Browse By

Masjid dan Orang-Orang Muslim di Era Pendudukan Kota Paris

 

islam bergerak 1Judul Film: Les Hommes libres (judul internasional: Free Men)

Bahasa: Perancis

Sutradara: Ismaël Ferroukhi

Pemain : Tahar Rahim(Younes Ben Daoud), Michael Lonsdale (Si Kaddour Ben Ghabrit), Mahmoud Shalaby(Salim Halili), Lubna Azabal(Warba Shlimane alias Leïla), Farid Larbi(Ali), Christoper Bucholz(Mayor Von Ratibor)

           

 

 

Menyaksikan satu menit gambar pembuka yang menampilkan teks sejarah yang menjadi setting ruang dan waktu film panjang kedua sutradara film Le Grand Voyage ini mungkin akan membawa Anda pada satu praduga bahwa Les Hommes libres adalah film tentang pemberontakan imigran-imigran Afrika Utara di Paris melawan pendudukan Nazi-Jerman dalam kurun waktu 1937 sampai 1944. Bahkan, bagi Anda yang kebetulan sudah menonton film kondang Rachid Bouchareb tentang kisah tragis tentara-tentara dari  Afrika Utara yang terlupakan yang membela Prancis dalam Perang Dunia Kedua, Indigénes atau Days of Glory (2006), bisa jadi dugaan tersebut  akan beralih pada sebuah sinisme ; bahwa Ismaïl Ferroukhi hanya akan terjebak pada komodifikasi propaganda yang telah dibawa oleh sutradara Perancis-Aljazair pendahulunya itu : sebuah rekonstruksi sejarah. Pada kenyataannya film ini sama sekali menyajikan sesuatu yang berbeda dengan semua dugaan tersebut, atau untuk tidak menimbulkan kesimpulan yang terlalu berlebihan, film ini hanya mengambil (atau meminjam ?) satu konteks sejarah yang tak mungkin terhindarkan untuk mengisahkan serangkaian kisah pinggiran tentang peranan orang-orang muslim Maroko di lingkungan Masjid Besar Paris dalam perlawanan melawan penjajah Nazi-Jerman dan penyelamatan orang-orang yahudi pada periode tersebut. Adalah Younes Ben Daod (Tahar Rahim), sang tokoh utama, pemuda penjual barang-barang selundupan dari pasar gelap, yang menjadi penghubung dari serangkaian kisah heroik namun tak berapi-api yang menawan itu.

Semua itu bermula ketika Younes ditangkap oleh polisi di apartemennya karena dugaan keterlibatan sepupu sekaligus teman sekamarnya Ali (Farid Larbi) dalam sebuah organisasi komunis bawah tanah yang anti pendudukan Nazi-Jerman. Younes yang pada dasarnya pemuda yang apatis pada segala hal kecuali yang menyangkut pekerjaannya itu kemudian dipaksa untuk mengetahui hal-hal yang nantinya akan menentukan jalan hidupnya ketika ia memilih satu keputusan dilematis untuk menjadi mata-mata polisi sebagai syarat kebebasannya untuk memata-matai setiap aktivitas di Masjid Besar Paris, terutama direkturnya Si Kaddour Ben Ghabrit (Michael Lonsdale) yang dicurigai telah menerbitkan surat keterangan palsu untuk melindungi orang-orang yahudi Afrika Utara dari upaya pembersihan etnis –sesuatu yang tidak diketahui Younes pada mulanya.

Di Masjid itulah Younes kemudian bertemu dengan Salim Halili (Mahmoud Shalaby), penyanyi yahudi Maroko yang diberi identitas muslim oleh otoritas masjid. Kenyataan bahwa Salim seorang yahudi dan bahwa orang-orang yahudi tengah diburu tentara Nazi  kemudian mengubah sikap Younes untuk membelot kepada polisi yang memperalatnya. Sikapnya itu kemudian membawanya menjadi seorang pemuda yang dipenuhi oleh semangat perlawanan anti Nazi setelah perkenalannya dengan Leïla (Lubna Azabal) wanita yang disukainya yang belakangan ia ketahui memiliki nama asli Warba Shlimane dan merupakan anggota sekaligus adik dari pemimpin gerakan komunis Maroko yang ditangkap tentara Nazi di Jerman,  serta  pertemuankembali tak sengajanya dengan Ali yang membawa dirinya pada perkenalan dengan gerakan resisten bawah tanah lainnya yang bermarkas di lorong bawah tanah Masjid.

Film ini sekilas memang tampak seperti film tentang Younes, tokoh fiktif yang tak lain adalah personifikasi dari orang-orang bebas (les hommes libres) dari Afrika Utara. Sejak awal, setelah teks pembuka, Anda bahkan sudah diperkenalkan pada tokoh utama ini. Nantinya kita akan diajak mengenal sosok itu  lebih jauh,  walaupun sekilas, secara personal.  Semisal tentang keluarganya di Maroko, persahabatannya dengan Salim dan hasrat terpendamnya pada Leïla. Akting Tahar Rahim memang  sangat berperan di sini. Dia mampu mempertahankan kualitas akting  yang sama cemerlang dalam film terakhirnya sebelumnya, Un Prophet(The Prophet). Dan selama satu setengah jam kita akan dibuat abai akan  setting tempat yang monoton, pemilihan kostum yang tidak cocok dengan musim dan berbagai lubang dalam film ini–kekurangan yang jelas terjadi karena masalah minimnya dana sebagaimana dikatakan Ferroukhi.*

Tetapi bagaimanapun intensitas pengadegan yang terfokus pada tokoh utama ini tak akan serta merta menghalangi Anda untuk menangkap pesan utama sang sutradara yang ingin mengingatkan hubungan manis di masa lalu antara Arab-Islam dan Yahudi di masa lalu yang pernah terjadi, juga tentang peranan masjid dan heroisme orang-orangnya di masa penuh intimidasi dan penindasan. Sebuah narasi besar tentang perdamaian dan keberpihakan pada orang-orang tertindas, yang sayangnya sering lebih indah sebagai sebuah nostalgia. Anda akan melihat itu semua itu di lebih dari separuh durasi film. Film ini memang menyajikan banyak adegan yang menawan sekaligus mengharukan yang berpotensi menohok kesadaran orang-orang beragama yang seringkali merasa cukup dengan keintimannya dengan Yang Maha Kuasa.

Salah satu adegan yang mungkin paling emosional adalah ketika khatib Salat Jumat memeritahkan semua jamaah untuk membubarkan diri demi melindungi seorang gadis kecil yahudi yang tengah di bawa lari oleh Younes dari razia tentara Nazi. Betapa indah seandainya setiap orang beragama berlaku demikian. Dan memang Anda akan merasakan, bahwa selama menyaksikan film ini Anda akan seolah-olah dipetuahi bahwa agama memang tak seharusnya menghalangi seseorang untuk senantiasa memperjuangkan keadilan, memanusiakan manusia, karena pada hakikatnya semua itu adalah ruhnya…

*baca wawancara Ismaël Ferroukhi dengan Adrian Jonathan dari Cinema Poetika di : http://cinemapoetica.com/harian/wawancara/ismael-ferroukhi-kesunyian-adalah-bahasa-paling-intim/

 

One thought on “Masjid dan Orang-Orang Muslim di Era Pendudukan Kota Paris”

  1. Ardis alzena Andrini says:

    mas azka apakah ini merupakan artikel pertama di islambergerak.com?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *