Browse By

Sayyid Hassan Nasrallah: Tentang Sepakbola, Facebook, dan Kampung Halamannya

Nasrallah_by_Vinoba

Ilustrasi oleh Vinoba Sivanarulsundaram

Pengantar Redaksi:
Mengikuti Sayyid Hasan Nasrallah baik dari media mainstream maupun media alternatif yang mendukung pembebasan Palestina berarti mengikuti sosok yang tegas, keras, bahkan mungkin kejam. Predikat demikian sulit dihindari mengingat statusnya sebagai Sekretaris Jenderal Hizbullah, partai dan organisasi milisi Islam anti-zionis terkuat  Timur Tengah yang dicap sebagai organisasi teroris internasional. Pada gilirannya, menyebut nama Hassan Nasrallah hari ini, bagi sebagian orang, tak ubahnya menyebut nama penjahat perang.

Wawancara di bawah ini memuat hal yang sama sekali jauh dari apa yang selama ini dicitrakan oleh media barat terhadap Hasan Nasrallah. Membaca wawancara yang diterjemahkan Muhammad Azka Fahriza dari versi Inggris wawancara terbitan harian Al-Akhbar dengan Hasan Nasrallah tahun 2006 ini, alih-alih menemukan sosok penjahat perang, kita akan menemukan perpaduan sosok bapak yang sayang keluarga dan pejuang sabar yang sabar, tabah namun sekaligus periang. Bersama artikel “Belajar dari Hizbullah Menata Perlawanan” oleh Affan Ramli, naskah wawancara ini menggenapi usaha kecil Islam Bergerak untuk ikut membersihkan nama Hizbullah sebagai representasi terkuat gerakan anti-neokolonialisme di Timur Tengah. Selamat membaca!

Dalam wawancara eksklusif selama enam jam bersam Ibrahim al-Amin, Wafic Qanso, Hassan Ileik, dan Maha Zureikat dari Al-Akhbar, Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah menghabiskan waktu untuk memperbincangkan berbagai isu, mulai dari Suriah, situasi terkini perang Gaza, perang 2006 melawan Israel, isu-isu domestik Lebanon, dan kebiasan-kebiasaan pribadinya.
Al-Akhbar melansir wawancara menjadi dua bagian yang diterbitkan dalam dua hari ke depan. Dalam bagian khusus ini, wawancara fokus pada kebiasaaan peribadi dan selera-seleranya.

Anda menyukai sepakbola?
Ya, saya menyukai sepakbola dan saya dulu memainkannya dengan teman-teman, sebelum dan sesudah saya memakai turban.

Anda mendukung tim tertentu?
Dulu, saya melakukannya untuk bersenang-senang dan itu berubah-ubah. Seringkali saya mendukung Brazil, tetapi kadang-kadang Argentina, khususnya ketika Maradona bermain bersama mereka. Saya menyukai cara dia bermain.

Bagaimana dengan Piala Dunia yang baru berlangsung?
Ada rumor bahwa saya mendukung Brazil, tetapi saya tidak mendukung siapapun. Secara umum, di antara pendukung Hizbullah, ada dukungan untuk Brazil. Ini pilihan lawas yang didasarkan pada teknik dan permainan indah mereka. Lalu, orang-orang mulai berkata bahwa bendera Brazil hijau dan kuning—keduanya warna penting bagi umat Syiah.

Anda mengikutinya?
Jujur, situasi terkini tahun ini tidak mengizinkan saya untuk mengikuti hal-hal semacam itu, karena berbagai peristiwa di Lebanon dan Suriah dan apa yang terjadi di Gaza dan Irak.

Apakah Anda menonton beberapa pertandingan?
Saya menonton pertandingan final, tapi demi permintaan anak lelaki saya dan bukan pertandingan itu sendiri. Karena dia mendukung Jerman, saya putuskan untuk membuatnya menjadi seru dan berdiri di sisi Argentina.

Anda menggunakan Facebook?
Karena alasan keamanan, saya harus tetap menjauh dari apapun yang berhubungan dengan gawai atau internet. Jadi, saya tidak memiliki keterkaitan langsung dengan Facebook. Meskipun demikian, saya selalu memperbarui semua info terkait diskusi, rumor, dan percakapan yang terjadi di Facebook, melalui laporan dan ringkasan atas hal tersebut.

Biasanya, seseorang memakai tempat, ranjang, atau bantal dan tidak akan bisa tidur jika ia mengubahnya. Bagaimana Anda beradaptasi dengan perubahan terus menerus dalam hidup Anda?
Itu benar. Tetapi ketika perubahan tempat dan perpindahan menjadi bagian dari hidup seseorang, itu menjadi situasi yang biasa. Hal-hal semacam itu menjadi biasa buat saya, khususnya setelah 2006. Sebelum itu, apa yang Anda katakan tepat.

Apa makanan kesukaan Anda?
Saya dulu pernah mempunyai masakan kesukaan. Tapi sekarang, tidak ada hal-hal yang istimewa. Saya makan apapun yang tersedia. Bahkan jika saya ditanya apa yang ingin saya makan, saya katakan saya tidak mempunyai masalah dengan apapun. Ini situasi sekarang. Saya makan apa yang mudah dihidangkan, seperti tentara di medan perang, yang tidak mempunyai pilihan makan kesukaan. Dulu saya menyukai beberapa masakan seperti moloukhieh, moujaddara dengan nasi, dan ikan.

Sudah berapa lama sejak terakhir kali Anda mengendarai mobil?
Ya, setidaknya sejak 1986.

Dahiyeh berubah sejak 2006. Apakah Anda memiliki gambaran bagaimana perubahannya?
Tentu, karena saya tidak jauh-jauh dari Dehiyeh dan saya tahu detilnya. Orang-orang Israel mempromosikan beberapa ide, didukung oleh media Arab, yang mengatakan bahwa saya hidup di bunker, bersembunyi dari orang-orang. [Tampaknya] saya tidak melihat dan berbicara pada siapapun dan bahkan menjaga jarak dari saudara-saudara saya. Tapi saya tidak hidup di bunker. Melakukan pengamanan berarti merahasiakan pergerakan. Meskipun demikian, ini tidak sepenuhnya menghalangi saya untuk berkeliling, mencari tahu dan melihat apa yang terjadi. Masalahnya adalah ketika orang lain melihat saya. Saya tahu seperti apa Dahiyeh dan orang-orangnya dan apapun kemajuan atau kemerosotan di sana, dengan tambahan situasi di Selatan dan Bekaa khususnya.

Apa bagian dari Lebanon yang Anda suka?
Jenis kehidupan yang saya jalani memberikan porsi yang sama antara emosi dan persoalan yang ada. Saya hidup di Bekaa ketika kepribadian saya masih dalam proses pembentukan. Selama beberapa tahun, jika saya katakan saya ingin istirahat—sebelum tahun 2000 dan beberapa saat setelahnya—atau jika saya ingin menghabiskan malam bersama teman-teman, saya akan pergi ke Baalbeck. Saya menjalin pertemanan yang akrab pada saat itu. Seiring waktu perasaan seseorang tentang beberapa daerah atau bahkan tentang orang-orang yang Anda cintai dan yang mencintai Anda tidak akan lagi terpisah. Seseorang tidak bisa mengatakan mereka menyukai satu daerah melebihi daerah yang lain, atau satu kelompok melebihi kelompok lain. Anda mulai merasa bahwa Anda mencintai setiap orang dan mendukung setiap orang. Anda ingin setiap orang bersama Anda. Jika Anda masuk ke dalam hati saya, Anda tidak akan menemukan bahwa saya menyukai satu daerah, satu lingkungan atau satu desa melebihi yang lain.

Anda menonton film atau acara TV?
Ketika saya mempunyai waktu, saya mengikuti serial seperti al-Taghriba al-Filastiniya, al-Nabi Yusuf, al-Hajjaj Bin Yusuf, al-Ghaliboun dan acara-acara yang lain.

Anda membaca novel?
Saya membaca banyak novel di masa lalu. Tapi sudah lima tahun sejak terakhir saya membacanya. Beberapa saat lalu, saya menerima buku, sebagai hadiah, disebut Ain al-Jawza, jadi saya membacanya. Ketika Anda dalam posisi bertanggung jawab pada suatu hal, semua itu berhenti dan prioritas Anda kemudian membaca isu-isu mutakhir. Di ranah kebudayaan misalnya. Saya membaca beberapa artikel yang menjelaskan pertanyaan tentang takfiri, sejarahnya, sebab dan arahnya. Ada beberapa buku bagus di isu itu, baik dari tradisi Sunni maupun Syiah, karena topik ini sungguh menantang. Di periode sebelum 2006, bacaan saya terfokus pada Israel, seperti biografi jendral, politisi dan pemimpin partainya. Ini peperangan kami dan kami sekarang ahli dalam topik ini.

Anda membaca Al-Akhbar?
Tentu saja. Bisakah kita  tidak membacanya? Dulu saya mendapatkannya bersama koran lain. Tapi saat ini, beberapa hal terjadi, jadi saya membacanya melalui ringkasan yang disiapkan oleh kantor penasehat, yang memuat sebagian besar artikelnya, dengan tambahan beberapa ringkasan.

Apakah Anda mengikuti kanal televisi lain selain Al-Manar?
Saya bergantian menonton kanal televisi. Sebenarnya saya tidak setuju dengan teori yang mengatakan jika popularitas kanal televisi memiliki beberapa batasan, sebagaimana ditunjukkan oleh lembaga survei. Saya pikir survey semacam itu tidak tepat. Saya tidak melihat ada kanal televisi yang memiliki pemirsa tetap. Saya pikir apa yang terjadi pada saya terjadi pada orang lain. Saat kita duduk di depan televisi, kita membawa remote dan berganti-ganti kanal. Jika seseorang melihat wawancara dengan seseorang mengatakan sesuatu yang berguna, ia akan berhenti di kanal itu, tak peduli siapa yang diwawancarai. Untuk acara berita, saya mengikuti banyak kanal, tidak hanya satu. Saya mengikuti tiga kanal TV Arab, Al-Mayadeen, Al-Jazeera, dan Al-Arabiya. Tapi jelas saya lebih sering menonton Al-Mayadeen ketimbang yang lain. Meskipun demikian, saya mengecek apa yang disiarkan Al-Arabiya dan Al-Jazeera, karena saya ingin tahu apa yang mereka katakan, tanpa memedulikan pendapat saya, khususnya dalam pemberitaan. Untuk Kanal TV Lebanon, saya menonton mereka semua bergantian. Ini harus dilakukan dengan keinginan untuk mengetahui apa yang mereka katakan. Saya juga mengulas ringkasan berita yang disiapkan (departemen) Hubungan Media yang dihimpun dari stasiun radio, kanal televisi, dan situs internet. Membaca materi ini menolong Anda dari opini umum.

Adakah penulis tertentu yang Anda ikuti?
Tanpa menyebut nama, ada beberapa penulis yang artikelnya  pasti saya baca.

Apakah mereka mendukung Anda secara politik?
Tidak semua. Ada yang mendukung kami, dan ada yang tidak. Tidak cukup hanya membaca (artikel) dari orang yang mendukung Anda. Anda harus membaca dari dua sisi untuk mendapatkan perbedaan sudut pandang.

Anda berbicara dalam bahasa selain Arab dan Farsi?
Saya pernah berbicara Inggris. Tapi karena jarang dipraktekkan, saya hanya mengerti namun jarang berbicara. Saya mendengar berita dan mengerti apa yang mereka katakan. Ketika saya bertemu duta besar luar negeri atau media, saya mengerti pertanyaan dan pembicaraannya. Akan tetapi, saya sangat fasih berbahasa Farsi, meskipun hubungan saya dengan bahasa tersebut mula-mula lebih karena politik. Seiring waktu, meskipun demikian, saya menemukan jika ada sebagian kultur Islam yang orang-orang Arab tercerabut darinya, karena ternyata itu ada dalam budaya Persia.***

Print Friendly

One thought on “Sayyid Hassan Nasrallah: Tentang Sepakbola, Facebook, dan Kampung Halamannya”

  1. Pingback: Belajar dari Hizbullah Menata Perlawanan - Islam Bergerak
  2. Trackback: Belajar dari Hizbullah Menata Perlawanan - Islam Bergerak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *