasnya sebagai mediator konflik tingkat internasional. Baru pula saya menyaksikan langsung gayanya bekerja di lingkungan tangguh yang asing. Berada bersamanya di Mindanao untuk sebuah misi penting terkait isu perempuan dan kombatan adalah sebuah kesempatan langka.

Satu hal yang khas dari Shadia Marhaban adalah pendekatannya yang simpatik, elaboratif, namun bisa sekaligus mencairkan suasana. Saat mengobrol dengan para petinggi MILF (yang semuanya laki-laki), Shadia berbicara seperti seorang orator yang bersahabat. Sebagai seorang GAM, ia paham betul psikologi kaum kombatan dan karenanya mampu berbicara dengan cara pandang mereka: taktis, tidak berteori, lugas, dan tidak membangun jarak diplomatis. Jiwanya yang berpihak pada kelompok perlawanan kerap membuatnya dianggap bias oleh pemerintah dan birokrat NGO, namun ia tidak pernah berhenti menyuarakan dan menawarkan berbagai alternatif non-kekerasan yang adil dan progresif.

Pengalamannya berkunjung ke makam Jalaluddin Rumi di Konya meneguhkan minatnya yang mendalam pada sufisme. Suatu hari ia pernah berkata pada saya, “Ada tiga cara bagi kita, termasuk perempuan, untuk merdeka. Pertama, keluar dari keluarga. Kedua, keluar dari negara. Ketiga, keluar dari agama.” ‘Keluar’ yang ia maksud bermakna esoterik: manusia harus bersama keluarga, berwarganegara dan beriman, namun pada satu titik ia harus melakukan perjalanan seorang diri untuk mengenal siapa dirinya. ‘Keluar’ menjelajah tanpa sangkutan identitas yang membatasi jiwanya sebelum kembali mendaratkan diri ke ikatan atas iman, hubungan darah dan tanah.

Saya mewawancarainya khusus untuk Islam Bergerak saat kami berada di Mindanao akhir Januari lalu.

R: Bagaimana awalnya Kak Shadia memutuskan untuk terjun ke dunia aktivisme dan mediasi?
S: Awalnya karena Aceh. Saya lalu membangun LINA. Saya melihat gak cukup hanya di Aceh. Saya ingin mempengaruhi area lain khususnya Asia Tenggara. Saya melihat gerakan kemerdekaan yang di Asia Tenggara umumnya berbasis sama: mereka tidak dipedulikan, tidak ada keadilan, ekonomi timpang, persoalan HAM. Jadi sebenarnya rasa bersama bisa dibangun. Saya sudah merasa nyaman dengan dunia mediasi dan orang-orang gerakan. Saya memahami ketakutan dan kekhawatiran mereka. Saya bisa mengartikulasikan keinginan mereka lebih dalam lagi karena saya sendiri merupakan bagian dari mereka di masa lalu.

Martabat adalah awalnya, karena perjuangan tanpa dignity ibarat dunia tanpa air. Nah, tawaran-tawaran mediasi yang ada sekarang kebanyakan tidak terlalu berpihak pada orang gerakan karena negara lebih kuat posisinya secara kekuasaan dan ekonomi. Ini membuat gerakan kemerdekaan dan pembebasan tampak tidak relevan padahal itu adalah sisi manusia yang paling dasar. The rights to self-determination merupakan hak setiap manusia. Dari awal saya bertanya “bagaimana cara mengangkat harkat dan mertabat orang-orang ini?” Kalaupun mereka misalnya harus berdamai, mereka bisa mendapatkan porsi yang menjadi hak mereka, dan jika mereka menyerahkan kekuatan dan senjatanya, tidak merupakan bentuk kekalahan tapi merupakan sebuah sequence of struggle – diterima oleh semua pihak pada situasi [saat itu], karena pada akhirnya kita bekerja untuk rakyat.

Bekerja dengan orang-orang bersenjata [gerakan perlawanan], mereka punya tuntutan yang jelas. Mereka riil. Gerakan bersenjata bisa menjadi alat untuk mencapai perdamaian, contohnya Hamas di Palestina. Jika Hamas tidak dicap sebagai teroris, mereka bisa meningkatkan upaya mencapai perdamaian hakiki untuk rakyat Palestina namun kenyataannya dunia beranggapan lain dan justru diburukkan dengan label teroris.

Jadi, tugas saya adalah bekerja diantara garis-garis tuntutan itu. Menawarkan alternatif dan opsi-opsi yang sekiranya bisa mencapai tujuan mereka tetapi tidak menghancurkan gerakan itu sendiri. Saya selalu mencoba menjaga agar gerakan itu utuh dan tidak dipengaruhi oleh tekanan internasional atau kuasa dari negara, karena perjuangan dan gerakan itu adalah harga diri.

R: Kak Shadia selalu bertemu orang–dari mulai petinggi sampai tukang becak–dengan penuh semangat dan humor, termasuk di wilayah konflik. Bagaimana cara menjaga mood semacam itu di tengah tanggung jawab yang berat?
S: Hidup itu harus dibawa ringan, walaupun eskalasi konflik tinggi, tapi kita harus menjaga kesehatan mental dengan humor dan berbagi cerita. Saya pada dasarnya memang orang yang sering guyon. Berguyon banyak membantu saya mempermudah pekerjaan-pekerjaan ini, misalnya ketemu dan ngobrol dengam siapa saja di warung kopi di Mindanao. Di wilayah GAM [pada saat konflik], kalau mereka udah mau diserang, mereka justru banyak membuat lelucon karena mereka sadar kalau mereka bercanda, mereka merasa lebih mudah [menghadapi situasi], kalau tegang akan lebih sulit. Jika mereka mati pada saat itu setidaknya mereka tidak mati dalam keadaan tegang. Kita setiap hari sudah tegang dan dicecar, tapi kita tidak mengeskalasi ketegangan itu. Ada istilah macam ini dalam psikologi fear management.

Ini salah satu bentuk pasrah dan tawakkal. Orang bertanya “kenapa kamu gak takut?” Saya gak takut, saya ringan aja. Pernah saya di Pattani jarak saya minum kopi dengan bom itu hanya 500 meter. Orang sudah lari pontang panting tapi saya berusaha untuk tenang dan masih sempat bercanda dengan yang punya warung kopi. Takut jangan dipelihara, dikelola aja. Kayak kata Gus Dur, “gitu aja kok repot”. Hehehe…

R: Bagaimana cara Kak Shadia melihat jaringan lintasagama yang banyak dibentuk untuk menangani beragam konflik kekerasan, terutama karena Kakak juga terlibat di beberapa kegiatan soal ini?
S: Kebanyakan dialog antaragama diadakan tanpa dialog intraagama. Sebelum ‘inter’ harusnya ‘intra’ dulu. Upaya ini akan lebih bagus karena bisa melihat kelebihan dan kekurangan [interpretasi] dalam agama tersebut jika menyelenggarakan dialog lintasagama. Contoh di Myanmar dan Selatan Thailand antara Buddha dan Muslim, atau antara Kristen dan Muslim di Indonesia umumnya tidak membicarakan…jadi harus ada pembicaraan hati-ke-hati, ada common ground, tidak terlalu fokus pada teks agama karena itu akan memperlebar. Tidak berarti harus semua senang, bahkan beberapa acara yang sudah saya fasilitasi, saya mengangkat topik-topik yang menjadi keresahan mereka sehari-hari. Termasuk keresahan mereka melihat agama yang berbeda, mempelajari apa yang tidak mereka ketahui dari agama tersebut dan mencoba mencari peluang-peluang apa yang bisa mereka lakukan sebagai common action. Misalnya lingkungan hidup, kesehatan, transportasi, kan semua perlu. Harus ada semacam agenda yang bisa dilakukan bersama.

R: Kak Shadia bisa memilih untuk punya posisi nyaman di NGO internasional, mengelola seminar dan mengkoordinir kegiatan besar, kenapa memilih berjibaku dengan dunia mediasi konflik yang menuntut dinamika dan mobilitas tinggi di lapangan?
S: Saya bukan orang yang bisa duduk di kantoran dari jam 9 pagi hingga 5 sore. Menyadari kapasitas dan keterbatasan saya, saya lebih condong bekerja bersama masyarakat, di lapangan, dan mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi dan mengelola sebuah gerakan ke arah yang lebih positif. Pada umumnya orang yang berada dalam gerakan tidak bisa merefleksikan kelemahan mereka sendiri, sehingga perlu ada pihak lain yang melihat, menasihati, dan berkoordinasi agar pesan yang ingin disampaikan terdengar atau terjawab. Saya juga seorang motivator yang punya komitmen. Ketika menangani sebuah persoalan, saya akan berusaha sekuatnya untuk bertahan.

R: Sejauh mana identitas sebagai perempuan Muslim berpengaruh terhadap apresiasi maupun tantangan ketika Kak Shadia menangani pekerjaan pelik di berbagai negara semacam ini?
S: Pertama, banyak yang tidak yakin karena penampilan saya: orangnya kecil pakai jilbab. Jadi sebelum dengar saya ngomong, orang tidak yakin. Namun setelah saya mengeluarkan suara, baru penyambutannya berbeda. Di sebuah training di Mindanao tahun lalu, pada saat semua peserta – yang semuanya laki-laki dari LSM dan gerakan – sudah kumpul, saya masuk ke ruangan. Mereka mengatakan mereka sedang menunggu trainer. Sehingga saya katakan “saya trainer-nya”. Mereka tidak menyangka. Sejak saya terlibat di SIRA, di partai, dunia mediasi dan perlucutan senjata, semua adalah dunia laki-laki sehingga interaksinya lebih banyak dengan laki-laki ketimbang perempuan.

Contoh yang paling berkesan adalah Myanmar. Meyakinkan orang untuk menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan pemerintah, untuk mereka tetap positif dan membangun kepercayaan cukup menguras energi dan pikiran saya, karena setiap pekerjaan yang saya jalani ini saya menyelaminya, seperti pernikahan, sehingga saya merasa attached sekali. Saya tidak memisahkan diri dari mereka.

Saya mampu membaca bahasa tubuh dan tangkas untuk menyesuaikan topik pembahasan dan strategi. Misalnya dengan sayap militer perempuan MILF. Saya punya metode untuk menggali lebih dalam agar mereka mau berbicara terkait keprihatinan mereka.

R: Siapa tokoh yang paling mengesankan yang pernah Kak Shadia temui ?
S: Selama bekerja saya banyak bertemu orang mengesankan…somehow saya suka wisdom, orang yang kuat berargumentasi tapi juga mempunyai kebijaksanaan dan hati yang terbuka. Hasan Tiro [pendiri GAM] termasuk yang memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa. Banyak orang bergumen dan protes, tapi menurut saya, kepemimpinan MILF sangat mengesankan. Saya telah bekerja dengan banyak kelompok bersenjata di banyak negara, namun para pemimpin MILF adalah salah satu yang paling cerdas, bijak, dan terpelajar. Cara mereka berbicara luar biasa, dan mereka punya kapasitas termasuk cara melakukan kontak mata. Padahal ini adalah gerakan bersenjata! Tidak semua gerakan memiliki kemampuan ini, namun tiap kepemimpinan ada keunikannya.

Orang yang mengesankan juga adalah Syamsuddin Ismail – seorang tukang becak di Mindanao, dan Abhoud Syed Lingga dari Institut Bangsamoro. Beliau soft spoken tapi banyak kebijakan dan punya hati. Dia seorang generalis dan sangat kalem. Saya cepat jatuh cinta dengan orang macam ini. Orang yang meledak-ledak menarik juga tapi cenderung membosankan.

R: Dalam satu komentar tentang konflik Mindanao, Kak Shadia bilang “when you don’t feel the pinch, you don’t feel the pain. The war in Mindanao isn’t felt in Manila.” Bagaimana  Kak Shadia merefleksikan situasi ini dengan keseluruhan pengalaman Kakak bergelut dengan konflik di berbagai wilayah, yang seringkali terisolasi dari ‘pusat’ atau daerah lain?
S: Konflik sudah menjadi area terbuka. Publik tahu. Tapi orang punya sifat denial, jadi seolah dia tidak melihat ada konflik. Salah satunya untuk feel the pinch adalah dengan memublikasikannya dalam bentuk tidak mengeskalasi konflik itu tapi mengangkat kisah kemanusiaan dari konflik, misalnya soal dampak terhadap anak dan perempuan, untuk membuka jalan. Di Pattani misalnya, karena agama [mayoritas] berbeda, maka kepedulian terhadap minoritas semakin kecil sehingga cara membangun solidaritas adalah melalui cerita-cerita yang mengetuk hati manusia. Dari situ kita promosi cerita konflik itu sendiri.

R: Apa buku paling bagus yang Kak Shadia baca belakangan ini?
S: Saya lagi baca salah satu matsnawi Rumi yang saya beli di Konya dan tiap lembar itu saya butuh waktu untuk meresapi karena begitu dalam.

R: Dengan aktivitas keliling dunia, apa yang paling Kak Shadia rindukan dari Aceh?
S: Kopi Aceh yang biasa dan ikan kayu. Masakan Aceh.

R: Terakhir, di tengah petualangan semacam ini, cinta hadir di mana?
S: Love is where you find it, not when you search.

Print Friendly

2 thoughts on “Petualangan Jiwa Merdeka di Belantara Mediasi Konflik”

  1. Agus Zhuge Maulana says:

    Saya menikmati tulisan ini. Menakjubkan. Minggu lalu saya baru pulang dari Mindanao dan tulisan ini seakan menghadirkan kembali ragam tokoh yang saya temui. Tolong sampaikan salam untuk Kak Shadia, perempuan hebat yang memiliki rasa humor tinggi. Mungkin, dia Gus Dur versi perempuan. Tabik

  2. Pingback: Habis Senjata Terbitlah Mesin Jahit: Perempuan Kombatan dan Senjakala Gerakan Perlawanan Muslim Bersenjata? - Islam Bergerak
  3. Trackback: Habis Senjata Terbitlah Mesin Jahit: Perempuan Kombatan dan Senjakala Gerakan Perlawanan Muslim Bersenjata? - Islam Bergerak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *