Browse By

Pernyataan Sikap BaFFEL Terkait Acara “Ijen Jazz”

Pengantar Redaksi:
Pembaca Islam Bergerak sekalian,

Malam ini di Paltuding, salah satu area konservasi kawasan Cagar Alam/Wisata Alam (CA/TWA) Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup sedang diselenggarakan pagelaran Ijen Jazz. Sebagaimana kita tahu melalui pemberitahuan di surat kabar nasional, terutama elektronik, sejak awal acara tersebut mendapat respon keras dari komunitas pemerhati lingkungan setempat. Berbagai keberatan disuarakan oleh mereka terkait pagelaran acara itu, mulai dari penyelenggaraan yang terburu-buru karena baru digagas pada tanggal 3 November 2014 (lima hari yang lalu!), sampai pertanyaan mereka atas visi dan visi Pemerintah terkait pengembangan dan pelestarian kawasan konservasi.

Penyelenggaraan Ijen Jazz yang sedang berlangsung ini tentu saja sebuah tamparan keras bagi komunitas-komunitas pemerhati lingkungan setempat. Keberadaan mereka diabaikan begitu saja seolah-olah selama ini setiap upaya pelestarian lingkungan sama sekali tidak terkait dengan mereka. Peristiwa semacam ini jelas merupakan pertanda buruk bagi masa depan konservasi alam di Indonesia. Bagaimanapun pemerintah, baik daerah maupun pusat, tidak bisa dibiarkan seenak perutnya memutuskan kebijakan apapun dalam sektor lingkungan tanpa melihat aspek ekologis.

Sehubungan dengan penyelenggaraan acara tersebut, redaksi Islam Bergerak memutuskan memuat pernyataan sikap Banyuwangi’s Forum for Enviromental Learning (BaFFEL) yang secara resmi dikirimkan kepada Ibu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan lusa kemarin, tanggal 6 November 2014. Penerbiatan rilis ini sama sekali tidak berpretensi mengutuk penyelenggaraan acara keseniannya itu sendiri, pun demikian alasan kemanusiaan (penggalangan dana untuk pelayanan kesehatan) yang konon menjadi motif penyelenggaraannya. Kami, secara tidak langsung, hanya ingin mempertanyakan kewarasan berpikir dari para pemangku kebijakan yang terkait dalam penyelenggaraan acara tersebut, yang kami anggap gagal karena telah mencampuradukkan upaya penggalangan dana kemanusiaan yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan dengan upaya perusakan lingkungan itu sendiri (kami tidak ingin lebih jauh mempertanyakan kecerdasan mereka karena telah menyelenggarakan fund rising di tengah hutan dengan sumbangan perorang lima ribu perak). Dan, tentu saja pertanyaan itu juga berlaku bagi Kementerian Lingkugan Hidup dan Kelautan. Akhirul kalam, selamat membaca!

Nomor : 007/Bfl/XI/14
Lampiran : —
Perihal : Pernyataan Sikap BaFFEL terkait acara “Ijen Jazz”

Kepada Yth.

Ibu Siti Nurbaya
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan

di-
Jakarta

Dengan hormat,
Terhitung sejak tanggal 14 Oktober 2014, telah beberapa kali terjadi kebakaran hutan di kawasan Cagar Alam/Wisata Alam (CA/TWA) Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup dan sekitarnya. Kebakaran pertama terjadi pada kurun waktu tanggal 14 sampai 18 Oktober 2014 di Gunung Ijen. Dan kebakaran berikutnya terjadi pada tanggal 30 sampai 31 Oktober 2014 di Gunung Merapi Ungup-Ungup. Baik Kawah Ijen maupun Gunung Merapi Ungup-Ungup adalah gunung yang masuk dalam kompleks Pegunungan Ijen.

Menurut data Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Seksi V Banyuwangi, areal yang terbakar pada tanggal 14-18 Oktober 2014 diperkirakan seluas 150 hektar. Sementara untuk kebakaran yang terjadi pada 30-31 Oktober, menurut data BKSDA Seksi V Banyuwangi dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi, areal yang terbakar di Gunung Merapi Ungup-Ungup sedikitnya 50 hektar.

Kebakaran hutan di kawasan Gunung Ijen dan Gunung Merapi Ungup-Ungup tentu merupakan kabar sedih bagi kita semua. Bukan hanya karena kebakaran tersebut akan mengurangi keindahan Gunung Ijen sebagai destinasi wisata ekologis (ekowisata), tetapi juga akan berdampak kepada nilai penting ekologinya (termasuk nilai penting ekologi Gunung Merapi Ungup-Ungup).

Dari sudut pandang bentang alam, tataruang maupun aspek disaster management (DM), baik Gunung Ijen maupun Gunung Merapi Ungup-Ungup merupakan kawasan up land (dataran tinggi). Kawasan up land memiliki tingkat sensitivitas tersendiri bila dibanding down land (dataran rendah). Logikanya, kualitas ekologi kawasan up land jelas akan berpengaruh langsung kepada kualitas kawasan down land. Karena itu, rusak-bagusnya kawasan Gunung Ijen dan Gunung Merapi Ungup-Ungup jelas akan berpengaruh kepada kawasan yang ada di bawahnya.

Kebakaran hutan di kawasan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup jelas merupakan kabar sedih bagi kita semua, apalagi jika mengingat nilai penting kawasan ini. Salah satu bukti nilai penting CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup bisa dilihat dari terpilihnya kawasan ini pada tahun 1999 sebagai kawasan riset Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica). Riset yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Timur dan Bidang KSDA Wilayah III Jember ini, 15 tahun lalu telah berhasil menyimpulkan bahwa kawasan Gunung Raung—Gunung Ijen—Gunung Merapi Ungup-Ungup—Maelang merupakan koridor ekologi dan lanskap penting bagi Harimau Jawa.

Nilai penting tersebut juga dikuatkan oleh hasil penelitian lembaga penelitian hidupan liar dan karnivor “Peduli Karnivor Jawa (PKJ)” (www.pedulikarnivorjawa.org) pada tahun 2005. Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) sebagai satwa lindung, menurut penelitian PKJ tahun 2005, berjumlah 65 ekor dengan areal distribusi Gunung Raung—Gunung Ijen—Gunung Merapi Ungup-Ungup—Maelang.

Hasil penelitian PKJ pada tahun 2005 ini pula yang akhirnya pada tahun 2014 membuat Simposium Nasional Macan Tutul Jawa mengukuhkan lanskap Raung—Gunung Ijen—Gunung Merapi Ungup-Ungup—Maelang sebagai lanskap penting bagi Macan Tutul Jawa (Simposium ini diselenggarakan oleh Ditjen Konservasi PHKA Dephut, Februari 2014 di TSI Cisarua, Bogor).

Kebakaran hutan di kawasan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup jelas merupakan kabar sedih bagi kita semua, apalagi jika mengingat nilai penting kawasan ini sebagai habitat alami raptor (burung pemangsa) yang dilindungi negara seperti: Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus), Elang Kelabu (Bustastur indicus), Elang Ular (Spilornis cheela), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) Elang Perut Karat (Lophotriorchis kienerii), dan Elang Jawa (Spizaetus bartelsi).

Nilai penting CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup bagi kelestarian raptor lindung juga bisa kita runut dari momentum pelepasliaran Elang Jawa pada bulan Januari 2013. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Raptor Indonesia (RAIN) tentu tidaklah asal-asalan dalam memilih CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup sebagai lokasi habituasi dan pelepasliaran Elang Jawa. Jika CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup tidak memenuhi kriteria dan syarat ideal sebagai habitat alami raptor, tentu BBKSDA Jatim dan RAIN takkan memilih CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup sebagai lokasi pelepasliaran Elang Jawa.

Kebakaran hutan di kawasan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup adalah kabar sedih bagi kita semua, karena kawasan ini merupakan titik penting bagi migrasi (perpindahan) raptor migran seperti: Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus) dan Alap-alap Nipon (Accipter gularis).

Kebakaran hutan di kawasan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup adalah kabar sedih bagi kita semua, karena kawasan ini merupakan kawasan resapan air yang penting bagi warga Banyuwangi—Bondowoso—Situbondo.
Kebakaran hutan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup sedikit ataupun banyak tentulah akan mempengaruhi nilai-nilai penting kawasan yang telah dipaparkan di atas. Namun sayangnya, di saat hutan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup belum sepenuhnya pulih, Pemkab Banyuwangi pada tanggal 8 November 2014 justru akan menggelar acara “Jazz Ijen” pada pukul 13.00—17.30 wib.

Dari sudut pandang kepantasan, Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL) menilai bahwa acara “Jazz Ijen” tersebut tidaklah pantas diadakan di sebuah kawasan konservasi yang baru saja terbakar. Apalagi jika mengingat begitu cepatnya acara ini digagas. Ide acara ini digagas tanggal 3 November 2014 (artinya ide ini digagas justru setelah beberapa hari CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup terbakar).

Sekalipun, acara ini berdalih untuk penggalangan dana kemanusiaan, BaFFEL memandang masih banyak tempat lain yang bisa dijadikan lokasi penggalangan dana. Apa urgensinya menggalang dana di kawasan konservasi yang baru saja terbakar?

Walaupun, acara ini bertujuan untuk menggalang dana bagi penambang belerang dan warga yang terkena dampak kebakaran hutan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup, BaFFEL memandang penggalangan dana bagi pihak yang terkena dampak hutan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup tidaklah harus dilakukan di kawasan konservasi yang baru saja terbakar.

Perlu diketahui, bahwa bulan November adalah titik puncak migrasi bagi beberapa jenis raptor migran (terutama raptor migran di CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup). Sikep-madu Asia (Pernis ptilorhynchus) akan melakukan autumun migration (migrasi musim dingin) pada rentang Oktober-November, sementara pada rentang September-November Alap-alap Nipon (Accipter gularis) akan melakukan migrasi. Baik Sikep-madu Asia maupun Alap-alap Nipon keduanya memiliki puncak migrasi di bulan November, dan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup merupakan kawasan penting bagi migrasi kedua raptor tersebut.

Sedikit ataupun banyak, acara “Ijen Jazz” di bulan November yang bertepatan dengan “puncak” migrasi raptor migran di CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup jelas akan berpengaruh terhadap migrasi raptor lindung di kawasan konservasi (CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup).

Berdasarkan semua pemikiran di atas, kami Banyuwangi’s Forum For Environmental Learning (BaFFEL) menyatakan hal-hal sebagai berikut :

  1. BaFFEL mendesak Yth. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Republik Indonesia untuk menginstruksi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur agar tidak memberikan izin ataupun rekomendasi kepada Pemkab Banyuwangi untuk menyelenggarakan “Ijen Jazz” di area konservasi CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup.
  2. BaFFEL mendesak Yth. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutan Republik Indonesia untuk tidak menjadikan konsep mass tourism (wisata massal) sebagai konsep pengembangan dan pengelolaan wisata di CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup.
  3. BaFFEL mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia untuk melakukan riset daya dukung kawasan CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Riset daya dukung kawasan ini ditujukan untuk secara ilmiah menjawab pertanyaan: berapa jumlah kuota rasional pengunjung CA/TWA Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup dalam satu hari.

Demikian pernyataan sikap kami.
Atas perhatiannya, kami sampaikan terima kasih.

Banyuwangi, 6 November 2014
Hormat Kami,

Pengurus BaFFEL

Ari Restu Rully Fauzi Latif
Koordinator Sekretaris

Tembusan :
Kepada Yth.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur
Kepala Bidang KSDA Wilayah Kerja III Jember

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *