Browse By

Dua “Islam Bergerak”

ISLAM BERGERAK

Ilustrasi oleh Djoko Supriyanto

Terdapat dua “Islam Bergerak” dalam perhelatan wacana keislaman di Indonesia: koran Islam Bergerak pimpinan Kiai Hadji Misbach yang, bersama-sama Koran Medan Moeslimin, menjadi koran revolusioner yang emblematik bagi gerakan “komunisme Islam” di Surakarta pada tahun 1920-an; dan situs Islambergerak yang beredar di dunia maya dan masih mencari kontribusi yang riil dan konkret bagi pergerakan yang ada. Keduanya tidak dapat di(se)bandingkan. Tetapi, keduanya dipertemukan oleh benang merah pola dan prinsip jurnalisme yang sama—jurnalisme militan.

Oktober, bulan yang kelabu bagi gerakan kiri, khususnya bila mengenang penumpasan yang dilakukan terhadap kaum komunis menyusul Gestok 1965, merupakan bulan yang berbinar bagi Islam Bergerak. Untuk pertama kalinya, pada bulan Oktober 1918, setahun setelah dirintis, koran ini mendapat pelanggan tetap dari kalangan buruh dan tani yang bergabung dalam Perkoempoelan Kaoem Boeroeh dan Tani (PKBT) Afdeling Surakarta. Ini kabar baik. Hanya setahun setelah Revolusi Bolshevik pada 1917, perkembangan gerakan kiri di dalam negeri—ditandai dengan buruh dan tani yang lebih terorganisir—menunjukkan kemajuan menggembirakan. Dan koran menjadi simpul utama yang menjalin berbagai kekuatan proletar yang mulai bangun dari keterpurukannya.

Yang khas dari momen bersejarah ini adalah hadirnya “Islam” yang memberi warna kuat bagi ikatan-ikatan sosial-politik yang ada, baik secara eksplisit maupun implisit. Secara eksplisit, kita bisa mencatat, selain Medan Moeslimin dan Islam Bergerak sendiri, nama Pemandangan Islam yang dikelola oleh para aktivis Muslim komunis dari Padang Panjang, Sumatera Barat, kota kelahiran sastrawan besar Indonesia AA Navis. Secara implisit: Djago-Djago (koran aktivis Muslim komunis Sumatera Barat), Persatoean Ra’jat (Sarekat Rakjat Surakarta-Salatiga), Kromo Mardiko (koran kaum komunis Yogyakarta), dan lain-lain.

Mengapa “Islam”? Ini pertanyaan pelik, karena tak ada faktor tunggal. Faktor imperialisme kolonial negara-negara Eropa yang menghadapkan diri vis-à-vis dengan Pan-Islamisme ikut merangsang kesadaran politik sebagian umat Muslim akan kekuatan Islam sebagai kekuatan pengimbang, suatu antitesis, terhadap imperialisme kolonial yang keburukan-keburukannya semakin dirasakan di dunia Muslim. Pan-Islamisme menyediakan ruang imajiner kolektif bagi umat Muslim tentang ideal “internasionalisme” ala Islam, yang prototipenya telah disediakan oleh internasionalisme kaum komunis di Eropa. Keyakinan Tjokroaminoto dalam Islam dan Sosialisme merefleksikan hal itu.

Namun itu belum segalanya. Faktor kultural berupa fakta bahwa kebanyakan kaum kromo yang menderita di bawah penghisapan kapitalisme adalah umat Muslim, juga turut menyumbang. Para petani dan kaum buruh mayoritas telah memeluk Islam, tetapi mereka tetap menderita. Keimanan dan keberagamaan mereka rupanya tidak mengangkat nasib dan derajat mereka lebih baik. Meskipun demikian, skeptisisme, bahkan antipati terhadap agama, belum tentu membawa kondisi lebih baik, malah lebih buruk karena banyak orang menggadaikan kebahagiaannya di akhirat. Perbaikan derajat hidup melalui pembebasan dan emansipasi diri sebagai kaum tertindas, dengan demikian, harus dimulai dari agama.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana mungkin umat Muslim menjadi khaira ummah, “umat yang terbaik”, seperti dikatakan Al-Qur’an, jika mereka sendiri mengalami keterjajahan, ketertindasan, dan penderitaan, baik oleh ulah orang-orang non-Muslim (kolonial dan kapitalis) maupun segelintir kaum Muslim sendiri (elite Muslim borjuis)? Dengan kata lain, bagaimana “umat yang terbaik” itu dapat terwujud jika umat Muslim tidak mampu mengangkat derajat kehidupan mereka di dunia, dengan membangun pranata-pranata sosial, ekonomi, dan politik yang adil dan bebas dari penindasan dalam berbagai bentuknya? Sederet pertanyaan ini mengusik Kiai Misbach, dan menemukan titik singgahnya pada “komunisme” sebagai suatu cara baru menjawab pertanyaan itu di hadapan problem kapitalisme.

Pengertian yang diberikan Kiai Misbach tentang “Islam” menarik disimak kembali. Islam tidak saja diartikan sebagai agama “kedamaian”, tetapi terlebih sebagai agama “keselamatan”. Salam, artinya slamet, selamat dunia-akhirat. Islam, tulisnya dalam Islamisme dan Komunisme(1925), adalah “penoendjoek djalan jang menoentoen keselamatan”. Dalam tulisannya yang lain, “Botjah saka Klaten” (nama pena Kiai Misbach) memberi aksentuasi pada kata itu, ketika mendefinisikan komunisme sebagai ilmu “jang dapat memberi djalan keselamatan oemoem” (koran Doenia Merdeka 15 Januari 1924). Dengan demikian, komunisme adalah alat, sarana, thariqah, menuju “keselamatan oemoem” yang menjadi fitrah Islam. Komunisme adalah alat untuk mewujudkan kemuliaan agama. Komunisme bukan tujuan itu sendiri.

Konsepsi “keselamatan oemoem” yang disinyalir Kiai Misbach ini khas dari tradisi Islam, membahasakan ulang oleh apa yang disebut para ulama sebagai al-mashlahah al-‘ammah, kemaslahatan umum, kebaikan bersama. Hanya saja, Kiai Misbach memberi penekanan yang khusus terhadap kemaslahatan umum ini dengan memberi bobot ideologis dan materialis: kemaslahatan umum itu haruslah dibangun di atas prasyarat-prasyarat kondisi kehidupan yang setara dan merata, melalui kepemilikan alat-alat produksi bersama dan kondisi kerja yang adil, sama rata sama rasa. Dan itu praktis mustahil di bawah kapitalisme dan segala sistem dedengkotnya. Bagaimana mungkin kemaslahatan umum itu dibangun di atas ketimpangan relasi kerja, di mana sebagian orang Muslim menjadi buruh yang bekerja keras sampai mati untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, sementara sebagian Muslim lain menjadi kapitalis dan si kaya yang menikmati berleha-leha hasil kerja saudara seimannya? Alih-alih sama rata sama rasa, yang terjadi adalah lain rasa, hasil tak merata atau sakit di sini nikmat di sana. Dan hingga kini, itulah yang ditunjukkan dalam realitas kehidupan umat Muslim, yang walaupun sama-sama Islam tidak menikmati nikmatnya bersaudara dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Hati seiman, tapi pendapatan tak pernah sekawan. Konon sesaudara, tapi ketika bicara pendapatan selalu bermusuhan dan memeras tengkuk dan punggung yang lain.

Visi Kiai Misbach sederhana: Islam membutuhkan alat bernama komunisme untuk mengonkretkan misi agama. “Ilmoe Communist kami jakin dan mengetahoei betoel termasoek dalam tjita-tjitanja agama Islam”, tulisnya. Untuk mewujudkan kemaslahatan umum, umat Muslim harus mengetahui cara-cara yang tepat dan jitu, dan itu terdapat dalam “ilmoe communist”, “ilmoe” yang diperkenalkan oleh Marx untuk mengkaji watak permodalan dan bagaimana mengatur permodalan untuk kebaikan dan kemakmuran semua, lepas dari bentuk-bentuk pengaturan modal yangdipakai dan diterapkan oleh kapitalisme.

“Ilmoe” itu memang belum sempurna dijabarkan oleh Kiai Misbach, pun oleh Marx dan kaum Marxis dari abad silam, karena masing-masing masih bergulat dengan perjuangan melawan kapitalisme dalam suasana zamannya masing-masing. Tetapi bagi Kiai Misbach, minimal “ilmoe” itu cukup menjadi “sendjata mentjapai kemerdekaan”, kemerdekaan dari penjajah kapitalis-kolonial. Belum seutuhnya sampai menjadi “sendjata” untuk memerdekakan diri dari kapitalis-kapitalis negerinya sendiri, seperti yang sekarang kita hadapi. Namun dasar dari “ilmoe” itu jelas: kapitalisme adalah musuh bersama yang harus selalu ditengarai, karena inilah hambatan utama umat Islam untuk mewujudkan misi utama agamanya.

Sayangnya, sejarah umat Muslim di Indonesia sejak Kiai Misbach mempertontonkan sebaliknya: umat Muslim mengadopsi dan cepat sekali beradaptasi dengan kapitalisme, terutama pasca-1960-an, tentu juga didorong oleh faktor-faktor politik di bawah tindasan rezim sekular Soeharto yang berhasil melanjutkan semangat kolonial. Tak berdaya menawarkan sistem ekonomi alternatif, bagai virus, sistem ini menyebar dan mengisi denyut nadi kehidupan umat Muslim, dan setelah tertanam bagai racun selama tiga puluh tahun lebih, ia meledak menjadi munculnya selapisan Muslim Kaya Baru (MKB) yang memperlebar jurang antara yang kaya dan yang miskin dan cenderung sibuk dengan kemapanan posisi dan status sosialnya sendiri daripada memikirkan untuk mengatasi ketimpangan yang terjadi di mana-mana.

Eksperimentasi umat Muslim Indonesia dengan menerapkan kapitalisme sebagai solusi problematika umat tidak benar-benar berhasil, kecuali menambal di sana-sini cacat-cacat yang diakibatkan oleh kapitalisme. Yang kaya tetap kaya, sementara yang miskin tetap miskin.

Umat Muslim di negeri ini perlu menengok kembali kritik Misbach: bahwa sampai kiamat pun, tidak ada ceritanya kapitalisme itu benar-benar akan dapat menyejahterakan semua orang, seluruh umat. “Kedjahatannya boedi kapital”, tulisnya, “menanam bibit kebentjian”. Jika tidak menindas atau membunuh, kapitalisme menghisap dan memeras keringat. Keringat buruh yang diupah murah, keringat fakir miskin yang menjual dirinya untuk menjadi kuli murah. Jika kondisi terlihat baik-baik saja, itu karena kebencian atas penghisapan dan pemerasan itu telah bercampur rasa ketakberdayaan yang merajalela. Ketakberdayaan yang diwariskan orang-orang Muslim kelas jelata dari generasi ke generasi.

“Komunisme Islam”-nya Kiai Misbach adalah upaya memberi semangat kepada umat Muslim yang tak berdaya itu, dan memberi mereka kepercayaan bahwa mereka mampu bangkit melawan. Dan inilah misi koran Islam Bergerak: untuk memberi kepercayaan kepada umat Muslim untuk bangkit, karena dengan kebangkitan mereka Islam juga akan bangkit di bumi pertiwi. Islam tidak dapat berkawan dengan kolonialisme yang hanya akan menjadikannya hamba bagi kepentingan-kepentingannya. Islam yang berkawan dengan kolonialisme akan tersandera dan gagal menjadi Islam yang otentik. Hal ini memberikan inspirasi bagi situs Islambergerak: Islam hari ini juga tidak dapat berkawan dengan kapitalisme dan neoliberalisme. Islam yang berkawan dan merunduk di hadapan pemodal-pemodal besar hanya akan memuluskan langkah menuju perbudakan dan kehancuran umat Muslim sendiri.

Bila koran Islam Bergerak memberikan suatu visi ke arah mana semestinya Islam menautkan keberpihakannya, situs Islambergerak mesti menindaklanjuti visi ini dengan membedah dan mengeksplorasi watak kapitalisme dan berbagai penindasan hari ini dan memberi penjabaran atas “ilmoe communist” itu dalam bahasa kontemporer, bahasa abad ke-21 yang ditandai oleh kemajuan berbagai disiplin ilmu dan dihidupi oleh pergaulan umat manusia yang semakin kosmopolit. Tidak lagi cukup mengutip Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana dengan fasih dilakukan oleh Kiai Misbach atau para ulama progresif dari Surakarta (Kiai Arafah, Kiai Muhammad Adnan, Kiai Jawhar Laweyan,

Kiai Masyhad Keprabon, Kiai Imam Ghazali Nirbitan, Kiai Imam Bisri, dan lain-lain), tetapi juga memahami, menerjemahkan, dan membahasakan ulang pesan-pesan Al-Qur’an dan Hadits serta khazanah keilmuan Islam ke dalam ilmu-ilmu sosial dan sains. Selain itu, jika koran Islam Bergerak merupakan media “agitprop” (agitasi-propaganda), situs Islambergerak tak boleh cukup berpuas menjadi media “agitprop”,melainkan juga menjadi media pembelajaran kolektif, membumikan Islam sebagai “petunjuk”(al-huda) bagi nalar dan hati nurani umat. Dan itu bukan hal yang mudah.***

 

Print Friendly

One thought on “Dua “Islam Bergerak””

  1. Ruslan says:

    Islam tidak boleh hanya sekadar menjadi agama ritual normatif semata, melainkan Islam harus di pejari kembali pesan profetik untuk melakukan pembebasan terhadap kapitalisme dan neoliberalisme.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *